Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Gelisah(Extra Part)


__ADS_3

Meski semalam pertengkaran hebat terjadi tapi Nilla masih menyiapkan sarapan untuk mereka. Terserah apa komentar mereka terkhusus Ummi. Hanya menu simple, opor ayam dan sambel goreng kentang semalam yang baru saja dia hangatkan. Di meja juga sudah ada teh hangat dan sepiring pisang goreng. Kali ini, dia sudah pada titik terserah.


Rumah masih sepi, di kamar tamu sayup-sayup terdengar suara orang mengaji. Entah Mayra atau Ummi, atau keduanya dia tidak terlalu mendengar jelas. Sedangkan, Wildan Masih berada di perpustakaan mengkaji buku yang akan di jadinya materi mengajar.


Pukul Enam pagi Nilla bergegas mandi untuk bersiap pergi ke kampus. Rasanya tidak sabar dia untuk meninggalkan rumah ini. Dia butuh untuk meraup banyak oksigen di luar sana.


Nilla menyambar begitu saja tas dan buku tebal yang akan dia bawa ke kampus. Saat melangkah keluar, dia hampir saja bertabrakan dengan Wildan yang akan masuk ke dalam kamar.


"Loh, mau kemana pagi pagi sekali, Nil?" tanya Wildan dengan menahan tangan Nilla.


"Ke kampus!" jawab Nilla singkat. Tangannya masih meronta berusaha melepaskan cekalan suaminya.


"Kamu nggak ada kelas pagi, kan?" selidik Wildan yang sudah mulai hafal istrinya.


"Ada pergeseran jam. Lepaskan jika tidak, aku akan telat!" pinta Nilla dengan nada tajam.


Wildan yang masih bingung hanya mematung membiarkan Nilla melenggang keluar rumah tanpa bersalaman seperti biasa.


"Nil... " panggil Wildan yang berusaha mengejar, bermaksud mengantarkan Nilla ke kampus. Tapi, saat dia berlari ke luar, bayangan Nilla saja sudah tidak ada. Lelaki itu hanya menatap jalanan yang masih nampak sepi sebelum kembali masuk ke dalam rumah.


Nilla membekap mulutnya sendiri, dia ingin menangis sejadi jadinya. Tapi, akan sangat memalukan jika ada tetangga yang melihatnya histeris. Nilla masih berdiri di balik tembok yang menjulang tinggi. Hatinya masih terasa nyeri saat mengingat kejadian semalam.


"Aku akan menata hidupku, apapun yang terjadi aku sudah tidak peduli." gumam Nilla. Hatinya mulai mengeras.


Saat kembali ke dalam rumah, pikiran Wildan menjadi gelisah. Rasanya dia tidak percaya jika pagi ini Nila ada pergeseran jam dari dosen.


"Gus, dari mana?" tanya Ummi Maryam, ketika keluar kamar mendapati putranya berjalan dari pintu utama.


"Tadi mau ngantar Nilla.Tapi keburu naik angkot kayaknya." jawab Wildan dengan lemah.Rasa Bersalah pada istrinya semakin berkecamuk.


"Nilla sudah ke kampus? Kok pagi sekali? Apa dia sering seperti itu? Bagaimana dengan sarapan dan keperluanmu?" cecar Ummi Maryam. Dia tidak habis pikir jika putranya akan melakukan semua sendiri seperti saat masih lajang.

__ADS_1


Wildan melirik meja makan, dia melihat meja makan sudah penuh." Sebaiknya, Ummi sarapan dulu!" ajak Wildan dengan menggiring Ummi menuju meja makan.


"Sarapannya nanti saja, menunggu Ning keluar kamar. Ummi akan minum teh hangat saja." ujar Ummi Maryam dengan mengambil secangkir teh yang sudah ada di meja. Wildan masih terdiam, hatinya belum juga tenang memikirkan Nilla.


"Sudah hampir setahun kamu menikah, tapi Nilla tidak kunjung ada tanda tanda hamil. Aku juga melihat Nila tidak ada keinginan untuk cepat punya momongan."


"Ummi, untuk urusan anak itu kan rejeki. Kita tidak bisa memaksakan itu." jawab Wildan singkat.


"Iya, tapi kamu bisa menikah lagi, kan? Mempunyai keturunan yang soleh adalah harapan setiap orang tua di akhirat nanti." desak ummi Maryam.


"Ketika Ummi bertanya pada Mayra tentang jodoh. Dia bilang, sudah menyerahkan semuanya pada Abahnya."


"Ummi,Wildan sudah punya Nilla. Tidak ada wanita yang mau di madu Ummi." sela Wildan mencoba menolak keinginan umminya.


"Tapi, Nilla juga harus tahu diri. Jika dia tidak bisa memberikan keturunan. Agama membolehkan poligami, bahkan jika Nilla ikhlas surga adalah tempat yang sudah dijanjikan. Dari dulu kamu dikasih tahu Ummi untuk menikah dengan Ning Mayra nggak manut, malah bertindak sesuka hatimu." Ummi Maryam langsung menyalahkan Wildan. Dulu keputusan Wildan saat akan menikahi Nilla sempat ditentang Ummi Maryam. Tapi lelaki itu merasa Nilla adalah perempuan yang tepat untuk menjadi istrinya, bahkan dia juga sudah mempunyai perasaan istimewa untuk Nilla.


Obrolan mereka terhenti saat Mayra keluar dari kamar. Dia sudah rapi untuk datang ke acara lomba tersebut.


###


Hans menghela nafas panjang saat perjalanan pulang dari kantor. Hatinya semakin kalut, saat dokter mengatakan tekanan darah Zoya tergolong tinggi. Dan menurut dokter itu sangat berisiko saat menjelang persalinan.


"Assalammualaikum." ucap Hans saat membuka pintu rumahnya.


"Waalaikum salam." jawab ketiga wanitanya hampir saja bersamaan.


"Papa, Mama dibeliin bantal lucu sama Oma." Ale langsung berlari menyambut kedatangan Papanya. Tidak lupa, dia pamer tentang bantal hamil untuk Mama Zoyanya dari Oma.


Zoya juga bangkit menyambut kedatangan suaminya. Hans pun merangkulnya untuk kembali ke tempat duduk sebelumnya.


"Ini loh, Pa, banyaknya Mama." Ale menunjukkan bantal hamil yang baru saja di kirim kurir. Iya, saat melihat iklan bantal untuk ibu hamil. Beliau teringat akan Zoya yang kesulitan tidur.

__ADS_1


"Iya bagus bantalnya." jawab Hans kemudian memilih duduk di karpet mengikuti Ale yang menunjukkan bantal baru mamanya


"Kok sampai malam, Mas." tanya Zoya yang ikut duduk di dekat suaminya.


Mama Shanti masih tenang duduk di sofa. menikmati sinetron favoritnya di channel ikan terbang.


"Kan, sekarang aku tidak punya asisten. Kata kamu suruh nyari asisten cowok?" jawab Hans dengan merangkul tubuh mungil itu dalam pelukannya, tidak lupa dia juga mengelus perut buncit istrinya. Dalam hatinya selalu berdoa semoga anak dan istrinya sehat selalu.


"Papa, Ale juga mau dipeluk." Bocah itu langsung melompat memeluk leher papanya. Membuat Hans berjingkat kaget.


"Loh, emang kenapa dengan Sekretaris barumu." tanya Mama Shanti saat iklan tiba.


"Udah keluar, Ma. Dia kan mencoba menggoda anak Mama yang ganteng ini." jawab Hans dengan narsisnya.


"Perempuan lagi, perempuan lagi Hans. Perasaan kamu juga kalah ganteng dari Ji chang wook. Tapi, ada aja perempuan yang menggoda kamu." mendengar kalimat Mama Shanti, Zoya tersenyum. Dia sudah faham jika mertuanya penggemar drakor. Sedangkan Hans hanya mencebikkan bibir kemudian beranjak untuk mandi.


Rumah sudah terlihat sepi karena Ale sudah tidur. Sedangkan, Mama Shanti masih mengobrol di belakang dengan Bi Muna. Hans menuruni tangga, melihat apa Zoya sudah tidur apa belum. Tapi, belum sampai kamar dia malah melihat istrinya duduk dengan nonton TV padahal dia meminta Zoya untuk tidur lebih awal, mengingat kondisinya.


"Zoy, kenapa belum tidur? Udah dicoba belum bantal barunya?" tanya Hans mendekat ke arah Zoya. Terlihat gelas susu yang sudah kosong berada di atas meja dekat sofa.


"Udah, tadi dicoba. Sampai pegel tidak bisa tidur. Terus bikin susu juga belum ngantuk." jawab Zoya masih dengan memindah mindah channel TV.


Hans akhirnya duduk di dekatnya, dia mencoba tekhnik yang kemarin. Dengan membiarkan istrinya bersandar di tubuhnya, tidak lupa tangannya juga ikut mengusap pelan punggung Zoya.


"Mau Model tidur apa lagi itu, Doni sama Dini? Udah dicoba bantalnya?" tanya Mama Shanti yang melihat adegan dramatis si ibu hamil yang manjanya tidak ketulungan. Kemarin kalau tidak dipijat tidak bisa tidur. Eh, mau lahir malah minta tidur sambil duduk.


"Udah, tapi belum bisa merem katanya." Hans yang menjawab, Zoya masih terdiam karena sudah merasa nyaman memeluk tubuh bidang itu.


"Model saja cucu Oma!" gerutu Mama Shanti menggelengkan kepala tapi dia bahagia anak dan menantunya sudah bisa saling mengisi. Dia melihat Hans tanpa beban menuruti permintaan istrinya. Terserah mau permintaan Zoya atau si kembar, bagi Shanti sama saja. Apalagi saat mengingat masa sulit Zoya. Beliau bisa mengerti jika menantunya itu belum cukup untuk bermanja ketika kehilangan sosok Bapak dalam hidupnya.


"Biar sajalah dia bermanja dengan suaminya." gumam Mama Shanti dalam hati kemudian meninggalkan keduanya untuk masuk ke kamar.

__ADS_1


Hampir setengah jam, Aroma tubuh suaminya dan elusan di punggung membuat Zoya berlahan terlelap. Hanya menjelang kelahiran si kembar saja dia akan melakukannya. Baginya Zoya bisa istirahat.


__ADS_2