
Hans membiarkan Zoya terlelap setelah mengeluarkan emosinya yang sudah lama tertahan. Lelaki berhidung mancung itu menarik dan meregangkan tubuhnya yang terasa lelah setelah mempelajari kasus yang sedang di tangannya.
Sudah hampir tengah malam, Hans kini menyandarkan tubuhnya di sofa. Matanya menatap Zoya yang sudah terlihat pulas dengan bergelung selimut tebal. Bagaimanapun dia perempuan pada umumnya yang menggunakan perasaannya dan sedewasa apapun, dia tetap gadis berusia sembilan belas tahun, itu yang terlintas dalam pikiran Hans. Hans mencoba memahami Zoya, meskipun awalnya dia tidak menyukai Zoya karena menganggap Zoya mau menikah dengannya karena alasan yang sama, seperti banyak perempuan yang mendekatinya, tapi ternyata selama mengenal Zoya gadis itu sama sekali tidak pernah mencoba untuk menarik perhatiannya, bahkan terkadang Hans merasa Zoya seperti menghindari darinya. Mungkinkah, dia menyimpan perasaan terhadap laki laki lain? Pertanyaan itu yang sedikit membebani pikiran lelaki berbibir tipis itu.
Tubuh yang terlelap itu pun menggeliat menghadap ke arahnya, nampak bulu mata lentik itu mengatup bersamaan dengan tertutupnya sorot mata cantik nan sendu miliknya. Hal yang paling tidak bisa dielakkan oleh Hans adalah rasa iba saat menatap sorot mata Zoya, tapi yang paling dia suka dari Zoya saat bibir itu tersenyum, seulas senyum yang selalu membuat teduh mata yang melihat. Hans yang berniat tidur di ranjang pun memutuskan untuk tidur di sofa, takut kejadian kemarin akan terulang, saat dia hampir saja khilaf karena berdekatan dengan Zoya.
Hawa dingin mulai menelusup hingga ke tulang, Zoya yang terbangun saat menjelang pagi itu pun melihat Hans tertidur di sofa. Sebelum ke kamar mandi, Zoya membawa selimut untuk Hans. Ditatapnya sejenak lelaki yang selalu membuatnya gugup itu, sikap hangat Hans semalam sedikit merubah persepsi Zoya pada lelaki berwajah datar dan bicara seperlunya itu.
Senyum manis tersemat untuk lelaki yang berstatus suaminya. Wajah ganteng, sikap hangatnya, dan kharismatiknya yang begitu kuat selalu memberi pesona sendiri bagi kaum hawa. Senyuman Zoya menyurut saat dia tersadar siapa dirinya, sementara Hans dikelilingi banyak perempuan berkelas yang jauh lebih pantas dari dirinya. Zoya pun mengerti status istri yang di sandangnya hanya sebuah status fatamurgana.
Gadis berkulit putih itu akan beranjak pergi meninggalkan Hans, tapi tangan lelaki itu menahannya dan sebelah matanya pun memicing untuk melihat Reaksi Zoya. Ah...entah kenapa Hans merasa seperti remaja yang sedang menggoda lawan jenisnya. Itu yang di rasa Hans saat harus di hadapkan pada Zoya yang pemalu. Senang sekali melihat wajah putih tersipu dan berubah menjadi rona merah di pipi.
"Maaf, membuat Mas Hans harus tidur di sofa!" ujar Zoya.
"Aku ketiduran, sekarang aku mau pindah! bangunkan aku setengah jam lagi." jawab Hans dengan menyeret selimutnya dan kemudian merebahkan diri di tempat tidur.
###
"Zoya bagaimana sikap Hans ke kamu? " tanya Bu Shanti saat menghampiri menantunya di dapur.
"Baik, Ma! " jawab Zoya sambil tersenyum.
"Kamu di kasih nafkah sama Hans, kan? " Shanti memang khawatir, karena Hans yang awalnya sangat menentang perjodohan ini tidak melakukan kewajibannya.
"Iya di kasih, Ma!"
"Mama lihat kamu nggak punya barang barang branded? Kamu nggak pernah belanja, ya?" masih ingin tahu layak tidaknya pemberian nafkah putranya pada Zoya.
__ADS_1
"Kemarin sudah di belikan baju sama Mas Hans di butik! "
"Tas, sepatu, jam tangan atau berlian? " Dengan terampilnya Bu Shanti menyebut barang barang yang sangat di sukai perempuan itu.
"Mama, nggak usah mencuci otak istriku!" seloroh Hans membuat dua wanita di pantry itu pun menoleh bersamaan.
"Mama kan cuma memastikan, menantu Mama mendapatkan apa yang sudah seharusnya."
Hans tak menjawab lagi mamanya, baginya tidak akan selesai jika menjawab mamanya. Zoya kemudian menggeser makanan yang sudah matang untuk dibawanya ke meja makan.
"Ihh...cucu Oma, belum mandi ini gimana, sih? " ucap Shanti dengan menoleh ke arah Hans. Sedangkan Hans masih tenang menyesap kopinya.
"Aku mandinya sama Mama Zoya! " jawab Ale, yang baru bangun tidur.
"Ale, susunya diminum dulu! Setelah itu, kita mandi." Ale menurut saja sama Zoya. Anak itu sudah seperti kerbau yang di cocok hidungnya jika yang meminta Zoya. Sementara Zoya masih membungkus makanan yang akan di bawa mertuanya ke dalam wadah tepak.
"Apaan mama ini, pesan katering, kan bisa? Jangan Zoya yang disuruh masak! " sahut Hans tidak terima.
"Siapa yang nyuruh masak? Mama kan cuma bilang bantuin. Ihh, over protect banget sih kamu." elak Shanti. Meski masih beradu mulut tapi beliau sedikit lega setidaknya Hans memperlakukan Zoya dengan baik. Sambil menunggu Ale mandi mereka menghabiskan minuman hangat mereka dengan beradu argumen, meski ujung ujungnya Hans harus mengalah. Yah, begitulah melawan orang tua tetaplah hal percuma, bagaimana hebatnya seorang anak tidak akan menang melawan orang tua.
"Oma, aku sudah cantik." teriak Ale sudah dengan mengenakan sepatunya. Hari ini Ale di titipkan sama Bu Shanti karena Zoya akan mengikuti kajian agama di pondoknya Nila.
Mereka duduk di tempatnya masing masing. Zoya pun menyiapkan makanan untuk Hans.
"Nasinya sedikit saja, Zoy! " ucap Hans yang merasa timbangannya mulai naik. Mendengar kalimat anaknya, Mama Shanti hanya tersenyum, anaknya pasti sudah ketagihan dengan masakan Zoya. Niat ingin menggoda putranya itu diurungkan karena Hans pasti akan gengsi mengakuinya.
"Ale makan sendili, Mama! " sahut Ale membuat Shanti tersenyum. Sikap Ale yang semakin kalem dan sedikit teratur membuat Shanti memuji Zoya dalam hati. Mereka menghabiskan sarapan pagi mereka dengan tenang. Sesekali Zoya membenarkan cara makan Ale saat bocah itu terlihat keteteran.
__ADS_1
Hans menyelesaikan Sarapannya terlebih dahulu, kemudian disusul Shanti dan kemudian Ale. Hans memilih waktu lebih awal untuk berangkat kerja karena harus mengantar mamanya terlebih dahulu yang mempunyai tujuan berlawanan arah dari kantornya.
"Zoy, nanti berangkatnya minta antar supir saja dan pulangnya biar aku yang jemput. "
"Jika aku berangkat pesan taxi saja, bagaimana? " tawar Zoya rasanya berlebihan jika dia harus diantar supir.
"Terserah kamu saja! " jawab Hans. Zoya kemudian mencium punggung tangan Hans, bergantian dengan Bu shanti.
"Titip Ale ya, Ma! " pinta Zoya.
"Tenang saja, Ale juga cucu Mama! " Zoya mengantar mereka sampai garasi. Dengan melambaikan tangannya santi sangat bahagia. Rumah anaknya terlihat lebih hidup sejak ada Zoya. Renita bukanlah menantu buruk, tapi kegiatan Renita di luar rumah terlalu banyak, sementara Hans juga terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Jadi setiap kali beliau datang pasti dalam keadaan sepi dan dapur akan tetep bersih karena tidak ada aktifitas memasak.
###
Hans masih mengumpulkan beberapa data yang akan menjadi bahan dan acuan untuk kasus perebutan hak waris yang sedang dia tangani.
"Pak, sudah jam makan siang. Apa Bapak mau pesan sesuatu? " tanya Diana asisten Hans yang baru saja bergabung dalam kantornya. Kantor Hans yang berstatus single law firm itu pun mempekerjakan pegawai dari bidang yang berbeda, meski dia dibantu dengan beberapa temannya yang juga seorang lawyer.
"Nanti saja! Sebentar lagi aku akan keluar! " ucap Hans dengan nada tegas tanpa menoleh ke arah Diana. Hans memang terkesan dingin dan datar.
"Baiklah kalau begitu! " Diana kembali menutup pintu ruangan Hans. Lelaki itu masih tampak sibuk dengan beberapa berkas. Tapi, saat mendengar sebuah siaran berita ada Demo besar besaran yang di lakukan oleh mahasiswa dari gabungan berbagai kampus di Jln. Sultan Agung membuat Hans menghentikan pekerjaannya. Matanya fokus pada acara TV yang menayangkan bentrok mahasiswa dengan aparat.
Seketika pula Hans langsung meninggalkan pekerjaannya. Jalan Sultan Agung adalah daerah pondok yang tadi di datangi Zoya untuk mengikuti kajian.
Hans menyambar ponsel dan kunci mobil. Beberapa kali dia menghubungi Zoya, tapi ponsel istrinya tidak aktif. Hans terlihat panik, langkahnya dengan berlari kecil mengundang perhatian pegawainya. Hari ini pertama Zoya keluar rumah, dia tidak ingin terjadi hal buruk pada istrinya.
Bersambung.
__ADS_1
Demo kenaikan BBM pada tahun 2008.