Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Mengenal Posisi Sendiri


__ADS_3

Zoya buru buru melipat sajadah, seusai Salat Subuh. Bisa dikatakan dia bangun kesiangan, padahal hari ini pertama kali Hans kembali ke kantor setelah mengambil cuti dua hari. Tangannya menggelung rambut panjangnya dan segera dia menyambar jilbab instan yang sempat disampirkan di atas ranjang Ale. Ya, setelah malam pertama di rumah mewah ini, Zoya memilih untuk tidur bersama Ale.


Dengan langkah cepat, Zoya berjalan menuju kamar yang berhadapan dengan kamar Ale, yaitu kamar Hans. Tangannya memutar handle pintu begitu saja. Deg...dia tersentak kaget, seketika jantungnya berdetak lebih cepat. Sebuah pemandangan yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Hans keluar dari kamar mandi, terlihat tubuh kekar atletis itu hanya berbalut dengan handuk di pinggangnya. Tangan besar Hans terhenti mengusap rambut basahnya dengan handuk, saat melihat kedatangan Zoya yang tiba tiba.


Langkah Zoya sempat terhenti. Meskipun begitu, dia kembali melangkah untuk menutupi segala kegusarannya. Tapi apa kabar dengan wajah yang sudah merona? Ya, sedikit pun itu tidak bisa di sembunyikan oleh Zoya.


Bisa terlihat jelas oleh Hans, wajah putih itu bersemu merah, apalagi pandangannya seketika tertunduk, menggambarkan jika saat ini Zoya sudah salah tingkah.


Melihat Zoya yang melewatinya begitu saja, Hans malah mengikutinya dari belakang. Sekali lagi, lelaki dewasa itu membuat Zoya semakin gugup. Ntahlah, sebenarnya tidak ada alasan yang membuat Zoya gugup dan salah tingkah, tapi seperti itulah yang dirasanya.


"Kamu mau ngapain?" tanya Hans seketika menghentikan langkah Zoya dan gadis berkerudung itu pun menoleh ke arah Hans yang berdiri tepat di belakangnya.


Jika saja Hans tidak segera menghentikan langkahnya, bisa saja tubuh tinggi besar itu menubruk tubuh mungil Zoya.


"Aku akan mengambilkan baju kerjamu, Mas! " ujar Zoya, Hans tidak menyangka gadis belia itu sudah mengerti tanggung jawab seorang istri. Padahal sebelumnya, sedikit pun dia tidak berharap untuk dilayani.


Saat tangan zoya menyerahkan kaos dan kemeja, Hans langsung memakainya. Zoya kembali menatap Hans saat akan mengambil celana panjang dan ****** *****, rasanya tangannya tak tega menyentuh benda keramat itu.


"Kenapa?" tanya pemilik sorot mata tajam tersebut, sambil menunggu barang selanjutnya yang akan diserahkan Zoya, Hans mengernyitkan dahi, merasa heran dengan apa yang sedang dipikirkan Zoya ketika sedang tertegun.


"Aku akan keluar dulu, Mas!" Zoya menyerahkan dua benda itu, dan bergegas keluar meninggalkan Hans. Mata Hans hanya mengekor kemana perginya Zoya dengan tingkah yang aneh. Kemudian, melihat apa yang ada di tangannya membuat lelaki itu hanya tersenyum tipis.


Setelah rapi dengan setelan kemejanya, Hans kembali berjalan keluar dari walk in closet menuju meja rias. Dia menambahkan pomade di rambutnya dan kemudian menyisir rambut cepak itu dengan berlahan. Pria itu masih tetep terlihat tampan dan segar, meski sudah menginjak kepala tiga. Ditatapnya Zoya dari pantulan cermin, gadis itu sedang membungkuk merapikan tempat tidurnya.


Apa yang seharusnya dia katakan dan lakukan? pertanyaan itu yang memburu dalam otak Hans setiap kali berdekatan dengan Zoya.

__ADS_1


Gila...


Mungkin ini hal tergila dalam hidupnya. Pria dewasa seperti dirinya masih bingung untuk bersikap, saat berdekatan dengan seorang gadis belia. Tapi, itulah kenyataannya.


Sebenarnya dia ingin bertanya, kenapa Zoya tidak tidur di kamar? Tapi menurut satu sisi pemikirannya itu tidaklah penting. Bukankah dia sendiri belum bisa menerima pernikahan ini sepenuhnya.


Setelah selesai membereskan tempat tidur, Zoya membalikkan tubuhnya, bermaksud mengambil cucian kotor di kamar mandi. Sejenak Zoya tertegun saat pandangannya menangkap sosok di depannya. Lelaki bertubuh atletis, dengan gurat garis wajah yang begitu tampan dan aura kharismatik yang terpancar sempat membuat decak kagum gadis yang saat ini terlihat canggung.


"Mama...! " panggil Ale memudarkan kecanggungan diantara sepasang suami istri itu. Ale berlari menghambur ke arah Zoya, memeluk tubuh kecil Zoya yang saat ini berjongkok mensejajarkan diri dengannya.


"Sebentar ya... Mama mau ambil baju kotor yang akan dicuci! " ujar Zoya setelah menghujani Ale dengan ciuman di pipi gembul itu.


Bocah gembul itu pun beralih pada Hans yang saat ini menangkap tubuh putrinya untuk di gendong.


"Papa, Ale sudah hafal doa mau makan, doa mau tidul, doa untuk kedua olang tua, bolehkah Ale meminta hadiah?" tanya Ale membuat Hans tersenyum ke arahnya.


"Baiklah...lusa, saat weekend kita akan pergi ke mall!" jawab Hans dengan mencium pipi Ale, pria itu sangat senang, Zoya membawa kemajuan untuk putri kesayangannya itu.


"Zoya...!" panggil Hans sedikit ragu, saat Zoya membawa keranjang baju kotor dari kamar mandinya.


"Iya... "


"Kamu di sini bukan pembantu, ada Bi Muna yang akan melakukan perkerjaan rumah tangga." mendengar ucapan Hans, Zoya hanya tersenyum. Senyum yang selalu menaburkan pesona bagi yang melihatnya.


"Tidak apa, Mas! Aku biasa melakukannya. " Zoya hanya ingin melakukan kewajibannya sebatas yang dia mampu.

__ADS_1


Mereka berjalan bersama untuk turun ke lantai bawah, Zoya masih membawa keranjang baju kotor sementara Hans Masih menggendong Ale yang belum mandi. Jika di lihat dari sisi luar saja, mereka sudah cocok sebagai keluarga yang harmonis.


Hans sendiri belum tahu bagaimana bersikap terhadap Zoya, satu sisi gadis itu istrinya, satu sisi dia belum bisa menerima Zoya sepenuhnya.


Hans mengambil ponsel untuk berita terbaru dan menikmati kopi pagi yang baru dibawakan Zoya, sementara Zoya kini harus memandikan Ale sebelum mereka sarapan bersama.


Sesekali Hans melirik interaksi antara anak dan ibu sambung itu saat sarapan, Zoya dengan sabar menyuapi Ale, Hans pun mengakui sejak kehadiran Zoya, Ale berubah menjadi anak yang lebih teratur dan penurut.


"Ale, salim sama Papa! " pinta Zoya yang kemudian dituruti oleh Ale. Bukan hanya Ale, Zoya pun memberanikan diri mengambil punggung tangan lelaki di depannya untuk salim. Masih dengan kecanggungan yang sama antara keduanya.


"Mmmmm... Aku akan pulang sore, Bisakah memasak menu seperti kemarin?" ujar Hans, dia memang menyukai sayur asem, udang saus tiram dan tempe mendoan buatan Zoya.


"Tentu saja, Mas! " jawab Zoya. Lambaian dua orang itu mengiringi kepergian Hans saat berangkat kerja.


Han's Pov


Aku memperhatikanmu sejak kamu datang dalam kehidupanku. Bukan karena aku tertarik dan menamai itu cinta. Aku hanya mengamati dengan siapa aku tinggal? Apa dengan seseorang yang pantas untuk menjadi bagian dari lingkungan kehidupanku atau tidak. Tapi, ternyata kamu adalah gadis belia yang mampu memberi Ale kasih sayang dan membawa banyak hal positif pada diri Ale.


Jujur aku sering bingung bagaimana aku harus bersikap terhadapmu. Apa mungkin itu cinta?


Aku yakin itu bukan cinta dan aku yakin itu tidaklah mungkin. Aku cukup dewasa untuk mengenali perasaan itu. Aku hanya bingung bagaimana aku tidak menyakitimu dan bagaimana aku tidak memberimu banyak harapan.


Mungkin kamu tidak seistimewa Renita. Tapi, aku merasakan kamu memperlakukanku dengan istimewa. Selama pernikahanku dengan Renita, aku selalu mengambil makanan sendiri, memilih baju sendiri saat akan ke kantor dan terkadang Renita berangkat kerja terlebih dahulu. Aku bisa mengerti itu, karena Renita adalah wanita aktif yang tidak senang berkutat di rumah saja.


Tidak ada maksudku membanding kalian, kalian punya clue masing masing. Tapi, aku sendiri terjebak dengan situasi ini hingga aku harus mengenali posisi sendiri.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2