
Zoya menggeliat ringan sambil mengerjapkan mata. Berlahan dia bangkit saat menyadari jika ini bukan kamar yang biasa dia tempati.
"Mas... Mas Hans!" panggil Zoya kemudian keluar kamar mencari keberadaan suaminya. Rumah di lantai bawah terlihat sepi. Jam hias yang berdiri tegak di ruang tengah itu pun menunjukkan pukul setengah sembilan malam.
"Ya Allah aku belum Salat Isya." gumam Zoya, tapi dia masih mencari keberadaan Hans.
Saat sampai di belakang rumah, terlihat Mama Shanti yang masih duduk di gazebo belakang ditemani Bi Muna. Mereka biasa mengobrol setelah rumah sudah beres dan menjelang istirahat.
"Ma, Mas Hans kemana?" tanya Zoya menghampiri Mama mertuanya.
"Kayaknya tadi menemani Ale tidur." jawab Mama Shanti. Beliau heran saja dengan keduanya. Jika bukan Hans yang mengubernya, ya... Zoya yang mencarinya.
Setelah mendapatkan informasi dari Mama Shanti, Zoya memilih untuk Shalat Isya terlebih dahulu agar merasa lebih tenang.
Setelah menunaikan Shalat Isya, Zoya pun kembali berniat mencari Hans. Dia kembali masuk ke dalam rumah utama. Sebenarnya dia ingat jika besok ada kuis, tapi perut yang semakin membesar membuatnya enggan untuk belajar. Kali ini rasa malas mengalahkannya.
Zoya tersenyum saat melihat lelaki yang sedari tadi dicarinya menuruni tangga dengan membawa selimut. Suaminya memang lelaki yang cukup menarik meskipun dengan tampilan sederhana. Lagi lagi dia memuji lelaki yang saat ini menoleh ke arahnya dan melemparkan senyuman.
"Mas, kenapa membawa selimut?" tanya Zoya saat Hans sampai di anak tangga paling bawah. Zoya masih menatap suaminya dengan heran. Bukannya menjawab tapi Hans langsung merangkul istrinya menuju kamar baru mereka yaitu yang semula kamar tamu.
"Sementara, kita akan tidur di sini." ujar Hans dengan meletakkan selimut tebal itu di atas kasur.
"Sampai kamu melahirkan, kamu jangan lagi naik ke lantai atas." Hans menatap mata bulat dengan warna coklat itu, kedua tangannya menggenggam bahu mungil milik Zoya. Kemudian membuka jilbab istrinya.
"Tapi, siapa yang akan menyiapkan Keperluan Mas Hans dan Ale? Semuanya ada di kamar atas." tanya Zoya masih dengan menatap suaminya penuh selidik.
Bukanya menjawab, Hans malah merebahkan diri di atas tempat tidur. Kedua tangannya pun di tekuk untuk menjadi bantalan. Tapi tatapannya mengisyaratkan Zoya untuk tidur di sebelahnya.
Hal yang dibenci Zoya dari suaminya yaitu kelakuannya selalu mengundang banyak teka teki yang kadang berakhir dengan kekonyolan atau sesuatu yang membuat kesal.
"Mulai besok aku akan mengurus diriku sendiri dan Ale. Mama Juga setuju jika kamu tidak lagi naik ke atas, Mama bilang akan membantu mengurus Ale." lanjut Hans. Sebelum ada Zoya dia memang bisa melakukannya. Tapi, Si mungil itu memang menjadi candu yang saat ini harus di lepas sejenak demi ketiganya, Zoya dan dua Hans junior.
"Terus aku ngapain, Mas?" Selain mengurus Ale dan Suaminya Zoya tidak lagi punya kegiatan di rumah. Sejak dia kuliah Mama Shanti yang lebih sering beraksi menunjukkan kepiawaiannya di dapur.
"Ada." jawab Hans dengan melirik dan memicingkan sebelah matanya dengan genit.
"Tentu saja melayaniku di ranjang. Hahaha... itu tidak ada kecuali." Mendengar jawaban suaminya, Zoya bergegas beranjak pergi. Tapi, gerakannya yang lamban karena perut yang membuncit membuat Hans dengan sigap menangkapnya.
Benar sekali yang Zoya pikirkan sebelumnya. Wajah Cool dan kharismatiknya hanyalah sebuah kedok. Di depannya lelaki itu bertingkah lebih absurd dari putrinya.
"Mas Hans, Jangan begini! Nanti keterusan!" Hans berhasil memeluk dan menciumi pipi cabi istrinya. Zoya yang berusaha menjauhkan wajahnya selalu gagal karena kedua lengan kekar itu melingkar, mengunci dengan kuat.
"Mas Hans, aku sedang hamil." keluh Zoya saat suaminya malah pindah ke leher dan memberi gigitan kecil di sana.
"Merah, Zoy! "Dia kembali mengusap leher istrinya sambil tersenyum tanpa dosa.
__ADS_1
"Emang kenapa kalau hamil?" tanya Hans masih menatap warna merah di leher putih istrinya.
"Kan nggak boleh sering melakukannya." ujar Zoya.
"Siapa bilang? Besok kalau sudah masuk delapan bulan dan sembilan bulan malah dianjurkan untuk sering melakukannya." mendengar jawaban Hans membuat Zoya menautkan alis dan menatap tajam suaminya. Dia curiga itu akal-akalan suaminya saja.
"Beneran, Nggak percaya tanya dokter obgyn?!" ujar Hans dengan mencium gemas Istrinya. Dia terus saja menghujani Zoya dengan ciuman. Di pipi, di bibir, di leher dan semakin kebawah membuat kata keterusan itu pun menjadi kenyataan juga.
###
"Nil, kaos Abang yang putih mana?" tanya Wildan masih dengan mengenakan handuk sebatas pinggang. Dia baru saja selesai mandi setelah berolahraga.
"Iya sebentar, Bang." jawab Nilla yang berjalan dengan tergopoh gopoh ke arah lemari. Dia merasa Kaos putih favorit suaminya sudah dia masukkan ke lemari.
"Lah, ini!" Nilla menemukan kaos itu terjepit diantara tumpukan baju yang lainnya. Dia menyerahkan kaos tersebut pada suaminya.
"Tolong carikan celana jeansnya juga!" pinta Wildan, saat mengenakan kaos sambil berjalan menghampiri ponselnya yang berbunyi.
"Assalamulaikum, Ummi." ucap Wildan saat mengangkat telpon. Nilla yang mendengar, nama Ummi seketika menoleh. Kata 'Ummi' seperti hal yang mengerikan bagi perempuan itu.
Nilla kembali mencari celana jeans belel yang jadi favorit suaminya saat santai. Nilla menarik celana itu dan berbalik untuk menyerahkan pada suaminya.
"Astagfirullah, Bang." Nilla tersentak kaget saat tubuh tinggi tegap itu sudah berdiri di belakangnya.
"Eh,..." Nilla tidak melanjutkan kalimatnya.
"Kita kan suami istri, Nil. Abang mau pakai celana di depan kamu juga tidak dosa." ujar Wildan sambil tersenyum melihat wajah istrinya yang sudah merona.
"Kamu, mau ikut Abang nggak? Abang mau ketemu teman Abang, tempatnya bagus, lo!" tawar Wildan, mengingat Nilla tidak pernah jalan jalan. Sesekali dia ingin mengajak istrinya menikmati suasana di luar.
"Maulah, Bang."
"Oh ya, Bang. Tadi yang telpon Ummi ya?" Wildan berhenti menyisir rambutnya, dia kemudian menoleh ke arah istrinya dan berjalan mendekatinya.
"Iya, kenapa?" tanya Wildan dengan menyematkan anak rambut istrinya ke belakang telinga.
"Bang, aku cemas soal keadaanku. Mungkin, Ummi tidak bisa menerimanya, Bang. Bang, bagaimana jika aku tidak bisa hamil? Apa Abang akan menikah lagi seperti saran Ummi?" Nilla mencecar Nilla dengan berbagai pertanyaan yang membuat hatinya gelisah.
"Huss....!" Wildan meletakkan telunjuknya di bibir Istrinya kemudian tersenyum dan memeluk tubuh kecil yang terlihat tidak tenang.
"Bang, Apa kita program bayi tabung." kecemasan Nilla membuat perempuan itu berfikir ke arah itu.
"Kita usaha dan berdoa dulu. Mungkin Allah meminta kita untuk bersabar lebih dulu." masih mengelus lengan perempuan yang kini bersandar di tubuhnya Wildan terus saja menjelaskan.
"Jika menikah lagi, insyallah itu bukan jalan satu satunya. Dan Abang yakin, Abang tidak mampu untuk adil. Sayyidah Aisyah saja pernah cemburu dengan Sayyidah Khadijah, itu Rasullullah. Bagaimana dengan Abang yang manusia biasa?"
__ADS_1
"Tapi, bagaimana jika aku tidak bisa hamil, Bang?" Nilla menatap wajah teduh suaminya dengan mata berkaca kaca.
"Jangan katakan itu, lagi! Bersabar dan bertawakallah, maka Allah akan memberikan yang terbaik. Jika hanya untuk mendapatkan keturunan Abang menikah lagi, Insyallah itu bukan pilihan, Abang. Lagi pula kita belum ada satu tahun menikah, mungkin Allah memberi kesempatan kepada kita untuk pacaran dulu." jelas Wildan. Untuk program bayi tabung belum terlintas di kepala Wildan, meskipun beberapa ulama memperbolehkan asalkan sel telur dan sel ****** dari pasangan suami istri. Tapi, Wildan masih ingin menikmati kebersamaan dengan istrinya.
"Kecuali, Abang emang niat kawin lagi, alias doyan kawin, masalah anak bisa Abang jadikan alasan." goda Wildan membuat Nilla memukul punggung suaminya. Wildan pun tersenyum saat melihat wajah cemberut setengah tersenyum di wajah cantik istrinya.
"Abang mencintaimu, Nil." ucap Wildan kemudian melabuhkan ciumannya di bibir tipis Nilla. Bibir yang selalu dia damba untuk dia rasakan manisnya.
"Pahala, lo, Nil. Apalagi jika sampai yang nikmat nikmat itu." goda Wildan. Menikah membuat lelaki itu lebih bebas mengeksplore perasaannya kepada istrinya.
"Maunya Abang saja itu." balas Nilla dengan senyum tersipu.
"Ayo, bersiap keburu telat!" ucap Wildan dengan mengacak rambut istrinya.
"Tunggu sebentar, ya, Bang! " pinta Nilla kemudian berjinjit mencium pipi suaminya sebelum dia berlari masuk ke dalam kamar mandi.
"Katanya dapat pahala." teriak Nilla sebelum menutup pintu.
Wildan hanya tersenyum melihat sikap manja istrinya. Sifat jutek sekaligus manja itu yang membuat Wildan semakin menyayanginya.
###
Mentari pagi yang sudah terlihat cerah bersinar. Tapi, Kyara masih enggan keluar kamar. Hari ini tidak ada acara sidang, hari ini hanya akan pergi ke kantor Hans. Itupun nanti sore saat jam kantor hampir selesai.
"Tok.. tok... tok. "
"Iya , masuk! " teriak Kyara saat mendengar pintu kamarnya di ketuk.
Terlihat Indrawan berjalan mendekati ke arah putrinya yang masih berada di bawah selimut.
"Ra, sebentar lagi Daniel akan menjemputmu!"
"Maksud, Papa?" Kyara terbelalak kaget saat papanya mengatakan semuanya.
"Iya, dia mencoba menghubungi ponselmu tapi tidak aktif. Siang nanti ada peresmian rumah sakit milik keluarga besarnya. Dia ingin kamu menemaninya datang ke acara itu." Jelas Pak Indrawan, Kyara langsung meraih ponselnya. Dia memang sengaja mematikan ponselnya sebelum tidur.
"Papa harap kamu tidak mengecewakan Papa, karena Papa sudah memastikan kepada Daniel jika kamu akan ikut ke acaranya."
"Tapi... " Belum juga Kyara menanggapi kalimat papanya, Pak Indrawan sudah berjalan keluar kamar terlebih dahulu.
"Papa.... " keluh Kyara.
Gadis itu tertunduk lesu. Dia mengerti jika dokter Daniel menaruh perhatian padanya, Tapi hati kecilnya masih tertuju pada Rey.
Sudah setengah tahun lebih jarak dan waktu memisahkan mereka. Kyara, juga tidak ingin berharap lebih pada lelaki sudah menghilang dari hidupnya. Tapi, untuk menerima dokter Daniel sebagai seseorang yang special Kyara masih belum bisa. Kyara memang tergolong gadis yang cukup idealis untuk menentukan perasaannya.
__ADS_1