Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Tom and Jerry


__ADS_3

Sebuah notifikasi di ponsel Zoya pun berbunyi membuat tangan mungil Zoya menggapai ponselnya di sudut sofa. Zoya membuka sebuah pesan yang dikirim dari nomer asing. Sebuah pesan yang menyurutkan senyum di wajahnya. Matanya mulai berkaca-kaca kemudian menatap Hans dengan tatapan kecewa.


Bibirnya pun bergetar tapi lidahnya terasa kelu saat dia ingin bertanya sesuatu pada orang di sampingnya.


"Ada apa, Zoy? " tanya Hans saat melihat mata indah itu mulai mengembun. Wajah putih itu pun berganti rona yang mengisyaratkan rasa kecewa.


"Aku kecewa dengan Mas Hans." lirih Zoya kemudian meninggalkan Hans yang masih terlihat bingung serta penasaran. Hatinya terasa riuh dan juga meradang. Jika bukan karena ada Ale, seketika pula tangisnya akan pecah.


"Zoy... " panggil Hans dengan mengejar istrinya yang berjalan dengan langkah tergesa untuk masuk ke dalam kamar.


"Zoya....! " Suara Hans terdengar sudah meninggi, kemudian dia mencekal lengan Zoya saat sudah berada di dalam kamar.


"Ada apa? " lanjut Hans masih dilanda rasa penasaran. Wajah di depannya sudah penuh dengan air mata.


"Kamu tega ya, Mas. Katanya ke lapas ternyata perginya ke hotel." lirih Zoya dengan menyerahkan ponsel miliknya yang masih menampilkan foto Kyara memeluk lengan Hans.


Zoya menatap sosok di depannya dengan tatapan kecewa. Sementara Hans masih memperhatikan fotonya di ponsel Zoya. "sial!" umpat Hans sejenak berfikir tentang si pengirim pesan.


Zoya memilih duduk di pinggir ranjang, tubuhnya sudah terasa lemas. Sesekali dia menyeka air matanya. Sementara, Hans masih berdiri dengan mencoba mengubungi nomer ponsel si pengirim pesan. Tapi, sudah tidak aktif.


"Zoy, bukan seperti itu ceritanya. " ucap Hans dengan mendekati Zoya. Sedangkan Zoya masih mematung tanpa ingin melihat wajah orang di depannya.


"Lihatlah ini! Aku telepon balik nomernya sudah tidak aktif. Pasti orang ngerjain, Zoy. " jelas Hans.


"Ngerjain? Kenapa harus ngerjain? Lalu kenapa juga Mas Hans bersama Kyara ke hotel? " lirihnya hampir tak terdengar. Tenggorokannya seolah tercekat untuk mengeluarkan kata kata.


"Aku juga tidak mengerti, Zoy. Tapi keadaan sebenarnya, Kyara keseleo oleh sepatu heelsnya dan dia bertumpu pada lenganku. Bukan posisi memeluk." jelas Hans dengan mengusap wajahnya kasar. Berfikir. Bagaimana lagi dia akan menjelaskan.


Tanpa menjawab penjelasan suaminya, Zoya merebahkan tubuhnya. Kini, kepalanya terasa berputar, dadanya pun terasa sesak, bahkan desiran aliran darah yang menyimpan sejuta emosi itu pun membuat tubuhnya terasa lemas.


"Zoy, apa kamu tidak percaya denganku? " Hans pun ikut merebahkan tubuh di depan istrinya. posisi mereka yang tidak beraturan membuat kaki Hans masih menggantung, tapi air mata istrinya yang masih mengalir membuat hatinya semakin resah.

__ADS_1


"Zoy, coba pikirkan lagi, kenapa orang itu tidak mengirim video saja jika Kyara memelukku? " Sebuah pertanyaan sekaligus argumen yang dia lontarkan untuk meyakinkan Zoya. Tapi, istrinya hanya terdiam.


Sejenak hening....


Hans menatap manik mata indah yang terus saja berair. Tangannya mengusap lembab pipi yang kini sudah memerah. Tidak ada penolakan. Kulit putih Zoya membuat warna wajahnya begitu sensitive untuk berganti dengan guratan merona.


"Kenapa harus ke hotel? Apa tidak ada tempat lain? Dan aku melihat Mas Hans begitu dekat dengan gadis cantik itu. " Hans tersenyum. Semarah dan sekecewa apapun Zoya, tutur katanya masih terdengar lembut. Bagaimana aku bisa mengecewakanmu, Zoya? Mungkin kalimat itu yang saat ini menghuni hati lelaki ganteng itu.


"Aku dari lapas langsung ke hotel. Iya, masih bersama Kyara, kemudian langsung ke hotel untuk menemui tuan Diraja. Tuan Diraja Papa Antonio, dia pemilik Hotel Respati. " jelas Hans dengan menyingkirkan anak rambut istrinya. Senyum tipis masih melekat di bibir tipisnya, bahkan tatapannya tak ingin beralih dari wajah ayu di depannya.


Tadinya Zoya yang tak ingin melihat wajah ganteng itu pun mulai beralih menatap dalam mata tajam suaminya. Zoya, dia hanya ingin melihat kejujuran di sana. "Apa Mas Hans menyukai Mbak Kyara? " selidik Zoya membuat Hans menggeser posisi, merapatkan tubuhnya dan menyangga kepalanya dengan satu lengan yang sudah ditekuk.


"Apa kamu cemburu, Zoy? " tanya Hans dengan senyum menggoda. Dia senang jika Zoya merasa cemburu.


"Ceklek.... Papa! " teriak Ale dengan berlari menghampiri kedua orang dewasa yang sedang rebahan di tempat tidur.


Ale langsung naik ke atas tempat tidur. Tubuh gembulnya membuat gelombang yang menggerakkan permukaan seluruh ranjang saat dia terus melompat-lompat.


"Papa, Mama kenapa? " tanya Ale dengan menggelut tubuh papanya untuk meminta penjelasan.


"Eh-eh... ini apa-apaan. Kamu belum cuci tangan, Al? " Hans mengangkat tangan berminyak Ale dari tubuhnya, kemudian memperhatikan sekitar mulut putrinya sisa minyak yang diusapkan di kemejanya bagian belakang.


"Ya Allah, ayo cuci muka dan cuci tangan dulu! " titah Hans dengan menarik bocah itu masuk ke kamar mandi. Zoya tersenyum, saat melihat dua orang yang di sayangi dan sudah menjadi bagian dari hidupnya itu selalu ribut bagai Tom and Jerry. Kali ini, dia berusaha mempercayai argumen suaminya.


"Mama, Ale ingin minum. Katanya, Papa sekalian mandi. " ucap Ale setelah wajah dan tangannya bersih. Bocah itu berjalan menghampiri Zoya yang masih sudah duduk di pinggir tempat tidur.


"Ayo, Mama ambilkan. " Zoya beringsut berdiri kemudian menggandeng Ale menuju dapur. Sebelum sampai di dapur, Zoya sempat melirik bekas martabak yang di makan Ale. Berantakan. Lantai marmer itu menampakkan beberapa ceceran mainan Ale dan makanan.


"Ale, tunggu di depan TV ya! Mama mau buat jus dulu. Adek bayi serpetinya ingin jus." rayu Zoya agar Ale menuruti perintahnya.


"Ale juga mau, Ma." teriak Ale kemudian meninggalkan dapur menuju depan TV.

__ADS_1


Zoya masih terlihat repot dengan beberapa buah yang akan di mix untuk jus. Belum lagi dia berniat membuatkan Hans kopi.


"Zoy, bikin apa?" Hans mendekat ke arah istrinya yang berdiri di dekat juser. Lelaki yang sudah nampak segar dengan balutan kaos rumahan yang mencetak gelombang otot di lengan dan dadanya itu berjalan mendekati Zoya. Dengan membantu memasukkan buah ke dalam wadah juser, Hans kembali melirik wajah istrinya.


"Kamu cemburu dengan Kyara? " tanya Hans, ingin memastikan perasaan Zoya. Tapi, Zoya masih terdiam.


"Kenapa diam, Zoya? " desak Hans.


"Terus aku harus jawab apa, Mas? Lihat saja Aku sudah mengandung anak Mas Hans." Zoya menatap Hans bersamaan dengan helaan nafasnya yang berat.


"Hehehehe... " Hans terkekeh.


"Mana ada istri yang sudah hamil tidak merasa was was saat suaminya dekat dengan perempuan cantik, seksi pula. " lanjut Zoya dengan memulai memutar mesin juser.


Hans mendekat, mengikis jarak diantara keduanya. Bahkan hembusan nafasnya membuat Zoya merinding.


"Tapi, kan itu hasil paksaanku, Zoy. Waktu itu kamu setengah menolak!" bisik Hans dengan memeluk tubuh mungil itu dari samping.


"Menolak karena takut. Mas Hans seperti orang kesetanan. "


"Aku cemburu, Zoy! " lirihnya dengan menatap wajah ayu itu dari samping. Mendengar kalimat Hans membuat Zoya mengulas senyum tipis di bibirnya.


"Ma, jusnya sudah jadi? " tanya Ale membuat Hans seketika melepaskan pelukannya.


"Si pengacau. " gumam Hans dengan berdecih kesal saat melihat kehadiran Ale di dapur.


"Iya bentar, tinggal nuangin di gelas. " jawab Zoya. Sementara Hans memilih keluar dari pantry.


"Dasar... ! " Hans mengacak rambut Ale saat melewati putrinya. Sementara Ale mendekat ke arah Zoya meminta jus yang dia minta.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2