
"Bagaimana aku bisa bahagia jika hanya menjadi sebuah pelarian. Aku mendapatkan raganya tapi hatinya masih untuk wanita lain." Nilla menatap hampa air yang terus mengucur dari pompa yang di desain sangat apik di kolam ikan.
Rumah kecil yang sederhana, tapi di dalamnya ada banyak cinta dan kasih sayang. Itulah keinginan dari si pemilik. Tapi, kenyataannya keinginannya itu masih diperjuangkan.
Di sela jarak antara rumah utama dan perpustakaan, hanya berkisar lebar tiga meter, di sana tertata taman yang cukup nyaman dengan udara terbuka, rumah utama dan ruangan perpustakaan hanya disambungkan oleh atap yang menyatukan keduanya. Sofa sepanjang satu badan dengan sandaran yang cukup nyaman, sofa itu yang saat ini menjadi tempat rebahan Nila untuk mengisi kekosongan waktunya.
"Assalamu'alaikum" sapa Wildan kala dia berjalan mendekat ke arah Nilla. Setelah selesai mengajar Wildan langsung bergegas pulang.
"Waalaikum salam." jawab Nilla dengan singkat, wajahnya mendongak menatap kedatangan suaminya. Wajah lelah lelaki berahang tegas itu mengurai senyum di wajahnya.
Nilla bangkit dari rebahan kala dia melihat Wildan mendekat dan kemudian meletakkan bobotnya di dekat kakinya. Lelaki itu memeriksa keadaan kaki istrinya, membuat Nilla hanya terdiam.
"Masih nyeri?" tanya Wildan kemudian dia menatap guratan kesedihan di wajah istrinya, bahkan dia menangkap mata Nilla yang sedikit bengkak. Nangis. Entah kesediaan apa yang disembunyikan Nilla, lelaki yang masih menatap istrinya penuh selidik itu masih saja tidak mampu menemukan jawabannya.
"Sudah tidak." jawab Nila lirih, membuat Wildan ingin tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Saat memergoki tatapan mata satu itu menelisik ke dalam matanya, Nilla mencoba mengalihkan pandangannya.
"Ada apa?" tanya Wildan dengan menarik lengan Nilla. Tidak ada perlawanan, lengan mungil itu terasa kaku dalam genggamannya, " Kita sudah halal, Nil." lanjut Wildan saat merasakan kekakuan istrinya. Wildan sendiri tidak mengerti apa karena mereka belum terbiasa untuk bersentuhan atau memang istrinya tidak senang, tapi kekakuan tersebut dia yakini sebagai bentuk keraguan dalam hati istrinya.
"Besok Ummi datang ke sini, Nil." seketika pula Nilla menarik lengannya. Seolah mengisyaratkan jika dia sedang terkejut.
"Besok aku kuliah, Bang." balas Nilla.Tersemat nama panggilan yang sudah lama ingin didengar lelaki yang saat ini tersenyum padanya.
"Jangan seperti itu, biar bagaimana pun beliau ummiku dan itu berarti beliau ummimu juga." Wildan tahu, Nilla hanya menghindar bertemu dengan kedua orang tuanya. Pertama kali mereka bertemu, Wildan bisa melihat kecanggungan keduanya.
"Tapi Ummi dan Abah sepertinya tidak menyukaiku." jawab Nilla dengan nada lirih. Kadang, gadis itu menyesali kenapa hanya memikirkan nama baik keluarga. Kenapa tidak memikirkan banyak hal yang lebih penting dari sebuah pernikahan. Dia merasa menikah dengan Wildan bukanlah keputusan yang tepat. Keluarga Wildan seperti terpaksa menerimanya meski masih di tutupi dengan sikap basa basi Ummi Mariyam.
"Mereka belum mengenalmu saja, Nil." Mendengar kalimat Wildan membuat Nilla terdiam. Bagi Wildan, mungkin itu adalah hal yang enteng tapi tidak dengannya.
"Kamu sudah makan?" tanya Wildan yang hanya di jawab gelengan Nilla.
"Nanti saja, aku belum ingin makan." jawab Nilla kemudian memperhatikan beberapa ikan koi yang berlari kesana kemari.
"Baiklah, Abang akan mandi dulu. Nanti, kita makan bareng." Wildan memberanikan diri mencium puncak kepala istrinya. Seketika itu pula Nilla langsung mendongak suaminya yang sudah berdiri dan tersenyum padanya.
Nilla menatap punggung Wildan yang masuk ke dalam kamar. Ini sentuhan pertama seorang lelaki padanya, dia tidak menyangka jika Wildan akan melakukannya, padahal dia lebih sering melukai hati lelaki yang sebenarnya dia kagumi. Sejak meminta putus hubungan yang langsung mendapat penolakan oleh Wildan, Nilla selalu bersikap ketus bahkan kadang melupakan sopan santun. Dia seolah mencari cara untuk membuat Wildan menjauh darinya.
"Assalamu'alaikum..." Suara yang sangat Nilla kenal terdengar mengucapkan salam setelah beberapa kali bel berbunyi.
"Waalaikum salam... " jawab Nilla dengan mengeraskan suara, untuk memberi sinyal kepada tamunya jika dia sudah mengetahui jika ada yang bertamu. Berlahan dengan sangat tertatih Nilla membukakan pintu.
"Nilla, apa kabar?" Zoya langsung memeluk Nilla. Tentu saja dia sudah kangen dengan sahabatnya. Sejak Zoya memberi kado pernikahan pada Nilla, mereka sudah tidak pernah bertemu lagi.
"Baik, Zoy. Ayo silahkan duduk!" ucap Nilla dengan menatap teman yang datang bersama Zoya.
"Iya Nil, ini teman satu kelasku namanya Aini." Zoya memperkenalkan Aini pada Nilla.
"Nilla." ucap Nilla dengan tersenyum ramah kepada Aini.
"Aku tinggal sebentar, ya!" Nilla kemudian ke belakang untuk mengambilkan minum kedua tamunya. Dia sedikit menyeret langkahnya berjalan menuju dapur.
"Ada tamu, Nil?" tanya Wildan saat melihat Nilla menuangkan jus jeruk ke dalam kedua gelas.
__ADS_1
"Iya."
"Biar Abang yang bawakan!" Wildan langsung mengambil Alih nampan yang akan dibawa oleh Nilla. Mereka berjalan beriringan menuju ke ruang tamu.
"Oh Zoya ... apa kabar, Zoy?" tanya Wildan setelah meletakkan nampan minuman di meja. Sementara, Nilla memindah kedua gelas berisi jus itu di depan kedua temannya.
"Aku, kabarnya baik, Bang. aku kesini mau jenguk Nilla sama ngasih undangan untuk acara empat bulanan minggu depan."
"Bagaimana, Nil?" tanya Wildan dengan menoleh ke arah Nilla, menunggu keputusan istrinya.
"Insyaallah kita datang, Zoy." Nilla yang sedari tadi terdiam membuat Wildan mengerti jika ada yang mengganjal dalam pikiran Nilla.
"Kalau begitu aku ke dalam dulu." Pamit Wildan, memberi kesempatan pada para perempuan itu untuk menikmati obrolannya.
###
Lelaki berambut gondrong itu masih berdiri di dekat jendela apartemennya. Tatapannya menyapu seluruh detail kota yang sebenarnya tidak berpengaruh dalam dirinya. Kesepian dan Rindu, hanya itu yang setia mendiami hati Rey setelah jauh dari gadis yang membuatnya terlambat menyadari perasaan cinta.
Sudah dua minggu dia tidak membalas DM dari Kyara. Bukan tanpa alasan. Lelaki yang sedang dirundung rasa rindu pada gadis itu memang belum sempat membuka instagram. Dia pikir dia harus lebih cepat menyelesaikan studinya agar cepat kembali ke Indonesia.
"Seharusnya, aku tidak mengikatmu dalam waktu dua tahun, Ra. Kamu sudah terlalu baik padaku." Rey bermonolog dalam hatinya. Meminta Kyara untuk menunggunya selama dua tahun membuat Rey berfikir, jika itu akan menjadi beban untuk gadis itu. Rey sedikit menyesali permintaan itu pada gadis selama ini menemaninya dalam kegalauan.
"Bagaimana, jika ada seseorang yang lebih pantas untukmu, Ra?"
"Bersamaku kamu terus saja tersakiti karena keluhan dan ceritaku." Kalimat demi kalimat bermunculan di otaknya. Dia merasa ini tidak adil bagi Kyara.
Rey menghela nafas panjang, dua tahun waktu yang cukup panjang untuk menahan rindu. Dia berjalan menghampiri kotak ajaib milik Kyara.
Kemudian dia mengambil satu buku diary yang cukup usang, dibolak baliknya beberapa lembar, dan itu cukup membuat Rey mengerti betapa rasa sedih Kyara saat ditinggal Mamanya.
"Kamu memang gadis yang hebat, Ra!" gumam Rey. Kyara selalu mengemas kesedihannya dalam bentuk yang baik. Berfikir praktis dan smart. Tidak Rey sadari jika kotak ajaib milik Kyara sudah menemaninya menikmati rasa rindu yang bergelayut manja dalam hatinya.
###
Zoya berbaring dengan gelisah di atas tempat tidur. Selain badannya yang terasa pegal semua, dia juga masih menunggu Hans yang tidak kunjung pulang.
Beberapa kali, dia mencoba menghubungi ponsel Hans, tapi tidak juga bisa tersambung. Pikiran buruk kembali menghinggapinya.
Novel
Dia kembali mengingat beberapa cerita novel yang mana menceritakan atasan yang berselingkuh dengan sekretarisnya.
"Ya Allah." lirih Zoya dengan menutup kepalanya dengan bantal karena tidak bisa menahan tangisnya. Tanpa alasan yang tidak jelas, dia menangis sendiri dengan pikiran buruknya. Hingga dia tidak menyadari seseorang sudah masuk ke dalam kamar.
"Sayang...!" panggil Hans dengan mengambil bantal yang menenggelamkan kepala istrinya. Lelaki yang masih terlihat segar dan rapi itu sudah duduk di tepi tempat tidur.
Mata sembab itu terlihat jelas oleh lelaki yang sudah terlihat segar ketika sampai di rumah. Kedua alisnya tertaut merasa aneh.
"Kamu kenapa, Zoy?" tangannya menyingkirkan anak rambut yang sedikit menutupi wajah cantik istrinya.
"Karena sekretaris baru, Mas Hans lupa pulang. Apa begitu bersemangatnya bekerja hingga lupa pulang?" sindiran Zoya membuat Hans hanya tersenyum. Dia masih menunggu omelan selanjutnya dari istrinya.
__ADS_1
"Kenapa tidak menjawab? Apa Mas Hans sudah kehabisan alasan? " kali ini Hans bisa melihat kembali mata indah itu sudah berkaca kaca.
"Sayang." Kedua telapak tangan besar itu membingkai wajah cantik istrinya.
"Sudah, ngomelnya?" lanjut Hans masih menatap istrinya yang sudah meneteskan air mata.
"Tapi... "
"Apa seburuk itu suamimu, hingga setiap kali kamu tuduh macam macam." Hans langsung menyela Zoya. Kedua talapak tangannya menekan pipi cabi istrinya hingga bibir mungil Zoya, juga ikut tertekan membuat Hans tertawa melihat bentuk lucu di depannya.
"Makanya husnudzon, sayang. Jangan Suudzon!"
"Siapa yang nggak berburuk sangka. Katanya Sekretaris cantik bikin semangat ngantor." Zoya masih terlihat sewot.
"Pulang terlambat tidak seperti biasanya dan dihubungi juga tidak bisa."
"Bagaimana bisa, istrinya tidak suudzon." Zoya terus saja nerocos membuat Hans malah tersenyum geli. Zoya terlihat sangat cerewet sekali.
"Sayang, dengarkan itu suara mamamu! Mama Zoya ternyata sangat cerewet sekali. Jadi kalian harus bersiap siap, ya! " ujar Hans saat membungkuk, mencium perut yang sedikit membuncit. seolah olah dia berbicara pada kedua Hans junior.
Zoya mencubit gemas bahu suaminya membuat Hans mendongak dan melayangkan tatapan tajam.
"Mau juga, Zoy? "tawar Hans dengan mengerlingkan sebelah matanya.
Tidak ada jawaban dari istrinya, membuat Hans mendekati wajah Zoya, tatapan nya sudah tertuju pada bibir mungil yang sudah menjadi candu baginya.
"Mas Han, bukan itu... " Hans langsung membungkam kalimat Zoya dengan ciuman hingga istrinya terkesiap.
"Aku habis dari apartemen, ngegym bareng Ryan." jelas Hans yang tadi sudah mengerti jika istrinya cemburu. Lelaki itu menghidupkan kembali ponselnya saat melihat istrinya masih cemberut.
Hans memperlihatkan CCTV dalam apartemen kepada Zoya. Sebenarnya, dia pulang sudah sejak jam empat sore tadi, di apartemen dia melatih ototnya dan mengobrol bersama Ryan.
"Mas Hans, bukan ini maksudnya." Kilah Zoya. Dia berusaha menutupi rasa Posesivenya.
"Lalu?" Hans menautkan kedua alisnya, dia masih belum mengerti maksud Zoya.
"Aku hanya ingin dipijitin." pinta Zoya dengan malu malu.
"Ya ampun, Zoy. Di kantor aku sebagia bos. Di luar sana, orang memujaku."
"Masak iya, di rumah setiap malam aku jadi tukang pijat? " keluh Hans.
"Kalau nggak mau ya, sudah!" Zoya memiringkan tubuhnya membelakangi suaminya.
"Ya.. ya... aku pijitin. Nasib-nasib." Hans mulai memijat kaki putih istrinya. Sementara, Zoya masih menyembunyikan senyumnya.
"Lama lama aku buka panti pijat plus plus." gerutunya sambil meremas bongkahan bagian belakang istrinya yang semakin terlihat seksi, seketika itu pula Zoya memekik keras karena tangan nakal suaminya.
"Mas Hans.. tangannya dikondisikan!" ketus Zoya dengan melotot ke arah Hans, sedangkan lelaki itu hanya terkekeh dengan memonyongkan bibirnya.
TBC
__ADS_1