Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Gunjingan


__ADS_3

"Terima kasih, Mas! " ucap zoya dengan senyum yang bisa meruntuhkan dunia laki laki itu. Sementara Zoya merasakan sisi hangat dari tampilan Hans yang datar.


Zoya meletakkan kembali cangkir yang sudah dia teguk sebagian dari isinya.


"Tidurlah di sini untuk malam ini! Agar aku bisa mengetahui keadaanmu! " Mendengar perintah Hans, zoya hanya terdiam, Bagaimana bisa dia menentang perintah suaminya.


"Baiklah, Mas! Ini sebenarnya hal biasa bagi sebagian perempuan. " zoya kembali merebahkan tubuhnya di kasur yang berukuran king size itu, panggilan 'Mas' ternyata lambat laun sudah membudaya, meski awalnya terasa aneh diucapkan oleh gadis itu.


Hans, memilih mempelajari beberapa berkas kasus di kamar saja. Dengan begitu, dia bisa mengetahui kondisi Zoya. Ntah mengapa hatinya selalu mengiba saat melihat Zoya. Mungkin saja karena guratan wajah sendu atau selama ini yang dia tahu, Zoya bukanlah tipe perempuan yang suka mengeluh hingga membuat Hans merasa Zoya adalah teka teki terbesar yang harus dia pecahkan.


Sebuah notifikasi terdengar dari ponsel Zoya, tangan kecil itu meraba mencari ponselnya yang terletak di nakas.


Zoya, apa kabar? Aku boleh main ke rumahmu nggak? Aku sekarang tinggal di kota ini karena bapak mengizinkan aku untuk melanjutkan kuliah. kalau boleh, share lokasi ya.


Nilla


Zoya tersenyum saat membaca pesan dari Nila. Tubuhnya beringsut bersandar pada kepala ranjang. Dan pandangannya kini mengamati Hans yang sedang memainkan keyboard laptopnya. Seolah ingin mengatakan sesuatu tapi tertahan.


"Ada apa? " tanya Hans mendahului dengan masih menatap laptopnya. Sebenarnya Zoya memang sudah ingin bertanya. Tapi gadis itu selalu banyak pertimbangan saat harus berinteraksi dengan Hans.


"Bolehkah temanku dari kampung main ke sini?"


Sejenak Hans menghentikan gerakan jarinya. Lelaki yang saat ini menyandarkan tubuhnya pun menghela nafas panjang, Mata tajamnya kini menatap gadis yang mengalihkan pandangannya dengan kikuk.


"Zoya...! Di sini kamu istriku bukan orang lain. Kamu berhak menerima tamu dari manapun. " Hans memang merasa Zoya masih membangun jarak diantara mereka, meski dia sudah melakukan banyak tugas sebagai seorang ibu dan istri.


Mungkinkah dia masih mencintai seseorang? Kecurigaan itu yang selalu membuat Hans semakin penasaran tentang seorang Zoya Kamila.


###


Hans menatap Zoya yang masih bergelung selimut. Memang tidak biasa Zoya bangun sesiang ini, Hans membiarkan saja istrinya untuk terlelap, karena dia tahu, jika semalam Zoya tidak bisa tidur karena kurang merasa nyaman dengan nyeri haidnya.


Suara kehidupan dan sinar mentari yang menembus celah celah tirai kamar membuat Zoya mengerjapkan mata. Pemandangan pertama yang dia lihat adalah Hans sudah duduk di dekatnya dengan kaos yang sudah basah karena keringat.


"Maaf, aku kesiangan! " Zoya bergegas menurunkan kakinya dari tempat tidur. Tapi gerakannya terhenti saat Hans menahan lengannya.


"Mau kemana? " tanya Hans dengan tatapan tajam. Sorot matanya membuat jantung Zoya seakan berdegup lebih kencang, apalagi saat jari jari besar itu masih bertahan di pergelangan tangannya, membuat Zoya semakin gugup.

__ADS_1


"Bagaimana dengan perutmu? " tanya Hans dengan menarik kembali Zoya untuk duduk di sebelahnya.


"Sudah tidak nyeri lagi! " jawab Zoya.


"Mas, aku akan membersihkan diri, dulu. " seperti biasanya, Zoya seolah tidak memberi ruang yang cukup pada Hans untuk bisa lebih mengenalnya.


Hans kembali menatap Zoya yang masuk ke dalam kamar mandi, dia sebenarnya sudah ingin membersihkan diri karena keringat yang sudah terasa lengket di tubuh. Lelaki itu masih saja rajin berolah raga untuk menjaga kebugaran tubuhnya.


Lima belas menit, tiga puluh menit, empat puluh lima menit dan satu jam Hans menghitung lamanya Zoya berada di dalam kamar mandi. Fix, ini tidaklah wajar jika hanya untuk sekedar mandi saja. Hans beranjak mendekati ruangan kecil di sudut kamarnya.


"Zoya, kamu ngapain di kamar mandi? " Hans menggedor pintu kamar mandi, tapi tidak ada jawaban.


"Zoya....kamu baik baik saja, kan? " tanya Hans sekali lagi masih dengan tangan menggedor pintu.


Tak sabar untuk mendapat jawaban dari Zoya yang tak kunjung terdengar, Hans bermaksud mendobrak pintu kamar mandi.


"Ceklek... " terlihat kepala Zoya muncul dari balik pintu kamar mandi.


"Kamu kenapa? "


"Maaasss! " pekik Zoya saat tangan Hans tidak sabar mendorong pintu kamar mandi hingga terbuka penuh. Wajah putih itu, kini bersemu merah saat tatapan laki laki beranak satu itu tertuju padanya.


"A-aku ...lupa membawa ganti! " Zoya tergagap saat menjelaskan semuanya pada Hans. tubuhnya panas dingin saat tatapan tajam itu menghujam ke arahnya.


Zoya melewati Hans yang hanya mematung, perlahan Hans memundurkan langkahnya, membiarkan Zoya berjalan menuju walk in closet. Otaknya seperti membeku saat melihat kulit putih Zoya yang baru saat ini dilihatnya. Rambut panjangnya tergelung, bahu dan paha mulus yang tereksplore sangat indah. Seksi, kata yang tepat untuk tubuh gadis yang selalu terbalut dengan gamis longgar.


"Sreeeekk...! " Zoya menggeser pintu walk in closet membuat Hans tersadar kembali. Lelaki yang sudah lengket dengan keringat itu pun memilih masuk ke dalam kamar mandi.


"Astaga Hans... dia masih kecil! " lirihnya, kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk menormalkan bagian bawahnya. Tentu saja bayangan keseksian tubuh Zoya seperti di peluk matanya.


"Gila.... mana tahan Jika seperti ini terus! " umpat Hans di bawah guyuran air dingin yang terpancar dari shower. Dia harus meredam gejolak jiwa laki lakinya saat ini.


Zoya masih merasakan detak jantungnya yang berpacu tidak teratur, wajahnya masih terasa pias saat mata tajam itu seolah mengulitinya. Dengan cepat dan cekatan dia segara mengenakan gamisnya dan segera keluar dari kamar.


"Mama...! " panggil Ale saat berada di depan TV yang ada di sebelah kamarnya. Terlihat bocah itu nampak asyik menonton film kartun.


"Mama buat sarapan dulu, ya! " pamit Zoya saat akan menuruni tangga. Bocah itu segera mematikan tvnya dan berlari mengejar Zoya.

__ADS_1


"Ma, Ale mau susu! " ucap Ale saat Zoya menggandengnya untuk menuruni tangga.


"Iya, Sebentar lagi Mama buatkan susu. " Ale berteriak dengan girang saat sudah berada di bawah.


Di dapur sudah ada Bi Muna yang tampak sudah terlihat repot.


"Bi, bikin apa? " setelah meminta Ale utuk duduk, Zoya menghampiri wanita paruh baya itu.


"Ini lagi merebus, daging dan motong sayuran. Katanya mbak Zoya mau masak sup! " Zoya melihat beberapa sayuran yang ada kulkas, dia merasa masih kurang kacang kapri dan bawang goreng.


"Bi tolong Ale buatkan susu dan Mas Hans bikinkan kopi, aku mau lihat mungkin masih ada tukang sayur yang masih mangkal! " ujar Zoya kemudian melangkah menghampiri Ale.


"Ale di sini saja ya, Mama mau belanja sebentar!"


"Ale ikut! " bocah itu langsung turun dari kursi dan menghampiri Zoya, terpaksa Zoya mengajak putrinya keluar rumah.


Tidak sabar dengan langkah Ale yang cukup lamban, Zoya akhirnya menggendong Ale. Cukup melelahkan berjalan menggendong anak dengan berat hampir dua puluh kilogram itu sejauh lima belas meter.


Keringat mulai membasahi tubuhnya, Zoya menurunkan Ale saat sampai di tempat mangkal tukang sayur. Di sana sudah ada banyak ibu ibu yang mengantri untuk berbelanja.


"Brru tinggal di sini ya, Mbak? " tanya salah satu ibu ibu yang juga mengenakan jilbab.


"Kalau nggak salah Nyonya Hans, kan? " sahut salah satu ibu berambut pendek.


"Ini Mama Ale! " sahut Ale dengan bangga memamerkan Mama barunya. Semua juga tahu jika Ale adalah anak dari Hans, pengacara ternama di kota ini.


"Ohh iya, aku denger Mbaknya dari kampung ya?" tanya salah satu ibu yang berdiri di sebelahnya.


"Iya, Bu! " jawab Zoya terus terang.


"Masih muda banget ya, cantik pula! "


"Yah, begitulah Bu enaknya punya anak cantik bisa dijodohin sama orang kaya. Kita bisa numpang hidup enak! " sindir salah satu diantara mereka. Betapa sakitnya hati Zoya saat ucapan pedas itu terlontar begitu saja, bahkan ada yang menyambungnya dengan ejekan tapi ada pula yang berusaha meredam gunjingan mereka.


Zoya hanya memilih beberapa saja sayur yang akan dibeli, rasanya dia sudah tidak tahan mendengar omongan ibu ibu di sana meski tidak semuanya seperti itu.


Gegas, Zoya meninggalkan tempat itu dengan kembali menggendong Ale, air mata yang sudah di tahannya pun menetes saat mengingat kalimat kalimat buruk yang terlontar untuk dia terlebih untuk ibunya.

__ADS_1


"Ale masuk dulu, ya! " Zoya membuka pintu untuk Ale. sementara dia masih mengusap air matanya agar tidak berbekas ketika dia kembali memasuki rumah itu.


Bersambung.....


__ADS_2