
"Bagaimana, Zoy? Apa kamu sudah siap? " tanya Hans kemudian membuka toganya dan menyimpannya di ransel. Zoya hanya bingung, dia sama sekali tidak mengerti maksud suaminya meminta dirinya pergi ke pengadilan.
"Maksudnya, Mas? " tanya Zoya.
"Aku ingin melepas kejenuhan ini. " jelas Hans kemudian, lelaki bertubuh tinggi itu merangkul bahu istrinya dan berjalan menelusuri lorong koridor gedung.
"Kamu mau solat dulu? " tanya Hans saat mendengar adzan ashar.
"Boleh."
Hans mengantar Zoya menuju bangunan kecil yang ada di sebelah gedung bertingkat itu.
"Aku menunggu di luar saja. " ucap Hans saat berada di depan musholla.
"Suatu saat aku ingin berjalan di belakang imamku menuju surga-Nya, Mas. " ucap Zoya. Kemudian meninggalkan Hans yang masih termenung.
Hans Pov
Entah sudah berapa lama aku tidak melakukan kewajiban kepada Tuhan. Aku sendiri tidak ingat. Tuhan memberi banyak hal padaku, mungkin dengan cara yang keras Tuhan mengingatkan ku dengan mengambil istriku tapi itu tidak membuatku bergeming juga.
Dan saat ini Tuhan memberi jodoh seorang gadis yang begitu dekat dengan-Nya. Zoya Kamila, aku tidak bisa mengerti seberapa besar pengetahuannya tentang agama. Tapi semua tingkah laku dan sikapnya sungguh mencerminkan perintah-Nya.
Tuhan, apa aku egois jika aku menginginkan gadis itu sepenuhnya. Dia istriku, tapi aku tidak tahu perasaannya. Dia memang menerimaku, tapi aku juga belum yakin dia juga menginginkanku. Aku tahu, aku bukan seseorang yang dia impikan selama ini.
Author pov.
Hans membaca beberapa lembar diary Zoya. Seperti niatnya yang jahil, dia ingin mengetahui curahan hati istrinya. Belum sampai dia mengetahui siapa saja yang jadi cinta monyet istrinya, selalu saja ada seseorang yang mengganggunya. Dari beberapa lembar diary itu, dia bisa mengerti latar belakang kehidupan istrinya yang cukup keras dan Zoya menyukai seseorang yang religius yang mampu menjadi imamnya untuk selalu membimbingnya.
"Mas... " panggilan Zoya membuyarkan lamunannya.
"Sudah selesai? "
"Iya... " jawab Zoya dengan menggunakan sepatunya. Dari awal, Hans meminta Zoya memakai sepatu sneakers dan bawahan celana.
Hans menggandeng Zoya menuju parkiran motor. Hari ini dia ingin punya moment berkwalitas bersama Zoya.
"Mas Hans serius naik motor? " Zoya menatap motor sport itu dengan ragu.
"Tentu saja." Hans memakaikan helm di kepala Zoya.
"Gebetan baru, Hans? " tanya seorang pengacara senior. Pak Indrawan adalah pengacara senior yang tinggal menghitung bulan beliau akan pensiun, lelaki tua itu menghentikan langkahnya saat berada di dekat Hans dan Zoya.
"Istri baru, Pak! "
"Nggak salah? " Lelaki berkaca mata tebal itu pun terheran dan kembali menatap Zoya lebih teliti.
"Ohhh, kalau begitu caranya nggak salah jika kamu awet muda. " ledek Pak Indra membuat Hans tersenyum kecut.
"Kapan-kapan ajak ke rumah. Saat ini aku akan mengikuti sidang pengacara baru yang bekerja di firmaku. " ujar pak indra dengan menepuk lengan lelaki yang lebih tinggi darinya.
__ADS_1
"Sial, coba saja kalau bukan seniorku yang banyak ngajarin aku udah gua bogem itu mulut. " umpat Hans dengan melirik lelaki yang semakin menjauh itu.
"Sabar Mas. nanti kita Nggak berangkat berangkat, lo! "
Merasa apa yang dikatakan zoya benar, Hans pun segera melajukan motornya membelah keramaian kota. Jalanan yang cukup ramai oleh penggunaan sepeda motor membuat Hans harus melajukan motornya dengan kalem. Diantara desakan jajaran motor mahasiswa yang pulang dan berangkat ke kampus Hans mengeratkan lengan Zoya untuk melingkar di tubuhnya.
Beberapa lampu merah yang terdapat di perempatan dan pertigaan itu sudah terlewati. Zoya semakin penasaran, kemana suaminya akan membawanya pergi. Hamparan sawah dan beberapa penjual kerajinan juga sudah terlewati. Meski penasaran tapi Zoya hanya menikmati perjalanannya. Zoya semakin meyakinkan pandangannya, motor itu mulai melaju di atas tanah berpasir, deburan ombak yang saling berkejaran dan terpaan angin yang seolah ingin menerbangkan jilbabnya pun membuatnya tersenyum. Hans menghentikan motornya asal-asalan. Pantai yang cukup sepi, dan sebuah bangunan mercusuar menjulang dengan gagahnya membuat simbol khas pantai yang sepi pengunjung ini.
Zoya tersenyum menatap hamparan lautan lepas, dia merasa seperti anak muda yang masih pacaran saja.
"Kenapa senyum-senyum? " tanya Hans, lelaki berkaca mata hitam itu menggandeng Zoya menelusuri bibir pantai.
"Zoy, yang namanya pacaran seperti ini. " ucap hans dengan menghentikan langkahnya.
"Pantainya bagus karena nggak ada pengunjung lainnya. " jawab Zoya.
"Tapi jangan kebelet pipis. Di sini susah cari toilet. " jawab Hans yang sudah begitu hafal dengan pantai itu.
"Mas Hans sering ke sini? " tanya Zoya.
"Jarang. Cuma dengan.... " kalimatnya menggantung. Hans tidak ingin meneruskan kalimatnya karena takut akan merusak suasana.
"Mbak Renita? " sela Zoya.
"Bukan... "
"Mbak Naura? " tebak Zoya lagi yang di jawab dengan anggukan Hans.
Entah mengapa Zoya malah dibuat nyesek saat harus di bawa ke tempat yang menjadi kenangan mereka berdua. Gadis itu menghela nafas, menghalau rasa cemburunya. Jika berhubungan dengan Naura bagi Zoya membuat suasana hatinya semakin memburuk.
"Zoy, kamu marah? " tanya Hans saat berada di samping Zoya. Tangannya menggenggam lengan kecil Zoya.
Zoya masih terdiam, wajahnya menatap ke laut lepas. Dia tidak ingin memupuk rasa cemburu dalam hatinya. Tapi, entah kenapa bersama lelaki di sampingnya itu dia sulit mengendalikan perasaanya.
Aku tak tahu kita memang tak mungkin
Tapi mengapa kita selalu bertemu
Aku tak tahu hati ini harus menghindar
Namun kenyataan ku tak bisa
Maafkan aku telanjur mencintai
"Kamu nyanyi, Zoy? " tanya Hans dengan menarik tubuh kecil itu dalam rengkuhannya. Dia tahu Zoya marah, mungkin karena dia salah memilih tempat.
"Kalau nggak suka nggak usah didengerin. " jawab Zoya masih memalingkan wajahnya meski tubuh mereka tidak berjarak lagi.
"Lihat aku, Zoy! " titah Hans membuat Zoya menatap wajah ganteng di depannya.
__ADS_1
Hans sedikit menunduk, menempelkan keningnya pada kening gadis di depannya. Matanya menatap tajam seolah ingin tahu isi hati Zoya dari sorot mata indah itu.
"Mendengar marahmu saja aku suka apalagi nyanyianmu. hal yang aku suka dari dirimu adalah matamu, senyummu dan suara lembutmu."
"jangan merayu, Mas. " Zoya mencubit pinggang Hans, membuat lelaki itu tergelak. Dia kemudian mengangkat tubuh kecil itu dalam gendongannya. Meskipun dengan wajah merona dia mengalungkan tangannya di leher seseorang yang sudah halal untuknya. Mereka menghabiskan sore mereka di pantai sebelum menjemput Ale dari rumah Mama Shanti.
###
Saat jam makan siang, Hans terburu-buru keluar kantor menuju ke cafe depan kantornya setelah mendapatkan telpon dari Wildan. Ya, dari kemarin Wildan selalu mencari cara untuk bisa berbicara dengan Hans secara empat mata.
Terik mentari yang menyengat kulitnya itu tidak juga melumerkan ketegangan hatinya di kalangan berjalan menemui lelaki yang dia anggap rival.
Hans Satrya Jagad, lelaki yang menjadi poros objek yang bisa menarik perhatian orang yang melihat di sekitarnya. Lelaki itu berjalan dengan gagahnya memasuki cafe yang sudah ditentukan Wildan.
"Assalamualaikum, Mas Hans. " sapa Wildan saat Hans menghampiri mejanya.
"Ada apa? Langsung saja ke inti. " Hans balik melempar pertanyaan, dia sudah tidak bisa berbasa basi di depan lelaki itu.
"Ada yang ingin aku bicarakan soal Zoya. "
"Kenapa dengan istriku? " dengan terburu buru Hans menyela kalimat Wildan.
"Aku hanya ingin tahu keadaanya setelah kejadian siang di cafe kemarin." jawab Wildan masih dengan kalem.
"Dia baik-baik saja. Anda tidak berhak mengetahui keadaan istriku. "
"Tentu saja aku berhak, Mas! Pertengkaran itu ada aku diantara kalian. " sahut Wildan.
"Aku tidak ingin anda memperlakukan Zoya dengan kasar. sudah beberapa kali aku melihatmu memperlakukannya dengan kasar. " ucap Wildan langsung ke inti.
"Tahu apa anda tentang keluarga kami. Dan apa maumu sebenarnya? " tanya Hans sudah mulai jengah dengan pertemuan ini.
"Jika anda tidak mampu berlaku baik. Lepaskan dia, Zoya berhak untuk bahagia. " lirih Wildan dengan nada tajam.
"Buuughhh... " sebuah pukulan dari Hans mendarat di tulang hidung Wildan.
"Saya di sini ingin bicara baik baik, Mas. " Wildan mencoba mengumpulkan kesabaran agar tidak membalasnya. Tapi, saat Hans akan kembali melayangkan pukulannya dia mencoba menangkisnya.
"Dengarkan aku! Zoya sudah bahagia bersamaku. Jadi anda tidak usah repot untuk mengurusinya. " ucap Hans hati yang sudah tersulut emosi.
"Baiklah. Aku harap seperti itu. Jika tidak, lepaskan dia! Zoya berhak bahagia dengan orang yang dia cintai dan membuatnya bahagia. "
"Brengsek! " teriak Hans yang akan menendang Wildan. Tapi, untung saja Ryan langsung menariknya bersama salah satu teman kantornya.
Mas Hans kalau emosi tetep ganteng 😄😄😄😄
Bersambung
__ADS_1
Lagu dari Tiara Andini
Bisa di halukan pantai daerah bantul yang ada Mercusuar nya. hehehehe