Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Sesak Nafas(Extra Part)


__ADS_3

Saat melihat bayangan dirinya di cermin, hatinya ingin mengumpat. Dia terlihat layaknya orang gila. Yah, ini pertama kalinya dia menjadi gila dan itu demi anak dan istrinya. Saat umpatan di hati ingin meledak, dia kembali mengelus pipinya dimana Zoya mendaratkan ciumannya. Tentu saja agar dia merasa lebih sabar.


Music diputar. Sebuah lagu milik BlackPink menjadi pilihan Zoya, tentu saja karena Ale sudah menguasai itu. Keduanya memulai gerakan, lebih tepatnya dipimpin oleh Ale. Tentu saja itu bukan battle. Hans yang berusaha mengikuti gerakan Ale pun malah membuat kacau bocah gembul itu. Sesekali Ale mendorong pinggang papanya karena mereka melakukan gerakan bertabrakan. Bahkan, bocah itu sempat mengomeli papanya karena papanya malah merusak semua gerakan dan memecahkan fokusnya.


Gerakan yang kacau, tapi Hans bisa melihat tawa lepas istrinya. Zoya bahkan terkikik melihat dua orang yang menari kacau di depannya. Menghabiskan satu putaran lagu, bagi Hans itu sangatlah lama. Zoya masih tertawa, sesekali dia bertepuk tangan. Tapi, Bagi Hans ini adalah siksaan. Lama-kelamaan kepala terasa pusing karena dia harus terus saja bergerak terkadang berputar mengikuti dentuman musik yang terdengar lebih berisik.


"Kepalaku pusing." Akhirnya Hans menyerah saat hampir menghabiskan satu lagu. Dia membanting tubuhnya di kasur.


"Papa.... " teriak Ale dengan mematikan tapenya.


"Dadaku sesak, Zoy. Aku mau pingsan." lirihnya dengan mengatupkan kedua kelopak matanya. Dengan satu tangannya, dia memegang sebelah dadanya.


"Mas Hans.... " Zoya terlihat panik. Wajah putih Hans sudah dipenuhi keringat yang masih mengucur.


"Papa.... " Bahkan, Ale berteriak saat melihat papanya berbaring dengan nafas tersengal. Bocah itu langsung menangis dengan menggoyang goyangkan lengan papanya.


"Nafasku terasa sesak." lirih Hans dengan nafas masih tersengal.


"Aku harus apa? " Zoya terlihat begitu panik, bahkan rasa bersalah kini seolah terus meneriaki. Pandangannya kesana-kemari mencari di mana ponselnya berada. Dia akan menelpon ambulance.


"Sakit, sesak... " rintih Hans membuat Zoya semakin gugup.


"Tahan sebentar, Mas." ucapnya dengan suara parau, tubuhnya juga sudah terasa gemetaran.


"Nafas buatan." pinta Hans dengan nafas yang masih tersengal. Zoya sangat panik. Nafas buatan saja dia tidak pernah melakukannya. dan tidak tahu bagaimana cara melakukannya. Tapi rasa paniknya membuatnya memutuskan untuk mencobanya.


"Kak Ale, menghadap ke sana! " titah Zoya dengan menunjuk arah belakang putrinya.


"Ayo, Kak! " desak Zoya sekali lagi, membuat bocah itu memutar membelakangi mereka. Hal yang ditakutkan Zoya, Hans terkena serangan jantung. Penyakit satu itu tidak mengenal usia.


Zoya membuka mulut suaminya, tubuhnya masih bergetar saat dia mulai menundukkan tubuhnya. Ketika dia menempelkan bibirnya, Hans menahan bahu dan tengkuknya, membuat mata Zoya membulat karena Hans memagut bibirnya dengan rakus. Zoya terlambat menyadarinya.


Sepersekian detik pagutan itu menjadi *******, hingga Hans melepasnya dengan nafas terengah.


"Mas Hans.... " panggil Zoya dengan suara sedikit meninggi dan memukul lengan itu. Ale yang mendengarnya pun membalikkan tubuh menatap papanya yang malah tertawa.

__ADS_1


"Papa baik-baik saja." ucap Hans ke arah putrinya.


"Papa , Ale takut." ucap Bocah itu terlihat hampir menangis.


"Iya, Mas Hans keterlaluan." Dengan mata berkaca kaca Zoya menghujani perut dan pinggang suaminya dengan cubitan. Melihat mamanya sedang meluapkan kelegaannya, Ale pun tidak mau kalah.


"Papa nakal." pekik bocah itu dengan memukul mukul lengan Hans bahkan sesekali pukulan kecil putrinya mengenai dada.


"Aku bisa sakit beneran jika dikeroyok begini." protes Hans dengan tubuh menggeliat geliatkan tubuhnya menahan panas dan geli karena cubitan.


"Aku yang hampir jantungan!" lirih Zoya kemudian menunduk dan menjatuhkan wajahnya di dada bidang itu. Ale juga tidak mau kalah, bocah itu langsung berbaring memeluk papanya.


Hans pun tergelak dengan kedua tangan memeluk kedua wanitanya. Dia terus saja menghuuani ke duanya dengan ciuman.Hatinya merasa bahagia, dua wanitanya ternyata selalu mencemaskannya.


Bahagia itu tidaklah mahal. Terkadang kitanya saja yang memilih bahagia dengan cara yang mahal.


"Ada apalagi ini? Kenapa kalian saling berpelukan kayak Teletubbies?" Suara mama shanti membuat ketiganya mendongak. Sedangkan Ale dengan sigapnya bangkit.


Mama Shanti yang baru pulang dari kumpul kumpul bersama temannya pun mencari anak cucunya ke lantai atas. Di bawah terasa terlihat sepi, saat naik di atas pintu kamar Hans terbuka. Dia yakin jika mereka sedang menghabiskan sore mereka di kamar.


Wanita paruh baya itu mendekat. Dia terbelelak kaget saat melihat rambut putranya yang.... Ah, dia sendiri tidak bisa berkomentar.


"Biasa sajalah, Ma." ucap Hans dengan sewotnya.


"Ayo Mbul, buka kuncirnya!" mendengar perintah papanya Ale langsung berdiri membuka kuncir kuncir itu.


"Ihhh...papa ubanan! " teriak Ale saat melihat sehelai rambut putih di kepala papanya.


"Masak iya, Zoy?" Hans kini mencondongkan kepalanya ke arah istrinya. Untuk mencari kebenaran dari ucapan Ale.


"Iya cuma sehelai kok!" jawab Zoya.


"Papa sudah ubanan kayak Eyang." Ale masih meledek papanya membuat Hans menarik tubuh gembul itu dan menggelitiknya.


"Ampun Papa." teriak Ale berkali kali. Tubuh gembul itu terus meronta menahan geli.

__ADS_1


Zoya beranjak menuju sebuah meja, dimana dia menyembunyikan handycam. Kemudian menghampiri mama mertuanya yang sudah duduk di sebelah Hans.


"Yuk kita lihat dancenya, Papa!" ucap Zoya menghampiri mereka tanpa rasa bersalah.


"Kamu merekamnya, Zoya? " tanya Hans yang di jawab senyuman oleh Zoya.


"Awas lo, jika sampai ada yang tahu." ancam Hans dengan mengepalkan tinju.


"Mana? " Mama Shanti langsung menyambar handycam dari tangan Zoya karena tidak sabar dengan gerakan lambat putri menantunya.


"Astaga Hans.... " Dia tidak lagi bisa berkomentar, yang ada beliau tertawa terpingkal pingkal hingga mengeluarkan air mata.


Begitu besarkan pengaruh perempuan mungil pilihannya? Hingga mampu membuat putranya seperti orang gila. Beliau tertawa hingga tak bersuara. Iya, perutnya terasa tak bisa berhenti untuk ikut bergetar.


"Zoya, kenapa nggak di make up sekalian?" Kalimatnya terputus putus karena belum bisa menghentikan tawa sepenuhnya.


"Sudah sudah. Aku lapar, Zoy. Aku belum makan siang!" Kalimat itu bermaksut mengusir ketiga wanita itu untuk pergi ke dapur. Seusai sidang, saat dia membaca pesan yang dikirim Ale, Hans langsung bergegas pulang. Akhir-akhir ini, Zoya selalu merebut kecemasannya.


Hans menatap ketiga wanita itu yang berjalan meninggalkan kamar. Entah kenapa dia selalu cemas saat melihat tubuh kecil dengan perut yang semakin membesar. Iya, baru empat bulan saja perut Zoya sudah sangat besar, berbeda saat Renita hamil Ale. Empat bulan, belum ada yang mengenali kehamilan Renita.


"Semoga kalian baik baik saja, sehat selalu. Kalian duniaku." gumam Hans dalam hati. Lelaki itu pun beranjak pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


###


Di sebuah rumah yang lumayan besar, Zuri menatap bayangan dirinya di cermin. Gadis yang berusia dua puluh enam tahun itu sedang merenungi jalan hidupnya.


Sejak kapan dia berubah menjadi seperti ini. Kekecewaannya pada seorang Arka membuatnya begitu liar. Wajah polos itu tidak lagi menjadi identitas dari karakternya.


Tiga tahun dia menjadi seorang sekretaris dengan direktur yang berbeda, membuat gadis itu banyak uang. Sebuah rumah yang cukup mewah, mobil Mini Cooper dan masih banyak uang yang mengalir di rekeningnya itu adalah hadiah dari bosnya yang selalu membawa dirinya untuk menemaninya dalam untuk urusan bisnis. Jika bersama Arka, bos pertamanya dia melakukannya dengan cinta. Arka yang selalu menghujani dengan kata kata cinta yang manis membuatnya lupa jika lelaki itu masih menyandang status suami wanita lain. Hingga suatu ketika hubungan rahasia mereka terbongkar membuat Arka harus menjatuhkan pilihannya. Lelaki berwajah bule itu ternyata memilih istrinya, dan itu membuatnya sangat kecewa. Hatinya begitu terluka hingga semua ini mempengaruhinya hidupnya sampai saat ini.


Dia kembali mengamati wajahnya di cermin. Uraian masa lalu kembali mengingatkannya. Zuri menatap kembali garis wajahnya, yang selalu mendapat pujian setiap lelaki. Bodynya yang tidak bisa di tolak oleh siapapun membuatnya semakin yakin jika tidak ada lelaki manapun yang bisa menolak pesonanya. Bahkan rumah tangga bos keduanya pun harus kandas karena dirinya.


Zuri, gadis dengan sejuta pesona. Hal yang berbeda adalah dia lebih menyukai pasangan orang lain. Selalu menempatkan pada posisi diantara pilihan. Rasa kecewanya pada Arka membuat dirinya selalu ingin menjadi yang di pilih.


TBC

__ADS_1


__ADS_2