Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Dono dan Dini (Extra Part)


__ADS_3

Wildan masih menatap Nilla yang sikapnya sudah berubah. Istrinya terlihat murung setelah dia menjemputnya bertemu Zoya.


Masih berdiri dengan tangan bersedekap, sedari tadi Wildan menatap Nilla sedang membuat teh hangat yang sudah dia pesan.


"Sayang, apa kamu masih cemburu dengan Zoya?" tanya Wildan yang sudah berdiri di belakang Nilla.


Wildan maju mendekati istrinya karena dia melihat Nilla yang melamun tanpa menghiraukan air yang sudah mendidih di depannya. Satu tangannya memeluk pinggang Nilla dan satu tangannya menjulur mematikan kompor yang masih bebas menyala.


"Sayang, apa kamu tidak mempercayai Abang?" Wildan semakin mempererat pelukannya dari belakang tubuh Nilla.


"Bang, tehnya sudah siap." Mendengar Kalimat Nila Wildan menahan tangan istrinya yang akan mengangkat cawan teh. Lelaki yang berdiri di belakang istrinya itu pun memutar berlahan tubuh kecil Nilla.


Wildan mendongakkan wajah perempuan bertubuh kecil yang hanya sebatas dadanya. Dia bisa melihat mata indah itu berkaca kaca. Nilla yang jarang sekali menangis kini tidak lagi bisa menahan air matanya yang kini sudah menetes.


"Kamu kenapa? Apa secemburu itukah kamu dengan temanmu? Apa kamu tidak percaya dengan Abang?" Wildan mencecar Nila dengan berbagai pertanyaan.


"Bukan, Bang. Aku percaya sama, Abang. Zoya juga sudah bahagia dengan kehidupannya sendiri." jawab Nilla. Tapi, dia masih bingung bagaimana cara mengatakan ini, kondisi dan diagnosa dokter pada suaminya. Ada rasa takut jika Wildan juga tidak bisa menerima keadaannya.


"Apa Abang mencintaiku? Apapun keadaanku? " tanya Nilla dengan menatap ke dalam mata suaminya.


"Tentu saja, hubungan kita tidak hanya bicara tentang cinta. Tapi, tanggung jawabku kepada Allah." jawab Wildan dengan tegas. Berlahan dia memeluk istrinya agar sedikit tenang. Wildan bisa mengerti kegelisahan Nilla. Tapi, dia masih menunggu istrinya bercerita dengan sendirinya tentang apa yang sedang membuatnya gelisah.


###


"Mama, apa berarti Ale akan punya adik cewek dan cowok?" tanya bocah itu saat mereka keluar dari ruang obgy.


"Insyallah, adiknya Kak Ale nanti cewek dan cowok." jawab Zoya, mereka baru saja keluar dari ruang obgy.


Hans hanya terdiam dengan wajah yang sumringah. Dia tidak bisa lagi mengekspresikan rasa bahagia jika kedua Hans junior punya jenis kelamin yang berbeda.


"Tapi kenapa Adik Ale bentuknya seperti itu? Kenapa tidak mirip kita?" tanya Ale sekali lagi, dia masih merasa bingung wajah kedua adiknya di monitor berbeda dengan bocah pada umumnya.


"Nanti kalau udah mau keluar, adik Kak Ale baru akan mirip dengan Kak Ale." jawab Zoya membuat bocah itu bisa membayangkan adiknya akan mirip dengannya.


"Mas, mampir beli martabak dan es krim ya! " pinta Zoya saat mereka baru masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Apa tadi yang dibilang dokter? Kamu harus mengatur nutrisi makananmu, Zoy." ujar Hans, mengingatkan Zoya jika kedua bayinya mulai besar di perut. Hingga dokter menyarankan untuk mengatur pola makan dan asupan gula yang masuk ke dalam tubuh bumil.


"Tapi aku ingin banget martabak." rengek Zoya saat Hans mulai menghidupkan mesin mobilnya.


"Iya Papa, Ale juga mau martabak." Ale juga menimpali. Hans pun tersenyum saat melihat putrinya dari spion. Martabak masih jadi favorit putrinya yang sebentar lagi mendapat julukan si sulung.


"Bagaimana dengan Dono dan Dini? kalian minta apa? " saking senangnya dia tidak luput berbicara pada dua Hans junior yang ada di perut istrinya.


"Adiknya Ale namanya Dono dan Dini, ya, Pa?" tanya Ale yang menganggap ucapan papanya serius.


"Nggak- nggak. Bukan, Kak Ale. Papa asal saja!" Zoya langsung mengatakan ketidak setujuannya.


"Hahaha...hahaha ... hahahah " Hans malah tergelak melihat kekhawatiran di wajah istrinya. Saat mendengar nama Dono yang terbayang oleh Zoya adalah gigi tongos sang legend warung kopi.


"Eh jangan salah! Dono itu pinter, lo. Dosen beliau." ujar Hans berusaha meyakinkan istrinya.


"Nggak-nggak pokoknya." elak Zoya dengan wajah cemberut, yang membuat geli lagi, saat Hans melirik Zoya sedang mengelus perutnya dengan komat kamit seperti mengucapkan mantra.


Zoya masih cemberut saat keluar dari mobilnya. Disusul Ale yang berlari melewatinya begitu saja dengan membawa foto hasil USG. Bocah itu ingin menunjukkan pada Oma jika adiknya adalah cewek dan cowok.


Zoya hanya terdiam, saat Hans mencoba terus membuatnya tersenyum. Sudah beberapa kali Zoya membuang tangan besar yang mengalung di bahunya. Tapi, Hans sengaja untuk kembali menyampirkannya di sana.


"Assalamu'alaikum." ujar Zoya saat memasuki rumah yang pintunya sudah dibuka oleh Ale.


"Waalaikum salam..." ujar Mama Shanti yang sudah bersama Ale di ruang keluarga.


Dengan muka merajuk, Zoya menghampiri Mama mertuanya untuk salim. Sedangkan Mama Shanti mulai menebak, saat melihat Hans senyum senyum di depannya.


"Kenapa, Zoy? " tanya Mama Shanti saat Zoya mendudukkan tubuhnya di samping beliau.


"Kamu apakan putri Mama, Hans?" lanjut Mama Shanti dengan melotot ke arah putranya yang masih menampilkan senyum puas.


"Kata Papa nama Adik Ale adalah Dono dan Dini. Tapi, kata Mama nggak boleh." sela Ale menceritakan kejadian di dalam mobil.


"Kamu mau anak kamu giginya tongos? " Mama Shanti pun ikut sewot dengan putranya.

__ADS_1


"Ya ... nggak gitu juga, Mah. Kita ambil sisi possitifnya saja. Seperti halnya sang legend kan pinter, dosen loh, Mah." bantah Hans.


"Oke, dari pada milih pinter tongos. mending memilih mirip yang pinter, ganteng, faham agama. Seperti Ustad Wildan." Serang Mama Shanti yang sudah dibuat kesal putranya.


"Apa-apaan, Mama ini. Dia anakku bukan anak Ustad itu. Tentu saja mereka akan mirip aku. " Hans langsung saja melempar remot yang baru saja di pegang ke sofa. Dengan langkah gesit dia berbalik dan menaiki tangga.


"Mama, itu hal sensitif kenapa dibuat becandaan." ujar Zoya kemudian beranjak mengejar suaminya naik ke lantai dua. Ale yang melongo melihat kedua orang tuanya yang sudah meninggalkan dia bersama omanya.


"Jangan biasa di manjain, Zoy. Kalau hobi bikin kesal, ya jangan marah jika dibikin kesal orang." Zoya tidak mempedulikan mama mertuanya , dia juga tidak ingin hal sensitif itu melukai hati suaminya .


Zoya berusaha berjalan lebih cepat setelah menaiki anak tangga dengan hati hati.


"Mas... "


"Mas Hans." panggil Zoya sebelum dia mendapati suaminya yang sedang membuka kemejanya di depan kamar mandi.


"Mas... Jangan dimasukkan hati ucapan Mama." ujar Zoya dengan mendekati suaminya, dia melingkarkan tangan kecil di perut keras itu dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Hans. Hans hanya melirik sedikit ke bawah, kemudian tersenyum tipis. Tidak biasanya Zoya merayunya. Bisa dibilang sangat jarang.


"Mas Hans yang berhak memberikan nama anak kita. Tapi, berilah nama yang baik, jangan Dono!" Zoya masih memeluk hangat tubuh telanjang dada itu. Aroma khas maskulin suaminya memang terendus segar untuk saat ini.


"Aku akan mandi dulu! Nanti kita bahas lagi" ujar Hans, berusaha melepaskan tautan tangan Zoya di pingangnya. Tapi, Zoya semakin Erat melingkarkan tangannya, dia tidak ingin suaminya marah terlalu lama karena berhubungan dengan masa lalunya.


Hans sebenarnya masih tersenyum menanggapi sikap Zoya. Tapi, karena dia merasakan dadanya basah yang dia yakini air mata sang istri.


"Sayang... Aku tidak marah. Aku memang merasa gerah." ujar Hans dengan membalas pelukan Zoya . berlahan dengan saling berpelukan Hans membawa Zoya untuk duduk bersama di tepi ranjang.


Tangannya juga tidak lepas untuk merangkul tubuh mungil dengan perut besar itu.


"Mereka anaknya Mas Hans, mereka berdua hanya akan mirip dengan kita, buka orang lain." ujar Zoya menganggap serius kemarahan suaminya, padahal Hans sedang berbunga bunga mendapat rayuan Zoya.


Hans mengajak Zoya berbaring. Dia bersandar pada kepala ranjang. Sementara Zoya berbaring dengan kepala di atas dadanya, tangannya melingkar meski dengan perut besar yang terkesan mengganjal tapi dia merasa sangat nyaman saat mendengar detak jantung lelaki yang sudah menjadi bagian dari hidupnya itu.


"Si Doni dan Dini, pasti merasa terjepit jika mamanya jadi manja begini." ujar Hans dengan mengelus kepala Zoya yang masih terbungkus jilbab.


"Itu lebih bagus untuk nama sementara, Mas." sahut Zoya setuju.

__ADS_1


"Enaknya punya istri polos memang begitu gampang saja di godain. Sedikit marah saja bisa membuatnya merasa bersalah tujuh hari tujuh malam." ujar Hans dalam hati dengan menahan senyumnya. Terkadang lelaki itu merindukan sikap manja istrinya.


__ADS_2