
Kondisi hamil mempengaruhi Zoya dalam beraktifitas. Sudah satu bulan lebih, dia mulai aktif kuliah. Ternyata kuliah di saat hamil tidak semudah yang pernah dia bayangkan. Rasa lelah dari kampus kadang membuat dirinya tidak bisa tidur sebelum Hans memijitnya. Dan sebaliknya saat tuntutan perannya sebagian ibu dan istri tidak bisa ditunda pun membuatnya harus menahan rasa kantuk saat mengikuti kelas.
"Akhirnya jam kelas sudah selesai!" gumam Zoya, kemudian mendlosorkan tubuhnya di sebuah papan yang menempel di kursi.
"Zoy, nggak pulang?" tanya Aini, gadis yang satu kelas dengannya, bahkan tempat duduk mereka sering berdekatan.
"Sebentar, aku merasa lelah banget, A'in." jawab Zoya saat bangkit kembali. Dia baru saja membaca pesan jika Hans akan menjemputnya.
"Iya, kamu pucat, Zoy." Aini sedikit cemas saat menatap wajah putih pasi Zoya. Sedangkan, Zoya hanya tersenyum. Belum ada yang tahu jika dirinya sedang hamil. Baju longgarnya cukup bisa menutupi perutnya yang sudah mulai membuncit.
"Sebenernya, aku hamil A'in." jawab Zoya dengan tersenyum tanpa dosa, Zoya bisa melihat ekspresi terkejutnya gadis berkerudung besar di depannya itu.
"Apa, Zoy? " pekik Aini dengan suara tertahan. Gadis itu menutup mulutnya. Merasa tidak percaya jika Zoya yang terlihat kalem dan religius itu sedang hamil.
"Iya, aku sudah menikah." jelas Zoya dengan memasukkan bukunya ke dalam tas. Dia masih tersenyum karena rasa kaget Aini tidak bisa ditutupi.
"Aku kira, Zoy." ujar Aini dengan meluruhkan bahunya, kemudian tersenyum penuh kelegaan. Sebelumnya, gadis dengan gamis besar itu sudah menyangka negatif pada Zoya.
Mereka berjalan keluar kelas bersama, ruang kuliah di lantai dua membuat mereka harus menuruni tangga. Aini yang baru tahu jika Zoya hamil pun mulai berusaha menjaga setiap gerak temannya begitu juga saat turun dari tangga.
"Sebentar A'in!" ujar Zoya dengan nafas tersengal setelah mereka menuruni tangga. Sementara, itu Aini hanya tersenyum melihat reaksi ibu hamil yang kelelahan. Mereka berhenti tepat di gerombolan beberapa teman lelaki yang sedang bergerombol.
"Zoy, pulang bareng aku!" tawar Andre saat melihat Aini dan Zoya sudah berdiri di dekatnya.
"Zoya sudah ada yang jemput, Pak Ket." jawab Aini, memberi sebutan Andre dengan status ketua kelas mereka.
Dari jauh seorang lelaki dengan tubuh tinggi atletis berdiri mengedarkan pandangannya setelah keluar dari mobil mewahnya. Wajah ganteng dengan kemeja lengan panjang mencetak tubuhnya yang cukup proposional membuatnya terlihat bagaikan seorang model.
Setelah melirik, jam rolex yang melingkar di pergelangan tangannya, Hans memilih mencari Zoya ke dalam gedung fakultas Psikologi. Aura kharismatik dengan tampang coolnya selalu menarik perhatian semua orang yang melihatnya, tidak hanya kaum hawa yang mengaguminya, bahkan sosok itu selalu membuat iri kaum adam yang lain.
Zoya tersenyum. Dari jauh, dia melihat Hans berjalan ke arahnya, lelaki itu membuka kacamata saat melihat istrinya berdiri diantara teman temanya.
"Zoy, Suamimu? " tanya Ain dengan berbisik. Matanya tidak lepas dari sosok yang menimbulkan kekaguman itu.
"Iya." jawab Zoya, tapi matanya masih menyambut Hans yang sudah hampir sampai di hadapannya.
"Ganteng ya, Zoy!" Tidak dipungkiri Ain juga mengakui aura yang mempesona dari seorang Hans Satrya Jagad.
"Ganteng, tapi galak." jawab Zoya sekenanya, membuat Aini tertawa dengan menutup mulutnya.
"Sayang, sudah selesai jam kuliahnya?" tanya Hans saat berada di hadapan Zoya. Mata tajam itu tidak luput melirik segerombolan mahasiswa laki laki yang sedari tadi memperhatikan istrinya.
"Sudah, Mas."
"Oh ya, kenalkan ini Aini, teman satu kelas yang sering membantuku." Zoya memperkenalkan, Ain dengan Hans. Hans hanya tersenyum tipis saat melihat anggukan kecil Aini. Lelaki yang selalu memberi kesan datar dan dingin saat bertemu orang baru.
"Ayo, kita pulang sekarang!" ajak Hans.
__ADS_1
"Aku pulang duluan, A'in. Assalamu'alaikum" pamit Zoya saat Hans sudah merengkuh bahu kecilnya.
"Oke, Zoy! Waalaikum salam."
Hans membawa keluar Zoya dengan tangan tak lepas merangkul bahu istrinya. Dia merengkuh tubuh mungil itu penuh posesive, sedangkan Zoya sebenarnya malu karena beberapa mahasiswa menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Mungkin, karena hanya Aini yang tahu jika dia sudah menikah.
"Biarkan saja. Toh, kamu istriku!" celetuk Hans masih dengan tatapan ke depan ketika dia merasa Zoya sedang canggung. Dia memang sengaja, menunjukkan pada khalayak umum jika Zoya adalah miliknya.
Di dalam mobil, Hans masih melirik Zoya yang sedari tadi hanya terdiam. Wajah meneduhkan meski dia terlihat sedang tidak nyaman.
"Kamu kenapa diam saja?" tanya Hans, dia merasa istrinya marah.
"Aku lapar bukan marah, Mas. Padahal siang tadi aku sudah makan." jawab Zoya, dia memang lagi malas bicara kala sedang lapar. Hans tersenyum, sejak hamil kedua Zoya sering mengeluh kelaparan.
"Kamu ingin makan apa?" tawar Hans.
"Aku ingin makan bakso yang di ada di pertigaan, sebelum sampai apartemennya Mas Hans." pinta Zoya. Air liurnya langsung ingin keluar saat terlintas bakso besar berisi sambal rawit.
"Kita delivery saja ya!"
"Aku ingin makannya di sana!" tolak Zoya.
"Tapi, Zoy. Aku tidak pernah makan bakso di warung tenda kayak gitu. Lagian, aku tidak suka bakso!" ujar Hans, dia memang sangat meragukan kebersihan makanan di pinggir jalan.
"Kalau begitu, aku akan pergi sendiri." ucap Zoya dengan wajah kesal. Sejak hamil dia memang sering terlihat kesal.
"Baiklah-baiklah. kita akan ke sana!" Terpaksa lelaki itu menuruti istrinya yang sudah terlihat cemberut. Dia melihat Zoya yang berbeda. Dia punya firasat jika salah satu anaknya yang masih di perut istrinya mempunyai watak yang sama dengannya meski dia belum tahu apa jenis kelamin kedua calon anaknya.
Mercy hitam itu terparkir asal asalnya karena sempitnya lahan parkir warung bakso yang penuh dengan pengunjung.
Zoya turun terlebih dahulu dengan begitu bersemangatnya saat mengendus aroma harumnya kuah bakso.
"Zoya!" Seseorang menghentikan langkah Zoya. Reza kakak angkatannya yang mengulang salah satu mata kuliah bersamanya itu menyapanya.
"Ohhh, kak Reza!" sapa balik Zoya.
"Ehem... ehem... " Hans berdehem saat berada melihat istrinya sedang mengobrol dengan laki laki. Dia tidak lagi menyapa Zoya, tapi langsung saja nyelonong masuk ke dalam.
"Maaf, kak! Aku masuk dulu." Melihat wajah angker suaminya Zoya langsung masuk ke dalam. Dia pun menghampiri kasir, memesan tiga mangkuk bakso dan minum.
"Duch, posesif banget sih." gerutu Zoya merasa tidak enak saat dia menghampiri meja pilihan Hans.
Lelaki itu hanya melirik sebentar saat istrinya duduk di depannya. Dia kembali menatap ponselnya, membaca banyak pesan masuk.
"Mas Hans... " rengek Zoya yang merasa dicuekin.
"Hemmm... " jawab Hans tanpa menoleh sama sekali. Zoya terdiam. Dia melipat kedua tangannya di atas meja hingga menunggu pesanannya datang.
__ADS_1
"3 mangkuk bakso, dua es jeruk." ucap pelayan warung bakso saat meletakkan pesanannya. Mendengar 3 mangkuk bakso membuat Hans menatap heran pesanan didepannya kemudian berganti menatap istrinya.
"Silahkan, Mas ganteng." kelakar Zoya ingin membuat suaminya tersenyum, dia menarik satu mangkuk bakso mendekat di depannya dan mendorong satu mangkok ke depan Hans, tapi tidak disambut oleh lelaki itu. Hans sebenarnya ingin tersenyum mendengar rayuan istrinya, tapi rasa heran dan khawatir membuatnya masih terdiam. Khawatir, Zoya akan memintanya menghabiskan semuanya jika dia sudah merasa kenyang.
"Jangan terlalu pedas, Zoy!" ucap Hans saat melihat Zoya sudah memasukkan banyak sambal ke mangkuknya. Zoya hanya menjawabnya dengan senyuman.
Hans sebenarnya tidak ingin makan bakso, dia hanya mengambil beberapa butir saja dari mangkuknya. Melihat Zoya menikmati baksonya hingga berkeringat membuatnya terheran. Lelaki itu menarik satu lembar tisu dan mengelap dagu Zoya yang terkena tetesan kuah bakso.
"Mas Hans yang menghabiskan satu mangkuk yang tersisa, ya! " pinta Zoya, dia paling senang kalau lihat suaminya menghabiskan makanan.
"Aku sudah kenyang, Zoy. Lihatlah! Aku sudah menghabiskan satu mangkuk." elak Hans. Dalam hatinya dia mengumpat dan membenarkan apa yang sudah dipikirkannya sejak tadi.
"Please, aku suapin ya, demi duo Hans junior!" tanpa menjawab persetujuan dari Hans, Zoya terus saja menyuapkan bakso di satu mangkuk terakhirnya.
Lelaki itu rasanya susah sekali menelan makanan itu karena dia terus berfikir cara meluangkan waktu untuk membakar kalori yang sudah masuk dalam tubuhnya. Apalagi melihat teman laki laki Zoya yang terlihat mencari perhatian pada istrinya, Hans pikir dia memang harus menjaga body dan penampilannya.
###
Nilla terus berjalan keluar gerbang kampus, dia bermaksud mencari angkutan umum untuk sampai di rumah. Padahal, Wildan sudah mengirim pesan untuk menunggunya di parkiran khusus mobil dosen, agar bisa pulang bersama.
Gadis yang mengenakan rok hitam dengan atasan kemeja sederhana itu terus berjalan dengan mengapit buku jurnal yang baru aja dia pinjam dari perpustakaan.
Sebuah mobil terhenti tepat di seberang jalan setelah membunyikan klakson berkali kali, tapi tidak dihiraukan oleh gadis itu.
Wildan turun dari mobil dan menyebrangi jalan yang tidak terlalu ramai. Kali ini, dia sedikit memaksa Nila. Dia menghadang langkah istrinya dan tentu itu membuat nila terhenti menatapnya dengan tajam. Lelaki berwajah teduh itu sudah hilang kesabarannya.
"Tidak baik orang yang terlalu kerasa hati, Nil!" ucap Wildan, dia mulai hilang kesabaran saat tidak dianggap oleh Nilla. Sudah sebulan lebih, mereka menikah. Tapi, Nilla hanya mendiamkannya.
"Minggir saja, kalau tidak senang!" ucap Nilla dengan tangannya mendorong bahu Wildan yang sama sekali tidak bergeming.
"Akhhh.... " pekik Nilla saat Wildan memanggulnya seperti karung besar. Wildan sudah tidak peduli jika ada orang yang melihat atau dengan pukulan tangan kecil istrinya di punggungnya.
Dia membuka pintu mobil dan mendudukkan Nilla di kursi sebelah kemudi. Mata sayunya tidak lepas menatap istrinya. Sedangkan Nilla hanya memalingkan pandangannya ke arah yang berbeda.
"Kamu istriku dan aku suamimu! Tidak sepantasnya kita bersikap seperti ini." ucap Wildan dengan memegang pintu mobil di sebelah Nila sebelum dia menutup dan mengunci dengan remot.
Lelaki tinggi dengan perawakan bidang itu, berjalan menuju kursi yang ada di balik kemudi. Tanpa bicara lagi dia melajukan mobilnya ke rumah. Dia seolah kehilangan kesabarannya yang sudah dia tahan selama ini, banyak yang harus dibicarakan tentang pernikahan mereka.
Hanya butuh waktu sepuluh menit mereka sampai di rumah. Hati Nilla, sedikit mengekerut , ini pertama kalinya dia melihat wajah Wildan yang sedang marah. Nada kalimat yang biasa lembut kini berubah menjadi sebuah ucapan lantang dan tegas.
"Masuklah terlebih dahulu!" titah Wildan saat mereka berhenti di garasi yang ada di depan rumahnya.
Nilla sendiri langsung masuk ke dalam kamar, sementara Wildan masih menutup pintu gerbang rumah minimalis mereka. Mereka memang tidak mempunyai pembantu, Wildan hanya mengundang orang untuk datang ke rumah tiga hari dalam seminggu untuk membersihkan semua ruangan. Selebihnya dia yang melakukannya. Sementara untuk urusan makan, dia lebih sering delivery jika tidak sempat untuk memasak.
Saat melihat kran di depan, Wildan memilih mengambil air wudhu untuk sedikit meredamkan emosi sebelum dia berbicara dengan istrinya. Hatinya berusaha untuk tidak meninggalkan istighfar, bagaimanapun merasa kesalnya dirinya dengan sikap keras dan membangkangnya Nilla, Wildan tidak ingin sedikit pun melukai istrinya.
TBC...
__ADS_1
Hehehe kali ini, kita ketemu di extra part. Maaf ya gaes, jika extra partnya nanti lumayan banyak karena setelah mempertimbangkan permintaan readers yang ingin tahu kelanjutan kisah Nilla dan Wildan, serta Akhir kisah Rey dan Kyara. Ternyata author mau masukin semua kisah mereka di extra part. Maaf ya kalau nanti episodenya sampai panjang 😄😄😍😍😍 lope u gaes.
happy reading, sehat selalu dan bahagia sepanjang waktu untuk bisa menikmati RCZ