
Suara helaan Nafas terdengar begitu berat. Di dalam Mobil, perempuan mungil yang saat ini mengelus perutnya yang mulai membesar itu terlihat seperti ada yang menjadi bebannya.
Hans melirik sejenak istrinya. Ada sedikit kecemasan saat melihat Zoya terlihat letih. Tapi, dia harus membawa istrinya pergi ke kantor terlebih dahulu karena ada berkas yang harus dia tanda tangani.
"Kenapa, Zoy? Apa kamu lelah?" tanya Hans dengan tangan menjulur mengelus perut istrinya. Baru empat bulan perut itu sudah terlihat jelas. Kadang, lelaki itu merasa kasihan, istrinya yang kecil harus membawa dua bocah sekaligus dalam perutnya. Tapi, itu juga rejeki dan anugrah yang harus dia syukuri.
"Cuma sedikit lelah, Mas. Tapi keinget si kembar Dellin dan Dellia." jawab Zoya.
"Sehat terus ya, kesayangan Papa." ujar Hans dengan senyum di bibirnya. Dia mengelus perut Zoya kemudian tangannya berpindah ke pipi istrinya.
"Mas, rumah bakalan sepi ya? Si kembar, udah dijemput papanya untuk pulang ke Bandung." lanjut Zoya yang ingin mengutarakan keberatan karena nanti saat dia sampai di rumah sudah tidak ada si kembar dan kakak besar.
"Apa karena itu kamu sedih?"
"Iya, Mas. Kemarin ada si kembar dan kaka besar, rumah rasanya ramai. Rumah terasa hidup, seru gitu." jawab Zoya dengan menatap suaminya.
"Kamu suka banyak anak, Zoy? " tanya Hans dengan menampilkan sedikit senyum liciknya. Tapi, Zoya keburu mengalihkan pandangannya ke depan hingga tidak memperhatikan wajah suaminya.
"Iya, Mas. "
"Kalau begitu setelah si kembar yang di perut lahir, kita gas pol ya? " bujuk Hans dengan menaik turunkan alisnya. Seringai licik tergambar jelas di wajahnya.
"Mas... lihat jalan, Mas! " ujar Zoya penuh penekanan saat suaminya mulai bertingkah konyol.
Mobil yang melaju dengan kecepatan rata-rata rata itu pun membelok di sebuah kantor yang ada di pusat kota. Mereka keluar dari mobil dan Hans pun segera menghampiri Zoya.
"Mas... aku ingin siomay yang ada di depan." Zoya sempat melihat tukang siomay gerobak yang mangkal di depan kantor suaminya.
"Iya, nanti saja, kita masuk dulu! " jawab Hans dengan menggandeng istrinya untuk masuk ke dalam. Kantor sudah terlihat sepi, hanya beberapa orang yang masih di sibukkan dengan pekerjaannya masing masing.
Dari jauh zuri sudah memperhatikan Hans yang menggandeng Zoya. Ada sedikit rasa tidak senang yang menelisik hatinya. Dia bisa melihat sosok bosnya itu seorang suami yang baik, "Tapi ah masak iya, yang namanya lelaki sama saja." Gadis itu memang tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Selamat sore, Pak."sapa Zuri saat Hans berhenti di depan mejanya.
"Sudah kamu siapkan berkasnya?" tanya Hans saat gadis itu terlihat seperti terbengong menatapnya.
"I- ya, sudah siap di meja Bapak." jawab Zuri sedikit terbata. Dia melihat tatapan tajam Hans ke arahnya. Tentu saja rasa takut karena dia hanya mengenakan blues tanpa lengan dan blazer yang menggantung di kursinya.
"Ada lagi yang Bapak butuhkan?" tawarnya. Zuri memang sangat luwes untuk menjadi seorang sekretaris karena ini bukanlah pertama kalinya dia bekerja dengan seseorang.
__ADS_1
"Tolong belikan siomay dan kelapa muda tanpa es." Pinta Hans pada gadis itu. Padahal saat asistennya Diana Hans tidak pernah meminta hal di luar tugas kantor.
"Oh ya, dua." tiba tiba dia ingat jika si mungil di sebelahnya tidak akan puas dengan satu porsi meskipun untuk dua porsi, Zoya tidak akan menghabiskan semuanya.
Hans menggandeng Zoya masuk ke dalam ruangannya. Tidak lupa dia meminta Zoya untuk duduk santai di sofa sambil menunggu pesanannya.
Gadis cantik dengan dua bungkus siomay itu masuk ke dalam kantor. Dia hanya mengetuk pintu ruangan yang sudah terbuka itu sebagai sapaan jika dia datang.
"Berikan pada istriku!" ucap Hans masih menatap beberapa lembar kertas yang hampir saja dia selesaikan.
"Oh ya.... " kalimat Hans yang terputus membuat gadis itu berhenti di depan meja bosnya.
"Lain kali jangan menelponku di luar jam kerja. Saya tidak suka waktu bersama keluarga terganggu." jelas Hans sebagai peringatan pada sekretarisnya itu.
"Oh ya, Pak. Boleh saya pulang terlebih dahulu?"
"Silahkan!" jawab Hans.
Gadis itu keluar dengan rasa sedikit kecewa. Baru kali ini dia mendapat teguran atas cara kerjanya. Selama ini dia merasa sudah cukup berpengalaman untuk menghandle urusan bosnya. Tapi sayang, skandal bersama bosnya yang lama memberinya julukan sexcretary dan itu membuat Zuri memilih kota ini untuk memulai sesuatu yang baru.
Tanpa alas kaki, Zoya berjalan ke meja suaminya. Dia yakin, saat Hans membereskan kertas kertas di depannya, suaminya itu sudah menyelesaikan pekerjaannya.
"Aku melihat tatapan Zuri ke Mas Hans sangatlah berbeda." ujar Zoya masih dengan membawa kotak siomay di tangannya, yang isinya masih dia nikmati itu. Zoya terus saja menyampaikan argumennya. Pendidikan berlahan merubah cara pikir perempuan yang berasal dari kampung itu.
"Masak? Sejak hamil kamu, kan, emang cemburuan." jawab Hans dengan santainya.
"Kalau makan itu duduk!" lanjut Hans yang masih memperhatikan Zoya. Dia langsung menarik tubuh mungil itu ke atas pangkuannya.
"Nggak tahu juga, sih. Apa aku yang memang terlalu berlebihan. Tapi aku melihat sikap dan tatapannya berbeda dengan Mbak Diana."
"Benarkah? Diana sekarang buka toko bunga di depan rumahnya. Kata Ryan biar sekalian ngurus rumah." jawab Hans dengan mengarahkan satu sendok siomay ke mulutnya.
"Kenapa tidak cowok saja yang jadi asistennya Mas Hans." Saran Zoya yang merasa suaminya pada garis tidak aman.
Mendengar saran istrinya Hans hanya bisa menyandarkan tubuhnya di badan kursi, tapi kedua tangannya masih melingkar memeluk pinggang Zoya yang masih duduk di atas pangkuannya.
"Duh... yang punya suami ganteng, Hahaha. Suka paranoid sendiri." Hans malah tergelak menertawakan istrinya. Pada saat itu, memang pelamar untuk bagian itu adalah wanita semua.
Zoya menyuapkan sendok terakhir ke mulut suaminya. Sedangkan Hans, masih memeluk tubuh kecil itu dengan tersenyum tapi hatinya mulai mengkhawatirkan sesuatu. Saat dia memperhatikan perut Zoya yang baru berusia empat bulan itu sudah nampak besar, hal itu mulai membuat Hans mengkhawatirkan persalinannya kelak.
__ADS_1
"Mas, bolehkah aku membeli baju hamil untuk kuliah? Bajuku sudah mulai sesak semua." pinta Zoya.
Sejenak Hans menatapnya. kemudian memeluknya erat, "Kamu bisa menggunakan uang itu tanpa harus meminta izin padaku." bisik Hans. Dia memang sudah mempercayakan keuangan keluarga pada istrinya.
"Bukan begitu, Mas..." kalimat Zoya membuat Hans mengurai pelukannya. Kemudian menatap Zoya penuh selidik.
"Aku hanya ingin kita terbuka. Mas Hans juga bisa mengingatkan, jika aku sudah berlebihan kurang tepat dalam menggunakan uang itu." ucap Zoya membuat Hans kembali menatapnya penuh kekaguman. Terkadang kerasnya hidup membuat seseorang punya pemikiran yang jauh lebih matang. Seperti pemikiran yang dimiliki istrinya.
###
Pagi itu, Nilla sudah terlihat repot di dapur. Pagi ini Wildan harus berangkat pagi karena ada kelas di jam pertama. Lelaki yang sudah rapi dengan kemeja panjangnya dan tas ransel nya itu menghampiri istrinya yang masih memasak mangut lele.
"Sayang, jangan terlalu memaksa jika belum bisa matang." ujar Wildan dengan memeluk pinggang istrinya. Setelah subuh, Wildan memang meminta Nilla meluangkan waktu sejenak untuk tadarus Al-Quran bersama. Dan parahnya lagi Nilla malah memilih menu yang memasaknya butuh yang cukup lama.
"Bang, jangan begini! Aku tidak bisa leluasa bergerak." Protes Nilla yang kesulitan menggeser tubuhnya. Selain menunggui mangutnya matang, dia juga harus menyiapkan piring dan sendok.
"Besok masaknya simple saja. Sama ceplok telur saja Abang tidak menolak, Nil." ucap Wildan, dengan mendaratkan ciuman di pipi istrinya itu, dia mulai beranjak untuk duduk di meja makan. Dapur mereka tidaklah luas, ruang makan yang langsung bergabung dengan pantry membuat Nilla dengan mudah menggeser makanan dan piring ke meja makan.
Setelah menyelesaikan semuanya, Nilla menghembuskan nafas lega. Dia mulai menyiapkan nasi dan lauk di piring suaminya.
" Kamu kuliah jam berapa?" tanya Wildan.
"Pukul dua sampai pukul empat, Bang." jawab Nilla. Mereka kini memulai sarapannya.
"Nanti berangkat naik taxi saja. Pulang bareng sama Abang. jika Abang belum ada, tunggu di parkiran dosen." Wildan memang ada jam kelas pagi, setelahnya dia akan pergi ke percetakan.
"Tapi, bagaimana jika semua tahu kita menikah, Bang? " Nilla merasa tidak enak jika ada yang tahu jika mereka menikah.
"Kamu keberatan?" Wildan balik bertanya, dalam hatinya memang tidak ada niat untuk menyembunyikan pernikahannya.
"Tidak, Bang. Aku takutnya ngerecokin posisi Abang di kampus." jelas Nilla sementara Wildan hanya tersenyum mendengar jawaban istrinya.
"Aku tidak mempermasalahkan itu." Wildan menyelesaikan sarapannya terlebih dahulu. Tapi dia masih menunggu Nilla untuk menyelesaikan juga sarapannya.
Setelah mereka selesai sarapan Wildan mulai beranjak dengan mengenakan ranselnya. Kemudian mendaratkan ciuman ke kening istrinya.
"Jangan, blokir lagi nomer Abang." sindir Wildan dengan tersenyum. Emang, ada saja yang dilakukan istrinya itu saat dia merasa kesal.
TBC
__ADS_1