Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Hans Sakit


__ADS_3

Hari minggu, ditambah dengan kondisi tubuh yang terasa lelah dan sedikit demam. Hans merasa kondisinya dikarenakan seusai melakukan perjalanan jauh. Lelaki itu memutuskan untuk menambahkan jam tidurnya kembali seusai Salat Subuh.


Mentari yang mulai meninggi membuat Ale yang sedari tadi tidak melihat papanya pun mencari keberadaan lelaki itu di dalam kamar.


"Papaaaa...! " teriak Ale terdengar begitu nyaring tapi tak membuat lelaki itu bergeming. Dia masih menikmati empuknya kasur dan balutan selimut yang memberi rasa nyaman untuknya.


"Papa... bangun! Sudah siang." teriak Ale dengan menggoyang-goyangkan bahu papanya. Bocah gembul itu langsung naik ke atas tempat tidur dilanjutkan naik di tubuh papanya yang seketika pula membuat Hans memekik keras. "Arrkkhh... Ale, bisa patah tulang rusuk Papa." pekik Hans saat tersentak kaget karena beban dua puluh lima kilogram mendadak menimpanya.


"Papa ayo kita renang!" ajak Ale masih dengan memaksa papanya untuk membuka mata. Semakin bertambahnya umur, saat ini Ale sudah bisa mengucapkan hurup 'R'


"Ale cantik... Papa masih capek, lebih baik Ale bermain sama Mama atau Oma saja, ya!" ujar Hans berusaha menghentikan Ale yang terus saja mengganggu tidurnya.Tangannya memindahkan tubuh gembul yang ada di atas perutnya.


"Mama lagi pergi!" jawab Ale membuat Hans membuka matanya lebar.


"Apa? Pergi kemana?" selidik Hans penuh dengan rasa penasaran karena tidak biasanya Zoya pergi sepagi ini.


"Nggak tau? Mama cuma pesan jika Papa sudah bangun, Mama pergi sebentar." jawab Ale dengan menggedikkan bahunya.


"Sama siapa?" tanya Hans lagi. Gegas, dia bangkit dan duduk menghadap putrinya, seolah tidak sabar mendapat jawaban dari Ale.


"Sama Orang." jawab Ale sekenanya.


"Ya, sama orang siapa?" desak Hans, dia merasa Ale terlalu berbelit-belit. Lelaki yang sudah merasa was-was itu langsung bangkit menuju walk in closet memeriksa pakaian istrinya.


"Syukurlah! " ucapnya lega saat melihat pakaian dan barang barang Zoya masih tertata rapi dan utuh.


"Tapi, jika Zoya pergi dengan bujang lapuk itu pasti dia tidak butuh lagi membawa barang barangnya." Beberapa pikiran yang terbesit membuatnya bergegas mencari Zoya ke bawah.


Ale yang melihat gelagat papanya aneh itu pun langsung mengikuti kemana papanya pergi.


"Ma... Mama?" panggil Hans mencari mamanya barangkali mamanya tahu kemana Zoya pergi. Dengan langkah terburu, Hans mencari keberadaan Bi Muna, wanita paruh baya itu sedang menyiram tanaman yang ada di taman samping.


"Bi, kemana Zoya?" tanya Hans pada asisten rumah tangganya.

__ADS_1


"Mbak Zoya pergi ke pasar bersama Ibu." jawab Bi muna. Merasa Hans tidak membutuhkannya lagi, wanita paruh baya itu pun menggulung selang air dan membawanya ke rumah belakang.


"Kenapa juga aku harus paranoid? " gerutu Hans dengan berkacak pinggang menertawai kekonyolannya jika Zoya akan pergi bersama bujang lapuk itu.


"Iya, kan bisa mencari lebih dari sepuluh Zoya." Suara lembut itu membuat Hans menoleh ke belakang. Nampak Zoya dan Mama Shanti berjalan beriring dengan membawa barang belanjaan.


"Tapi, tidak ada yang seperti Zoya." jawab Hans dengan tersenyum kaku, tangganya pun terus mengusap tengkuknya. Mama Shanti melihat putranya yang salah tingkah pun melempar senyum samar yang mengejek. Beliau memang sudah tahu dari Zoya tentang kejadian kemarin dan semalam. Salah satu alasan Mama Shanti mengajak Zoya belanja ke pasar selain untuk membeli sayur dan ikan yaitu mengorek tentang apa yang sudah terjadi. Yang dia yakini, Zoya tidak pernah berbohong atau pun berbelit belit karena menurutnya Zoya itu terlalu naif.


Salah lagi _ salah lagi! Itu yang saat ini Hans rasakan. Semua seolah menyalahkannya, menyudutkannya. Apalagi si gembul itu seolah sudah mengerjainya saja, padahal yang sebenarnya hanya Hansnya saja yang terlalu cemas jika bujang lapuk itu melakukan apa yang dia katakan semalam.


"Kenapa nggak bilang jika Mama Zoya perginya sama Oma? Kenapa hanya bilang pergi sama orang? " lirih Hans saat mendekati putrinya yang masih bermain lego di depan TV.


"Oma kan, orang?" jawab Ale tanpa rasa bersalah sama sekali membuat Hans mendengus kesal. Dia pun memutuskan untuk kembali ke kamar, dia seperti merasakan tubuhnya tidak fit sama sekali.


Pukul sebelas siang, Zoya belum juga melihat Hans sarapan, kopinya pun masih utuh dan saat ini malah sudah dingin. Hal itu membuat Zoya mencemaskan suaminya. Dengan langkah tergesa dia menaiki anak tangga, bermaksud melihat keadaan Hans.


"Ceklek... " tangan mungil itu membuka pintu kamar dengan pelan.Tatapannya tertuju pada tempat tidur. Di sana memang Hans masih terlihat masih bergelung selimut.


Berlahan dia duduk di punggung tempat tidur tepatnya berada di sebelah Hans yang masih memejamkan mata.


"Mas, bangun. Mana ponsel mas Hans?"


"Hmmm." Hans hanya menjawab deheman, berlahan matanya terbuka menatap Zoya yang kebingungan mencari benda pipih miliknya.


"Mana, ponsel Mas Hans?" Suara Zoya terdengar panik.


"Zoy, kamu mencemaskanku?" tanya Hans dengan menarik lengan Zoya untuk kembali duduk di dekatnya.


"Ya Allah, aku akan menghubungi Mbak Anas, Mas! " ujar Zoya menyurutkan senyum tipis Hans.


"Zoy, kamu mencemaskanku?" Hans kembali melontarkan pertanyaan yang membuat Zoya berdecak kesal.


"Tentu saja, Mas Hans suamiku."

__ADS_1


"Kamu tidak akan pergi dengan laki laki lain kan?" desak Hans dengan pertanyaan yang sejak semalam menghuni pikirannya.


"Ya Allah, Mas. Apa aku terlihat seperti itu? " Zoya kini mematung menatap suaminya yang hanya tersenyum. Entah apa yang merasukinya hingga seorang pengacara ternama sepertinya mempunyai pikiran yang kolokan. Yah, mungkin seperti itu lah hakikat dunia, tidak ada yang sempurna.


Boleh mengidentifikasi seseorang dengan latar belakang, tapi jangan langsung menarik kesimpulan dengan mendewakan atau merendahkan seseorang karena semua itu. Pada hakikatnya Tuhan itu adil, menciptakan takaran kekurangan dan kelebihan makhluk-nya dengan porsi yang seimbang.


Zoya melihat benda pipih milik suaminya itu tergeletak di meja rias. Dia langsung mengambilnya untuk menghubungi Anas.


"Mas, apa sandinya? " tanya Zoya.


"Zohans." mendengar jawaban suaminya membuat Zoya menggelengkan kepalanya pelan. Menurutnya bukan jamannya lagi mengunakan sandi model seperti itu. Tapi saat ini Zoya lebih fokus untuk menelepon Anas.


Zoya meletakkan kembali ponsel suaminya setelah mendapat jawaban jika sebentar lagi Anas akan datang. Dia kembali ke bawah untuk mengambilkan Hans sarapan.


"Zoy, ada apa?" tanya Mama Shanti menghampiri Zoya yang sedang mengemas makanan untuk dibawa ke atas.


"Mas Hans sakit, Ma!" jawab Zoya dengan raut wajah serius.


Dengan diiringi Ale dan Mama Shanti Zoya kembali ke kamar. Dia akan memaksa Hans untuk sarapan terlebih dahulu sambil menunggu dokter Anas datang.


"Ayo mas, makan dulu!" Zoya sudah duduk di sebelah Hans yang saat ini bangkit dan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.


"Suapin, Zoy! " pinta lelaki gagah itu membuat Zoya merasa enggan karena malu ada Mama Shanti yang saat ini duduk di sisi sebelah ranjang.


"Suapin saja Zoy. Lagi manja itu bayi tuanya." ujar Mama Shanti saat melihat Zoya merasa sungkan.


"Makanya baik baik sama istri. Kalau sudah tidak berdaya kayak gini, ujung ujungnya istri kan yang repot, bukan yang ngasih pelukan." sindiran Mama Shanti membuat Hans hampir tersedak. Dia lagi yang kena, padahal selama ini dia merasa tidak pernah mengkhianati Zoya. Hanya saja, wanita wanita itu terlalu menginginkannya.


"Papa berdoa dulu sebelum makan, biar nggak kesedak." timpal Ale. Dia merasa sakitnya akan bertambah parah jika ada dua makhluk Tuhan yang sangat cerewet ini.


Bersambung....


Hae gaes... baca komen aku tuch senyum senyum pantas saja jika RCZ pernah masuk di rangking karya wanita, meskipun sekarang tidak lagi hehehehe.

__ADS_1


Tapi Terima kasih untuk antusiasme, yang penting kita happy n greeget bareng sama mas Hans ya maakkk...


Happy reading ya maaakk


__ADS_2