Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Penjelasan Atas Keselamatan


__ADS_3

Zoya terlebih dahulu masuk ke kamar Ale untuk membangunkan putrinya. Dia mulai membiasakan Ale bangun untuk Salat Subuh. Iya, Zoya sudah mudah mulai mengajari Ale untuk menjalankan Salat. Masih dengan rasa enggan karena kantuk yang mendera, Ale menyeret langkahnya mengikuti mamanya ke musala.


Sementara Hans menghampiri kamar Arum terlebih dahulu untuk memintanya Salat Subuh berjamaah, tapi gadis itu menolak. Tidak masalah bagi Hans, dia memang sekedar mengingatkan. Dia sendiri langsung menuju musala untuk menjadi imam bagi Zoya dan Ale.


"Mata Mama kenapa, kok jadi sipit? " tanya Ale setelah melipat mukena. Pertanyaan Ale membuat Zoya hanya mengernyitkan mata. Matanya memang masih terlihat sedikit bengkak. Tapi, Ale belum tahu jika di dalam rumah ini sudah ada Arum, istri papanya yang baru.


"Benarkah?" Zoya balik tanya pada Ale, mereka keluar dari musala bersama. Sedangkan, Hans sudah terlebih dahulu keluar musala karena dia ingin terlelap sejenak. Pagi ini, dia melakukan pembelaan lagi pada sidang kasusnya Antonio.


"Iya, Mama." Zoya tersenyum ke arah putrinya, tidak menyangka usia Ale seperhatian itu pada perubahannya. Zoya sendiri masih menutupi perasaannya yang sudah hancur di depan putrinya.


Tidak ada pilihan dalam hidup Zoya, dia harus menerima apa yang sudah terjadi, bertahan untuk beberapa waktu yang telah ditentukan oleh Hans.


Zoya melirik kamar tamu, ruangan yang akan menjadi tempat permanen Arum, dengan rencana untuk beberapa waktu. Ruangan itu masih tertutup meski saat ini Ale sudah bersiap untuk berangkat sekolah.


"Mama, I need you. Ale sayang Mama." ucap Ale saat mencium pipi mamanya.


"Emang apa artinya?" Zoya mencoba mengetes putrinya yang mulai menggunakan bahasa asing.


"Ale tidak bisa tanpa Mama." jawab bocah itu dengan penuh keyakinan membuat Zoya hanya tersenyum.Putrinya, kemudian mencium punggung tangan Zoya dan berangkat bersama Pak Dino.


Setelah keberangkatan Ale, Zoya kembali masuk ke dalam, saat akan melewati kamar Arum, tiba tiba pintu kamar terbuka. Sesosok gadis cantik dengan dress selutut dan rambut panjang tergerai keluar dari ruangan. Tatapan mereka saling beradu, meneliti seolah bertemu lawan masing masing.


"Zoya! Apa Mbak Zoya, ya?" sapa Arum terlebih dahulu. Arum memeng terlihat matang, mungkin karena umurnya lima tahun di atas Zoya.


"Iya ... selamat datang di rumah ini, Mbak! Panggil Zoya saja." jawab Zoya masih berpura-pura jika dia dalam keadaan baik-baik saja. Meskipun hatinya sudah hancur, tidak ada pilihan lain bagi Zoya untuk membangun sebuah keikhlasan.


"Maaf aku akan ke dapur, Mbak. " ijin Zoya yang akan melewati Arum.


"Bolehkah aku ikut? " sergah Arum sambil mengejar Zoya.

__ADS_1


"Silahkan! Ini juga rumah Mbak Arum karena Mbak Arum juga istrinya Mas Hans meskipun aku belum tahu duduk permasalahan sebenarnya." jawab Zoya saat mereka mulai aktifitas di dapur.


Hentakan suara sepatu pantofel membuat keduanya menoleh. Hans terlihat sudah rapi dengan setelan kemeja kerja sedang menuruni tangga. Zoya segera berbalik, dia sempat menangkap basah tatapan kagum Arum pada Hans. Iya, Arum melemparkan tatapan memuja untuk lelaki yang saat ini berjalan ke meja makan.


"Bolehkah, aku yang membawa kopi ini untuk Mas Hans? " tanya Arum sambil menunggui Zoya mengaduk kopi hitam kesukaan suaminya.


"Silahkan! " jawab Zoya dengan nada lirih. Dia tahu, sudah saatnya mengemas hatinya untuk terbiasa menerima luka.


Arum berjalan dengan membawa kopi dan meletakkannya di depan Hans. " Silahkan, Mas! Ini kopi pertama buatanku untuk Mas Hans. " tutur Arum langsung membuat Zoya menoleh, tepat saat Hans juga mengalihkan pandangannya ke arah Zoya. Tatapan mereka saling beradu, tapi Zoya membiarkan saja Arum mengakuinya.


Zoya masih menyelesaikan urusan di dapur bersama Bi Muna. " Mbak, kenapa tidak menemani bapak saja? " ujar Bi Muna menatap iba Zoya yang beberapa kali menghela nafas seolah ingin membuang sedikit beban yang menyesak di dadanya. Sedangkan wanita yang sudah sangat berumur itu masih sibuk menyelesaikan memasak.


"Aku akan belajar tanpa Mas Hans. Saat ini aku juga akan belajar ikhlas, menyerahkan hidup dan takdirku pada Allah. Semua ini sudah terjadi." gumam Zoya dalam hati tangannya mengelus perut hamilnya yang belum terlihat. Dia memilih berusaha berfikir positif di saat kehamilannya itu akan jauh lebih baik.


Zoya mulai melangsir sarapan yang sudah matang ke meja makan. Sedangkan Arum langsung mengambilkan makanan untuk Hans. Hans menarik sudut matanya melirik Zoya yang berdiri tidak jauh darinya. Semburat kesedihan terlihat di wajah Zoya.


Dering ponsel Arum pun berbunyi terlihat nama Deny menelpon membuat Arum langsung beranjak menjauh.


"Zoy, nanti sore kita akan periksa kandunganmu, ya! " pinta Hans dengan menahan lengan Zoya. Ada rasa sedih yang tidak bisa diingkari oleh Hans saat melihat diamnya Zoya. Sorot mata indah terlihat sendu dengan bekas bengkak di kelopak matanya.


"Ijinkan aku pergi sendiri, Mas. Aku juga akan membeli peralatan untuk memulai membuat kaligrafi." Suaranya seolah tertahan. Sentuhan yang dia rindukan saat ini justru menyiksanya. Saat melihat Arum kembali, Zoya melepaskan genggaman tangan Hans.


"Zoy, aku akan menjelaskan sesuatu padamu. Duduklah! " Zoya hanya bisa menuruti keinginan suaminya. Meskipun Hans sudah membebaskannya, tapi dia berusaha untuk tidak memperkeruh keadaan. Tidak ada gunanya bagi Zoya hubungan yang tertahan ini, ini hanya tentang hati, dimana itu tidak bisa untuk dipaksa atau diikat dalam hubungan apapun. Terlukanya Zoya atas pernikahan kedua suaminya, membuatnya dengan bulat memilih mundur.


"Aku dan Arum hanya menikah kesepakatan. Kami menikah hanya karena menghindari masa dari warga karena mereka tidak mau menerima penjelasan kami. Mereka hanya percaya dengan apa yang mereka lihat. Saat itu aku akan mengantar Arum pulang. Tapi, saat petir terdengar begitu keras justru Arum ketakutan dan memelukku." jelas Hans.


"Iya, Zoy. Aku tidak sengaja memeluk Mas Hans Aku punya phobia pada petir. Dan mereka menyangka, kita akan melakukan sesuatu yang tidak senonoh."


"Parahnya lagi, Arum tidak sengaja memanggil namaku dan menggandeng tanganku karena ketakutan karena akan di hakimi warga. Itu yang membuat mereka mengira kita sudah saling mengenal dengan baik. Dan tidak percaya dengan penjelasan kami." lanjut Hans. Zoya masih terdiam, dia sendiri tidak mengerti harus berbuat apa atau berkata apa untuk menanggapinya. Tapi, pernikahan enam bulan bagi Zoya bukanlah sebuah klise saja, buktinya itu sangat melukainya. Baginya tidak ada istilah pernikahan kesepakatan.

__ADS_1


"Jadi pernikahan kita hanya sebuah kesepakatan. Setelah enam bulan kita akan berpisah. Bukan begitu kan, Arum? " ujar Hans dia akan memanfaatkan waktu enam bulan untuk menyelesaikannya kasus Antonio.


Perjuangannya saat ini begitu berat karena mempertaruhkan keluarganya. Tapi, dia belajar untuk lebih hati-hati, jika sekali atau dua kali pergi ke TKP. Mengenal masyarakat yang cukup kolot dan mengagungkan sebuah tradisi tanpa melihat situasi dan penjelasan seseorang membuat dirinya seperti jatuh dalam jurang permasalahan yang cukup pelik.


"Iya." lirih Arum.


Arum Pov


Enam bulan waktu yang cukup lama untuk bisa menaklukkan hatimu Mas Hans. Apalagi, jika hanya seorang Zoya, perempuan sederhana yang menjadi sainganku. Dia memang cukup cantik, tapi dia terlalu biasa untuk menjadi pendampingmu, Mas. Lihat saja! Enam bulan dirimu tidak akan bisa menolak pesona seorang Arum.


Aku sudah menyukaimu saat pertama melihatmu, Mas. Wajah gantengmu, tubuhmu yang tinggi serta atletis dan kharismatikmu yang kuat. Apalagi, aku bisa melihat bagaimana kamu menyayangi seorang perempuan. Dan suatu saat Aku akan menjadi satu satunya perempuan akan kamu sayangi. Seperti apa kata Bang Deny, Istri muda akan jauh lebih menarik.


Author Pov


Arum tak pernah mengerti betapa emosionalnya Hans sebelumnya dan hanya kelembutan Zoyalah yang selama ini bisa menaklukan keras hatinya seorang Hans Satrya Jagad.


###


Zoya keluar klinik bersama Nilla. Untung saja dia menitipkan Ale pada Bi Muna dan Arum, antrian yang cukup panjang pasti akan membuat Ale merasa bosan.


"Zoy, kita makan yuk! " ajak Nilla saat melihat Zoya seperti kelelahan. Kali ini Nila berniat mentraktirnya meski kemungkinan besar Zoya tidak pernah mau.


"Baiklah! " Mereka menyebrang jalan menuju sebuah cafe yang sedikit terbuka.


Mereka memilih duduk di tepi jendela agar bisa menikmati suasana. "Zoy, kenapa tidak diantar suamimu? " tanya Nilla yang merasa curiga saat melihat Zoya terlihat sedih. Sudah banyak tahun mereka berteman membuat Nilla sangat hafal dengan rona di wajah Zoya.


Sebuah mobil sedikit bergerak, si pengemudi tidak ingin melepas tatapannya dari perempuan yang selalu meneduhkan hatinya. Terlihat mereka duduk di dekat jendela yang full kaca, membuat mereka terlihat lebih jelas gerak geriknya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2