
Pukul lima pagi, Hans dan Zoya baru saja menyelesaikan Salat Subuh. Semalam Zoya yang sudah merindukan Ale pun mencari ponselnya. Sementara, Hans berjalan keluar kamar masih mengenakan baju koko dan sarung.
"Assalamu'alaikum, Mama." sapa Zoya saat melihat wajah Mama Shanti di layar ponselnya.
"Waalaikum salam, Sayang. Pasti nyari Ale, ya?" tebak Mama Shanti. Dia tahu Zoya paling tidak bisa jauh dari putri.
"Iya, Mama." saat Zoya menjawab, Mama Shanti memanggil cucunya.
"Halo Mama, kapan pulang? Aku sudah kangen sama Doni dan Dini." sapa Ale dengan mengunyah roti bakar yang baru saja diminta dari Bi Muna.
"Ya Allah kak Ale, masih jam lima udah sarapan roti. Nanti sebelum Papa ke kantor, Mama akan pulang diantar Papa dulu." jawab Zoya. Melihat pipi gembul yang masih mengunyah membuat Zoya tersenyum, tak terasa putrinya sudah terlihat lebih dewasa.
"Papa mana, Ma?" tanya Ale.
"Papa sepertinya di ruang kerja. Kak Ale nggak persiapan sekolah?" tanya Zoya. Biasanya setelah Salat Subuh bocah itu langsung melakukan persiapan untuk sekolah.
"Ale libur, Mama. Di sekolah ada acara untuk semua guru."
"Ohhh... nanti kalau Mama pulang, Kak Ale mau dibawakan apa?" tanya Zoya. Sejenak Ale terdiam seolah sedang berfikir.
" Nasi uduk, kue cucur, bubur kacang hijau... " Kemudian terlihat berfikir lagi hingga Oma Shanti merebut ponsel.
"Nggak-nggak semua, Zoy. Lihat badannya udah bengkak gitu, lo!" ucap Mama Shanti saat di layar ponsel membuat Zoya menahan tawanya.
"Oma, badan Ale nggak bengkak, kok!" Terdengar protes bocah itu. Kemudian Ale merebut kembali ponsel omanya.
"Mama... " keluh Ale.
"Iya sayang, bagaimana jika nanti Mama buatin bubur ayam saja?" tawar Zoya.
"Aseekk iya, Ma." bubur ayam buatan Mama Zoya bagi Ale memang yang paling enak.
"Kalau begitu Mama tutup dulu, Assalamu'alaikum..." Zoya menutup telponnya.
Sambil menggelung rambutnya, dia memutuskan keluar kamar untuk mencari suaminya. Ruang kerja yang terlihat menyala membuat Zoya bisa menebak jika Hans ada di sana.
"Mas Hans, sedang apa?" tanya Zoya yang masih diambang pintu. Melihat kehadiran Zoya, Hans langsung menutup Al- Quran yang barusan dia baca.
"Aku lagi belajar mengaji." Hans meletakkan kembali al- Qur'an nya di dalam laci meja kerja. Zoya menghampiri Hans dan kemudian memeluk lelaki itu, dia sangat senang bahkan dia tidak memaksakan itu pada suaminya.
"Sejak, kamu hamil aku belajar sedikit demi sedikit membaca Al-Quran. Seminggu tiga kali aku datang ke rumah ustadz Idrus." jelas Hans dengan menarik tangan istrinya untuk mendekat.
"Aku senang, Mas." Zoya memeluk kembali suaminya, kemudian dia duduk di atas pangkuan lelaki yang saat ini sedikit menundukkan kursinya. Senyum manis tidak luntur sedikit pun di wajah Zoya.
"Hae Doni dan Dini. Apa kabar? Siapakah diantara kalian yang membuat mamamu semakin manja dengan Papa?" tanya Hans dengan mengelus perut istrinya. Sejak hamil Zoya memang sangat manja dan cerewet.
"Zoy, bergerak. Mereka aktif sekali!" ujar Hans dengan girang saat merasakan pergerakan di perut Zoya yang begitu kentara. Ini seperti candu, Hans seperti anak kecil yang tengah bermain dengan temannya, tangannya masih mencari pergerakan itu lagi.
__ADS_1
"Apa benar, perempuan hamil sudah tidak menarik lagi?" tanya Zoya yang tiba-tiba membuat Hans menghentikan gerak tangan di perutnya.
Lelaki itu kemudian mendongakkan wajah istrinya, menatapnya dan kemudian tersenyum ke arah Zoya.
"Kenapa bertanya seperti itu?" tanya Hans dengan menuntun tangan Zoya agar mengalung di lehernya.
"Kamu tidak merasa jika di bawah sudah mengeras? Saat hamil kamu semakin seksi, aku suka ukuranmu yang sekarang."
"Auuugghhh..." pekik Zoya saat Hans yang spontan meremas d*danya.
"Sebentar, Mas!" Zoya kemudian berdiri dia baru ingat jika pagi ini dia udah bilang pada Ale jika akan pulang dan membuatkan bubur ayam.
"Aku akan membereskan semuanya, aku sudah bilang Ale jika kita akan pulang pagi ini juga." ucap Zoya sambil berjalan keluar dari ruang kerja Hans.
"Zoy, tanggung jawab dulu! Telanjur bangun Nih." teriak Hans dengan mengejar istrinya yang terlihat masuk kamar.
Zoya yang mendengarnya hanya tersenyum tanpa menoleh sumber suara yang semakin mendekat ke arahnya.
"Kamu semakin nakal, Sayang!" ucap Hans yang berhasil mendekap Istrinya dari belakang. Kemudian, menghujani istrinya dengan ciuman di tengkuk putih itu.
Lelaki yang sudah di penuhi oleh hasrat itu pun membawa istrinya ke tempat tidur. Hingga pergulatan singkat terjadi di pagi itu.
"Apa aku masih bisa memuaskanmu, Mas?" tanya Zoya setelah mereka mengakhiri kegiatan panas tersebut. Mendengar pertanyaan istrinya Hans yang sedang memejamkan mata itu pun membuka matanya dan berganti posisi menghadap istrinya yang memeluk dadanya. Keduanya masih berada di bawah selimut tanpa sehelai benang.
Hans menunduk, menatap wajah yang kini mendongak ke arahnya. Kemudian lelaki itu tersenyum. Entah apa yang sedang dipikirkan istrinya. Ingin sekali di menggoda, tapi saat mata bulat yang indah itu menunggu jawaban darinya, rasanya Hans tidak tega juga.
"Kemarin aku sempat dengar, perempuan hamil tidak bisa memuaskan suami." jawab Zoya dengan polosnya.
"Kamu dengar saat Zuri merayuku?" selidik Hans dengan rasa penasaran. Saat Zoya menggangukkan kepala, Hans malah tersenyum jelas.
"Dasar!" Hans mencubit hidung Zoya. Dia merasa gemas dengan istrinya yang naif sekali. Bukanya menjawab, Hans malah ingin terus tertawa.
"Apa benar?" Zoya yang tidak sabar menunggu jawaban dari suaminya itu pun kembali bertanya.
"Dilihat dari sudut mana pun kamu yang paling istimewa, bodimu, kulitmu nggak cuma seksi tapi seksiiihhhh." ucap Hans sambil tertawa.
"Belum lagi suaramu yang mendesah, selalu membuatku semakin terbakar gairah, apalagi jepitanmu itu, wouuuhhh menggigit banget. Tidak hanya puas tapi bikin nagih." goda Hans membuat Zoya membekap mulut suaminya dengan telapak tangan kecilnya.
"Nggak usah panjang lebar gitu jawabnya, Mas." jawaban Hans membuat Zoya malu sendiri. Zoya tidak bisa menutupi lagi wajahnya yang merona. Tapi memang seperti itulah Zoya bagi Hans, jawabnya bukan sekedar godaan tapi memang benar adanya. Semua yang ada dalam diri Zoya tetaplah yang istimewa bagi Hans.
"Saat main denganmu aku juga tidak mikir nanggung dosa. Biarpun aku bukan orang alim, tapi tetap saja aku takut dosa dan karma."
"Apalagi aku akan punya dua putri, mereka juga yang nantinya akan memetik buah dari perbuatanku." lanjut Hans.
Zoya hanya tersenyum mendengar penjelasan terakhir suaminya. Meskipun sosok di depannya sempat bukan menjadi kriteria untuk menjadi suaminya, tapi sosok yang tidak religius inilah yang dipilihkan Allah sebagai jodoh yang tepat untuknya.
###
__ADS_1
Kemarin dengan dalih bertemu temannya, Ternyata Wildan mengajak Nilla untuk menginap di resort. Diam diam dia sudah menyiapkan semua keperluannya menginap selama dua malam.
Cuaca yang cukup berawan dan angin yang bertiup sangat kencang membuat Nilla malah ingin menikmati suasana pantai berpasir putih itu.
"Ayo Bang, kita main air!" Ajak Nilla dengan menarik lengan Wildan. Mereka berjalan ke bibir pantai. Wildan bisa melihat rasa bahagia terpancar dari wajah istrinya. Sejak mengenal Nilla, Wildan memang tidak pernah melihat Nilla jalan jalan, hanya kuliah dan mencari penghasilan tambahan yang dilakukan istrinya di kota ini.
"Kamu senang, Sayang?" tanya Wildan. Tubuh tinggi itu seolah mengapit tubuh mungil istrinya.
Nilla berhenti berjalan, dia menatap sosok di depannya begitu dalam, meskipun hatinya berdebar dan membuatnya sedikit gugup. Tapi dia tidak berhenti menatapnya.
"Terima kasih, Bang." ucap Nilla. dengan tersenyum.
"Kamu mau ke karang itu?" Wildan menunjuk ke sebuah bongkahan batu karang.
"Nggak, Ah. Terlalu jauh, Bang." tolak Nilla, semalam Wildan membuatnya hanya tidur beberapa jam saja. Pagi mereka sudah berolahraga di sekitar resort.
"Naik saja, Nil! Abang yang akan membawamu ke sana!" Wildan pun berjongkok meminta Nilla untuk naik di atas punggungnya, dia bisa mengerti Nilla yang sudah lelah tapi Wildan masih bisa melihat binar bahagia di wajah istrinya.
"Siang tadi kamu istirahatkan?" tanya Wildan saat Nilla sudah berada di gendongannya.
"Iya, tapi cuma dua jam." jawab Nilla, tangannya pun mengalung di leher suaminya.
"Sudah cukup itu untuk orang lain
yang lagi honeymoon." jawab Wildan. Honeymoon. Nilla malah tidak berfikir itu honeymoon.
Suasana sore semakin membuat sejuk. Dengan menggendong istrinya Wildan terus saja berjalan menyisir bibir pantai. Dia hanya ingin menunjukkan spot yang indah untuk melihat matahari terbenam.
Wildan menurunkan istrinya di sebuah bongkahan batu karang. Indah. Langit yang mulai memerah, deburan dan hembusan angin yang menyapu dengan sangat mesra itu membuat senja kali ini sangat indah.
"Sayang... " Wildan masih mendekap tubuh di depannya. Tangannya mengalung di punggung istrinya, sedangkan wajahnya menunduk menatap dua bola mata indah yang kini terus memperhatikannya.
"Minggu depan Ummi akan ke rumah, dia menginap bersama Mayra." Mendengar kalimat Wildan senyum di wajah cantik itu pun menyurut.
"Dengarkan Abang dulu!" lanjut Wildan.
"Mayra akan ikut lomba Qiroatul Qur'an yang diadakan di pesantren yang di dekat kampus kita."
"Kenapa harus menginap di rumah kita, Bang?" sela Nilla yang langsung mengalihkan pandangan. Dia merasa kecewa sekaligus cemas.
"Percayalah pada Abang, Nil. Abang hanya mencintai kamu." Wildan kembali meyakinkan istrinya jika itu tidak akan menjadi masalah.
"Abang tidak bisa menolak permintaan Ummi untuk menginap di rumah kita. Tolong bantu Abang agar tidak merasa sulit dengan posisi Abang." Kalimat Wildan membuat Nilla bisa merasa betapa sulitnya berada di posisi suaminya.
"Abang, bisa mengerti perasaanmu. Abang juga akan berusaha bicara baik baik dengan Ummi. Biar bagaimanapun beliau Ibu Abang." ujar Wildan menenggelamkan tubuh kecil istrinya dalam pelukannya. Mereka tidak ingin menghabiskan sore yang indah dengan pikiran buruk.
Mereka mengalihkan topik pembicaraan, di sore yang indah itu. Apalagi dengan rasa cinta yang semakin dalam diantara keduanya.
__ADS_1
TBC