
"Mas Hans ini apa apaan sih. " Zoya mencubit pinggang suaminya.
"Auhhh...apaan sih, Zoy? " Cubitan Zoya membuat Hans merasa kegelian.
"Kenapa? Biar dia tahu jika kamu sudah milikku sepenuhnya dan nggak ngarep kamu lagi, Zoy. " jelas Hans membuat Zoya tersenyum, ingin sekali dia menertawakan keposesifan suaminya yang layak untuk disejajarkan dengan anak remaja.
"Ale jalan sama Mama, ya! Papa akan mendorong troli. " Hans menurunkan bocah gembul itu. Cukup lelah mengangkat beban hampir dua puluh kilogram dalam waktu yang cukup lama.
Waktu berjalan tak terasa. Waktu banyak mengikis cerita lama dan ada saatnya cerita itu harus di pendam agar tidak melukai siapa pun. Waktu bisa membunuh kekakuan antara dua anak manusia yang di satukan dengan banyak perbedaan dan keterpaksaan. Waktu juga yang akan memberikan kesempatan seseorang untuk bisa saling mengenal dan membunuh kecanggungan diantaranya. Dan waktu juga, yang membuat seseorang menyadari jika mereka sudah saling mengisi dan mencintai.
"Mas, aku lapar. " ucap Zoya saat mereka berjalan ke arah kasir.
"Iya, setelah ini kita akan mencari makan. Sekarang, kamu duduk di dekat kasir, biar aku yang mengantri. " titah Hans tak tega jika Zoya dan Ale harus berdiri terlalu lama untuk mengantri pembayaran. Zoya pun mengikuti apa yang di katakan suaminya, ia dan Ale duduk bersama di dekat kasir.
Hans meminta salah satu pramuniaga untuk membawakan belanjanya ke mobil. Sementara, dia memilih menggendong Ale karena situasi yang cukup ramai.
"Zoy, hati-hati jika menuruni anak tangga." Hans memperingatkan Zoya saat akan menuruni perundakan saat akan keluar dari mall.
"Aaaarrrrkkk... " pekik Zoya bersamaan dengan tangannya yang menangkap dengan gesit lengan Hans saat tubuhnya limbung.
"Zoy... " teriak Hans berusaha menahan lengan dari tubuh limbung yang sudah bertumpu pada lengannya. Hans menurunkan Ale. Betapa kagetnya Hans saat melihat situasi yang nyaris menghentikan detak jantungnya. Bagaimana jika istrinya sampai benar-benar terpeleset?
"Kamu ini kenapa tidak hati-hati? Sudah aku katakan untuk hati-hati! " amuk Hans dengan nada meninggi, lelaki itu masih terlihat menegang. Itu bisa nampak dari wajahnya yang terlihat kaku dengan sorot tatapan menghunus tajam ke arah istrinya.
"Mama, tidak apa-apa? " tanya Ale langsung di jawab Zoya dengan gelengan kepala. Dia tidak mampu berucap karena menahan tangis. Rasanya menyakitkan saat suaminya membentaknya karena dia merasa jika itu bukan sepenuhnya kesalahannya. Seseorang Menabrak sebelah punggungnya dengan keras hingga membuatnya limbung.
Zoya kembali berdiri sendiri. Dia berjalan menuju mobil tanpa menunggu Hans yang saat ini kembali menggendong Ale. Hans mengerti jika Zoya marah. Dia merasa refleks saja ketika dia membentak Zoya. Hans tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada istri dan calon anaknya.
Di dekat mobil Mercy E class, seseorang sudah berdiri menunggui barang belanjaan mereka. Tak lupa, Hans memberi tips pada pemuda itu setelah memasukan semua barang belanjaan di bagasi.
Sebelum melajukan mobilnya Hans melirik Zoya yang memalingkan wajahnya keluar jendela. Kemudian dia melirik Ale yang sudah duduk terdiam di bangku belakang.
"Zoy, kita jadi makan di mana?" tanya Hans saat menghidupkan mesin mobilnya.
"Aku sudah tidak ingin makan. Aku ingin pulang saja." jawab Zoya tanpa menoleh ke arah Hans. Air matanya berlahan mulai meleleh. Meskipun sudah berpaling, Hans tahu jika Zoya sudah menangis. Hans hanya terdiam, dia melajukan mobilnya berlahan keluar dari parkiran.
"Ale ingin makan apa? " tanya Hans di tengah perjalanan sebelum mereka sampai apartemen.
"Ayam bakal, Pa! " jawabnya. Hans bisa melihat jika putrinya sudah mulai mengantuk. Mereka memang belum makan malam, tapi untuk Ale beberapa makanan sudah menjadi pengganjal isi perutnya.
Melihat penjual ayam bakar langganan Shanti yang ada di tepi jalan membuat Hans menghentikan mobilnya dan keluar untuk memesan ayam bakar sesuai permintaan Ale. Sambil menunggu, Hans melirik Zoya yang mengusap lelehan air mata di pipinya." Ya ampun begitu saja sudah nangis, cengengnya nggak ketulungan." gumam Hans dalam hati, dia melihat betapa sensitif istrinya membuat Hans greget sendiri.
__ADS_1
Pukul delapan, baru saja Hans melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan. Dia juga sedang berfikir, makanan apa yang diinginkan Zoya. Tapi keinginan ibu hamil yang tidak bisa di pastikan membuat Hans berjalan dan mengetuk kaca jendela mobil.
"Kamu mau makan apa, Zoy? " tanya Hans saat Zoya membuka jendela mobil.
"Aku sudah tidak berselera makan. " jawabnya masih dengan suara lembut, tapi Zoya masih enggan menatap suaminya.
Melihat Zoya yang masih marah, dia pun berlalu. Di biarkan saja Zoya karena pesanannya kini sudah siap.
Hans kembali melajukan mobilnya membelah jalan yang sangat padat. Petang sudah merambah menjadi malam membuat jalanan sesak terlebih oleh sepeda motor, bisa dikatakan kota ini banyak dipenuhi oleh mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Di sebuah perempatan lampu merah, mata tajam itu bergantian melirik wanita di sampingnya yang masih terdiam dan kemudian berganti melirik putrinya yang ternyata sudah tertidur di jok belakang.
Hans menggendong Ale melewati loby. sementara, Zoya masih membawa beberapa belanjaan yang penting. Mereka melewati loby dengan tergesa menuju unit apartemen Hans.
Melihat Ale yang tidak bergeming meski sudah berpindah tempat membuat Zoya merebahkan tubuh di sebelah putrinya.
"Zoy, nggak Salat Isya dulu? " tanya Hans saat melihat Zoya meringkuk memeluk tubuh gembul putrinya.
"Nanti, sebentar lagi. " jawabnya singkat tanpa melihat suaminya. Tangan mungil itu kemudian menarik selimut hingga sampai di batas leher. Rasanya sulit sekali mengusir rasa jengkelnya karena bentakan suaminya.
"Katanya jangan suka menunda sesuatu yang baik. Kamu yang ngajarin aku untuk tidak menunda salat, Zoy. " ucap Hans saat duduk di tepi ranjang dengan menatap punggung Zoya.
Zoya Membalikkan badan, matanya masih mengembun. Tapi, yang diucapkan suaminya memang benar.
"Sebentar saja, aku lelah, Mas. " Hans faham Zoya masih marah. Tapi, dia memilih untuk masuk ke kamar mandi karena tubuhnya sudah terasa sangat lengket.
Zoya beranjak dari tempat tidur saat mendengar ponsel Hans yang terus menerus berbunyi. 'Kyara'
"Assalamualaikum." Zoya mencoba mengangkat panggilan dari Kyara.
"Loh, Pak Hans mana?" tanya Kyara.
"Mas Hans sedang mandi. Jika ada pesan nanti saya sampaikan."
"Tolong bilang sama Pak Hans jika besok saya tunggu di tempat yang sudah ditentukan. Terima kasih."
" Sama-sama." jawab Zoya dengan pikiran negatifnya. Dia meletakkan kembali ponsel Hans dan berjalan keluar kamar.
Jika dulu saat dia nggak enak hati, dia sering menghabiskan waktu di dapur tapi saat ini sepertinya dia memilih balkon tempat yang tepat untuk mencari hawa segar. Sejak hamil muda Zoya seperti anti dengan tempat memasak.
Dia masih mencoba menenangkan perasaannya. Agar bisa sedikit lega, tapi telpon dari Kyara membuat nuansa hatinya terasa lebih buruk.
Tangan yang masih terasa dingin itu menelusup masuk diantar kedua pinggangnya hingga melingkar di perutnya. Dengan sedikit menelusupkan wajah diantara rambut panjang yang terurai, Hans mengecup tengkuk istrinya.
__ADS_1
"Mas..." lirih Zoya dengan sedikit berjingkat karena bulu kuduknya yang sudah berdiri.
"Jangan ngambek lagi, ya! Maaf, bukan maksudku membentakmu. Aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu padamu dan calon bayi kita. " ucap Hans dengan menikmati aroma vanila yang membuatnya ketagihan.
"Tadi ada telpon dari Kyara. " ujar Zoya masih dengan pandangan ke depan.
"Apa katanya? "
"Dia menunggu Mas Hans di tempat yang sudah kalian sepakati. " Zoya berkata dengan air mata yang sudah menetes. Hingga tangan Hans merasakan cair itu mengenai lengannya yang melingkar di perut istrinya.
"Zoy, kamu menangis? " tanya Hans dengan memutar tubuh kecil itu.
"Aku memang bukan perempuan yang istimewa , Mas. Bahkan, aku juga tidak pintar. Tapi aku golongan orang yang menentang poligami apalagi perselingkuhan. " Zoya berkata kata sambil terisak membuat Hans malah tergelak.
" Heh- heh...siapa yang mau selingkuh? Siapa yang mau poligami? Besok kita akan ketemu di lapas. Masak bercinta di lapas." Hans mendongakkan wajah yang matanya sudah terpejam. Sebenarnya, Zoya malu menatap suaminya dengan menangis.
"Emmmmuuuaaahhh... " Hans memberikan ******* pada bibir mungil itu.
"Mas Hans.... " pekik Zoya sedikit kesal.
"Loh, kan udah memejamkan mata. Lagian di balas juga. " goda Hans membuat Zoya tersipu. Ya, dia sekarang sudah mulai terbiasa dengan hal seperti itu.
"Maunya bercinta di sini dengan kekasih halalku." ujar Hans dengan senyum menggodanya.
"Zoy, lusa aku akan ke lokasi kejadian untuk menangani kasusnya Antonio. Mungkin, lokasinya sedikit terpencil karena tempat KKN. Kamu mau di rumah Mama, apa di sini? Takutnya aku pulang kemalaman. Atau malah tidak pulang. " lanjut Hans memberi tahu Zoya jika lusa dia harus pulang terlambat.
"Aku di sini saja. " jawab Zoya
"Baiklah, tapi kita makan dulu, yuk! "
"Mas... " panggilan Zoya membuat Hans terhenti.
"Aku ingin makan rujak cingur. " ucap Zoya membuat Hans menelan salivanya.
"Besok gimana? Ini bukan Jawa Timur, Zoy." tawar Hans. Dia merasa kesulitan jika mencari rujak cingur saat pukul delapan malam seperti ini.
"Aku maunya sekarang. " rengek Zoya dengan mata mengembun hampir menangis.
"Iya ya... aku carikan sekarang, Jangan menangis. " Hans mencium kening Zoya sebelum pergi.
"Duch, kenapa jadi cengeng banget. Jangan-jangan lahirnya cengeng mirip emaknya. " gerutu Hans dengan mengambil kunci mobilnya di atas meja.
__ADS_1
Bersambung..
Hae hae readersku tercinta... saatnya menyapa kalian agar kembali mood booster ya.... hehehhe...... ini partnya aku panjangin deh heheheh, sebenernya mau nulis sunah rosul ehhhh nggak jadi deh..... sunah rosul kok terus hehehehe. Semoga kalian sehat selalu ya.... happy reading gaes sambil makan rujak cingur 😂😂😂😂