
Hans menghentikan mobilnya sedikit menjauh dari huru hara yang terjadi. Jalan yang di tutup dan keadaan yang sudah kacau membuat Hans tidak bisa melewati jalan tersebut. Langkah panjangnya tergesa menuju ke arah pondok pesantren. Pondok terlihat tertutup rapat, nampak seorang laki laki sepuh membukakan pintu bangunan tua itu, saat Hans mengetuk pintu gerbang.
"Apa acara kajiannya sudah selesai, Pak? " tanya Hans.
"Sudah, baru saja selesai, Mas. " jawab lelaki sepuh itu dengan tersenyum ke arah Hans. Hans melepas kaca mata hitamnya, lelaki itu mulai gelisah, mencari keberadaan Zoya. sementara tidak jauh dari pondok itu masih terlihat keadaan yang ricuh.
"Ya sudah, terima kasih, Pak! " Bapak itu kembali menutup pintu gerbang. Sedangkan Hans, masih mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
Matanya melihat tiga orang yang yang berdiri sedikit menjauh darinya, dia sangat hafal baju yang dia belikan untuk Zoya. Istrinya mengenakan baju berwarna lilac itu, Hans kembali memakai kaca mata hitamnya, lelaki bertubuh tinggi atletis itu kembali berjalan menghampiri ke tiga orang tersebut.
"Zoya, kamu baik baik saja kan? "tanya Hans saat ada di hadapan ketiga orang tersebut. Nila dan Wildan hanya menatap lelaki cuek yang menghampiri istrinya.
" Ayo, kita pulang! " ucap Hans dengan merangkul Zoya dan pergi begitu saja tanpa harus menyapa kedua orang yang menunggui istrinya.
"Aku pulang dulu Nil, Bang! " pamit Zoya yang serasa di tarik begitu saja oleh Hans. Tatapan kecewa lelaki ganteng berwajah teduh itu pun tertuju pada perempuan yang sampai sekarang masih menempati ruang hatinya.
Zoya yang merasa tidak enak kembali menoleh ke belakang, menatap Wildan dan Nila yang membalas tatapan Zoya dengan senyum dan anggukan.
Di balik kaca mata hitam Hans memperhatikan Zoya, Seketika pula rangkulan di pundak mungil itu pun turun menjadi genggaman di lengan istrinya, saat Zoya menoleh kebelakang seolah dia merasa Zoya sedang menolehi ustadz berwajah ganteng tersebut. Entah kenapa hatinya selalu bergemuruh saat melihat Zoya bersama ustadz tersebut, sosok lelaki yang selalu melemparkan tatapan memuja pada istrinya.
Tak terasa Hans menggenggam erat lengan Zoya dan menarik istrinya begitu saja, hingga Zoya pun merasa kesakitan di lengannya. Hans mendadak menunjukkan perangai dingin, saat ini dadanya bergemuruh terbakar emosi yang saat ini sulit untuk diredamnya.
Lelaki yang sudah kalap dengan emosinya itu membukakan pintu mobil untuk Zoya, dia pun langsung berjalan memutar untuk duduk di belakang kemudi. Masih memegang stir mobil, Hans menghela nafas panjang, seolah mengatur gemuruh emosi di hatinya.
"Apa hubunganmu dengan laki laki dari kampung asalmu itu? " tanya Hans masih menahan rasa kesalnya. Nada suara yang penuh penekanan membuat Zoya menjadi takut.
"Tidak ada, Mas. Bang Wildan yang menjadi pembicara tadi. " ujar Zoya dengan suara lirih, tatapannya mengiba, dengan jari jari tangan saling meremas di atas pangkuannya.
"Apa kamu pernah punya hubungan dengannya? "
__ADS_1
"Iya, aku pernah kerja di Yayasan Pondok milik keluarganya. " kalau itu Hans sudah tahu.
"Cuma itu? Maksudnya teman special atau pacar? " Zoya hanya menggigit bibir bawahnya dan menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Jangan menggigit bibirmu seperti itu! "Hans kembali menghidupkan mesin mobilnya. Rasa hatinya ingin mencecar banyak pertanyaan untuk istrinya. Tapi, rasa iba saat melihat mata tulus yang menggambarkan kejujuran itu membuat Hans memilih percaya pada jawaban Zoya meski masih terasa mengganjal di hatinya.
Hans melajukan mobilnya dengan santai, saat dia melirik tangan Zoya yang masih saling meremas. Hans mengulurkan, tangannya menggenggam satu tangan Zoya agar berhenti saling meremas. Saat itu dia melihat warna merah yang membekas akibat genggaman tangannya di pergelangan kulit putih Zoya. Rasa bersalah menggelitik hati Hans, sungguh bukan maksutnya untuk menyakiti Zoya secara fisik.
"Mas, maafkan aku, sudah membuat Mas Hans marah! " lirih Zoya dengan menatap wajah tampan di depannya. Zoya juga merasa bersalah saat melihat Hans terlihat marah karenanya.
"Aku tidak marah denganmu, Zoya! " Hans berusaha menampilkan senyum hangat ke arah Zoya , meyakinkan Zoya jika dia tidak sedang marah. Meski sempat gemuruh emosi sempat tersulut saat istrinya menoleh ke belakang.
Zoya melirik wajah tampan di sampingnya. Di akui Zoya, jika suaminya memang terlihat keren, kharismatiknya membuat dirinya seolah value of universe.
"Kita akan ke butik mencari gaun dan sepatu, besok malam kita akan menghadiri undangan ulang tahun Anastasya. " ucap Hans yang sesaat kemudian mobilnya membelok dan berhenti di depan sebuah butik ternama di kota itu.
"Malam ini biar dia di tempat, Mama. Aku sudah mengabari, Mama. " jelas Hans setelah mematikan mesin mobilnya.
Zoya sebenarnya merasa ragu, saat Hans mengajaknya ke tempat mewah, takut dia melakukan kesalahan karena dia tidak terbiasa dengan lifestyle kehidupan berkelas.
"Ayo, Zoya...! " ucap Hans setelah membuka pintu mobil untuk Zoya. Dengan ragu-ragu Zoya pun keluar dari mobil. Hans menggandeng tangan Zoya, kemudian mengapit pinggang kecil istrinya saat masuk ke dalam butik.
"Selamat Malam, Pak Hans! Ada yang bisa saya bantu? " Sang pemilik butik sendiri yang menyambut Hans. Setiap orang yang masuk di kalangan orang-orang berkelas pasti mengenal Hans Satrya Jagad sebagai seorang lawyer ternama.
"Aku ingin mencari gaun untuk istriku! Untuk acara malam hari. " ucap Hans membuat pemilik butik berganti menatap Zoya. Batinnya ingin tertawa karena Zoya yang terlihat jauh sangat muda, tapi rasa sungkan lebih besar dari nyalinya.
Zoya di gandeng pemilik butik menuju gaun muslim berbahan organza yang di padu dengan detail berbahan swarasky di bagian lengan dan pinggang. Simple dan elegant sangat cocok dengan karakter Zoya yang kalem.
"Silahkan dicoba, Mbak? " ucap owner butik. membuat Zoya masuk ke dalam ruang ganti.
__ADS_1
"Wou... You like a princess! " puji sang owner kemudian membawa Zoya pada Hans.
"Bagaimana, Pak Hans? " Saat melihat Zoya berdiri dengan gaun berwarna Hitam berbahan organza membuat Hans terkesima sesaat.
"Bagus, duduklah! " ucap Hans sedatar mungkin menutupi kekaguman fisik Zoya.
Zoya pun duduk di sofa yang di tunjuk Hans, sementara Hans meletakkan sepatu yang baru dia pilih, "Mas, aku tidak bisa menggunakan highheels. " ucap Zoya yang memang tidak pernah menggunakan heells setinggi dua belas centimeter.
Hans meminta pegawai butik mengganti sepatu pilihannya dengan heels sekitar tiga centimeter saja.
Hans menerima sepatu berwarna silver, "Mas... " Zoya bermaksud menahan Hans karena merasa tidak enak saat suaminya harus berjongkok dan memakaikan sepatu di kakinya, tapi tatapan mata Hans membuatnya Zoya kembali terdiam dan hanya menurut saja.
Pemandangan yang membuat orang merasa mereka adalah couple goals. Dari pertama keluar dari mobil, Hans terlihat lebih posesive, seolah memperjelas jika Zoya adalah miliknya sepenuhnya.
"Bungkus gaun dan sepatunya. " ucap Hans mengakhiri semuanya. lelaki itu kemudian berjalan ke arah kasir untuk membayar tagihannya.
Mereka keluar dari dalam butik dengan Zoya membawa dua buah paper bag yang kemudian dia taruh di jok belakang.
"Mas, aku takut akan mempermalukan Mas Hans jika aku ikut ke acara pesta itu! "
"Kamu istriku, lantas aku harus pergi dengan asistenku? Nggak lucu kan, Zoy? "
Hans melajukan mobilnya pulang, dengan gesitnya Marcy E class itu hanya butuh beberapa menit untuk sampai halaman rumah mewah yang di dominasi warna putih.
"Zoy, jika kamu capek minta Bi Muna menyiapkan makan malam." jika dulu saat bersama Renita, Hans selalu memilih makan di luar saat mereka keluar bersama, tapi berbeda saat bersama Zoya. Zoya selalu melayaninya saat makan di rumah, membuat Hans merasa istimewa dengan perlakuan Zoya.
"Sebelum pergi aku sudah masak, Mas. Sekarang hanya menghangatkan makanan saja. " Zoya pun keluar dari mobil, sementara Hans masih tertegun sejenak di dalam. Dia memang tak ingin memupuk perasaan cinta untuk Zoya. Tapi, bagaimana jika perlakuan Zoya membuatnya tidak bisa lepas dari gadis itu, suatu saat nanti? Hans sendiri tidak ingin ada yang menggantikan Renita di hatinya.
Bersambung.....
__ADS_1