
Terkadang pasangan hidup kita adalah orang yang tidaklah kita harapkan atau tidak kita impikan. Di situlah KESABARAN dan KETULUSAN untuk bisa menerima kekurangannya dan berjalan bersama untuk bisa saling melengkapi. Tapi, percayalah ketika Tuhan sudah menjodohkan, di situlah ada perasaan kuat untuk saling memiliki yang terkadang tidak kita sadari.
(Author statement 😆)
Sudah tiga hari Ale dan Zoya tinggal di rumah Mama Shanti. Keadaan fisik Zoya memang sudah lebih baik, tapi tidak ada yang bisa mengukur keadaan hatinya. Zoya lebih banyak terdiam. Dia merasa enggan berbicara dengan siapa pun. Hal yang ada di otaknya, Kenapa suaminya setega itu? Pernikahan macam apa yang saat ini dia jalani? Semua jauh dari apa yang pernah dia impikan, keluarga sakinah mawardah warrohmah.
"Zoy, makan dulu, yuk!" ajak Shanti saat melihat Zoya termenung di dekat jendela. Matanya menerawang jauh menatap halaman rumah.
"Ma, jangan ceritakan kejadian ini kepada Ibu! Aku tidak ingin beliau cemas." pinta Zoya saat melihat mertuanya berjalan mendekat.
Mendengar permintaan Zoya Shanti malah ingin menangis. Dia sangat merasa bersalah kepada keluarga Nurma terlebih Zoya.
"Ma, aku harus bagaimana? Bukankah tidak boleh meninggalkan rumah tanpa ijin suami? Bagaimana dengan Ale. Dia masih butuh Papanya." Zoya merasa sangat bingung. Apalagi saat melihat Ale yang terlihat banyak diam sejak ada masalah.
"Hatimu terbuat dari apa, Nak? Beruntungnya kedua orang tuamu memiliki anak solehah seperti dirimu." tangisan Shanti tak bisa di bendung lagi. Dia memeluk menantunya dengan harapan Zoya akan selamanya menjadi menantunya, membawa putra dan cucunya untuk lebih mengenal agama.
"Biarkan dulu Hans merenungkan kesalahannya. Kamu pergi dari rumah bukan untuk membangkang, tapi membuatnya berfikir." jawab Shanti.
Zoya berjalan mendekati Ale yang sedang bermain puzzle.
"Ale... sini peluk Mama! " Ucapan Zoya membuat bocah itu langsung menghambur.
"Mama, Ale tidak akan membuat lepot lagi. Ale akan mandili, agal mama tidak capek dan tidak sakit lagi." Bocah itu memeluk erat Zoya, Ale merasa bersalah karena dia beranggapan Zoya sakit karena dirinya yang selalu banyak permintaan.
"Sayang, Ale tidak salah. Mama Sakit kan terjatuh dari tangga. Jadi Ale tidak salah. Sekarang, Mama sudah sehat. Kita bisa bermain lagi dan Mama yang akan mengantar Ale sekolah lagi, ya! " Zoya tersenyum ke arah Ale. Hal yang tidak bisa didiamkan Zoya adalah membiarkan kesedihan dan kesepian melanda putrinya.
"Ale mau makan? Mama suapin, ya! " ucap Zoya merasa putrinya membutuhkan perhatiannya kembali.
"Mama tidak capek ? Ale tidak ingin Mama capek dan sakit lagi. "
"Ihhh... anak Mama. Mama Zoya sayang Ale. " Zoya kembali memeluk Ale. Naluri keibuannya membuat Zoya mengesampingkan perasaaan sedihnya saat ini.
"Aseekkk..... Aku disuapin Mama! " Bocah itu berteriak girang dengan berlari menuju meja makan terlebih dahulu.
"Terima kasih, Zoy. Selalu sayang Ale. " ucap Shanti dengan menggenggam tangan Zoya.
###
__ADS_1
Ryan tertegun dengan memainkan jari telunjuk di sisi bibir cangkir kopinya.
Setelah mendengar pengakuan dari Hans, membuat dirinya tidak habis pikir jika sahabatnya mampu melakukan hal segila itu. Dia memang mendapat cerita dari Anastasya tentang apa yang sudah terjadi, tapi pengakuan langsung dari bibir Hans membuatnya sulit mempercayai jika Hans yang dia kenal sampai melakukan kesalahan yang hampir fatal.
"Bagaimana jika Zoya meninggal karena dirimu? " tanya Ryan yang sangat menyalahkan tindakan Hans. Pemerkosaan rumah tangga memang sering terjadi tapi tidak se ekstrem yang dilakukan Hans.
"Jangan katakan itu! Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri." balas Hans.
"Apa kamu sudah meminta maaf pada Zoya? " selidik Ryan. Beberapa hari ini Hans tidak bisa menutupi kegelisahannya. Bahkan untuk hal tertentu dia sudah kehilangan fokusnya.
"Belum.... rasa bersalah membuatku tidak berani menemuinya. " jawab Hans dengan tatapan menerawang.
"Dan, kamu memilih tidak meminta maaf? Jangan menjadi pengecut Hans. Di sini, kamu tidak hanya mempertaruhkan perasaanmu , tapi rumah tanggamu. Kamu kepala keluarga. " Ryan kembali meyakinkan sahabatnya.
"Entah akan mendapat hukuman apa, kamu harus siap mempertanggung jawabkannya. Jika aku jadi kakaknya Zoya mungkin aku akan menuntutmu. UU no 23 th 2004, kamu pasti tahu itu bukan hukuman yang ringan. " lanjut Ryan, dia sendiri mungkin tidak bisa berfikir jika berada dalam situasi seperti Hans.
"Aku tahu. Bahkan, hukuman zoya saat ini lebih terasa sakit. Dia ketakutan saat melihatku. " Alasan Hans, kenapa dia mempertimbangkan untuk menemui zoya sebelumnya.
"Terus apa lagi yang kamu tunggu? Temui dia sekarang, tebus kesalahanmu. " tegas Ryan membuat Hans berfikir sejenak.
"Baiklah, aku akan ke rumah Mama. Aku juga sudah merindukan mereka apalagi Ale. " Lelaki itu beranjak dari tempat duduknya dan melangkah keluar dari kafe yang sejak tadi menjadi tempat mereka saling bertukar pikiran.
###
Hans melajukan mobilnya menembus suasana malam dan hiruk pikuk ramainya jalan. Bukan tanpa beban dia akan menemui zoya. Tentu saja, dia sedang menguatkan hatinya dengan kemungkinan terburuk jika menemui anak istrinya saat ini.
Benar, dia harus menerima apapun perlakuan Zoya jika masih berharap keluarganya kembali lagi. Mau di caci atau di tendang pun dia harus menerima. Tapi tidak, dia yakin zoya tidak akan melakukan itu. Dia sangat mengenal betapa lembut hati istrinya. Tapi ada yang membuatnya cemas, diamnya orang yang lembut adalah hal yang sangat menyakitkan baginya.
Hans membelokkan mobilnya di garasi rumah mamanya. Masih terdengar suara Ale berteriak dan bernyanyi. Itu tandanya keadaan sudah mulai normal kembali.
Dengan langkah ragu dia membuka pintu utama rumah mamanya. Kehadirannya membuat kedua perempuan itu menoleh.
"Papa... " teriak Ale kemudian lari ke arah Papanya. Hans menangkap bocah gembul itu dan menciuminya bertubi tubi.
"Ihhh... Papa ciumannya di bagi sama Mama Zoya. Kalau cuma Ale saja yang dapat banyak, nanti bisa tambah bengkak pipi Ale." celetuk putrinya karena sudah lama dia tidak melihat papanya mencium Mamanya. Hans menatap Zoya, sementara zoya memalingkan wajahnya.
"Pa, mana oleh olehnya. Kata Mama, Kita di rumah Oma karena Papa pergi ke Singapura? " Hans kembali menatap Zoya, yang tak bergeming. Lelaki itu masih menggendong Ale dan berjalan menuju sofa. Zoya menggeser duduknya sedikit menjauh saat Hans mendudukkan tubuhnya di satu sofa dengannya.
__ADS_1
Shanty yang berjalan dari arah belakang pun menghentikan langkahnya saat melihat putranya datang untuk menemui istrinya. Dia memilih kembali di teras belakang, memberi waktu untuk mereka menyelesaikan masalah. Apapun itu hasilnya.
"Mama, kenapa tidak salim sama Papa? " tanya Ale yang menyadari jika mamanya melupakan kebiasaan itu.
"Ale, sudah makan? " tanya Hans untuk mengalihkan kecurigaan putrinya.
"Sudah, tadi disuapin Mama Zoya. Katanya Mama Zoya sudah tidak sakit lagi. " bocah itu terus saja nerocos dengan kecerewetannya.
"Terima kasih, Zoy. " lirih Hans yang hanya di diamkan Zoya.
"Ale mau jus? " tanya Hans lagi.
"Ale belum minum susu. "
"Baiklah, Papa akan buatkan susu untuk Ale. Tapi sana, ke belakang nyari gelas susunya Ale." titah Hans membuat bocah itu berjalan dengan melompat lompat menuju dapur.
"Zoy... "
"Jangan mendekat, Mas! " sergah Zoya dengan suara lirih saat melihat Hans bergerak mendekat. Seketika Hans pun mematung.
"Zoy, aku minta maaf. Sungguh aku menyesal." Kalimat Hans membuat Zoya berlari menuju ke kamar. Dia dan Ale menempati kamar Hans yang dulu.
Hans hanya menatap kepergiaan istrinya. Dia masih sempat melihat air mata yang sempat meleleh di pipi cabi itu. Tapi, dia sudah bertekad untuk meminta maaf sampai Zoya memaafkannya.
Hans segera menyusul Ale di dapur bocah itu sudah menemukan gelas susunya. "Dasar gembul, kalau suruh makan dan minum susu emang paling jago! " gerutu Hans saat melihat anaknya yang paling semangat saat minum susu.
Hans, memang membuatkan susu untuk Ale. Tapi, dia juga berniat untuk membuatkan Zoya jus. Wajah Zoya masih terlihat lesu.
"Mama tadi sudah makan, Al? " tanya Hans sambil memotong campuran buah. Dia akan membuat just dengan berbagai mix buah.
"Sudah, tapi dikit. Masih banyak makannya Ale. Ale, kan hebat! " mendengar jawaban Ale Hans hanya menggelengkan kepala.
"Al, sini! " titah Hans saat melihat gelas susu di depan Ale sudah kosong.
"Ini berikan sama Mama Zoya di kamar. Hati hati jangan sampai pecah! " Hans menyerahkan gelas jusnya pada Ale. Rumah Mama Shanti yang hanya satu lantai tidak membuatnya Khawatir jika Ale membawa segelas jus ke kamar.
"Jangan lupa bilang, I love you dari Papa. " Teriak Hans memperkeras suaranya agar Zoya mendengarnya.
__ADS_1
Persetan dengan gengsi, persetan cintanya yang tidak terbalas. Dan persetan dengan penolakan. Hans sudah tidak peduli lagi. Dia akan memperjuangkan hubungannya.
Bersambung.