
Di dalam mobil saat mereka melakukan perjalanan pulang. Beberapa kali lirikan mata Hans tertangkap basah oleh Zoya. Zoya sendiri malah tertawa melihat kelakuan suaminya. Tidak biasanya Mas Hansnya itu membuatnya baper.
"Kelihatan sekali habis terjadi sesuatu." Akhirnya suara Zoya memecahkan keheningan diantar mereka.
"He he he... Kamu sekarang pintar, Zoy." sambung Hans dengan mencubit dagu istrinya.
"Mas Hans.... Lihat jalan!" Zoya kembali memperingatkan, saat Hans menoleh ke arahnya dalam keadaan jalan di depan mulai terlihat ramai.
"Di sekolahin lagi sama suami dan mertua tujuannya juga biar tambah pinter." lanjut Zoya lagi. Beberapa sisi dari diri Zoya memang sudah berubah.
"Ha ha ha. " Hans seketika tergelak. Terkadang jawaban Zoya memang membuatnya terheran. Seperti bukan Zoya, meskipun irama dalam kalimatnya masih terdengar lemah lembut.
"Dulu, di kampung kalau ada anak perempuan yang kuliah dan dia selalu di cibir. Katanya buat apa perempuan sekolah tinggi tinggi nanti juga ujung ujungnya di dapur." Zoya masih bercerita dengan tatapan menerawang mengingat cibiran orang-orang di kampungnya terhadap anak gadis yang kuliah. Bagi sebagian orang kampung, setelah kuliah harus menjadi pegawai. Jika tidak, menurut mereka itu adalah sebuah kerugian.
"Terus... " sela Hans yang ingin mengetahui sejauh mana pemikiran istrinya.
"Bukankah, kuliah itu mencari ilmu? Bukan mencari duit atau pekerjaan. Aneh saja, jika setelah kuliah tuntutan mereka, hanya seputaran menjadi apa?"
"Dimodalin dikit saja, kamu udah pinter, ya. Hahaha." Hans kembali tertawa. Tangannya menjulur menggenggam tangan istrinya. Dia yakin Zoya akan menjadi seorang ibu yang cukup bijak untuk anak anaknya kelak. Saat ini saja Istrinya sudah membuat dia nyaman untuk sekedar bertukar pikiran. Berbeda dengan sosok yang pertama dia lihat. Zoya hanya seorang gadis lugu yang pemalu.
"Tapi sayang, kamu juga bertambah cerewet." lanjut Hans dengan mencubit gemas pipi Zoya.
Mercy hitam itu membelok di rumah yang berdiri gagah diantara jajaran rumah yang ada di komplek.
"Mama...! " teriak Ale saat melihat Zoya membuka pintu utama. Bocah itu langsung menghambur memeluk Zoya Hingga Zoya menghentikan langkahnya karena takut terjatuh.
"Mbul, hati-hati. Mama bawa dua calon adikmu." ucap Hans dengan mengacak rambut putrinya dan melewatinya.
"Hae dua adiknya kakak, apa kabar hari ini?" tanya Ale dengan mencium perut Mamanya.
__ADS_1
"Ma, Ale juga ingin ikut kuliah Mama sama seperti duo junior di perut mama." pinta Ale, dia juga ingin tahu seperti apa sekolahnya orang dewasa.
"Junior? " tanya Zoya sambil membawa Ale berjalan menuju ruang tengah.
"Kan, Papa sering bilang Hans junior? "jawab Ale masih berjalan dengan menggenggam tangan mamanya.
Zoya meletakkan tasnya di sofa, kemudian dia duduk selonjoran di karpet di susul Ale. Bocah itu langsung bergelendotan di tubuh kecil mamanya. Sesekali, dia mendaratkan ciuman pada dua adiknya yang masih di perut. Seperti melampiaskan rasa kangennya karena tidak bertemu Zoya seharian.
"Hae dua adiknya Kak Ale. Kalian mirip siapa? Papa, Mama atau Kakak?"
"Mirip Kak Ale saja ya. Kak Ale kan cantik." Ale masih bicara dengan adiknya yang ada di dalam perut. Telinganya yang dia hadapkan ke arah perut mamanya menuntut untuk mendengar jawaban dari dua adiknya.
"Mirip Papa semua." sahut Hans yang muncul dari dapur. Dia memang berharap anaknya laki laki.
"Zoy, mau?" tanya Hans membawa Dua telur rebus dan beberapa potong apel dan jeruk, lengkap juga dengan segelas air putih di atas nampan. Dia sengaja membawakan itu untuk Zoya.
"Aku juga mau, Pa?" Bocah itu yang langsung menyambut kehadiran papanya yang ikut duduk di bawah.
"Aku lihat kamu capek dan lemes. Paling lapar kan? " tanya Hans dengan menyuapkan sepotong apel ke mulut Zoya.
"Papa, Mama disuapin Ale tidak." protes Ale dengan wajah cemberut ke arah Papanya.
"Oh sini sayangnya Papa, sini Papa suapi!" goda Hans dengan melambaikan tangan agar bocah gembul itu mendekat. Ale melangkahi kaki mamanya selanjoran untuk menghambur ke arah papanya yang sudah siap menangkapnya.
Zoya hanya senyum senyum saat melihat dua orang itu akur. Bahkan, dia berharap jika si kembar lahir, suaminya bisa membagi cintanya dengan adil.
Hans memangku putrinya dan menyuapkan sepotong demi sepotong buah yang baru saja dia bawa.
"Zoya, kuning telurnya jangan di makan ya!" pinta Hans. Saat melihat perut Zoya yang sudah terlihat besar, Hans mulai sering mengingatkan untuk mengatur asupan yang di makan istrinya.
__ADS_1
Sebenarnya saat sampai di rumah Hans ingin membicarakan tentang Zuri pada istrinya. Tapi, dia mengurungkan niatnya saat melihat Zoya sedang melepas rasa lelahnya. Selain itu juga masih ada Ale yang masih yang ingin menghabiskan waktu bersama . Hans tidak ingin merusak kebersamaan mereka dengan urusan kantor.
###
"Bang, apa Abang tidak ingin pulang untuk menjenguk Abah dan Ummi? " Nilla mulai mengingatkan Wildan. Ummi pernah berpesan kepada mereka, jika ada libur untuk menyempatkan pulang sejenak.
"Jumat dan Sabtu depan ada hari libur, Bang!" ucap Nilla saat meletakkan jahe hangat untuk suaminya di meja kecil di tempat mereka menghabiskan waktu luang. Wildan menarik lengan Nilla untuk duduk di dekatnya di atas busa tipis, di bawah sofa yang ada di dekat kolam ikan mereka menghabiskan waktu luang bersama.
"Kamu ingin pulang?" Wildan balik bertanya pada istrinya dengan meletakkan buku yang baru saja dia baca. Jika Nilla ingin pulang, mungkin dia akan memilih untuk menginap di tempat orang tua Nilla.
"Aku ada banyak tugas, Bang. Lagian sebentar lagi aku praktikum." Nilla memang selalu fokus dengan kuliah, cita-citanya tidak muluk-muluk. Dia hanya ingin menjadi seorang guru.
"Kalau begitu Abang akan menemani kamu di sini. Abang tidak tega ninggalin kamu sendiri di rumah." Wildan merengkuh tubuh kecil di dekatnya. Tangannya menarik baru Nilla untuk bersandar di tubuhnya.
"Aku tidak ingin hubungan Abang dengan keluarga besar menjauh hanya karena aku. " ujar Nilla yang sudah merasa Wildan menjauh dari keluarga besarnya. Tidak hanya Nilla, Wildan juga tahu jika keluarganya belum bisa menerima istrinya dengan sepenuh hati.
"Bukan menjauh, Cantiknya abang. Tapi, Abang hanya memilih waktu yang tepat." ujar Wildan kemudian mencium puncak kepala istrinya. Dia tidak ingin Nilla merasa berkecil hati.
Wildan memang sengaja memberi jarak keluarga kecilnya dengan keluarga besarnya. Dia belum siap saja jika terjadi sesuatu yang bisa saling menyinggung. Mereka adalah bagian dari dirinya khususnya Ummi dan istrinya.
Lelaki itu kembali teringat tuntutan Ummi untuk secepatnya memberi momongan. Tapi, Wildan sendiri merasa pernikahannya masih seumur jagung, mereka masih menikmati kedekatan mereka. Lagi pula, Nilla adalah pilihannya bahkan sekarang sudah menjadi tanggung jawabnya. Dia tidak akan membiarkan istrinya itu bersedih.
Bagaimana dengan Ummi?
Bagaimana pun Ummi Maryam adalah ibunya. Orang nomer satu dalam hidupnya. Meskipun menurutnya pemikiran Ummi maryam kurang tepat. Tapi, dia harus mencari cara yang baik dan tepat untuk menolak arah pemikiran Umminya itu.
"Aku mencintaimu, Nil. Kebahagianmu nantinya juga akan aku pertanggung jawabkan pada Allah. Doakan Abang agar selalu diberi petunjuk." kalimat Wildan yang tiba-tiba membuat Nilla tertengadah menatap wajah gantengnya. Hatinya terasa dihujani ribuan bunga yang berwarna warni. Kata kata itu terdengar menyejukkan hingga di relung hatinya.
Nilla memeluk tubuh bidang itu, dia menyandarkan kepalanya seolah hanya suaminya tempat yang tepat untuk bersandar dan berbagi.
__ADS_1
TBC