Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Kabar Gembira Buat Oma


__ADS_3

Zoya terlihat gelisah hingga pukul sebelas malam Hans belum juga kembali. Dia menyesal karena meminta sesuatu yang sudah menyulitkan suaminya. Tapi, dia memang sedang menginginkannya saat ini.


"Ya Allah, Nak. Kasian Papa sudah jam sebelas belum juga kembali!" gumamnya dengan mengelus perut datarnya.


Zoya masih berjalan mondar mandir di depan pintu utama. Hingga akhirnya pintu itu pun terbuka.


"Mas Hans." perempuan mungil itu pun menghambur memeluk suaminya saat melihat kedatangan Hans.


"Kenapa lagi, Zoy?" tanya Hans, sungguh dia berharap kali ini jangan meminta yang aneh aneh lagi. Dia merasa sudah terlalu lelah jika harus ada permintaan aneh lagi.


"Aku mencemaskanmu, Mas. Mas Hans keluarnya lama sekali. " lirih Zoya saat meregangkan pelukannya dan menatap wajah Hans.


Hans terkekeh saat mendengar Zoya mencemaskannya. Dia menatap lekat pahatan Tuhan yang sangat indah di depannya. Mata indah dan hidung mungil yang menghias begitu apik membuatnya tidak bisa memungkiri jika itu salah satu alasan kecil yang membuatnya jatuh cinta.


"Aku dapetin di luar kota, lo! Kota sebelah heeee... " Akhir-akhir ini, jika Zoya lebih cengeng dan baperan berbeda dengan Hans yang lebih sedikit santai dan humoris meski terkadang terlihat kaku dengan segala kelakarnya.


Pukul sebelas malam lebih mereka baru makan malam. Hans menikmati ayam bakar yang sudah dibelinya dan Zoya menikmati rujak cingur sesuai keinginannya.


"Zoy, sekarang kamu sedang hamil. Jadi, aku harap kamu lebih hati-hati, sayang!" pinta Hans penuh hati-hati . Takut istrinya mewek lagi. Tidak terbayang jika dua anaknya punya sisi yang berbeda, si gembul yang cerewet dan yang satunya si tukang mewek. Bisa kriting menanganinya, saat keduanya sedang berkolaborasi. Hans tersenyum saat membayangkan masa masa itu datang.


"Tadi aku merasa seseorang seperti sengaja menabrakku, Mas. Orang yang mengenakan jaket dan topi. Tapi mana mungkin ya, mungkin benar aku kurang hati-hati. " jawab Zoya masih menikmati rujaknya.


"Yang penting kamu hati-hati. " ucap Hans dengan mengulurkan tangan menggenggam jari-jari mungil itu.


Setelah makan malam, mereka baru melakukan Salat Isya berjamaah. Tidak pernah terbayang oleh zoya jika suaminya akan menjadi imam salatnya. Awal pertama menikah, Hans tidak pernah menjalankan Salat.Tapi bagi Zoya, keimanan seseorang memang tidak bisa dipaksa terkadang semua itu datang karena hidayah-Nya. Maka dia hanya bisa mendoakan dan bersabar oleh karena itu Zoya tidak pernah memaksakan sebuah aqidah pada suaminya.


"Ya Allah, terima kasih sudah mengabulkan doa hambamu. Selama ini hamba hanya ingin agar suami hamba yang akan menjadi imam salat hamba. " Akhir doa Zoya sebagai ucapan syukurnya kepada Allah karena sudah memberikan hidayah-Nya kepada suaminya.


Hans membalikkan tubuhnya, masih dengan duduk bersila. "Zoy, terima kasih sudah menerima aku dengan status duda dengan konsekuensi yang sangatlah tidak mudah. Terima kasih sudah menyayangi Ale dan Mama. Terima kasih sudah menerimaku yang tidak banyak mengerti ilmu agama. " Ntah kenapa Hans merasa sedih saat mengingat kehidupannya sebelum mengenal Zoya. Kehidupan yang hanya berorientasi pada materi dan sama sekali tidak pernah ingin mengenal Tuhannya.


"Mas, tidak ada yang terlambat. Allah Maha mengerti dan Maha Penyayang. Kita akan belajar bersama untuk lebih dekat dengan-Nya, menjadi contoh untuk anak anak kita kelak." Zoya memeluk tubuh atletis di depannya. Rasa bahagia yang membuncah tak bisa di sembunyikan lagi.


"Aku beruntung memilikimu. Terima kasih sudah mau menerimaku. " gumam Hans merasa bahagia, Zoya sudah menjadi bagian dari hidupnya, meskipun dia sendiri tidak mengerti apakah cinta untuknya sudah berlabuh di hati perempuan ayu itu atau hanya sebatas pengabdian sebagai seorang istri.

__ADS_1


"Mas Hans kan duren sawit. Duda keren sarang duwit, tentu aku tidak menolaknya. " celetuk Zoya dengan menggoda Hans.


"Jadi kamu suka duitku saja, Zoy? " Hans meregangkan tubuh istrinya. Menatap mata indah itu untuk mencari kebenaran dari apa yang diucapkan istrinya.


"Tentu saja awalnya tidak, karena aku tidak tahu apa pun tentang Mas Hans. Tapi saat bertemu ternyata orangnya ganteng dan makin kesini aku baru tahu jika Mas Hans banyak duit. Jadi, aku harus berterima kasih sama Allah dan Ibu. Sudah dapet bonusnya manut sama orang tua." Jelas Zoya masih dengan senyumnya yang malah membuat Hans berdecih kesal.


"Berarti aku harus bekerja lebih kerasa lagi agar kamu bisa jatuh cinta sama aku ya, Zoy. " geram Hans dengan menarik tubuh yang masih mengenakan mukena itu dalam dekapannya.


Zoya tersenyum dengan lengannya mengalung di leher Hans, hatinya merasa berbunga bunga, apalagi perasaan Hans ketika melihat senyum indah di wajah ayu istrinya. Dunianya terasa sempurna.


###


Setelah solat subuh, Hans memilih mempelajari berkas persidangan kasus Antonio kemarin. Hans mendesah kasar karena belum juga dia menemukan titik terang. Motif pembunuhan yang dituduhkan terhadap pemuda itu menurutnya belum begitu kuat. Apalagi setelah visum ditemukan luka di area va**na. Tentu saja sebelum terjadi pembunuhan, perempuan itu sudah mengalami pemerkosaan. Seandainya saja setelah pemerkosaan itu terjadi korban langsung melapor. Pihak penyidik pasti akan melakukan uji DNA forensik untuk membantu menemukan korelasi dua kejadian tersebut.


"Huek ... huek... " mendengar Zoya muntah, Hans langsung beranjak dari duduknya dan mencari keberadaan Zoya.


Zoya terlihat sudah membungkuk di wastafel ditemani Ale yang terlihat cemas berdiri di sampingnya.


" Sudah mendingan, Mas. " jawab Zoya dengan mengusap bibirnya. Hans membantu Zoya berjalan ke meja makan, tempat terdekat dari wastafel.


"Zoy, kamu masak? " tanya Hans saat melihat sayur asam dan bubur ayam di meja. Belum sempat menjawab, tubuh Zoya pun terkulai lemas. Ya, Zoya pingsan seketika.


"Duch, Zoy.... " Hans langsung menggendong Zoya masuk ke dalam kamar. Ale yang dari tadi menguntit terus pun ikut berlari kecil dengan mengikuti papanya.


"Mama bangun... " panggil Ale bocah itu nampak hampir menangis, sementara Hans masih repot membalur minyak kayu putih. Terlihat Ale sudah berbaring di sisi kanan Zoya, "Mama, jangan sakit!" Kalimat itu yang selalu diucapkan Ale.


Zoya mengerjapkan matanya, perhatian pertamanya tertuju pada Ale yang sudah meringkuk di sebelahnya. "Sayang, Mama baik-baik saja. " ucap Zoya membuat Ale sedikit merangkak ke atas untuk melihat wajah mamanya.


"Zoy, jangan memaksa untuk memasak kalau tidak tahan. " ucap Hans kemudian Merebahkan tubuhnya di sisi kiri Zoya.Tangannya menyingkirkan anak rambut istrinya, dengan tatapan yang tak ingin beralih dari wajah ayu di depannya itu. Meskipun, wajah itu terlihat pucat tapi tidak melunturkan kecantikan si mpunya.


"Aku kasian sama kalian. Mas Hans sudah lama kangen dengan sayur asem? Ale juga kasian, Mas. Aku seperti kurang memperhatikannya." jelas Zoya dengan mengecup kening putri gembulnya itu. Dia tidak ingin sampai Ale merasa tersisihkan karena kehadiran calon adiknya.


" Sayang.... "lirih Hans dengan memeluk istrinya dari belakang, dia terus menciumi rambut panjang Zoya yang tergerai.

__ADS_1


" Ting.. tong... ting... tong. " suara bel pun berbunyi. Hans langsung beranjak untuk membukakan pintu. Dia tahu pasti itu Mama Shanti yang datang. Semalam dia sudah memberi tahu jika mereka tinggal di apartemen dan Zoya sedang tidak enak badan. Mereka memang belum memberikan kabar jika Zoya sedang hamil.


"Zoya sakit apa, Hans? " Saat pintu terbuka Shanti langsung melontarkan pertanyaan karena begitu mencemaskan Zoya.


"Di kamar Zoya, Ma. Tadi pingsan! " jawab Hans.


"Apa? " Shanti terbelalak saat mendengar Zoya pingsan. Beliau langsung mencari keberadaan Zoya.


Shanti sempat menghentikan langkahnya saat melihat Zoya duduk bersandar di kepala ranjang dengan dipeluk putri gembulnya itu.


"Sayang, kamu kenapa? " Wanita paruh baya itu kembali melangkah menghampiri Zoya diikuti Hans dari belakang.


"Kamu kenapa , Zoy? "


"Ale akan punya Adek Bayi, Oma! " celetuk Ale saat menegakkan tubuhnya.


"Apa? " Shanti sedikit ragu dengan apa yang dia dengar.


"Salim dulu, Oma. " Shanti menyodorkan tangannya ke arah Ale tanpa memperhatikan bocah itu. Tatapannya tertuju pada jawaban yang akan dilontarkan Zoya.


"Iya Ma, Zoya hamil " sahut Hans membuat Shanti berdiri.


"Kenapa baru memberi tahu, Mama? " Sembur beliau dengan nada ketusnya.


"Tapi anak Mama memang top banget. Tidak diragukan keperkasaanmu, Hans. " Shanti tertawa dengan memukul mukul lengan anaknya karena saking senangnya.


"Mama, bahasanya di filter dong. Ada Ale itu. " Protes Hans, tapi wanita baru baya itu tidak peduli dia mendekati Zoya memeluk menantunya penuh bahagia sekaligus haru.


Hans sendiri tidak bisa membayangkan jika anaknya terlahir perempuan. Tiga perempuan saja sudah merepotkan apalagi di tambah satu.


TBC


Teruntuk Nur A. Sebagai Zoya terimaksih sudah menceritakan kisah ini sebagian inspirasi Rahasia Cinta Zoya. Untuk kisah nyata yang berakhir happy Ending karena mereka sudah bahagia sampai sekarang dengan tiga anak mereka termasuk Ale yang pada akhirnya masuk pesantren.... Tapi untuk readers tercinta author akan melanjutkan kehaluannya ya.... hehehehe... semoga bisa happy ending seperti kisah nyatanya. Jangan bosan ya untuk ngikuti Rahasia Cinta Zoya.....

__ADS_1


__ADS_2