Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Rindu


__ADS_3

Seorang pria tengah memutar ujung jarinya di pinggiran cangkir kopi yang baru saja dia pesan. Lelaki jangkung yang mengenakan kaos oblong dan jeans sobek kini sedang termenung di sebuah meja bar coffee shop yang ada diantara hingar bingar ramainya kota.


Setelah melihat perempuan yang telah mengambil banyak hal dari dalam dirinya, dan itu tanpa dia sadari, Rey termenung mendulang kembali kilatan-kilatan wajah ayu dan seulas senyum yang meneduhkan. Hampir gila, karena wajah ayu itu seolah membuat dirinya ingin kembali dan kembali lagi melihatnya. Rindu. Benarkah itu yang dinamakan rindu?


"Seperti orang putus cinta saja, Bang." Suara Kyara membuyarkan lamunannya. Gadis dengan rambut curly itu memilih duduk di sebelah Rey. Rey sendiri hanya tersenyum kecut dengan melirik Kyara yang tengah menatapnya heran. Kyara memang mengajak Rey untuk bertemu di sebuah coffee shop untuk mengembalikan jaket yang pernah dipinjamkan Rey padanya, saat mereka masih disibukkan dengan perjalanan ketika menangani kasus Antonio.


"Bang, terima kasih jaketnya." Kyara kembali lagi berdiri, dia meletakkan kembali jaket kulit milik Rey di kursi yang sempat dia duduki.


Melihat Rey yang seolah tidak ingin di ganggu, gadis itu memilih untuk tidak berlama-lama berada di sana.


"Tunggu!" Tangan Rey menahan satu lengan Kyara.


"Hanya itu?" Rey melayangkan pertanyaan itu dengan menoleh ke arah wajah tirus di sampingnya. Mendengar pertanyaan Rey, Kyara hanya tersenyum, dia menatap lekat lelaki jangkung yang terlihat sangat buruk. Buruk secara psikologis.


"Baiklah, aku akan di sini melihatmu terpuruk, Bang! " Lontaran kalimat kyara membuat Rey tertawa sarkas. Kyara mampu membuatnya menertawakan dirinya sendiri.


"Kamu pernah jatuh cinta? " pertanyaan Rey membuat gadis itu hanya mengangkat bahu. Bahasa tubuh yang di berikan Kyara seolah ingin menyatakan jika dia juga gadis normal.


"Tapi, pernah kamu menempatkan cinta yang salah?" Pertanyaan Rey kemudian membuatnya menyipitkan mata, kemudian gadis itu pun tersenyum. Kali ini, tawa Kyara yang membuat pria dengan bulu tipis di rahang tegasnya itu menatap dengan menautkan kedua alis.


"Aku lebih banyak patah hatinya dari pada jatuh cintanya. Tapi aku memang membuat sebuah skat sendiri agar patah hati tidak menguasai hatiku. Yah, mungkin logikaku yang terlalu besar, Bang." jelas Kyara. Kyara memang punya pemikiran seperti laki-laki. Itu tidak hanya sebuah opini tapi pernyataan itu dikuatkan dengan tes psikologi yang pernah dia lakukan.


"Maksudmu?"


"Aku menginginkan lelaki baik baik, tapi sebelum mengenal Bang Hans, tampilanku dan kelakuan aku lebih mengundang perhatian lelaki brengsek. Tentu saja, itu sangat tidak sinkron, apa pun itu kalau tidak tepat ya ... patah hatilah!" jelas Kyara membuat Rey mengangguk samar. Mungkin, istilah itu sangat tepat dengan perasaan Rey saat ini. Salah menempatkan hati.


###


Di sebuah rumah mewah, terdengar rengekan gadis kecil yang terus saja menanyakan papanya. Ale terus saja bergelayut manja di leher mamanya meminta untuk menyusul papanya.

__ADS_1


"Sayang, Papa besok baru pulang. Papa kan, lagi kerja." Zoya mencoba menjelaskan sesuatu pada Ale. Tubuh Zoya terlihat sempoyongan saat bocah itu terus saja bergerak dengan melingkarkan lengan penuh lemaknya di leher mamanya.


"Ale maunya sama Papa." padahal biasanya juga bocah gembul itu tidak pernah akur dengan papanya.


"Ale tidur dulu, besok biar cepat ketemu Papa." Lagi lagi Zoya memang harus membujuk putrinya agar bisa mengerti.


Sore saat mereka pulang dari bertemu Nilla, Hans mengirim pesan pada Zoya jika malam ini dia akan menginap di hotel. Acara yang mundur beberapa jam dan tubuhnya yang lelah membuat Hans tidak mau ambil resiko di perjalanan.


"Ayo sayang, anak solih harus nurut sama Mama." Zoya kemudian mengajak Ale untuk masuk ke kamar, mulut manyun putrinya membuat Zoya bisa mengerti jika Ale masih ingin menunggu papanya.


Pukul sepuluh malam, Ale sudah tertidur pulas. Zoya pun mulai beranjak meninggalkan kamar Ale untuk kembali ke kamarnya."Ya Allah... kok jadi kangen Mas Hans, ya?" gumam Zoya dengan tersenyum penuh ide. Di kepalanya kini terbesit ide yang akan membuat suaminya untuk cepat pulang.


Zoya mulai mencari lingeri yang pernah dibelikan Hans kala itu. Menggoda Hans, adalah cara ampuh untuk membuat lelaki itu cepat pulang. Membayangkan reaksi suaminya saja membuat Zoya tersenyum geli.


Setelah berganti baju, Zoya mendekati ponselnya yang sedari tadi terus saja berbunyi. Baru saja dipikirkan, ternyata Hans sudah mulai menghubungi ponselnya.


"Assalamu'alaikum, Mas." sapa Zoya setelah menggeser layar ponselnya. Terlihat Hans berada di sebuah hotel mewah masih mengenakan kemeja formal.


"Zoy, kenapa mengenakan baju itu saat nggak ada aku?" protes Hans.


"Kamu sengaja menggodaku?" Hans terlihat kesal saat tampilan Zoya membuat otaknya mulai ngeres.


"Nggak kok. Sayang sudah dibeli tapi aku baru sekali memakainya." jawab Zoya dengan menampilkan senyum menggoda.


"Mas Hans, baru sampai Hotel? Sama siapa saja?" selidik Zoya saat Hans merebahkan diri di tempat tidur.


"Sayang, jika seperti ini rasanya aku ingin pulang sekarang." Hans memang menggagalkan niatnya untuk pulang karena acara selesai setelah pukul sembilan malam.


"Ya Allah...ditanya apa, jawabnya apa." protes Zoya, tangannya menyibakkan rambut panjangnya ke belakang bahu membuat bagian dadanya terekspose begitu jelas.

__ADS_1


"Astagfirullah, Zoy. Aku sudah tidak fokus karena membayangkan mencumbu tubuhmu. Kamu jadi selesai menstruasi hari ini, kan?" tanya Hans tanpa mengalihkan tatapannya. Mata tajam itu mengulik detail gambar yang ada yang ada di layar ponselnya. Lagi- lagi jiwa lelakinya dibuat gemas oleh perempuan yang selalu menjadi dambaannya itu.


"Sudah, tadi sudah salat berjamaah dengan Ale. Mas Hans pulang cepat ya! " pinta Zoya dengan manja. Senyum istrinya memang tidak bisa dibandingkan oleh siapa pun.


"Kamu beraninya kalau aku jauh. Coba kalau aku di rumah kamu cuma malu malu mau." Saking kesalnya Hans mulai mencibir istrinya, padahal dia memang sudah kangen untuk bertukar keringat dengan perempuan yang selalu dia damba itu.


Mereka mengobrol hingga tanpa sadar Zoya sudah mengatupkan kelopak matanya. Dia sudah tidak bisa menahan ngantuk seperti biasanya. Sedangkan Hans sebenarnya masih belum puas menatap wajah ayu istrinya.


"Ya Allah, istriku cantik sekali, seksi lagi! " gumam Hans kala menutup panggilannya. Otaknya yang mulai berfikir mesum membuat juniornya berdiri tegak. Keseksian seorang Zoya hanya miliknya, hanya dia yang bisa melihat dan merasakan detailnya.


"Soloisme lagi. Nasib nasib! " gerutunya kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk menuntaskan hasratnya karena ulah nakal Zoya. Nakal. Baru kali ini dia melihat istrinya begitu nakal menggodanya.


###


Setelah Salat Tahajud Zoya tidak bisa memejamkan matanya lagi. Diliriknya jam yang ada di ponselnya, sudah pukul setengah empat pagi. Dia memilih keluar untuk melihat acara televisi saja sambil menunggu waktu subuh datang.


Dengan membawa benda pipih ditangannya, Zoya melihat kamar Ale terlebih dahulu. Bocah itu nampak masih tertidur pulas membuat Zoya menutup kembali kamar Ale dan melangkah menuju ruang televisi.


Tangannya menyalakan televisi bersamaan dengan mendaratkan bobotnya di sofa. Suasana yang masih terlalu sepi dan dinginnya menggigit hingga ke kulit.


Tangannya berhenti memindahkan channel TV saat sebuah berita menampilkan sebuah kecelakaan maut di kota yang sedang Hans kunjungi. Semalam pukul setelah dua belas malam kejadian naas itu terjadi.


Sebuah tabrakan beruntun antara mobil Mercy bernomer polisi ABxxxx Al dengan bus antar kota hingga menewaskan dua orang penumpang yang ada di dalam mobil. Seorang pengacara bersama rekan perempuannya dikabarkan tewas di tempat kejadian.


Seketika pula tubuh Zoya bergetar hebat, tapi hatinya mengingkari jika yang ada di dalam mobil itu suaminya,"Tidak mungkin." Bibirnya terus bergumam tanpa mempedulikan kepalanya yang mulai berdenyut pusing.


Tangan dinginnya mulai meraih ponsel memencet nomer suaminya. "Angkat, Mas!" lirihnya dengan perasaan kalut. Beberapa kali dia mencoba melakukan panggilan pada Hans tapi nomer yang dia tuju terus saja di luar jangkauan.


"Mas Haaanssss!" Teriak Zoya diikuti tangis histeris hingga sesaat kemudian tubuh mungil itu melengser di sofa dengan mengatupkan mata.

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2