
"Aku tahu Abang masih menyimpan perasaan terhadap Zoya." Kali ini Nilla sudah tidak bisa berbeli belit lagi. Mendengar kalimat Nilla, Wildan pun tersenyum kecut. Entah pikiran dari mana hingga istrinya bisa berkata seperti itu.
Karena tidak mendapatkan jawaban dari Wildan, Nilla yang semula berdiri di tengah pintu kamar mandi pun melewati suaminya yang masih mematung dengan begitu saja. Kecewa, sedih dan hatinya seperti diremas sebegitu kuatnya hingga sakitnya sulit untuk di ungkapkan.
"Nill, bukan seperti itu!" jawab Wildan.
"Kamu salah, Nill." Wildan berjalan menghampiri Nilla yang saat ini berada di depan lemari. Melihat Nilla menangis, Wildan baru menyadari jika Nilla sudah mengeluarkan tas pakaian.
"Nill... " Langsung saja Wildan merengkuh tubuh istrinya dan menariknya menjauh dari lemari. Wildan sudah hafal Nilla, dia tidak akan membiarkan Nilla pergi dan menghilang lagi.
"Lepaskan!" pekik Nilla, masih meronta, dia berusaha melepaskan diri dari dekapan Wildan.
"Tidak!" elak Wildan dengan tegas. Dia membawa Nilla untuk duduk, masih belum melepaskan istrinya. Wildan mengunci tubuh itu dalam lingkaran lengan kokohnya dan mendudukkan Nilla di salah satu pahanya. Kedua kakinya saling bertaut, mengunci tubuh kecil yang terus saja meronta, hingga gadis itu merasa putus asa. Seberapa kuat dia berusaha melepaskan diri, itu adalah hal yang percuma.
Kini dia hanya bisa menangis tersedu-sedu dengan tubuh lelah dan pasrah. Belum ada kalimat yang keluar dari keduanya. Wildan masih menunggu istrinya hingga kembali tenang.
Berangsur tangisan Nilla berganti dengan rintihan lirih yang diiringi isakan. Saat Nilla sesenggukkan bersandar di dada suaminya, Wildan mulai mengendurkan tautan tangan dan kakinya yang melingkar di tubuh istrinya.
"Kamu salah sangka, Nil. Ketika aku memutuskan ingin menikahimu aku sudah menutup semua tentang Zoya." jelas Wildan dengan jujur.
"Saat kamu mengingatkan aku dari kekhilafan mengejar perempuan yang sudah menjadi istri orang lain, aku pun tersadar. Iya, itu sangat berdosa jika aku menghancurkan sebuah pernikahan."
"Apa karena hal ini yang selama ini membuat sikapmu berubah, Nil? " saat pertanyaan itu dilontarkan Wildan pada Nila. Lelaki itu hanya bisa merasakan sebuah anggukan di dadanya.
Nilla hanya bisa bersandar lemah dengan air mata yang terus saja mengalir. Dia tidak mampu lagi bicara.
"Seharusnya kamu percaya sama Zoya, jika kamu tidak percaya dengan Abang. Kalian bersahabat sudah lama." Mereka mulai bicara dari hati ke hati. Iya, Wildan masih memeluk istrinya yang masih duduk di pangkuannya.
"Bukan masalah percaya atau tidak, Bang. Aku tahu seberapa besar Abang mencintai Zoya. Aku hanya tidak ingin hanya dijadikan tempat pelarian Abang dari rasa kecewa Abang terhadap Zoya." sesekali Nilla masih mengusap sudut matanya. Wildan malah terkesan seperti menenangkan adiknya yang sedang merajuk. Nilla memang terlihat seperti anak kecil.
__ADS_1
"Aku memang egois, ingin memiliki cinta Abang sepenuhnya."
Wildan menghela nafas berat, sejenak dia berfikir bagaimana menjelaskan semua pada Nilla. Istrinya memang tahu semua perjuangan dan kadar perasaannya terhadap Zoya kala itu.
"Aku memang pernah mencintai Zoya. Tapi dulu, Nil. Sekarang Cinta, perasaan dan hidup Abang untukmu. Hanya kamu yang ada dalam rencana masa depan Abang."
"Seandainya Abang bisa menghapus semua masa lalu Abang. Seandainya Abang bisa memutar waktu..."
"Maafkan Nilla, Bang. Nilla salah. Nila sudah memperburuk hubungan kita." sela Nila dengan penuh rasa bersalah. Tangannya mulai memeluk erat tubuh Wildan membuat Wildan mendaratkan kecupannya di puncak kepala istrinya.
"Zoya hanya masa lalu Abang. Dan kamu masa depan Abang, Nil." Wildan mengelus lembut lengan Nilla.
"Seandainya, kamu juga merasa bagaimana Abang memperjuangkanmu, Nil." Kalimat terakhir Wildan membuat Nilla bangkit dan mendongakkan wajah menatap wajah sendu suaminya. Nilla semakin merasa bersalah. Dia baru menyadari setiap orang punya cerita masa lalu.
"Maafkan Nilla, Bang." Nilla kembali menangis, memeluk tubuh lelaki yang sudah dia ragukan perasaannya.
Hening. Hanya isakan lirih Nila yang terdengar samar. Hingga sepersekian menit, pelukan istrinya membuat gelayar aneh pada diri lelaki itu.
"Bang, aku lagi mens... " jawab Nila dengan ragu. Nilla kembali menatap wajah Wildan, mencari guratan rasa kecewa karena penolakan nya, tapi suaminya malah tersenyum. Wildan bisa mengerti selain rasa cemburu, ternyata yang membuat dorongan emosi istrinya adalah menstruasi.
"Tidak apa, Kita lakukan lain kali saja!" ucap Wildan, kali ini dia hanya memeluk tubuh kecil istrinya, dan itu sudah lebih dari cukup.
"Lain kali jangan biarkan emosi menguasaimu. Semua bisa dibicarakan baik baik, di cari jalan keluarnya." Wildan mulai memberikan nasehat untuk istrinya. Meski Nilla berwatak keras, tapi perasaannya tetap sama untuk gadis itu.
"Iya, Bang. Maafkan Nilla." sesal Nilla.
Nilla mulai beranjak dari paha Wildan, saat dia berdiri, Wildan menautkan kedua alisnya, " Nil, itu tembus ya, darahnya? " ucap ragu dengan ragu. Nilla kemudian memutar sedikit roknya untuk melihatnya.
"Yah bener... " saat gadis itu masuk ke kamar mandi dengan terburu - buru, Wildan melihat celananya yang barusan diduduki istrinya.
__ADS_1
"Astagfirullah... kena juga." Keluhan Wildan, warna celana warna grey itu sudah terkontaminasi dengan warna gelap seperti membentuk pulau.
###
"Kemarin, Nona Kyara bertemu dengan seorang dokter bedah." ucap seseorang memberikan informasi pada Rey tentang Kyara.
"Rekomendasi dari Tuan Indrawan. Saya akan mengirimkan beberapa foto saat mereka bertemu." lanjut orang itu di telepon.
Tidak lama kemudian sebuah foto, dimana Kyara dan seorang lelaki sedang menikmati secangkir kopi di sebuah cafe. Hati Rey menjadi gelisah. Rindu yang tertahan dan rasa cemburu yang seketika menyeruak. Jika bukan karena menyelesaikan pendidikannya dan perjanjian dengan maminya, mungkin Rey akan memilih untuk kembali ke Indonesia.
"Pergilah! Awasi saja, jangan biarkan dia terluka atau mengalami kesulitan." titah Rey pada orang kepercayaannya. Dia terlihat semakin kalut memikirkan kedekatan Kyara dengan lelaki lain. Tapi, gadis itu juga berhak untuk bahagia bersama takdirnya.
Rey kemudian menutup sambungan teleponnya. Dia memang membayar seseorang untuk selalu mengawasi Kyara. Bahkan, Rey juga tahu jika akhir akhir ini , Kyara lebih agresif dengan pekerjaannya.
"Maafkan aku, Ra. Hanya itu caraku mencintaimu setelah aku sering melukaimu, meski itu tidak sengaja." gumam Rey, dia menikmati langit senja yang terlukis dengan cukup indah. Dia kembali berfikir, mungkin seperti ini perasaan Kyara, kala dia selalu mengatakan jika dia mencintai Zoya, ingin membangun masa depan dengan perempuan yang sudah menjadi istri orang itu.
Rey banyak belajar bagaimana mencintai dari Kyara. Rey, masih mengingat tawa gadis itu saat perjalanan pulang dari perkampungan itu. Dia masih mengingat saat di atas motor, Kyara meneriakkan sudut pandangnya tentang cara mencintai.
"Aku tidak ingin mencintai dengan membabi buta, Bang. Karena selain kita punya hati kita juga punya pikiran. Selain kita punya jiwa kita juga punya raga." Kala itu pemikiran mereka sangat berbeda.
Ternyata saat jauh seperti ini yang diingat hanya tentang Kyara, sesuatu yang ada dalam diri gadis itu. Tapi, dia hanya bisa berpasrah. Jika mereka berjodoh, dia yakin semesta akan mempertemukan mereka dalam waktu yang tepat.
Jarak dan Waktu tidak hanya tentang sesuatu yang memisahkan. Terkadang jarak dan waktu banyak bercerita tentang perasaan cinta yang sebenarnya dan rindu.
Rey
TBC
__ADS_1
Visual Awal bang Rey udah othor ganti ya gaes, karena othor belum begitu klik.... Baru yang inj rasanya sehati.