Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Pertengkaran Hebat(Extra Part)


__ADS_3

"May duduk saja di depan Ummi." titah Ummi Maryam. Duduk di depan beliau, itu berarti duduk di sebelah putranya. Nilla hanya menatap Mayra yang mengikuti titah Ummi Maryam. Rahangnya mengeras tatapannya menghunus tajam menatap Wildan, tapi Wildan hanya mengedipkan mata pada istrinya membuat jantung Nilla serasa ingin meledak seketika karena menahan emosi.


Selama makan malam Nilla hanya terdiam, meskipun begitu dia terus saja melirik Mayra dan suaminya yang terus saja mengobrol. Memang yang dibahas tentang hal seputaran edukasi, tentang buku buku yang mereka sukai dan kadang Mayra bertanya tentang sistem pendidikan di Cairo.


Nilla hanya mengaduk aduk nasinya. Dia rasanya sudah tidak berselera untuk menghabiskan makan malamnya.


"Kalau makan pada dihabiskan. Nggak bagus membuang makanan." ucap Ummi saat mengakhiri makan malamnya. Nilla tahu jika mertuanya sedang menyindirnya. Tapi, dia sudah terlanjur tidak peduli meski rasanya sindiran itu terdengar tidak enak di telinganya.


Nilla membereskan meja setelah makan malam. Moodnya yang kurang baik membuat Nilla meninggalkan cucian piring di dapur. Selain itu, dia juga merasa lelah. Rasanya ingin sekali dia menangis, tapi masih ditahannya.


"Apa setiap hari seperti ini pekerjaan istrimu? Tidak pernah mencuci piring setelah makan malam?" Nilla sempat mendengar ucapan mertuanya sebelum masuk ke dalam kamar.


"Mungkin, Nilla lelah Ummi." jawab Wildan. Sementara itu Ummi Maryam bangkit dengan tujuan untuk mencuci piring.


"Biar Mayra, Ummi." ujar Mayra merasa tidak enak saat Ummi Maryam akan mencuci piring.


"Kamu istirahat saja, Ning. Kamu juga harus mempersiapkan diri untuk besok." jawab Ummi Maryam saat Mayra menghampirinya di dekat tempat cucian piring.


Wildan yang merasa tidak enak dengan mereka pun bangkit, " Biar Wildan saja, Ummi." jawab lelaki itu.


"Sebaiknya, Ummi dan Ning Mayra istirahat. Jangan membuat aku malu sebagai tuan rumah." Wildan menelangkupkan kedua tangannya di depan dada. Hal itu membuat Mayra tersenyum ke arah lelaki itu. Gadis itu mengagumi lelaki yang kini berdiri di depannya. Beberapa kali berbincang membuat Mayra yakin Wildan memang lelaki yang lembut dan berwawasan.


Kalimat Wildan berhasil membuat Mayra dan Ummi masuk ke dalam kamar. Sementara Wildan memang membereskan dapur dan cucian piring. Seusai dapur bersih, dia segera masuk ke kamar mencari istrinya.


Terlihat Nilla berdiri di dekat jendela dengan kedua tangan memegang teralis. Pikirannya berkecamuk antara marah dan sedih.


"Nil, bukan seperti itu caranya. Abang, tahu kamu marah. Tapi, sikap kamu tidak sopan terhadap Ummi." ucap Wildan menghampiri Nilla.


"Terus aku harus bagaimana? Melihat kalian berbagi tawa. Abang tidak tahu perasaanku." jawab Nilla saat membalikkan badan, menghadap ke arah suaminya.


"Mereka tamu kita, Nil. Sudah seharusnya kita memperlakukan mereka dengan baik." jawab Wildan.


"Kenapa tidak menginap di hotel saja? Mereka akan mendapatkan pelayanan yang cukup bagus." sela Nilla dengan masa bodoh.


"Beliau Ummiku, beliau orang tuaku, Nil!" sahut Wildan dengan suara meninggi.

__ADS_1


"Orang tua macam apa membawa gadis lain untuk masuk ke dalam rumah tangga anaknya? Kalian tahu agam ...."


"Nilla... " bentak Wildan dengan mengangkat satu tangannya. Hampir saja dia menampar istrinya, hingga kemudian dia gunakan tangannya itu untuk mengusap wajahnya dengan kasar.


"Pukul saja!" tantang Nilla dengan air mata yang terus menetes diantara tatapannya yang nyalang ke arah suaminya. Hatinya terasa diremas saat bentakkan itu menggema di telinganya, apalagi saat Wildan yang hampir saja menamparnya membuat hatinya serasa ditusuk dengan ribuan belati.


Saat mata yang sudah di penuhi dengan air itu menatapnya penuh dengan rasa marah, membuat Wildan merasa bersalah. Dia tidak bermaksud berlaku kasar pada istrinya. Tapi, Nilla yang terus saja bicara buruk tentang umminya membuat emosinya semakin membuncah.


"Maafkan aku, Nil." ucap Wildan saat tangannya akan menyentuh wajah istrinya. Tapi, tangan kecil Nilla dengan gesit menepisnya.


"Jangan menyentuhku!" tolak Nilla, kemudian dia berbalik menghadap jendela, tangannya bertumpu pada teralis. Tangisnya meledak seketika itu. Sungguh, dia merasa ini sangat menyakitkan.


"Ceraikan aku! Kamu bisa memilih wanita yang bisa memberimu anak, Bang." Dia berhasil menghentikan isakannya tapi tidak dengan air mata yang terus saja menetes.


"Nil, bukan seperti itu..."


"Jangan menyentuhku!" pekik Nilla kembali memperingatkan, saat Wildan mencoba menyentuh bahunya. Emosinya masih berapi api. Wildan hanya bisa menjatuhkan tangannya dengan lemah, menatap nanar istrinya yang menangis diantara rasa marahnya.


Wildan terus saja menatap istrinya dari belakang. Dia salah, seharusnya dia mengerti karakter Nilla yang keras. Dia akan semakin melawan saat mendapatkan perlakuan keras. Tapi, saat mengambil hatinya dengan lembut, Nilla akan cepat luluh.


Sepanjang malam, keduanya tidak bisa tidur karena perasaan masing masing. Rasa bersalah Wildan pada istrinya, membuat lelaki itu beberapa kali menengok ke arah istrinya. Sementara Nilla masih menangis, hatinya masih terasa sakit. Ini pertama kalinya Wildan membentaknya. Bahkan, dia berfikir lebih jauh tentang apa yang akan dia lakukan jika pernikahan mereka harus berakhir.


###


Zoya meminta Aini, untuk membantunya berjalan menuruni undakan yang akan dilaluinya untuk meninggalkan kantor administrasi. Zoya baru saja selesai menyelesaikan administrasi izin cuti, meski rasanya sayang sekali tapi ketegasan Hans kali ini tidak bisa di goyahkan lagi dengan rayuannya.


"Bisakah, kita bicara berdua sebentar?" suara itu cukup mengejutkan Zoya. Zuri kini sudah berdiri di dekatnya.


"Tentang apa?" tanya Zoya.


"Masalah kemarin." jawab Zuri masih dengan tersenyum.


"Baiklah kita bicara di kantin." ucap Zoya, tapi tangan Aini mencoba menahannya. Sedari tadi Aini memperhatikan penampilan Zuri yang **** dengan rambut dicat coklat. Zoya yang mengerti kekhawatiran temannya pun mengedipkan matanya mengisyaratkan semua akan baik baik saja.


Dua perempuan yang duduk saling berhadapan itu pun terdiam sejenak. Hingga akhirnya Zuri bicara.

__ADS_1


"Maafkan aku atas kejadian kemarin!" ucap Zuri memecahkan keheningan diantara keduanya. Tapi, Zoya masih terdiam menatap gadis yang mengalihkan pandangannya setiap kali kepergok menatap Zoya.


"Dan terima kasih, masih peduli dengan perasaanku." lanjutnya saat tak mendapatkan reaksi dari Zoya.


"Aku tidak peduli denganmu! Aku hanya peduli perasaan seorang perempuan." jawab Zoya, kali ini Zuri menatap perempuan mungil yang kecantikannya membuatnya berdecak kagum dalam hati.


"Apapun itu terima kasih."


Mereka terdiam, Zoya sendiri tidak tahu apa yang akan harus dia katakan pada gadis itu.


"Aku harap tidak ada kejadian seperti ini lagi! Harga diri itu adalah sesuatu kemuliaan yang tak ternilai pada diri manusia. Sangat disayangkan jika seseorang menukarnya hanya demi uang atau sekedar kepuasan."


"Aku tidak menasehatimu! Aku juga belum bisa menjadi seseorang yang baik. Tapi setidaknya kalimat itu bisa menguatkan prinsipku sendiri." ucap Zoya dengan tatapan menerawang menatap ke jalan. Memang benar kalimat itu memang tidak hanya dia tujukan pada gadis yang saat ini menatapnya dalam. Tapi, untuk selalu menjadi prinsip apapun yang terjadi dalam hidupnya.


"Kamu memang tidak hanya cantik, hatimu juga baik. Pantas saja jika Pak Hans begitu mencintaimu!" ucap Zuri, uluran tangannya yang menggenggam tangan Zoya membuat Zoya menoleh ke arahnya. Mata Zuri mengembun, dia merasa semakin buruk. Apa yang dia andalkan jika harga diri sudah dia gadaikan. Iya, hatinya lebih menangis dari pada air mata yang mengumpul di pelupuk matanya.


"Cantik bukan takaran membuat orang bisa tulus cinta, Mbak." Suara Zoya yang datar kini mulai terdengar lembut. Dia merasa iba saat gadis itu terlihat sedih di depannya.


"Kenyataannya, banyak mereka yang cantik tapi tidak beruntung dalam kisah cintanya." Zuri terdiam.


Saat turun dari mobilnya, Hans tidak sengaja melihat istrinya duduk dengan seorang gadis. Dia sangat mengenalnya , Zuri memang punya aura yang berbeda. Tampilannya selalu membuat dirinya terlihat berbeda.


Lelaki itu lari tunggang langgang, menghampiri istrinya. Dia takut jika Zuri akan menyakiti Zoya.


"Mau apa kamu mencari Zoya?" ucap Hans yang tiba tiba sudah berdiri di dekat Zoya. Wajahnya terlihat dingin dengan kedua tangan memegang pundak istrinya.


"Maaf Pak, aku hanya ingin berterima kasih pada istri Bapak." ucap Zuri yang berdiri saat menjawab pertanyaan Hans.


"Awas saja jika kamu melukai istri dan anakku!" Ancam Hans dengan mengarahkan jari terlunjuknya di depan wajah Zuri. dia takut Zuri menaruh dendam pada Zoya.


"Mas Hans, sudahlah. Kita hanya berbincang sejenak." Zoya menurunkan jari tangan Hans yang menunjuk ke arah Zuri.


"Kami permisi!" pamit Zoya pada Zuri, dengan sedikit memaksa Hans untuk pergi meninggalkan kantin.


Dari jauh Zuri menatap sepasang suami istri yang terlihat saling menjaga itu dari jauh. Dia tersenyum tipis menertawakan dirinya, jika saat ini berharap suatu hari ada yang bisa mencintainya seperti itu. Dia merasa tidak lebih baik dari seorang ******. Dia menyeka setitik air yang menetes dari kedua sudut matanya. Kemudian, mengambil tasnya dan pergi meninggalkan kantin bersama dengan harapan hidup yang baru. Dia sudah tidak ingin bekerja dengan orang lain. Dia akan mencoba peruntungan dengan membuka usaha sendiri.

__ADS_1


TBC


__ADS_2