Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Kesal(Extra Part)


__ADS_3

Wildan menatap Nilla yang berdiri di balkon. Dari atas balkon dia bisa melihat taburan bintang yang menghampar di langit lepas, deburan ombak pun terdengar jelas.


Dia tidak menyadari di dalam kamar, lelaki bertubuh tinggi tegap itu sedari tadi memperhatikannya. Wildan melihat Nilla sekarang lebih kalem, tapi lebih banyak berfikir.


"Maafkan aku belum bisa membahagiakanmu." ucap Wildan dengan menenggelamkan tubuh kecil itu dengan pelukannya. Dia memeluk istrinya dari belakang dan menciumi puncak kepala sang istri dengan rasa sayang yang semakin kuat di hatinya.


Nilla membalikkan tubuhnya menghadap ke arah lelaki berhidung mancung itu.


"Bagaimana jika aku mencari kerja dari sekarang, Bang?" tanya Nilla sedari tadi masih berfikir tentang nasib dirinya selanjutnya.


"Kenapa?" tanya Wildan masih memeluk tubuh kecil istrinya. Bahkan, keduanya kini tak berjarak lagi.


"Jika memang kehidupan tidak sejalan dengan keinginan kita setidaknya aku sudah siap menghadapinya, Bang." jawab Nilla. Tanpa menjawab istrinya Wildan kembali menenggelamkan Nilla dalam pelukannya. Lelaki itu bisa merasakan betapa sedihnya perasaan perempuan yang dia sayangi saat ini.


Sejenak mereka terdiam dengan masih saling berpelukan. Hingga lelaki itu merasakan dadanya basah.


"Apa kamu tidak percaya dengan Abang? Lagi pula belum tentu Mayra mau dengan Abang." ucap Wildan dengan meregangkan pelukannya, kemudian mengusap sudut mata yang sudah berair.


"Sebenarnya Abang tidak setuju dengan Ummi. Tapi, Abang juga butuh waktu dan cara yang tepat untuk memberi pengertian pada Ummi."


"Kali ini percayalah pada Abang. Jika kamu sudah jadi pilihan Abang, maka entah apapun yang terjadi, Abang harus bertanggung jawab dengan pilihan Abang." ujar Wildan masih mencoba meyakinkan Nilla, jika apa yang dia pikirkan itu tidak akan terjadi.


"Kita kesini untuk liburan, bukannya memikirkan sesuatu yang membuat kamu sedih. Tersenyumlah untuk Abang!" Nilla mencoba menyuguhkan senyumnya yang sedikit dipaksa, dia akan mencoba untuk menghilangkan semua pikiran buruknya seperti apa yang dikatakan suaminya.


"Sebaiknya kita masuk! Anginnya semakin terasa dingin." ucap Wildan kemudian menuntun istrinya untuk masuk ke dalam kamar. Waktu yang terus terlewati bersama membuat mereka merasa untuk saling memiliki. Merasakan apa yang di rasa satu dengan yang lainnya.


###


"Sial! aku semakin sulit menahan perasaanku, Ra!" umpat Rey, sesaat kemudian mematikan video tentang Kyara. Dia baru saja mendapatkan kiriman itu dari orang suruhannya.


"Benar apa kata Dilan, Jika rindu itu berat." gumamnya lirih.


Dia semakin terbanyang wajah cantik itu, bahkan dalam video itu Kyara terlihat sangat cantik dan anggun dengan balutan longdres bermotif floral. Kyara memang biasa tampil simple, tapi kali ini sangat beda. Ada sentuhan gaya dan warna feminim soft yang begitu kental. Apalagi saat melihat kepiawaian gadis itu mengatasi suatu problem. Kyara memang perempuan yang cukup bisa diandalkan untuk sebuah problem solving.


Rey meninggalkan kafe tempat dia menikmati secangkir kopi dan melihat beberapa laporan dari orang suruhannya. Lelaki jangkung itu merapatkan mantelnya saat meninggalkan kafe. Hawa dingin yang menggigit hingga ke tulang membuatnya mempercepat langkahnya untuk sampai apartemen.


Musim dingin sudah menyelimuti kota Berlin. sampai di apartemen dia harus memaksa otaknya untuk menyelesaikan semua targetnya agar bisa segera pulang ke Indonesia. Dia berharap nuraninya tidak akan berbohong jika Kyara masih bisa dia miliki saat dia kembali ke Indonesia.


Daniel? Lelaki itu yang sempat membuat Rey cemas. Rey juga tahu jika Daniel semakin gencar mendekati gadis yang sudah mengambil semua rasa rindunya itu.


Di tempat lain, di Indonesia Kyara yang baru saja masuk rumah sudah disambut oleh deheman papanya.


"Kenapa tidak pamit dengan dokter Daniel jika kamu meninggalkan acara?" pertanyaan Indrawan terlontar untuk Kyara.


"Aku buru buru, Pa. Ada pekerjaan yang harus Kyara selesaikan." jawab Kyara, mencoba menghindari papanya.


"Ra, dokter Daniel mengatakan pada Papa, jika dia menyukaimu. Dia ingin melamarmu." kalimat Indrawan membuat Kyara mematung. Gadis itu tidak menyangka jika Daniel akan secepat itu mengambil tindakan.

__ADS_1


"Bagaimana?" desak Indrawan saat melihat putrinya mematung.


"Kita belum terlalu mengenal, itu terlalu cepat, Pa." jawab Kyara.


"Sampai kapan, Ra. Papa juga ingin melihat anak gadis Papa berumah tangga seperti gadis lainnnya." Indrawan bangkit, suaranya sedikit meninggi saat mendengar Kyara masih membantah.


"Pa, Kyara tidak suka dipaksa. Kyara sudah dewasa dan Kyara juga tidak ingin membabi buta menentukan hidup Kyara." jawab Kyara, tanpa dipertanyakan papanya, Kyara sendiri sudah cukup pusing memikirkan semuanya.


"Ra... jangan terlalu berharap pada lelaki yang sudah meninggalkanmu! Turunkan sedikit idealismu itu." tutur Indrawan membuat putrinya bungkam. Papanya memang tidak salah tapi hati kecilnya itu tidak bisa dia bohongi.


"Pa, Kyara akan istirahat dulu!" pamit Kyara kemudian berlari kecil menaiki anak tangga menuju kamarnya.


"Siapa yang tidak ingin menikah seperti yang lainnya? Siapa yang tidak ingin mendapatkan cinta yang seharusnya? Aku juga ingin bisa melupakan Bang Rey, Pa. Kyara juga tidak ingin hidup dengan harapan kosong. Tapi, Kyara belum bisa menggantikannya dengan sosok lain." Gadis itu memejamkan matanya. Dia masih berdiri di balik pintu kamarnya setelah menutupnya kembali. Hanya dia yang tahu rasa kesepian yang begitu hebat di hatinya. Kekosongan di hatinya kini menjadi sebuah kehampaan.


Setelah mengusap sudut matanya yang berair, dia kembali mendekati barang yang diberikan orang yang sangat misterius. Di meja yang ada di dekat jendela, di sana ada payung dari seseorang yang dia sendiri tidak tahu orangnya. Bunga itu, Kyara teringat bunga yang masih ada di tasnya itu. Bucket bunga kecil yang diberikan sopir taxi itu. Dia kembali mengendus aromanya, dia kembali meyakinkan parfum yang sangat dia kenal. Rey, yang dia ingat saat mengendus aroma pada bunga itu. Aroma yang sama yang dimiliki lelaki yang sudah membawa pergi sepotong cintanya.


"Aku benci kamu, Bang." pekik Kyara dengan melempar bunga itu. Dia sangat benci tidak bisa mengendalikan perasannya. Gadis selalu terlihat riang itu pun akhirnya meneteskan air mata karena perasaannya sendiri.


###


Setelah memarkir mobilnya di baseman, Hans pun segera berlari masuk ke dalam lift. Sesekali dia melirik arloji yang ada di pergelangan tangannya. Sudah pukul tiga sore, tapi dia belum tahu apa Zoya sudah makan apa belum. Tadi pagi, dia meninggalkannya di apartemen karena dia hampir telat untuk menghadiri acara sidang pagi hari.


"Assalamu'alaikum." ucap Hans saat dia masuk ke dalam apartemen.


Sepi.


Apartemen terlihat sepi. Langkahnya kini mengayun ke kamar. Dengan sedikit tergesa Hans membuka pintu kamar. Dan ternyata kosong. Hatinya semakin cemas, tidak ada tanda tanda keberadaan seseorang. Tapi dia melihat ponsel Zoya yang tergeletak di atas nakas.


"Zoya sayang... " dia mencoba mencari di bagian dapur.


"Zoy... " pekiknya saat melihat Zoya tergeletak di depan tempat loundry. Wajahnya menegang dengan perasaan panik yang membuncah dalam hatinya. Hans menghambur, mendekati tempat di mana Istrinya tergeletak dengan memejamkan mata.


"Zoya... " teriak Hans hingga wajah putihnya bersemu merah saat mendekati istrinya karena rasa takut. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat mendapati Zoya tergeletak tak sadarkan diri.


"Bangun Zoy!" Dengan rasa takut yang menguasai hatinya, lelaki yang saat ini melelehkan air mata itu pun berusaha mengangkat tubuh istrinya.


"Selamat ulang tahun Papa.... " Teriakan ketiga wanitanya itu membuat tubuhnya melemah. seketika itu pula dia terduduk. Taburan popper confetty itu masih disemprotkan oleh Ale.


"Apa apaan kalian." teriak Hans, dia bangkit saat kembali menguasai kesadarannya.


Semua terdiam saat melihat kemarahan lelaki yang saat ini menyugar rambutnya kasar, Hans mencoba menurunkan emosinya yang ternyata masih gagal.


"Kalian pikir ini lelucon?" Bentaknya sekali lagi. Zoya yang masih terduduk di lantai pun menundukkan wajahnya. Sedangkan Ale langsung menghambur memeluk mama Zoyanya saat melihat wajah merah padam papanya karena amarah.


"Kalian keterlaluan!" Hans meninggalkan ketiga wanitanya yang masih terdiam. Dia benar-benar marah. Betapa cemasnya dia saat melihat istrinya tergeletak seperti itu. Hampir saja dia kehilangan detak jantungnya.


Hans memilih duduk di sofa tengah. Dia kembali mengusap kedua sudut matanya yang mengembun, jantungnya masih berdetak tak beraturan. Dia tidak bisa membayangkan jika istri dan kedua anaknya dalam keadaan bahaya. Sekali lagi dia mengusap wajahnya mencoba menenangkan rasa yang masih berkecamuk di hatinya.

__ADS_1


Berlahan Zoya mendekat ke arahnya bersama Ale, Mama Shanti pun tidak berkutik karena juga merasa bersalah.


"Minum dulu, Mas." Zoya menyodorkan segelas air putih yang mungkin bisa membuat suaminya tenang. Tapi, Hans memalingkan wajahnya. Dia masih kesal dengan ketiga wanitanya itu.


Sejenak mereka terdiam, tapi masih mematung di dekat lelaki yang kini mencoba menghela nafas memenangkan emosinya.


"Maafkan kita, Mas!" pinta Zoya dengan duduk di sebelah suaminya. Tapi, Hans masih terdiam.


"Maafkan Ale juga, Pa." pinta bocah gembul itu mencoba mendekat, tapi Hans juga tidak bergeming.


"Maafkan Mama, Hans. Kami hanya ingin membuat suprise." ucap Mama Shanti. Dia juga merasa bersalah saat dia melihat betapa takutnya Hans saat melihat Zoya tidak sadarkan diri di lantai.


Semua terdiam mengelilingi Hans yang masih tak bergeming. Hingga beberapa detik, terdengar isak tangis. Hans menoleh kearah Zoya, dia bisa melihat istrinya sedang menyeka air matanya.


"Sudah jangan menangis!" akhirnya lelaki itu bicara meski kalimatnya masih terdengar datar, lengannya merangkul tubuh mungil yang duduk di sebelahnya meski pandangannya masih lurus ke depan.


"Ide siapa ini?" tanya Hans terdengar horor bagi ketiganya.


"Ale..."


"Kak Ale... " Mama Shanti dan Zoya menunjuk pada Ale. Sedangkan bocah itu hanya terdiam menatap takut ke arah papanya.


"Teman Ale yang pura pura pingsan, malah bikin ibu guru tertawa saat ulang tahun." jelas Ale dengan suara lirih. Dia masih merasa bersalah. Sementara Mama Shanti dan Zoya hanya saling bertukar pandang, karena dia tidak menanyakan sebelumnya dari mana Ale mendapat ide itu.


"Beda, Sayang!" Hans menarik lengan putrinya dan memeluk putrinya yang sudah merasa bersalah itu.


" Lihatlah perut Mama, ada Doni dan Dini. Papa sangat cemas jika sampai Mama Jatuh atau apa." Satu tangannya pun menjulur mengusap perut Zoya.


" Maafkan Ale, Pa." ucap Ale sudah ingin menangis karena merasa bersalah.


"Lain kali kalau becanda jangan kelewatan ya!" Ale menjawab papanya dengan mengangguk kemudian berlari meninggalkan mereka.


"Mama juga sudah tua harus tau dong mana yang buat becandaan mana yang tidak." Mama Shanti pun hanya terdiam dengan memajukan bibirnya karena dikatain sudah tua.


"Kamu juga, Zoy. Mungkin kamu tidak tahu kalian adalah duniaku, aku tidak tahu denganku jika terjadi sesuatu dengan kalian. Mungkin aku juga akan mati bersama kalian." Hans mengusap perut buncit Zoya. Mendengarnya pernyataan suaminya Zoya pun melelehkan air matanya kemudian memeluk tubuh atletis di sebelahnya. Ada rasa bahagia saat Hans mengatakan jika mereka adalah dunianya.


"Selamat ulang tahun Papa, semoga panjang umur." ucapan Ale dengan membawa kue yang sudah mereka siapkan.


"Terima kasih, sayang." ucapan Hans kemudian meniup lilin di kue yang masih di tangan Ale.


"Selamat ulang tahun, Mas. Semoga panjang Umur, sehat dan sukses." ucap Zoya dengan memeluk kembali Hans.


"Terima kasih." ucap Hans dengan mencium kening istrinya kemudian beralih pada si gembul.


"Selamat ulang tahun, Hans. Semoga sehat dan diberi umur panjang, menjadi suami dan bapak yang baik." Mama Shanti mencium kening putranya.


"Terima kasih, Ma." jawabnya.

__ADS_1


Tidak hanya itu, mereka juga memaksa Hans untuk makan malam di luar. Ketiganya meminta untuk makan malam di lesehan yang mana itu sulit bagi Hans. Dia paling ragu untuk makan lesehan di pinggir jalan. Tapi, mau bagaimana lagi? Lelaki itu pun tak kuasa untuk menolak ketiga wanitanya itu.


TBC


__ADS_2