Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Perasaan Hans


__ADS_3

Zoya demam, itu yang membuat Hans semakin tidak ingin meninggalkannya barang sejenak. Lelaki itu masih rebahan di samping istrinya dengan kemeja yang sama sejak dari siang tadi.


Zoya masih mendiamkan Hans, hanya ketika ditanya saja mulut mungil itu menjawab seadanya. Selain malas berbicara karena kepalanya terasa pusing, batinnya juga sedang tidak mood.


"Zoy, mau kemana? " tanya Hans saat melihat Zoya beringsut bangun. Hans pun juga ikut bangkit dari rebahannya.


"Aku mau sholat maghrib, Mas. "


Tanpa bertanya lagi, Hans pun menunggui Zoya di depan kamar mandi. Dia tak ingin terjadi sesuatu pada Zoya saat berada di kamar mandi.


"Kondisiku lebih baik, Mas. " ucapnya dengan mensedekapkan kedua tangannya dengan memeluk erat tubuhnya karena suhu tubuhnya mendadak terasa dingin setelah terkena air wudhu. Baru saja mengucapkan sesuatu agar suaminya tidak cemas, tubuh Zoya malah menggigil hebat.


"Zoy,...! " panggil Hans saat melihat tubuh Zoya bergetar hebat dengan rahang mengatup rapat, Hans langsung menggendong Zoya membawanya ke tempat tidur. Dia langsung menyelimuti tubuh Zoya dan memeluknya dari belakang dengan begitu erat untuk menyalurkan kehangatan pada tubuh yang terduduk di pinggir tempat tidur.


"Zoy, kita ke rumah sakit saja! " ucap Hans dengan berbisik di telinga Zoya. Tapi di jawab dengan gelengan samar oleh Zoya saat tubuhnya masih tenggelam dalam dekapan suaminya.


Berlahan, Hans merebahkan tubuh istrinya. Getaran tubuh Zoya sedikit berkurang tapi telinga dan pipinya masih terasa dingin membuat Hans masih memeluk dan mengusap usap bagian telinga. Bahkan saat ini, kaki panjangnya pun melingkar di tubuh yang sudah bergelung selimut tebal.


"Jangan membuatku cemas, Sayang! " lirih Hans hampir membuat Zoya tidak percaya dengan yang baru saja dia dengar.


Hans dengan lembut menenggelamkan wajah Zoya dalam dekapan dada bidangnya. Tangan kekarnya, kini menjadi tumpuan kepala istrinya. Di ciumnya puncak kepala Zoya. Rasa sayangnya, kini tak terbendung lagi. Dia sudah yakin jika rasa sayang dan cintanya memang teruntuk istrinya.


Hampir satu jam, Hans memeluk erat tubuh Zoya. Berlahan, Zoya mulai menggerakkan tubuhnya, dia sudah merasakan suhu tubuhnya kembali menuju normal.


"Mas, tubuhku sudah merasa hangat. " lirih Zoya membuat Hans meregangkan tubuhnya. Tatapannya kini mencari kebenaran dari wajah yang menengadah menatapnya.


"Iya, aku merasa jauh lebih baik. " ucap Zoya dengan mengedipkan kedua kelopak matanya dan tersenyum untuk meyakinkan Hans. Hans malah melorotkan tubuhnya saat Zoya melonggarkan gelungan selimut yang membelit tubuhnya.

__ADS_1


"Jangan membuatku cemas! " lirih Hans saat kepalanya tertumpu pada satu tangan yang sudah di tekuknya dan tangan satunya membingkai satu sisi wajah Zoya agar tetap menatapnya.


"Mas... " lirih Zoya, kali ini tubuhnya kembali panas dingin. Bahkan, dadanya berdebar dengan jantung yang berdetak lebih cepat saat wajah Hans mengikis jarak di antara keduanya.


Terasa nafas mereka saling menyapu saat Hans menempelkan bibirnya dan memberi ******* lembut pada bibir yang tanpa respon itu. Tubuh Zoya semakin menegang saat tangan besar itu juga memberi elusan halus di pipinya terus mengarah ke bawah.


"Tok... tok... tok... maaf, Pak! Ini saya buatkan sup buat mbak zoya. " suara dari luar kamar membuat Hans menghentikan aksinya.


"Sial." umpatnya dalam hati. Kemudian beranjak bangun dengan mendengkus kesal ketika membuka pintu kamar.


"Terima kasih. " jawab Hans dengan mengambil nampan yang dibawa Bi Muna dan menutup kembali pintu kamar Ale.


"Mas, aku sholat magrib dulu! " ucap Zoya, dia sudah bangkit dan duduk di atas tempat tidur.


"Hmmm.... tayamum saja. Nanti, makan supnya mumpung masih hangat. Aku akan mandi dulu. " pamit Hans, kemudian dia keluar dari kamar ale melintas menuju kamarnya.


"Astaga, kenapa ini si junior semakin tidak tahu situasi!" gerutunya, saat dia tersadar dia menginginkan zoya di saat keadaan yang tidak tepat. Hans melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan menuntaskan hasrat yang gagal tersalurkan.


Seperti biasa saat Naura datang ke kantor Hans. Dia selalu memaksa masuk saat Diana ingin mengkonfirmasikan terlebih dahulu kepada bosnya.


"Hans... " panggil Naura, Saat membuka pintu ruangan dan mendapati Hans tengah sibuk di meja kerjanya.


"Ada apa Nolla? " tanya Hans saat melihat kehadiran perempuan yang mengenakan dress seksi dengan belahan dada rendah. Naura tidak menjawab, dia langsung melangkah mendekat ke arah Hans.


"Silahkan, duduk! " ucap Hans dengan menunjuk kursi di depannya, saat Naura malah berdiri di samping kursinya dengan menyandarkan tubuh seksinya di meja kerja.


"Plesae deh, Hans! Jangan membohongi perasaanmu. " Mendengar kalimat Naura Hans menghentikan kegiatannya dan menatap Naura.

__ADS_1


"Maksutmu apa? " selidik Hans.


"Aku tahu kamu tidak mungkin melupakanku. Kamu tipe orang yang susah move on. Okelah, Renita perempuan yang kamu inginkan, berkelas, cerdas dan cantik tapi dia hanya mendapatkan sebagian dari cintamu. Bagaimana bisa istrimu yang sekarang bisa membuatmu jatuh cinta? Aku tahu sampai kapan pun kamu tidak akan bisa melupakan aku, Hans. " Naura berdiri semakin mendekat dengan Hans, bahkan dia berani mengalungkan tangannya pada lelaki di depannya.


"Jangan terlalu mencampuri pribadiku! " jawab Hans dengan melepaskan lengan Naura.


"Hans, Jangan membohongi hatimu! "


"Dan kamu jangan merasa tahu tentang hatiku. Kita hanya sebatas klien dan lawyer. Oh ya, aksara mulai mengancamku. Sepertinya, dia tahu jika keywordnya sudah aku pegang. " jelas Hans.


"Hans, jangan bilang kamu jatuh cinta dengan perempuan kampung bertubuh pendek itu! Dia hanya lulusan aliyah. "


"Jangan membahas istriku! Dia tidak ada hubungannya di sini. Aku sudah memberi tahu padamu tentang sidang kita minggu depan dan tentang Aksara. Jadi biarkan aku kembali bekerja, Nona Naura! " Hans melepaskan panggilan sayangnya pada Naura. Dan itu yang membuat Naura merasa kecewa. Panggilan sayang dari Hanslah yang membuatnya yakin jika lelaki itu tidak dapat move on darinya. Dan Saat ini? tentu saja Naura kecewa. Hari ini dia datang untuk mengambil kembali cinta pertamanya, tapi ternyata hal menyakitkan yang dia dapet.


"Baiklah, aku akan kembali! "pamitnya kemudian berbalik dan melangkah.


" Naura... " panggil Hans menghentikan langkahnya.


"Aku memang mencintai sebuah kenangan. Tapi, bukan berarti aku masih mencintai orang di dalam kenangan itu. Seseorang dan situasi yang berbeda bisa saja membuat sebuah cinta yang lebih besar. " kalimat terakhir Hans, tidak di jawab oleh Naura. Perempuan itu langsung berbalik dengan jalan tergesa. Rasanya sangat menyakitkan ditolak seseorang. " Dan mungkin dulu kamu sesakit ini ketika aku menolak permintaanmu agar kau tetap tinggal di Indonesia. " gumam Naura saat menyesali kepergiaannya.


Hans menghela nafas panjang dengan kedua tangannya saling bertaut menahan dagunya.


"Gadis bertubuh pendek itu, gadis yang pernah aku tolak kehadirannya, dan gadis yang memberikan banyak cinta pada semua orang di sekelilingnya, terlebih putriku. Dia yang membuat aku jatuh cinta... " Hans menggelengkan kepala kemudian tersenyum geli. Dia merasa seperti anak muda yang sedang kasmaran.


Matanya kemudian, menatap fotonya bersama Renita, " Maafkan aku, Ren. Tapi hidupku dan Ale harus berjalan. Kamu tetep jadi wanita terbaik dalam hidupku. " gumam hati Hans, tidak ada nita dalam hatinya untuk menyingkirkan perasaan yang pernah ada pada perempuan yang dengan sabar membalut luka hati di masa lalunya.


Tapi Zoya? Hans juga belum yakin perasaan istrinya. Zoya, memang gadis yang baik dan istri solehah. Tapi perempuan seperti itulah yang terlalu pintar menutupi perasaannya. Entah siapa yang menjadi rahasia cintanya? Lelaki itu semakin dibuat pernasaran.

__ADS_1


TBC.


Halo readers akuuuuhhh yang tercinta. Akhir akhir ini author emang sedikit rempong. Tapi aku usahanya untuk tetep up yaaahhh.....


__ADS_2