
Wildan masih memperhatikan istrinya yang terlihat gelisah di bawah selimut. Lelaki itu sengaja membaca sebuah buku di kamar tidur, karena dua hari ini Nilla terlihat tidak bisa tenang saat tidur.
Bahkan, dia sempat tidak pergi ke kampus karena mengeluh tidak enak badan. Entah Apa yang terjadi pada istrinya? Wildan masih dibuat penasaran.
"Astagfirullah hal adzim... " lirih Nilla saat terbangun dari mimpi buruk.
Wildan langsung menaruh bukunya. Dia bergegas menghampiri Nilla yang sedang duduk tertegun dengan keringat yang membasahi sebagian wajahnya.
"Nil, minum dulu! Kamu kenapa?" tanya Wildan saat duduk di samping istrinya dengan menyodorkan segelas air yang sudah ada di nakas.
"Aku mimpi buruk, Bang." lirih Nilla dengan menyeka keringatnya. Wajahnya nampak pucat.
"Sebenarnya ada apa, Nil? Abang tahu, kamu ada sebuah beban yang sedang kamu pikirkan." pancing Wildan, membuat Nilla menoleh ke arah lelaki di sampingnya.
Sejenak mereka terdiam. Wildan masih menunggu Nilla bicara. Tapi, Nilla masih belum sanggup bicara meski rasanya ingin sekali mengatakan semua pada suaminya.
"Nil... " panggil Wildan dengan mengambil tangan dingin milik Nilla dan menggenggamnya.
Nilla mendongak, menatap wajah di depannya. Bagaimana bisa dia membohongi suaminya yang terlalu baik itu. Merahasiakan keadaan dirinya yang sebenarnya sama juga membohonginya.
"Bang, sebenarnya a-aku.... " kalimat Nilla menggantung, dia kembali menyeka keringatnya.
"Kenapa, Nil?" Wildan semakin menggenggam erat tangan istrinya. Nilla, seperti ketakutan.
"Bang, aku nggak bisa hamil." air mata yang sejak tadi dia tahan kini berhasil lolos.
"Maksudnya?" tanya Wildan dengan menatap tajam Nilla. Dia belum mengerti maksud ucapan istrinya.
Bukannya menjawab pertanyaan Wildan, Nilla malah menangis tergugu. Wildan yang melihatnya menjadi cemas. Direngkuhnya tubuh kecil istrinya yang masih bergetar karena isak tangis. Cukup lama, hingga piyama yang dikenakan Nilla pun ikut basah karena keringat.
"Istighfar, Nil." Wildan masih mengelus bahu kecil istrinya.
Setelah sedikit tenang, Nilla mengurai pelukan suaminya. Dia menatap begitu dalam wajah teduh di depannya. Pasrah. Hatinya berbisik dalam hati dengan keputusan yang akan diambil suaminya.
"Bang, aku nggak bisa hamil." ulang Nilla dengan menatap wajah yang masih menunggu kelanjutan kalimatnya.
"Kemarin aku datang ke dokter Obgy, Bang." Melihat Istrinya bercucuran air mata membuat Wildan mengusap pipi itu hingga beberapa kali.
"Kata Dokter, rahimku mempunyai ukuran yang sangat kecil. Kemungkinan hamil sangat kecil." lirih Nilla. Air matanya terus saja mengalir. Saat ini dia merasa putus asa apalagi keluarga Wildan sudah menunggu keturunan dari putra kesayangan mereka.
"Sayang..." ucap Wildan. Kedua tangannya membingkai wajah cantik yang dipenuhi air mata itu.
Nilla bisa melihat senyum di wajah suaminya. Tapi, dia tidak ingin berharap lebih, dengan apa yang akan dikatakan Wildan.
__ADS_1
"Itu hanya diagnosa Dokter."
"Lagi pula, sulit itu bukan berarti tidak bisa."
"Kita hanya butuh berusaha dan berdoa. Semua serahkan pada Allah." Wildan kembali memeluk istrinya. Kali ini Nilla sedikit tenang karena sudah memberitahu semuanya pada suaminya. dan mendengar jawaban yang tidak menuntut dari Wildan.
"Tapi Ummi, Bang." tanya Nilla, masih berada dalam dekapan tubuh kekar itu.
"Kamu menikah dengan Ummi, apa dengan Abang?" pertanyaan Wildan seolah memberi jawaban akan apa yang sudah membuatnya resah. Wildan memang tidak peduli.
"Anak itu anugrah sekaligus ujian, Nil. Diberi alhamdulillah, jika tidak, itu juga hak prerogatif Allah. Apa kamu mau mendekte- Allah dengan keinginanmu?" Wildan mencoba memberi pengertian pada istrinya.
"Apa itu yang membuatmu banyak melamun beberapa hari ini?" tanya Wildan yang kemudian mendapat jawaban anggukan pelan dari Nilla.
"Seharusnya, kamu bicarakan sama Abang. Kita sudah menikah, jangan ada lagi yang di sembunyikan diantara kita, Sayang." jelas Wildan membuat beban yang selama ini mengganggu pun berlahan menghilang.
"Sebaiknya kamu istirahat saja. Jangan pikirkan yang tidak penting."
"Abang akan menemanimu." ujar Wildan yang kini ikut merebahkan diri di samping istrinya. Mengisap lembut kepala istrinya agar kembali tertidur.
Dia menemani Nilla hingga perempuan itu kembali memejamkan matanya. Wajah cantik istrinya yang membuat lelaki itu betah menatapnya. Wildan menyingkirkan anak rambut yang menghalangi kecantikan istrinya. kemudian mendaratkan ciuman di kening Nilla sebelum dia beranjak untuk memeriksa kembali lampu di setiap ruangan yang mungkin masih menyala.
Gerakannya terhenti saat jari jari kecil itu menggenggam ujung jarinya. Wildan bisa mengerti betapa ketakutannya istrinya hingga alam bawah sadarnya pun masih menahannya saat akan beranjak.
###
Di sebuah Caffe shop yang ada di sebuah mall mereka bertemu. Kyara dan Hans yang sengaja bertemu, saat Zoya sedang berbelanja kebutuhan untuk Ale.
Ale selalu bilang," Mama bajuku sudah tidak muat lagi." bocah itu memang cepat sekali pertumbuhannya, baik melebar maupun meninggi.
"Baiklah Bang, biar Zuri jadi asistenku saja." jawab Kyara setelah mendengar cerita Hans yang sudah tidak nyaman dengan Zuri.
"Sebenarnya kinerjanya bagus. Cuma aku yang tidak nyaman, makanya jika secara gamblang, aku tidak punya alasan yang kuat untuk memperhentikan dia sepihak." Hans masih menimpali argumennya meski sudah mendapat persetujuan dari Kyara.
"Besok sore aku akan mampir ke kantor Abang, dan berkenalan langsung pada gadis itu." Kyara mempertegas lagi kesanggupannya menerima Zuri.
Terlihat Zoya berjalan ke arah mereka dengan menenteng beberapa paper bag yang baru saja dia beli untuk Ale.
"Selesai, Zoy?" tanya Hans, saat istrinya mendudukkan tubuh di sampingnya.
"Iya, capek aku, Mas." keluh Zoya. Hans segera menyodorkan air mineral yang sengaja dia pesan khusus untuk istrinya.
"Kenapa tidak jus?" tanya Zoya dengan melirik jus di depan Kyara, membuat Kyara tersenyum. Perempuan kalem yang sudah lama tidak dia temui, kini berubah menjadi manja.
__ADS_1
"Ingat Zoy, jangan banyak konsumsi gula!" Hans mulai memperingatkan Zoya. Zoya masih terdiam dengan tak pernah berhenti melirik Jus milik Kyara.
"Dikit ajalah, Bang." ujar Kyara dengan menyodorkan jusnya ke arah Zoya. Perempuan itu pun tersenyum dan segera menyesap sedikit jus pemberian Kyara meski mendapatkan pelototan Hans.
"Bang Hans itu galak, tapi kenapa ya, banyak skandal dengan cewek. Kasusnya cewek melulu." Kyara hanya tidak habis pikir, lelaki yang galak dan emosional itu punya daya tarik sendiri di mata perempuan.
"Paling karena wajahku ganteng, smart, tampilan keren dan body oke meski hampir punya tiga anak dan terlihat tajir meskipun aslinya kere." Mendengar pernyataan Hans membuat Kyara tertawa. Dia baru saja mengetahui jika Zoya pemegang semua aset dan keuangannya. Cinta memang bisa membinasakan ke pintaran seseorang.
"Tapi tetap saja duda." celetuk Zoya dengan meneguk air mineral yang mau tidak mau sudah menjadi bagiannya.
"Tapi menikah denganmu, kan, bukan lagi duda!" Balas Hans tidak mau kalah.
"Iya, sebelum kita menikah, kan, aku gadis Mas Hans Duda." desak Zoya.
"Loh, high kwalitas duda lo, Zoy. Logika saja, jika seseorang menduda karena ditinggal istrinya karena selingkuh atau ditinggal kabur dengan lelaki lain. Lah, itu perlu dipertanyakan kwalitas dudanya. Bisa jadi seseorang itu punya kekurangan secara psikologis, financial atau sexualitas."
"Lah, aku dipisahkan oleh takdir. Tetap saja statusku perfect duda." lanjut Hans yang masih tidak terima ketika diragukan kwalitasnya.
"Apa Mas Hans masih mencintai Mbak Renita?" Wajah Zoya mulai memerah. Matanya sudah terlihat mengiba.
"Iya iya... aku pesan kan sendiri, jus no sugar spesial untuk istriku tercinta." rayu Hans dengan mencubit hidung mungil Zoya. Dia tahu Zoya hampir menangis mendengar kalimat terakhirnya. Dia juga tidak bisa menjawab pertanyaan Zoya. Biar bagaimanapun Renita memang punya ruang tersendiri dalam hatinya. Meskipun, semua hidupnya saat ini hanya tentang Zoya dan anak anaknya.
"Mungkin, orang pertama yang ada dalam hidupkulah yang sebenarnya menjadi kekuranganku sebagai duda untuk mencintaimu, Zoy." lelaki itu bermonolog dalam hatinya saat berjalan untuk memesan jus spesial no sugar.
Kyara hanya tersenyum saat melihat perdebatan itu. Dia tidak menyangka, jika lelaki yang keras, emosional dan tidak mau kalah itu bertekuk lutut di depan perempuan mungil yang usianya jauh lebih muda.
Setiap orang punya cara dan bahasa sendiri untuk bahagia.
"Apa kamu bahagia dengan bang Hans, Zoy? " tanya Kyara kepada Zoya.
"Iya Mas Hans lelaki yang baik. Aku bahagia bersamanya." jawab Zoya dengan tersipu malu.
Saat di tengah jalan, beberapa kali Hans melirik Zoya yang tertidur di sampingnya. Menurutnya Zoya saat ini tidak jauh beda dari Ale. Setiap perutnya kenyang di dalam mobil, dia langsung terlelap.
Mobilnya kini berhenti di garasi yang ada di samping rumah. Dia melihat betapa pulasnya Zoya tertidur, membuatnya untuk menggendongnya masuk saja.
Hans menggendong tubuh Zoya, itu artinya, dia menggendong tiga nyawa sekaligus. Diletakkannya Zoya di kamar tamu yang ada di bawah.
"lumayan juga." keluh Hans setelah menyelimuti istrinya.
Maafkan aku, Zoy. Kesalahan pertamaku, tidak akan kubiarkan terulang lagi. Akun harus menjaga kalian meski dengan harus mengekang keinginan kalian. Mau ileran atau tidak kalian tetep milikku, aku akan bahagia menerima kalian.
Itulah alasan Hans memprotect Zoya sedemikian. Sering kali dia merasa cemas kala kejadian mengingat lahirnya Ale. Dia tidak ingin kesalahan yang sama terulang kembali.
__ADS_1
TBC