
"Ale masuk dulu, ya! " Zoya membuka pintu untuk Ale. sementara dia masih mengusap air matanya agar tidak membekas ketika dia kembali memasuki rumah itu.
"Ale, Jalannya hati-hati!" Hans yang baru menuruni tangga memberi peringatan saat melihat Ale berjalan setengah berlari. Pandangan Hans pun seketika langsung beralih pada zoya yang mengekor di belakang Ale.
Hans mengurungkan niatnya untuk bertanya dari mana mereka. Tapi, saat melihat wajah muram Zoya dengan mata yang masih terlihat sembab Hans memilih untuk membiarkannya begitu saja.
Rasa penasaran yang hinggap, membuat ekor mata tajam itu tak berhenti melirik setiap gerik Zoya. Beberapa kali, bahkan Hans menangkap basah Zoya sedang tertegun saat mencuci sayuran.
Hans menarik tubuh gembul putrinya untuk berada dalam pangkuannya. Ale yang baru saja menghabiskan susunya pun terkaget, kemudian mengerucutkan bibir dan menautkan alisnya.
"Papah, ihhh... nadetin! " cebik bocah itu, terlihat kesal.
"Ale, tadi dari mana? Kenapa Mama Zoya jadi sedih? " bisik Hans di telinga Ale.
"Tadi ... Mama Zoya di tanyain banyak olang. Telus pas di jalan Mama Zoya nangis dech...." ucap Ale, dengan balik berbisik pada Hans, seketika itu pula mata Hans malah tertuju pada Zoya. Greget banget Hans terhadap Zoya, gadis itu selalu menutupi apa yang sebenarnya terjadi.
Hans hanya terdiam, kemudian dia menyesap kopinya. Tapi ada yang aneh? Saat melihat Bi Muna keluar dari pantry, Hans berjalan mendekati Zoya.
"Hmmmm...kopinya tidak seperti biasa. Bisakah membuatkan aku kopi yang seperti biasanya." pinta Hans, tubuh tinggi atletis itu sengaja memepet tubuh mungil Zoya di pantry.
"Baiklah, Mas! " ujar Zoya tanpa menoleh, dia akan menggeser langkahnya untuk mengambil toples kopi, tapi tangan Hans lebih cepat menarik tubuhnya.
"Lihat aku, Zoy! " ucap Hans, Zoya hanya bisa mendongak menatap sorot mata yang saat ini menghujam ke arahnya. Hans masih menahan tubuh Zoya hingga mereka kini berdiri berhadapan dengan jarak yang sangat tipis.
"Kenapa selalu menghindar dariku? " tanya Hans membalas tatapan Zoya dengan sorot mata mengintimidasi. Lelaki itu akhirnya tidak tahan untuk tidak bersuara.
"Jawab, aku! " tangan Hans kini berpindah, membingkai pipi cabi di depannya, saat Zoya akan mengalihkan pandangannya. Zoya hanya bisa mengerjapkan mata, dadanya serasa seperti akan meledak karena detak jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya.
"A-akuuu... Aku....! " kalimatnya menggantung, tenggorokannya seperti tercekat saat rasa gugup kembali menghampirinya.
"Omaaaa... " Suara nyaring Ale kini menepis ketegangan diantara suami istri tersebut. Bu Shanti yang tiba tiba datang bagaikan jaelangkung itu ternyata sudah berada di ruang makan.
"Eh... eh, kalian ngapain di situ. Kalau mau anu anu sebaiknya di kamar. Pamali dilihat anak kecil! " selorohnya tanpa rem.
__ADS_1
Hans dan Zoya pun gelagapan ketika Bu Shanti tiba tiba nongol. Zoya pun, segera menghambur ke arah mertuanya dan mengambil punggung tangan Santhi untuk salim.
"Sudah berapa ronde? Anak laki- laki Mama pasti mantab, kan? " tanya Shanti dengan nada menggoda, sedangkan matanya mengekor ke arah Hans yang masih berdiri di pantry. Seketika raut wajah Zoya pun merona, mendengar godaan mertuanya itu dan membuat wajah putih itu serasa memanas.
"Astaga Mama, pagi-pagi sudah mengacau di rumah orang! " dengus Hans dengan membawa kembali kopinya ke meja makan. Niatnya untuk mengganti kopi yang baru pun diurungkannya.
"Zoya, sudah matang belum sarapannya? Mama sengaja ke sini pagi pagi sekali karena mau ikut sarapan, loh! " Mendengar kalimat mamanya, Hans hanya melirik kemudian berdecih kesal.
"Ihhh... oma, udah nggak punya uang ya?" pertanyaan Ale membuat Shanti mendelik ke arah bocah itu, sementara Hans hanya menarik sudut bibirnya.
"Ale... oma cuma kangen, ingin makan bersama kita. " sahut Zoya dengan mengelus pipi gembul bocah itu.
"Mas, mau sarapan sekarang? " tanya Zoya saat memindahi makananan ke meja makan.
"Hmmm... " Hans hanya menjawab Zoya dengan deheman. Sebenarnya Hans merasa kesal dengan sikap Zoya, dengan semua orang dia sangat respect, tapi dengan dirinya, Hans sangat sulit mengartikannya. Patuhnya sangat luar biasa, tp satu sisi sikap Zoya seolah menjaga jarak.
Seperti biasa, Zoya selalu melayani Hans terlebih dahulu, baru setelah itu dia mengurus Ale.
"Zoy, nanti sebelum Mama pulang, masakin sayur asem plus sambal seperti kemarin ya? "
"Pelit amat si, lagian Mama mintanya sama mantu Mama, situ kok repot! " ujar Bu Shanti dengan cuek.
"Ridho suami kan penting , Ma! " sindir Hans.
"Ohhh,, sudah merasa nih, jadi suami Zoya? " goda Bu Santi dengan menekankan nada suaranya, membuat Hans kemudian membungkam. Padahal dalam hati wanita paruh bayar itu sangat senang, setidaknya mereka sudah ada keterikatan.
###
Zoya membawa sebuah puding cake ke atas, Ale dan Hans sedang berada di ruang keluarga yang ada di lantai dua. Nampak Hans meninggalkan laptopnya di balkon dan bermain dengan Ale di depan TV, ruang keluarga yang terhubung langsung dengan balkon.
Zoya melihat Ale naik di atas perut Hans, bermain perang perangan dengan Papanya. Hari minggu mereka memilih menghabiskan liburan di rumah karena Nila sudah memberitahu jika akan datang.
"Mama... bawa apa itu? " Ale langsung menghambur ke arah Zoya dengan girangnya, Bocah gembul itu begitu anthusias saat melihat makanan kesukaannya itu.
__ADS_1
"Sabar, Sayang. " ujar Zoya kemudian meletakkan piring puding cake di dekat Hans yang masih rebahan di karpet. Hans, hanya melirik gadis yang membuatnya begitu penasaran itu. Tapi, ada rasa bahagia saat Zoya mampu menciptakan sebuah keluarga yang pernah dia impikan.
Mendengar suara bel, Zoya pun beranjak untuk membuka pintu, karena Bi Muna sedang keluar untuk belanja.
Dengan bersemangat Zoya berjalan ke arah pintu, dia sangat yakin jika itu Nila.
"Nila... " lirihnya saat membuka pintu, tatapannya kini tertuju pada sosok di belakang Nila. Gadis yang sedang terhenyak kaget itu pun, mempersilahkan masuk kedua tamunya.
"Apa kabar, Zoya? " sapa Wildan saat berjalan masuk. Nila memang datang dengan Wildan.
"Baik, Gus."
"Silahkan Duduk, Nil! " ujar Zoya masih merasa terkejut saat melihat Wildan datang bersama Nila.
"Zoya, rumahmu besar, ya? " ucap Nilla dengan berbasa basi.
"Rumah suamiku, Nil! " elak Zoya.
"Halah, sama saja. "
"Oh ya, Bang Wildan sekarang jadi dosenku, aku kuliah di salah satu universitas islam di sini lo, kita bisa ketemu kalau ada waktu. " jelas Nila begitu senang bisa bertemu kembali dengan Zoya.
Hampir satu jam mereka saling mengobrol, bernostalgia dan bercerita tentang kehidupan mereka saat ini.
"Zoy, aku punya buku untukmu. Barangkali kamu mau membacanya saat luang. " ujar Wildan dengan menyerahkan sebuah buku bersampul kuning dengan judul La Tahzan. Wildan, dia begitu tahu apapun yang Zoya rasa, gadis itu terlalu pintar menutupi perasaannya.
"Terima kasih, Bang! " ucap Zoya dengan menerima buku tersebut. Senyum melengkung di bibir Wildan, membuat Nila menautkan kedua Alisnya penuh curiga.
Mereka menghabiskan waktu hampir satu jam untuk saling bertukar cerita. Akhirnya Nilla memilih untuk berpamitan karena sebentar lagi di pondoknya akan ada acara. Ya, Nilla memang tinggal di pondok yang tidak jauh dari kampusnya.
Sepasang mata sudah memperhatikan mereka sedari tadi. Bahkan, Hans bisa melihat sorot mata tidak biasa lelaki berwajah teduh itu saat menatap istrinya. Apalagi sikap simpatiknya pada Zoya, membuat Hati Hans serasa bergemuruh.
Cemburu, Kah? Lelaki berbibir tipis itu selalu menepis istilah itu untuk apa yang sedang dirasakannya. "Aku hanya tidak ingin, tidak di hargai sebagai seorang suami saat laki laki lain menatap istriku penuh kekaguman. " Hans bermonolog dengan hatinya, tapi tatapan tajam tidak beralih untuk mengiringi kepergian tamunya itu.
__ADS_1
Bersambung.....
La Tazhan, Buku yang pernah popular di tahun 2006 an....