
"Assalamu'alaikum bidadari surga!" Suara berat itu mengagetkan Zoya. Seketika itu pula, Zoya menggeser duduknya, saat Rey meletakkan bobotnya di kursi yang sama. Lelaki itu juga menyodorkan setangkai mawar putih, tapi tidak dihiraukan oleh Zoya.
"Untukmu, Zoy!" Rey masih mencoba mendesak Zoya untuk mau menerimanya. Lelaki itu berharap, Zoya mau menyambut semua usahanya.
Perempuan berbaju coklat dengan tas punggung feminim itu pun langsung bangkit. Dia tidak ingin, kebersamaannya bersama Rey menimbulkan fitnah. Kampus memang sepi, tidak ada proses pembelajaran, tapi dia tidak ingin mengambil resiko apapun karena dia tahu Rey punya perasaan yang tidak biasa terhadapnya.
"Jangan seperti itu, Bang! Aku perempuan bersuami. Sikap Bang Rey bisa menimbulkan fitnah." ungkap Zoya saat berdiri di depan lelaki yang saat ini tersenyum lembut, masih dengan mawar di tangannya.
"Zoy, Aku mencintaimu!" ungkap Rey dengan hampir menarik lengan zoya. Tapi, perempuan yang memang tidak kaget lagi akan kalimat pernyataan lelaki di depannya itu pun tak kalah sigap untuk mengibaskan tangannya, menghindari sentuhan lelaki yang bukan muhrimnya.
"Itu salah, Bang. Aku punya suami. Kita bukan muhrim." elak Zoya sorot mata tajam perempuan itu membangun sebuah jarak diantara mereka.
"Aku tahu. Apa kamu mencintainya?" tanya Rey penuh selidik.
"Aku sangat mencintai Mas Hans." jawab Zoya dengan penuh keyakinan, hingga menimbulkan tawa sarkas lelaki berambut gondrong itu. Rey hanya mengira, Zoya perempuan naif yang sudah salah karena telah menganggap Hans sebagai lelaki yang patut untuk dia cintai.
"Kamu tahu seperti apa suamimu?"
"Jangan berbicara buruk tentang Mas Hans." sela Zoya yang tidak ingin mendengar apapun. Sementara itu, Rey masih tercengang dengan apa yang di katakan Zoya. Foto itu, iya foto yang diambilnya di sebuah club malam. Seharusnya membuat reaksi Zoya tidaklah seperti itu.
"Kamu jangan menutup mata, Zoy! " lanjut Rey. Kali ini, wajah Zoya sudah terlihat merah padam, dia tidak bisa mengerti apa maksud dari lelaki di depannya.
"Pergilah bersamaku. Aku akan membuatmu bahagia dan memberikan apa yang kamu mau." Mendengar kalimat lelaki yang sebenarnya tidak dia kenal, Zoya hanya bisa menggeleng. Wajah, tidak suka terlihat dari wajah polosnya. Dia semakin tidak menyukai lelaki di depannya karena menganggap dirinya menikah karena hanya untuk mencari sebuah kemewahan.
"Kita bisa memulainya di suatu tempat yang kamu inginkan. Dimana tidak Ada seorang pun yang akan mengganggu ketenangan keluarga kita." lanjut Rey, kemudian dia mencoba mendekati Zoya yang berlahan memundurkan langkahnya dengan pelan.
"Jangan Mendekat!" gertak Zoya. Wajah tegang dengan kombinasi guratan rasa takut membuat Zoya lebih sigap.
"Aku tidak akan ke mana pun. Aku mencintai Mas Hans. Dan aku hanya akan menikah sekali seumur hidupku." tegas Zoya. Wajah Rey yang tadinya menampilkan senyum kini mendadak terlihat muram. Pernyataan Zoya membuatnya kecewa. Semakin cemburunya Rey pada Hans, saat ungkapan kesetiaan dunia akhirat terucap dari perempuan berkerudung coklat muda itu.
Rey sudah menyiapkan banyak hal jika saja bisa membujuk Zoya. Dia tahu mengobarkan perang dengan seorang Hans tidaklah mudah. Untuk itu, dia sudah membangun sebuah rumah megah yang jauh dari keramaian, dan banyak kejutan spesial yang sudah dia pikirkan jika saja Zoya mau pergi bersamanya.
"Zoy, seharusnya kamu bisa lebih mengenalku sebelum kamu bicara seperti itu." ucap Rey dengan nada geram. Rahangnya terlihat mengeras, bahkan Zoya bisa mengenali kilatan sebuah emosi di mata lelaki yang biasa menampilkan senyum. Langkah Rey semakin mendekat membuat Zoya berlahan mundur karena rasa takut.
"Lelaki yang baik tidak akan mengambil sesuatu yang bukan miliknya. Bagiku kamu tidak lebih baik dari suamiku!" Suara lembut Zoya terdengar bergetar penuh ketakutan. Begitu geramnya Rey langsung menyambar lengan mungil itu hingga Zoya terkaget seketika.
__ADS_1
"Lepaskan!" Berontak Zoya.Tangannya terus berusaha meronta.
"Drt... drt... drt...!"
"Mami." gumam Rey, suara getaran ponsel Rey membuat lelaki berambut gondrong itu melepaskan cengkeramannya di lengan Zoya. Perempuan yang kini dirundung rasa takut itu tidak menyiakan kesempatan, Zoya memutuskan untuk berlari meninggalkan tempat itu.
Kakinya melangkah menelusuri sepanjang lorong di salah satu gedung kampus. Keringat dingin mulai menetes. Bagi Zoya, ini pertama kalinya dia menghadapi seseorang senekat itu.
Dia tidak menyadari jika kakinya sudah berlari kecil melewati jajaran ruang adminstrasi kampus. Mulutnya terus saja menyebutkan nama Allah tanpa henti untuk menghilangkan rasa takutnya.
Betapa terkejutnya dia kala tangan besar itu menarik lengan bahunya dengan tiba-tiba. Bahkan kemudian mendekap dan menenggelamkan tubuh mungil yang sudah mulai basah itu dalam dada bidangnya.
"Mas Hans!" Wajah pucat Zoya mendongak, meyakinkan lagi siapa yang memeluknya itu.
"Ada apa? Jangan berlari. Itu sangat berbahaya, Zoy!" ujar Hans, masih dengan mendekap tubuh Zoya yang terasa dingin. Sejenak Zoya menenangkan detak jantungnya yang berlomba memompa.
"Kamu harus menjaga diri dan dua calon buah hati kita." lanjut Hans. Tangannya masih mengusap lembut punggung istrinya menstransfer rasa hangat yang menenangkan.
"Aku ingin makan, Mas!" pinta Zoya, dia ingin sekali pergi dari kampus secepatnya. Hans yang masih heran melihat Zoya pun menurutinya begitu saja.
"Kamu mau makan apa?" tanya Hans memecahkan kesunyian diantara mereka.
"Apa saja, Mas. Aku sudah sangat lapar." Alasan yang didapat dengan asal asalan oleh Zoya agar suaminya tidak curiga. Tapi, perutnya memang tidak kalah lapar.
"Sayang, tenang. Jangan takut! Kan, ada Mas Hans." kelakar Hans dengan mengedipkan sebelah matanya, lelaki itu terus saja berusaha mengalihkan pikiran istrinya. Hans mengulurkan lengannya untuk menggenggam tangan mungil Zoya agar berhenti meremas.
Rasa hangat yang diberikan oleh genggaman jari jari besar itu membuta Zoya menoleh, mata bulat itu menelisik mencoba masuk ke dalam. Ada banyak hal yang ingin di ceritakan pada lelaki di sebelahnya, tapi tidak mampu.
"Kita makan nasi bakar, ya? " tanya Hans saat menghentikan mobilnya di depan restoran.
Setelah mendapat anggukan persetujuan dari Zoya, mereka pun masih ke dalam restoran. Lelaki dengan perawakan tinggi itu tidak melepaskan rangkulan tangannya di bahu mungil istrinya. Dia masih bisa menemukan sebuah rasa cemas dalam setiap gerak tubuh Zoya meski dia sendiri belum mengerti apa penyebab sebenarnya.
###
Rencana awalnya mereka akan membawa Ale pulang ke rumah sekalian bersama Mama Shanti. Tapi, kenyataannya rasa lelah yang di keluhkan Zoya pada Hans membuat mereka memutuskan untuk menginap di rumah Mama Shanti.
__ADS_1
"Mama, kata Oma, besok adek Ale langsung dua, ya?" tanya Ale dengan menciumi perut datar Zoya. Sedari tadi bocah gembul itu menunggui perut mamanya, sesekali dia juga mendaratkan ciuman di sana. Mereka menghabiskan waktu bersama di atas tempat tidur saat Hans masih membersihkan diri di kamar mandi.
"Iya, makanya Ale harus menjadi contoh yang baik untuk adek adeknya Ale." jawab Zoya dia mulai memberi pengertian bagaimana sikap seorang kakak tertua.
"Ale juga harus sayang dan menjaga adek adek Ale nantinya ya!" Sahut Hans sambil mengacak rambutnya dengan handuk saat keluar dari kamar mandi.
"Papa nggak punya adek. Terus Papa sayang siapa?" tanya Ale dengan menoleh ke arah papanya yang berjalan ke arah mereka setelah menyisir dan merapikan rambutnya.
"Mau tau Papa sayang siapa?" Hans Balik bertanya pada putrinya yang masih betah menatapnya untuk menunggu jawaban dari pertanyaannya.
"Iya."
"Papa sayang sama bocah gembul ini." jawab Hans dengan mencubit kedua pipi Ale yang masih terlihat menggemaskan.
"Papa sakit." keluh Ale yang merasakan pipinya panas.
"Terus papa sayang sama calon adek Ale." Hans mendaratkan ciumannya di perut Zoya membuat Zoya menahan geli.
"Kalau sama adek bayi dicium kalau sama Ale dicubit." gerutu bocah itu dengan mengerucutkan bibirnya. Siap cemburuan Ale memang mirip papanya.
"Oh, mau dicium Papa?" goda Hans, kemudian mencium puncak kepala Ale yang masih duduk menunggui perut Mama Zoyanya. Sedangkan Hans memilih duduk di dekat kaki Zoya dan mulai memijiitnya pelan.
"Mas hans, nggak usah memijat kakiku." ucap Zoya yang akan menggeser kakinya menjauh tapi ditahan oleh tangan besar itu. Zoya merasa sungkan dengan perlakuan suaminya.
"Terus mijit dada?" seloroh Hans dengan tersenyum licik.
"Punggung, Papa, bukan dada. Kalau Ale di spa itu tidur tengkurap terus punggungnya di lulur dan dipijat." protes Ale, dua bulan sekali Zoya memang sering membawa Ale ke spa khusus anak.
"Mas Hans, kelewatan!" sungut Zoya membuat lelaki itu terkekeh.
"Oh ya, kalau tidak ada Mama, anggota tubuh Ale jangan boleh dipegang orang lain ya. Besok Ale sudah TK B sebentar lagi SD, berarti Ale sudah besar." ujar Zoya. Dia juga mulai mengenalkan bagian tubuh yang mana tidak boleh dipegang orang lain apalagi lawan jenis.
Masih dengan memberi pengertian putrinya, tanpa terasa, Zoya sangat menikmati pijatan suaminya yang memang bisa meregangkan otot kakinya yang tadinya terasa kaku dan lelah.
Masih menikmati kebersamaan mereka hingga menunggu Ale tertidur, Hans sendiri ingin menanyakan kejadian tadi siang yang sempat membuat istrinya ketakutan. Dia tidak ingin, kondisi psikis yang seperti itu mempengaruhi kehamilan istrinya dan calon bayi mereka.
__ADS_1
Bersambung....