
Hans menggandeng Ale keluar dari lift. Bocah gembul itu melompat-lompat dengan girang karena akan bertemu dengan mamanya. Lelaki bertubuh tinggi atletis itu juga menyeret sebuah koper yang berisi keperluan Ale dan Zoya untuk sementara tinggal di apartemen.
"Papa kita mau ke mana? " tanya Ale masih penasaran dengan tempat yang masih asing baginya.
"Sementara kita akan tinggal di apartemen Papa." ujar Hans dengan memencet keyword pintu masuk apartemennya.
"Assalamualaikum.... " teriak Ale langsung mencari keberadaan Zoya.
"Mama Zoyaaaa..." lanjut Ale masih berteriak girang saat melihat Zoya sedang duduk di sofa depan TV. Ale langsung menghambur dan memeluk Zoya membuat Zoya melorotkan tubuhnya ke karpet.
"Salim dulu, Sayang. " ujar Zoya merenggangkan pelukan Ale. Bocah itu langsung mengambil punggung tangan Zoya dan duduk di pangkuan mamanya. Tidak lupa, tangan Ale langsung melingkar di punggung Zoya.
"Ale, kamu duduk sendiri saja! Kasian Mama kalau harus mangku kamu. " ujar Hans menghampiri dua wanitanya. Lelaki itu mendaratkan ciumannya ke puncak kepala keduanya secara bergantian.
Ale pun beranjak, tapi masih mengalungkan lengannya di leher Zoya. Bocah gembul itu masih bergelayut manja di tubuh kecil yang hampir kewalahan mengimbangi gerakannya. Ale memang sangat merindukan Zoya.
"Pa, mana dedek bayinya? Aku ingin main bersama dedek bayi. " Ale mulai merengek saat tidak melihat adanya dedek bayi seperti yang sudah dia bayangkan.
"Adek bayinya masih di perut Mama. " jawab Hans asal-asalan saat mendudukkan beratnya di samping Zoya.
"Mas Hans ini..." Zoya mencubit paha suaminya dengan menarik sudut matanya ke arah Hans. Zoya ingin sekali memprotes jawaban Hans yang sudah membohongi Ale.
"Biar tidak bawel lagi, tadi di jalan merengek terus minta mainan buat adek bayi." jawab Hans.
"Kok di pelut? " tanya Ale dengan menatap heran perut Zoya yang masih seperti biasanya.
"Pelut Mama kok kecil? Tidak ada dedek bayinya? " cecar Ale dengan masih memperhatikan perut Zoya.
"Bagian Mas Hans yang menjawab Ale. " Zoya tersenyum membuat suaminya mengusap tengkuk karena harus berfikir meneruskan kebohongannya.
"Ale tadi minta martabak, kan? Kalau dingin keburu nggak enak, lo! " ujar Hans mengalihkan perhatian putrinya. Dia tahu jika Ale akan lebih antusias jika membahas makanan.
"Oh iya..." Ale beranjak dari tubuh Zoya, berniat untuk mencari martabak telurnya.
__ADS_1
"Ale, cuci tangan dulu! " Zoya berdiri mengantarkan Ale untuk mencuci tangan putrinya dan kemudian melengser martabak ke piring.
"Zoy, bawa ke sini! Aku juga mau. " teriak Hans. Zoya pun membawa sepiring martabak ke depan TV.
"Mama, kenapa pakai baju jelek itu." seloroh Ale membuat Hans menatap tajam putrinya.
"Enak saja, dibilang baju jelek. Dasar tidak tahu barang mahal." gerutu Hans, dia tidak terima kemejanya di bilang jelek. Kalimat Ale, kepolosan bocah itu terkadang memang membuat Hans gemas.
"Papa, cuci tangan dulu! "pekik Ale setengah berteriak dengan menahan tangan Hans yang sudah siap mencomot sepotong martabak.
"Ya Allah, ini bocah bawelnya melebihi omanya." Sambil menggerutu Hans pun berjalan untuk mencuci tangannya. Sementara, Zoya hanya tersenyum saat melihat dua orang yang terkadang bermusuhan seperti kucing dan tikus.
Malam pertama mereka di apartemen. Ale tertidur di pangkuan Zoya, setelah makan martabak dan beberapa menit menonton televisi bocah itu sudah tak lagi bergeming.
"Aku akan memindahkan Ale ke kamar. " Hans mengangkat tubuh Ale dan membawanya ke dalam kamar.
Zoya mengganti acara tv dengan drama Korea setelah beberapa jam dia menikmati tontonan kartun.
"Zoy, tadi sudah makan? "
"Belum, malas aku, Mas."
"Nanti asam lambung naik, mual mual kayak kemarin. Kamu pengen makan apa? " Hans kembali bertanya dan meletakkan tangan Zoya meminta kepalanya untuk di pijat.
"Aku lagi tidak berselera, tadi sudah makan martabak juga kan, Mas." jawab Zoya dengan memijit kepala suaminya.
"Zoy, nanti kamu sakit. " ujar Hans dengan menahan tangan Zoya untuk berhenti memijat.
"Besok pagi saja, Mas. Aku takut muntah, cuaca dingin membuat mulutku rasanya enegh."
"Kalau aku yang memakanmu, bagaimana? " goda Hans membuat Zoya menghela nafas panjang. Tidak berani menolak tapi dia masih merasa nyeri akibat pergulatan yang semalam.
"Baiklah... aku kasih jeda, deh! Tapi, kamu selalu membuatku selalu bernafsu, Zoy! " Omongan Hans yang tanpa filter membuat rona merah di wajah Zoya. Meskipun sudah dua kali melakukannya, tapi dia masih saja malu saat Hans menggodanya.
__ADS_1
###
Setelah mendengar kabar jika pengacara baru dari firmanya datang terlambat saat sidang membuat Hans merasa sangat geram.
"Kalau kamu nggak bisa jadi pengacara yang profesional, mundur saja! " ucap Hans dengan wajah berangnya. Emosinya serasa di ubun ubun, menurutnya datang terlambat ke sidang adalah hal yang sangat fatal.
"Asal kamu tahu! Sidang tidak butuh kecantikanmu atau pun tampilan seksimu itu. Datang ke sidang saja pakai acara terlambat dan tanpa konfirmasi juga. Bagaimana kamu becus menangani kasus yang rumit?" Kali ini Hans benar benar tidak ada basa basinya lagi.
"Kamu tahu, nasib mereka sedang dipertaruhkan. Kamu malah seenaknya menganggap enteng kasus mereka. Lulusan luar negeri tapi tidak becus. " Kata kata yang keluar dari mulut Hans membuat Kyara tertunduk, air matanya meluncur begitu saja. Dia memang salah.
"Sekarang aku tanya sekali lagi. Kamu masih sanggup nggak fokus menjadi lawyer yang profesional." tanya Hans sedikit melemahkan nada suaranya, tapi masih aja memberi penekanan. Hans, memang selalu memantau kinerja lawyernya meski terkadang tanpa mereka sadari.
"Sanggup. Aku akan berusaha memberi yang terbaik." jawab Kyara dengan suara yang tercekat.
"Kamu bisa keluar ruanganku sekarang " Hans, mengatur emosinya kembali. Sementara kyara masih tertunduk, dia seperti shock saat melihat kemarahan Hans terhadapnya karena belum ada yang berani memarahinya seperti itu. Ya, jika bukan karena Papanya yang mewanti wanti untuk mencari banyak pengalaman mungkin dia tidak akan mau diintimidasi seperti itu.
"Tunggu...! " Kyara menghentikan langkahnya.
"Kenakan pakaian yang layak saat bekerja. Semua pakaianmu sangat tidak sopan dipakai di lingkungan kantor." Hans sudah tidak tanggung tanggung lagi untuk menegur Kyara. Selama ini dia merasa tidak nyaman dengan cara Kyara berpakaian, tebar pesona kesana kemari membuat suana kantor menjadi heboh. Gegas, gadis itu berjalan keluar ruangan dengan air matanya.
Hans menghela nafasnya. Setelah mengeluarkan semua emosi dan unek unek tentang putri seniornya itu. Dia merasa kembali lega. Selama ini, dia masih mencari waktu yang tepat untuk menegur perilaku dan cara berpakaian gadis itu.
Terlihat panggilan dari 'Mylovely' membuat Hans segera mengambil ponselnya.
"Assalamualaikum.... " kalimat Hans menggantung.
"Pak, ini tentor memasak Mbak Zoya. Mbak Zoya pingsan di tempat kursus." sela tentor memasak Zoya. Seketika Hans langsung mengambil kunci mobilnya dan berlari kecil menuju parkiran.
Hatinya begitu cemas saat mendengar Zoya tidak sadarkan diri. Hans melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pikiran buruk mulai hinggap di otaknya. Beberapa hari dia melihat Zoya tidak bernafsu makan, bahkan terkadang terlihat wajah Zoya terlihat pucat.
Bersambung....
Hae hae readers aku yang masih setya mantengin tulisan recehku ini. Terima kasih untuk segala like, hadiah, dan votenya. Semoga tulisan othor bisa menghibur... seperti komen komen kalian yang selalu membuat othor senyum senyum dan tambah semangat. salam malam mingguan,, saat kencan yeee..... sunnah rosul sudah lewat ya maaakkk
__ADS_1