Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Ale Liburan ke Bandung


__ADS_3

"Ale, nonton TV-nya nanti setelah hafalan." ajak Zoya saat Ale masih duduk di depan televisi. Zoya berjalan mematikan televisi, membuat bocah itu mengerucutkan bibirnya karena kesal.


"Mama, Ale hafalannya libur dulu. Ale belum Hafal Ad-Dhuha." protes Ale. Dia masih merasa malas, sejak libur sekolah Zoya malah mengharuskan Ale rutin setor hafalan juz- Amma setiap habis mandi sore.


"Nggak apa-apa, nggak nambah. Tapi kita akan mengulas lagi yang sudah Ale hafal." Dengan rasa berat dan bermalas-malasan bocah itu bangkit dan mengambil posisi di dekat mamanya yang sudah duduk bersandar di sofa.


Zoya pun mengacak beberapa surat dalam Juz- amma yang sudah Ale hafalkan. Kadang, dia juga membunyikan satu kalimat dalam salah satu surat yang kemudian harus di teruskan oleh Ale.


Hanya butuh lima belas menit Zoya mengasah daya ingat hafalan Ale. Liburan sekolah Ale sudah cukup banyak bermain, di khawatirkan putrinya akan lengah dengan apa yang sudah pernah dihafal sebelumnya.


"Selesai! Ale boleh nyalain TV lagi." ujar Zoya dengan mencium puncak kepala putrinya.


Perempuan dengan usia remaja, tapi pola pikirnya bisa dibilang dewasa. Itu, kesan yang diberikan Shanti pada menantunya.


Dari kejauhan beliau menatapnya penuh haru. Saat memilih perempuan yang saat ini mencurahkan kasih sayang tulus untuk cucunya, awalnya beliau tidak berharap untuk melakukan banyak hal pada menantunya yang masih berumur remaja.


"Dari mana kamu punya metode hafalan seperti itu, Zoy? Mama juga penasaran dari mana kamu tahu bagaimana harus menangani bocah seusia Ale." tanya Shanti setelah mendudukkan bokongnya di dekat menantunya. Beliau berfikir karena Zoya belum menjadi seorang Ibu yang sesungguhnya.


"Dulu almarhum Bapak belajarnya begitu, Ma. Terus Zoya sering baca-baca tentang parenting dan sering lihat youtube-nya dr. Aisyah Dahlan. Ya, setidaknya bisa belajar sedikit sedikit, Ma."


jawab Zoya. Tidak di pungkiri, Zoya memang memanfaatkan fasilitas yang diberikan oleh Hans. Jika dulu, dia sayang dengan uangnya untuk membeli buku, tapi sekarang dia malah seperti mengoleksi beberapa buku yang membuatnya tertarik. Baginya belajar bisa dari mana saja dan tidak mengenal batasan usia. Pikir Zoya, saat dia merasa putus asa tidak bisa kuliah seperti teman temannya yang lain.


"Kamu pasti pinter nyenengin suami, ya? dr. Aisyah Dahlan, kan ada kajian itu juga." goda Mama Shanti seketika membuat wajah putih itu terlihat merona.


"Ehem... ehem... " Hans berdehem kala mendengar kalimat Shanti yang sedang menggoda menantunya. Lelaki dengan kaos rumahan dan celana pendek itu menuruni tangga setelah membersihkan diri sepulang dari kantor.


Zoya hanya menatap Hans tanpa menyapanya. Mereka masih terlibat perang dingin. Hans memilih mendekati Ale yang duduk di karpet sambil menikmati film kartun favoritnya. Dia sudah merasa gatel untuk menggoda si pengacau yang mau menang sendiri itu.


"Uuuhh ... anak Papa yang paling cantik dan gembul." Hans langsung mengungkung tubuh gembul putrinya dari belakang. Menghujani ciuman di pipi empuknya hingga bertubi-tubi, sontak membuat Ale menggeliat protes.


"Papa, jangan mengganggu Ale!" bocah itu mendorong-dorong tubuh besar Papanya. Hingga membuat Hans tergelak saat mendapat penolakan dari putrinya.


"Papa, Ale sudah hafal dua puluh surat Juz -Amma. Papa Hafal berapa?" tanya Ale.

__ADS_1


"Hahahaha bingung, kan jawabnya? Papa hafalannya cuma pasal kitab undang undang, Al." ledek Shanti saat melihat Hans terdiam sejenak, Shanti tahu putranya sedang berfikir untuk memberi jawaban yang tepat pada putrinya.


Di sebuah ruangan keluarga yang cukup luas dengan televisi selebar 40 inch, mereka menikmati kebersamaan, meski dua orang personil mereka masih dalam tahap perang dingin. Hal yang berbeda dari rumah pengacara ternama itu adalah tidak ada televisi di dalam kamar.


"Mbul, di sekolah diajarin nggak, jika marahan sama orang itu nggak boleh lama, maksimal tiga hari, kan?" tanya Hans masih dengan memeluk tubuh gembul yang ada di pangkuannya. Mata tajamnya melirik istrinya yang masih terdiam, bersandar di badan sofa bersama mamanya.


"Ale kan libur, ale tidak sekolah." jawab Ale asal asalan karena merasa terganggu oleh papanya.


"Puuufhhh..." Mendengar jawaban putrinya Zoya menahan tawanya dengan menutup mulutnya dengan telapak tangannya.Tapi, sayang masih mengundang perhatian suaminya.


"Ihhh,,, Mbul, Mama ketawa. Ale mau hadiah apa sudah bikin Mama Zoya ketawa." Hans meledek Zoya dengan melemparkan senyuman ke arah istrinya. Begitupun Zoy, dia sudah tidak bisa lagi menahan senyumnya. Entah apa yang membuatnya kembali merasa malu dan salah tingkah saat mendapatkan tatapan dan senyuman dari suaminya. Tatapan keduanya saling tertaut bersamaan senyum yang menghias di bibir masing masing.


"Ehem ehem... besok Mama akan bawa Ale liburan ke Bandung. Mama kangen sama ketiga cucu Mama di sana." suara Mama Shanti membuat keduanya kembali tersadar jika ada dua orang bersama mereka.


"Jangan lama-lama, Ma. Rumah pasti sepi tanpa Ale." sahut Zoya.


"Lama banget juga nggak apa, Kita kan bisa buat adiknya Ale!" mendengar jawaban Hans Zoya melotot, kemudian mencebikkan bibirnya karena seketika itu Ale menoleh pada papanya.


"Ale mau nggak dibuatin Adek? Tapi, di Bandungnya harus lama." senyum licik terbit di bibir tipis lelaki itu. Matanya tidak henti hentinya menatap istrinya yang berusaha mengalihkan pandangannya, tapi masih dengan senyum yang tertahan karena malu.


Mama Shanti tersenyum melihat situasi seperti ini. Alhamdulillah. Dia sangat bersyukur diberi keluarga yang bahagia. Meski ada banyak masalah, tapi tidak menghalangi kebahagiaan itu datang dalam keluarga putranya.


###


Zoya mengemas barang milik Ale yang akan dibawa ke Bandung. Termasuk, persiapan ringan seperti minyak kayu putih dan baju hangat untuk putrinya.


Hans masih berdiri di dekat pintu kamar dengan nuansa girly. Dia Menatap istrinya yang terlihat sendu membereskan semuanya. Di kamar Ale, mereka membisu. Ale yang sudah terlelap pun tidak tahu jika ada yang merasa berat karena akan ditinggalkan olehnya.


Zoya mengangkat tas yang sudah selesai dia isi dengan keperluan Ale selama di Bandung. Lelaki yang sedari tadi menungguinya kini mendekat ke arahnya.


"Ale cuma liburan. Kenapa kamu mendramatisir sampai segitunya." ucap Hans dengan merangkul bahu istrinya dan membawanya keluar menuju kamar mereka. Bagi Zoya Hans tidak pernah mengerti, jika waktu yang dihabiskan bersama Ale itu lebih banyak dari pada dengannya.


Zoya merebahkan tubuhnya setelah masuk ke dalam kamar. Sedangkan Hans, kini malah duduk dipinggir ranjang di sisi Zoya dengan menatap wajah cantik istrinya yang sedari tadi terlihat kalut. Berlebihan. Satu kata itu yang ingin dia lontarkan untuk meledek Zoya.Tapi, untung saja masih bisa dia tahan. Dia tak ingin terkena imbas seperti kemarin gara gara foto gadis seksi.

__ADS_1


"Kenapa kemarin marahnya lama. Itu kan, yang tertarik Ryan bukan aku?" Hans mencoba menggeser tempat istrinya untuk bisa berbaring di dekat istrinya.


"Aku tidak marah soal itu, Mas." jawab Zoya dengan menoleh lelaki yang saat ini menatapnya.


"Benarkah? Besok boleh main di gym lagi?" goda Hans terlihat begitu bersemangat.


"Terserah Mas Hans saja." Zoya kemudian akan


menjauh dari tubuh atletis di dekatnya. Tapi, langsung ditahan oleh tangan besar yang kini sudah melingkar di pinggang rampingnya.


"Mas Hans, jangan begini!" Zoya berusaha melepaskan tangan itu. Tapi, dengan Hans malah menariknya dengan kuat untuk mendekat. Dia sudah hafal dengan gaya merajuk istrinya.


"Aku tahu kamu cemburu. Tapi, aku juga tidak suka kamu membalasku dengan bertemu Rey." Hans mulai mengumpan cerita pertemuan Rey dengan istrinya.


"Demi Allah, itu tidak sengaja, Mas." Zoya berganti posisi dengan menghadapkan tubuhnya pada Hans. Dia berusaha meyakinkan jika itu pertemuan yang tidak disengaja.


"Kamu tahu, Rey suka sama kamu?"


"Mas Hans pernah bilang itu padaku. Makanya aku berusaha memberi batasan untuknya. Tapi, mungkin juga prasangka Mas Hans itu salah. Jangan lupa Mas, di luar sana banyak wanita cantik yang lebih pantas dicintai pria seperti Bang Rey." balas Zoya membuat Hans yang sedari tadi memperhatikannya menjadi gemas. Dia merasa Zoya tidak percaya dengan apa yang sudah dia katakan.


###


Di sebuah apartemen mewah lelaki gondrong itu masih menatap laporan yang baju saja di berikan oleh orang kepercayaannya.


Masih dengan menggerakkan bolpoin di jarinya, Rey mulai berfikir banyak hal. Kesempatan untuk mendapatkan cinta Zoya Kamila.


Zoya akan kuliah, itu artinya dia akan mudah menemui Zoya di luar rumah. Selama ini, Rey merasa sulit untuk mendapatkan kesempatan mendekati perempuan itu.


"Aku ingin kamu menyiapkan sebuah rumah yang jauh dari keramaian. Bisa di luar pulau atau di luar negeri." ujar Rey. Beberapa rencana membentuk skema di otaknya. Tapi, dia akan memilih jalan aman terlebih dahulu untuk mendapatkan simpati perempuan yang jadi pujaan hatinya.


"Bang, anda yakin dengan apa yang anda lakukan? Jangan sampai ini semua melukai diri anda sendiri." Ajudannya masih memperingatkan keputusan Rey. Tapi, lelaki yang sudah dimabuk asmara itu sudah tak ingin pertimbangan apapun. Dia yakin dengan semua yang akan dia lakukan. Membangun keluarga yang bahagia dengan perempuan yang menjadi dambaannya, hanya itu saja. Yang dipikirkan Rey tentang Zoya adalah sosok ibu yang sempurna untuk anak anaknya kelak. Perempuan yang lembut dan sederhana yang akan membuat hidupnya tenang.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2