
The people must be fighter dan thinker. Seseorang harus menjadi pejuang dan pemikir (Author's Motto).
Jangan pernah mengambil tindakan tanpa berfikir lebih dahulu, bisa saja itu jadi bumerang. Jangan hanya berfikir tanpa merealisasikan dengan sebuah tindakan, karena pemikiranmu akan menjadi percuma.
###
"Papa, bilang sama Mama jangan pelgi. Ale tidak mau sendili sama Oma. Oma tidak bisa buat kue, juga tidak bisa bikin bubul ayam yang enak." ucap Ale saat berada di gendongan papanya.
Mendengar kalimat putrinya, Hans merasa hatinya nyeri. Ada sebuah rasa yang tidak dia sadari, rasa yang membuat sudut hatinya merasa ngilu saat mendengar Zoya akan pergi. Tapi, dia tidak punya alasan untuk menahannya untuk tetep tinggal.
Hans menggendong Ale mendekat ke arah Zoya. Tatapannya begitu lesu menatap gadis yang sedang meletakkan remot TV di sofa. Bersamaan dengan melorotnya tubuh Ale dari gendongan, Hans juga mendudukkan tubuhnya di sebelah Zoya.
"Sayang, Ale mau susu?" tanya Zoya yang berusaha menghindar dari Hans.
"Aku juga mau kopi, Zoy!" sahut Hans berusaha menetralkan keadaan. Tapi, Zoya hanya mengangguk ketika menanggapi Hans.
Zoya pun turun menuju ke dapur. Sementara, Hans kini bermain kuda -kudaan dengan Ale. Dia mengerti Zoya sedang menghindarinya, tapi dia juga tidak tahu apa yang mesti dia lakukan selain membiarkannya berlalu begitu saja.
Zoya menuruni tangga menuju dapur. Jarak diantara mereka semakin ketara. Apapun jawaban dan keputusan Hans, dia sudah menyiapkan segalanya, memikirkan begitu matang untuk melanjutkan hidupnya ke depan. Termasuk saat dia tidak lagi menyandang status sebagai Ny. Hans Satrya Jagad.
Zoya membawa nampan berisi satu gelas susu dan secangkir kopi, dia juga menyertakan puding cake camilan favoritnya Ale.
Zoya berusaha bersikap biasa, hanya saja matanya tidak bisa berbohong, dia sangat enggan menatap laki laki yang sedari tadi menatapnya lesu.
"Mas, kalau mau makan sudah aku siapkan di bawah!" ucap Zoya sambil menaruh nampan di meja kecil tepatnya di dekat sofa.
"Ale, minum susunya sama Papa, ya! Mama harus membereskan mainan Ale di kamar." ucap Zoya setelah mendapat anggukan dari Ale. Padahal, itu hanya alasan Zoya saja.
__ADS_1
Hans hanya terdiam, pandangannya mengekor hingga gadis mungil itu menghilang dari pengawasan matanya.
Han's Pov
Tuhan rasa apa ini? Ada yang menghilang dari keceriaan di rumahku. Sebulan lebih aku sibuk dengan urusan dan pikiranku sendiri. Dan, saat aku pulang, rumahku terasa hampa. Istriku juga berbeda, apalagi permintaan pisahnya tadi siang sempat membuatku kaget, dia seperti memberi jarak denganku. Kali ini, dia hanya menyiapkan makan untukku tanpa mau menungguiku.
Apa aku sudah terlalu menyakitinya? Tapi dia juga tahu diantara kita tidak ada cinta. Rasanya tidak mungkin aku bisa mencintainya, membayangkan saja rasanya aneh.
Tapi, saat dia memintaku melepaskannya, aku seperti tidak terima. Berani sekali dia ingin meninggalkanku, aku tau dia gadis yang tegas tapi aku yakin dia tidak akan mempunyai keberanian untuk itu, jika tidak ada dalang di balik semua ini.
Apa dia akan lari dengan laki laki lain? Jika itu alasannya aku tidak akan membiarkannya begitu saja. Aku akan menahannya dengan dalih Ale masih membutuhkannya. Tentu saja aku akan mempertahankan semua ini demi Ale. Apalagi, sesuatu yang dia proteskan hanya karena aku kurang waktu dengan Ale.
Tapi Nolla? Kedekatan kami memang terjalin. Saat di dekatnya aku seperti me-replay kembali cerita dan perasaan masa lalu yang pernah ada diantara kami. Tapi, apa Ale bisa menerima Nolla seperti dia menerima Zoya? Mungkin itu yang membuat perasaanku ke Nolla seperti ada yang mengganjal. Dia juga belum resmi bercerai dan itu yang membuatku masih berusaha menghindari Nolla juga.
Aku akan berusaha mencerna perasaanku dengan baik, tidak seperti saat aku menerima Renita. Ada rasa bersalah dalam diriku, besarnya cinta Renita terhadapku tidak terbalas dengan perasaan yang sama besarnya dariku, karena itulah aku sangat sulit menerima perempuan lain dalam hidupku. Dulu, kami (Aku dan Renita) adalah pasangan yang cukup serasi bagi setiap orang yang melihat hubungan kami. Saat itu, tidak ada alasan bagiku menolak cinta dari perempuan secantik dan sepintar Renita. Meski terkadang aku masih mengingat Nolla. Hal itulah yang membuat aku ingin mengenali perasaanku yang sebenarnya.
Sejak dari tadi, Zoya tidak keluar kamar, hingga akhirnya Hans menggendong dan membawa masuk Ale yang sudah tertidur.
Zoya terkaget saat Hans membuka pintu kamar Ale. Dia langsung meletakkan buku bersampul kuning yang belum selesai dia baca sejak Wildan memberikan padanya.
"Dia belum pipis, nanti bangunkan dia untuk pipis!" ucap Hans dengan melirik buku di samping Zoya.
"Iya, Mas! " Zoya hanya menjawab singkat. Kemudian, Hans keluar dengan menutup kembali pintu kamar Ale.
Zoya memejamkan matanya, hatinya kembali merasa bersedih saat dia menyadari semua akan berakhir.
"Maafkan Mama, jika nanti kita tidak bisa bermain bersama. Mama tidak sekuat itu, Sayang! " ucap Zoya dengan mencium kening Ale. Dia pun merebahkan tubuh di samping Ale.
__ADS_1
###
Zoya hanya mengirim pesan untuk Hans, jika Ale di jemput Mama Shanti karena Mbak Niar datang dari bandung. Sementara, dia akan bertemu Nilla di sebuah kafe di jln. TMH, karena itu juga Mama Shanti membawa Ale. Beliau sengaja membiarkan Zoya untuk meluaskan pergaulan.
Siang ini, Zoya bersama Nilla dan Hesti teman Nilla satu kelas pergi ke sebuah cafe untuk mencari tempat mengobrol yang nyaman. Setelah menyelesaikan kelas perkuliahan, kedua mahasiswi itu mencuri waktu untuk bisa bertemu Zoya sebelum kembali ke pondok. Di sana nanti juga ada wildan, yang katanya datang terlambat karena harus menunggu temannya.
Zoya melirik jam di pergelangan tangannya, pukul satu, ketiga gadis itu memasuki kafe yang lumayan ramai pengunjung. Mereka memilih meja di dekat jendela yang ada banyak kursi agar mereka bisa berkumpul menjadi satu.
Nilla yang memesankan minum untuk mereka, Itu pun sudah konfirmasi sama Wildan kalau nanti Wildan yang harus membayarnya. Maklum, mahasiswa selalu mengatur keuangan dengan baik, sedangkan Zoya sudah menyerahkan ATM-nya pada Hans.
"Zoy, apa suamimu tidak marah kamu mencari kerja? " tanya Nilla yang belum tahu cerita apapun tentang Zoya.
Tapi belum sempat menjawab, Zoya di buat kaget saat sepasang orang yang sangat dia kenal memasuki kafe. Hans bersama Naura berjalan menuju meja yang tidak jauh dari posisi ketiga gadis tersebut.
Hans pun tidak kalah kaget, bahkan dia dibuat salah tingkah saat sorot mata sendu itu menatapnya tajam. Begitupun Naura, seolah dia senang, Zoya melihat mereka bersama.
"Zoy, itu kan suamimu? " tanya Nilla saat melihat Hans bersama perempuan seksi.
"Iya, Mas Hans bertemu kliennya. " jawab Zoya lirih, meskipun hatinya merasa sakit dengan pemandangan itu.
"Ohhh.... " Nilla hanya meng 'Oh'kan saja, meski tidak percaya sepenuhnya. Sudah biasa bagi Nilla dengan sifat Zoya yang menutup diri dari permasalahan.
Di dalam kafe, mereka sibuk dengan acara masing masing hingga datang dua laki laki menghampiri mereka, Wildan dan temannya.
"Assalamualaikum." sapa kedua laki laki itu. Seketika itu pula , Hans menoleh ke arah meja sumber suara yang tidak jauh darinya. Betapa bergemuruh hatinya. Bahkan, wajahnya kini merah padam saat matanya melihat Wildan menghampiri meja Zoya dan kedua temannya.
Bersambung.....
__ADS_1
jangan ikutan emosi karena di gantung ya hahahahahaha