Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Serasa Bulan Madu


__ADS_3

"Sebentar, kita belum Salat Isya! " Zoya menahan dada bidang Hans dengan kedua tangannya.


"Hmmmm...." Hans hanya bisa mendengus kesal dan seolah menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Zoya. Lelaki itu mengungkung tubuh Zoya, kedua sikunya menahan tubuh atletisnya agar tidak benar benar menindih istrinya yang sedang hamil.


"Cup..." ciumannya mendarat di rahang Zoya dan kemudian dengan malas dia bangkit. Zoya tersenyum tipis melihat raut lesu di wajah lelaki yang gagal menggagahinya.


"Nggak usah senyum-senyum, Zoy! Setelah ini kamu akan habis." ancam Hans, kemudian menghilang dari balik pintu kamar mandi.


Zoya melirik baju yang sedang dia kenakan, ternyata dia masih mengenakan daster rumahan, "Ya Allah, udah mampir kesana kemari, ternyata aku masih mengenakan daster rumahan." gumamnya dengan mengulas senyum di bibir. Padahal mau mengenakan apapun Zoya akan tetap terlihat cantik natural. hidung mungil yang lancip, bibir tipis, mata bulatnya yang lengkap dengan bulu lentiknya dan pipi yang sedikit cabi membuat kecantikan yang paripurna untuk dinikmati.


Sambil menunggu suaminya mengambil wudhu, Zoya mempersiapkan mukena dan baju koko untuk Hans.


Ketika melihat Hans yang sudah keluar dari kamar mandi, Zoya pun bergegas masuk ke kamar mandi dengan membawa baju ganti yang memang sudah ada stock di lemari apartemen. Mereka menunaikan Salat Isya berjamaah. Segala doa dan ucapan rasa syukur mereka panjatkan pada Sang Maha Kuasa.


"Mas Hans." panggil Zoya dengan melipat mukena setelah mengakhiri Salat Isya.


"Mas, bagaimana ceritanya bisa seruwet ini?" tanya Zoya dengan berdiri meletakkan kembali mukenanya. Hans kemudian bangkit membuka sarung serta baju koko dan menyisakan boxer dan kaos rumahannya.


"Ya, aku tidak punya pilihan lain. Deny, satu-satunya harapanku terbebas dari warga. Tapi, keputusannya malah membuatku terkejut. Dia menyuruh kami menikah meskipun aku sudah menjelaskan jika aku sudah punya istri, saat itu aku dibuat heran sekaligus curiga oleh keputusannya." jelas Hans dengan menyandarkan tubuhnya di kepala tempat tidur.


"Iya, sih. Saat warga tidak mau tahu alasan dan penjelasanku. Aku tidak mampu berfikir lagi, suara tuntutan mereka membuatku panik. Aku pikir dengan alasan meminta ijin istri pertama, aku bisa berfikir untuk bisa menemukan jalan keluar." lanjut Hans dengan menarik pelan Zoya untuk duduk di dekatnya.


"Lalu... " Zoya masih penasaran dengan keadaan yang menimpa suaminya. Kemarin, dia sudah tidak mampu berfikir atau mendengar cerita yang sebenarnya. Hans merengkuh tubuh istrinya dan mendekapkan pada dada bidangnya. Berlahan dia kembali menceritakan situasi saat perjalanan pulang.


Flash Back


Ada sekitar dua puluhan warga yang mengiringi kepulangan Hans untuk menemui Zoya. Selain rombongan di mobil Hans atau mobil Deny. Mereka juga memutuskan pernikahan Arum dan Hans untuk dilaksakan di kediaman Hans. Mereka tidak ingin membuang banyak waktu lagi.

__ADS_1


Beberapa kali Hans menghela nafas panjang. Raut wajahnya terlihat cemas. Kemudian, dia mengusulkan sesuatu pada Kepala Desa.


"Aku ingin gadis itu di visum. Biar jelas, kami tidak melakukan Zina." ujar Hans mencoba mencari jalan keluar lagi.


"Jika sudah seperti tadi, warga tidak akan pernah mau tahu dengan alasan apapun. Mereka berfikir sebelum terjadi harus di kawinkan. Di mata warga kalian mendekati Zina. Apalagi Arum terlihat akrab saat memanggil nama Anda. Bahkan, sedari tadi dia memegangi tangan anda." jelas pak lurah. Arum yang masih pobia dengan petir dan geledek, ditambah amukan warga yang cukup histeris membuatnya mencengkeram lengan Hans sepanjang arak-arakan dari tempat kejadian menuju balai desa.


"Sebenarnya ketika menikahkan kalian karena terpaksa dengan mengancam nyawa seperti tuntutan warga pada kalian untuk di rajam, itu pun juga tidak boleh. Kecuali, kalian memang sudah melakukan Zina itu malah wajib untuk di nikahkan. Apa sebaiknya kalian menikah dengan kesepakatan waktu? " tutur Pak Ustad.


"Maksudnya?" Hans kembali bertanya.


"Ya sebelum anda mengucapkan ijab kabul, anda harus melakukan kesepakatan dengan Mas Deny. Jika pernikahan anda dengan Arum dibatasi dengan waktu. Jadi, anda harus menentukan kapan berakhirnya pernikahan itu, dan biar pak lurah sama Mas Dandy yang menjadi saksinya, Itu artinya jika pernikahan kalian terjadi berarti tidak sah." jelas Pak Ustad. Mereka mencoba mencari jalan keluar dari amukan warga. Jalan damai harus di lakukan, selain karena Hans masih harus beberapa kali singgah ke kampung itu, agar Arum juga tidak mendapatkan perlakukan buruk dari warga.


Hans terdiam sejenak, dia memikirkan bagaimana Zoya yang sedang hamil mendengar semua ini. Tapi, satu sisi dia juga bisa memanfaatkan Arum untuk mengenal situasi kampung tentang siapa saja dan bagaimana hubungan mereka khusunya yang bersangkutan dengan Kinanti (korban). Hans juga ingin menjawab rasa penasaran terhadap alasan persetujuan Deny untuk menikahkan adiknya pada lelaki beristri.


"Baiklah aku pilih opsi kedua." jawab Hans dengan tegas.


"Iya haram untuk menggaulinya, Mas! " timpal Pak Ustad mengingatkan.


"Kayaknya Mas Dandy suka sama Arum? " Hans menatap lelaki di sebelahnya penuh curiga.


"Terus terang, iya Mas. Arum pernah akan saya lamar, tapi ditolak sama Mas Deny." curhat Dandy dengan tersenyum sinis. Meski begitu dia masih menyimpan perasaan yang sama untuk Arum.


"Loh, kenapa?" Hans terkaget mendengar pengajuan lelaki di sebelahnya.


"Mungkin aku kurang kaya, Mas. Arum dari keluarga terpandang, dia anak tuan tanah di kampung kita. Tapi apalah saya ini, cuma sarjana miskin." cerita Dandy mengutip sapaan Deny terhadapnya 'Sarjana Miskin'. Setelah menyelesaikan kuliah dengan biaya sendiri, Dandy memutuskan pulang kampung untuk membangun desanya. Makanya dia ikut bergabung dalam kegiatan karang taruna.


"Sabar, Mas Dandy. Kalau jodoh tidak akan kemana." Hans menepuk bahu lelaki yang masih fokus dengan setir mobilnya.

__ADS_1


Flash On.


"Begitulah. Sekarang giliranku untuk menceritakan kenikmatan yang akan terjadi diantara kita." Hans mulai membuka kancing atas piama Zoya. Tangannya yang satu sedari tadi melingkar di bahu istrinya pun semakin mengerat saat akan mendapatkan pemberontakan dari tubuh mungil istrinya.


"Satu ronde saja. Sudah telanjur traveling otaku, Zoy. " ujar Hans dengan tersenyum genit pada istrinya. Rasanya memang tidak ada puasnya berbagi keringat dan kenikmatan dengan perempuan mungil yang saat ini sedang dia dekap.


"Kita tidak sedang bulan madu, Mas."


"Anggap saja kita sedang bulan madu! Aku merasa kita baru saja bertemu setelah sekian lama tidak bertemu."


"Tapi, besok Ale sekolah, aku harus menyiapkan keperluannya. Kita pulang jam berapa?" Zoya masih memikirkan Ale yang harus persiapan sekolah.


"Sudah dihandle sama Bi Muna dan Pak Dino. Besok sepulang sekolah, Ale akan diantar kesini dan saat aku berangkat kerja, kamu bisa istirahat sepuasnya. Tapi, saat ini biar aku yang mengerjaimu sampai puas." Hans tidak lagi memberi kesempatan pada Zoya untuk menolak atau memberontak. Dia terus saja menggagahi wanita mungil yang selalu dia damba. Hans memang bermain lembut, tapi kelembutannya menghabiskan tenaga Zoya karena selalu meledakkan gairah perempuan yang sedang hamil itu.


###


Di rumah mewah dengan penerangan yang masih menyala penuh. Arum mengeram kesal. Dia merasa kesal, marah dan tepatnya cemburu saat mengetahui Hans pergi bersama Zoya. Dia merasa Hans sudah menipunya. Dia tidak bisa membayangkan Hans dan Zoya melalui malam panas dan penuh gairah.


"Arrrghhhh..."


Berkali- kali teriakan histeris terdengar di rumah utama, untung saja Ale sudah tertidur di kamar asisten rumah tangga itu.


Hampir semalaman Arum mengamuk, menahan cemburu yang meledak di hatinya. Hingga rasa marah yang membuncah dalam dadanya kini berganti dengan rasa sakit yang membuat dirinya saat ini menangis. Di dalam kamar yang sudah terlihat berantakan karena amukannya. Kini, gadis itu menangis sejadi jadinya.


"Aku mencintaimu, Mas. Tapi, kenapa kamu tidak mau memberiku sedikit cintamu. Aku tidak menuntut banyak. Aku hanya ingin sedikit perhatianmu. Aku juga istrimu, berhak untuk memilikimu. Bukan hanya Zoya saja yang selalu kamu pikirkan." tangisnya menggema di seluruh ruang kamarnya hingga pagi menjelang, tubuh dan matanya yang lelah pun ikut terlelap dengan sendirinya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2