Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Kecewa


__ADS_3

"Assalamualaikum... " ucap Hans saat memasuki apartemen. Lama kelamaan Hans terbiasa berucap salam saat memasuki rumah. Banyak kebiasaan dari Zoya yang merubah situasi rumahnya.


"Waalaikum salam... " Dengan menggelung rambutnya, Zoya keluar kamar menghampiri Hans yang sedang meletakkan tas kerjanya di sofa.


"Papa..." teriak Ale saat mendengar kepulangan papanya. Dengan berlari dia mendahului Zoya memeluk papanya.


Zoya mengambil punggung tangan Hans dan kemudian diikuti Ale. "Sudah makan, Zoy? " Hans mendongakkan wajah ayu istrinya dan mencium keningnya. Tangannya tidak lupa mengelus perut datar Zoya, seolah menyapa Hans junior yang belum seberapa kelihatan.


"Sayang... nggak boleh cemberut, lo! " Zoya tersenyum sambil mengelus pipi Ale seolah mengingatkan suaminya jika ada yang sedang cemburu. Bocah gembul itu bersedekap dengan memandangi papa dan mamanya penuh dengan rasa kesal.


"Issshhh... gembul cantiknya Papa." rayu Hans dengan mengangkat tubuh putrinya dalam gendongan dan menciuminya secara bertubi-tubi.


"Takoyaki, mau? " ucap Hans dengan memamerkan paper bag yang berisi makanan Jepang itu. Dia sengaja membawakan jajanan kesukaan putrinya. Hans tidak ingin lantaran ada kebahagian baru membuat Ale merasa tidak diperhatikan.


"Holeeee.... " Bocah itu langsung melorot dari gendongan Hans untuk menghampiri Zoya yang sedang menata makan malam.


"Mama, tolong taluh di piling!" pinta Ale dengan menarik gamis bagian belakang Zoya.


"Ale nggak makan nasi?" Zoya bertanya pada Ale, takut jajanannya malah tidak ke makan jika dibuka sekarang.


"Ale diet, Ma. Ale tidak makan nasi. Ale makan takoyaki saja." Mendengar jawaban Ale membuat Zoya dan Hans saling beradu pandang penuh tanya.


"Kata Hellen, kalena gendut, Mama Helen diet, nggak makan nasi. Ale juga mau diet." Mendengar jawaban Ale Zoya tersenyum.


"Ale kan masih kecil. Jadi nggak boleh diet. " ucap Zoya. Dia khawatir jika Ale ikutan yang tidak semestinya.


"Mas, aku nggak masak. Ini tadi beli, Nggak apa apa?" tanya Zoya menghampiri Hans yang mendekat ke meja setelah melipat lengan kemejanya.


"Nggak apa, sayang." Hans melingkarkan lengannya di pinggang Zoya yang sedang berdiri menata makanan di piringnya. Padahal Hans ingin sekali makan sayur asem bikinan Zoya. Tapi, dia bisa mengerti jika istrinya sulit untuk memasak karena tidak tahan dengan bau bawang.


Blussshhh.... seketika wajah zoya merona. Bagi Zoya panggilan 'sayang' memang membuat hatinya berbunga-bunga.

__ADS_1


"Kamu nggak makan?" tanya Hans saat tidak melihat tatanan piring yang lain.


"Aku habis makan bubur kacang ijo."


"Loh, kamu tadi jalan kemana saja? " tanya Hans merapatkan tubuh istrinya memangkas jarak diantara keduanya. Zoya sedikit mendorong lengan Hans saat hidung bangir itu bersentuhan dengan dadanya.


"Mas, ada Ale." lirih Zoya penuh penekanan.


"Gemas aku, Zoy. Kamu makin seksi." jawab Hans tak kalah berbisik.


"Papa, Mama tadi hampir jatuh. Untung pegangan Ale." bocah itu mulai bercerita dengan mulut penuh.


"Ale hebat ya, Pa? " lanjutnya.


"Iya Ale hebat. Putri Papa memang hebat." jawab Hans.


"Benar, Zoy?" Hans kemudian menanyakan itu pada Zoya.


"Iya, tadi seperti ada yang sengaja mendorongku saat berjalan untung ada tiang listrik. Jadi aku sempat pegangan tiang listrik dan Ale." Hans berhenti mengunyah makanan di mulutnya. Dia merasa inscure saat beberapa kejadian kurang baik menimpa dirinya dan keluarganya.


"Sekarang baca doa mau tidur, ya." Hans melirik Zoya yang menarik selimut Ale hingga menenggelamkan tubuh gembul itu. Sudah waktunya bagi Ale untuk tidur.


Hans Pov


Bagaimana aku mampu menolak pesonanya. Dia tidak cuma cantik di luar. Tapi, hatinya yang tidak kalah cantik membuatku tak bisa mengelak untuk menempatkan gadis itu di tempat yang istimewa di hatiku.


Memang tidak ada seseorang yang sempurna di dunia ini. Tapi, Zoya yang seperti itu sudah cukup untuk menyempurnakan hidupku. Apalagi saat aku mengetahui jika saat ini dia mengandung buah hati kita. Saat itu aku memang memaksanya tapi aku bisa melihat sorot mata bahagia dari dua bola mata yang selalu aku kagumi saat dokter mengatakan dia hamil.


Sungguh, rasa senang ini tidak jauh berbeda saat Renita mengandung Ale. Bukannya aku ingin membedakan mereka, orang-orang yang aku sayangi. Aku juga sangat menyayangi Ale lebih dari dariku. Tapi, jika boleh jujur mendengar Zoya hamil membuatku belum pernah merasakan kebahagian yang seperti ini.


Keterlaluan mungkin, aku membuat hamil gadis belia. Mengingatnya aku merasa geli. Aku menikahi gadis yang baru berumur belasan tahun. Bersentuhan saja saat itu Zoya sangat sensitive, kelihatan sekali dia tidak tersentuh oleh lelaki manapun. Ke Aku-anku pun muncul, jika dia milikku sepenuhnya. Tentu saja, ada kebanggan sendiri bagiku sebagai seorang lelaki.

__ADS_1


Saat itu aku mulai senang menggodanya, membuat pipinya merona dan wajah tersipu merupakan kebiasaan dan hobi baruku pada gadis itu. Entah sejak kapan, perasaan memiliki itu begitu besar. Bahkan, aku sangat pencemburu selama bersamanya. Hingga kejadian malam itu terjadi. Aku benar -benar tidak bisa menguasai diriku. Mungkin tidak salah jika orang mengumpati, kurang ajar atau brengsek. Tapi ternyata Allah memberikan jalan untuk kami merasakan kebahagiaan seperti sekarang.


"Mas Hans, mau kopi? " tanya Zoya melihat Hans sedang mempelajari beberapa berkas.


"Boleh. Kamu nggak apa-apa bikin kopi?" tanya Hans. Hans merasa Zoya selalu mengerti apa yang dia butuhkan. Usia memang tidak menentukan kedewasaan seseorang.


Mungkin, menemukan ribuan orang baik itu mudah. Tapi menemukan seseorang yang bisa mengerti itu sangatlah sulit.


"Mas ini kopinya. Akhir-akhir ini Mas Hans sepertinya sibuk. " ucap Zoya setelah kembali masuk kamar dengan menaruh secangkir kopi di meja.


"Iya, aku seperti menemui jalan buntu, untuk kasusnya Antonio. Tapi, aku yakin dia tidak bersalah. " jelas Hans singkat dengan menarik pelan tubuh Zoya agar duduk di pangkuannya. Hans rasanya ingin selalu melakukannya saat berdekatan dengan istrinya. Perempuan muda yang memang mempunyai tubuh dan kulit yang layak dipuja dan dirinya yang kelamaan menduda membuat Hans merasa ketagihan untuk selalu berhubungan intim.


"Zoy... " panggilnya dengan suara lirih. tangannya mulai membuka satu persatu kancing atas baju yang dikenakan istrinya.


"Mas ... bagaimana kandunganku?" Hans tidak menggubris pertanyaan Zoya. Gundukan dada yang membusung putih itu terlihat lebih seksi dari sebelumnya.


"Aku akan melakukannya pelan dan sebentar saja!" bujuk Hans dengan mata yang sudah berkabut dan terbakar hasrat.


Memang hanya sebentar saja mereka melakukannya, Hans juga mengkhawatirkan kandungan Zoya. Zoya, memunguti bajunya yang sudah tercecer di lantai dan berjalan dengan tergesa masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia takut, Ale akan terbangun dan mencarinya. Hans hanya tersenyum saat tubuh yang selalu memberikan nikmat itu berlahan menghilang dari balik pintu kamar mandi.


"Ya allah, Mas Hans.... " dengusnya dengan lirih saat menemukan beberapa tanda merah di kulit paha dan lengannya. Tentu saja tidak hanya bagian itu saja. Terutama tubuh bagian sensual istrinya tidak akan tertinggal terkena stempel dari seorang Hans.


Bergegas Hans menggantikan Zoya menggunakan kamar mandi. Zoya yang terlihat sudah segar dengan rambut disanggul handuk terlihat keluar dari kamar mandi.


"Jangan lupa, rambutnya di keringkan!" titah Hans. Kemudian mencuri satu ciuman singkat di pipi Zoya.


"Mas Hans, Aku sudah berwudhu." Hans hanya terkekeh saat memasuki kamar mandi dan mendengar keluhan Zoya.


Melihat meja rias tidak ada Hairdryer, Zoya baru teringat jika benda yang dicarinya masih tertinggal di depan TV. Langkahnya mengayun untuk keluar kamar. Tapi, sejenak dia terhenti. Saat melihat benda yang tidak asing sedikit mencuat dari tas kerja suaminya.


Zoya memilih menghampirinya dan benar saja, sebuah buku diary yang terlihat sedikit usang miliknya terselip di dalam tas berwarna hitam tersebut. Matanya membulat. Wajahnya pun memanas menahan amarah.

__ADS_1


Amarah yang mengisi hatinya, membuat Zoya memilih duduk di pinggir tempat tidur. Menunggu Hans keluar dari kamar mandi. Meskipun sudah berusaha menahan marahnya.Tapi, Zoya masih saja tidak bisa meredamnya. Dia sangat kecewa dengan Hans yang mana secara diam diam sudah mengambil buku yang menjadi privacynya.


Bersambung......


__ADS_2