Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Menunggu


__ADS_3

"Ale, kenapa nggak mau bobo siang? " tanya Zoya pada putrinya yang masih asyik dengan legonya. Sedangkan, Zoya sudah beberapa kali menguap, dia sudah menahan kantuk karena Ale tidak mau diajak tidur.


"Ale akan membuat istana, Mama. " jawab Ale masih terlihat fokus dengan bangunan legonya.


Sementara, Zoya memilih duduk dengan menselonjorkan kakinya di atas karpet. Saking ngantuknya dia meletakkan kepalanya di atas sofa dan berlahan matanya pun terpejam.


Hening....


Si gembul tidak peduli dengan apa pun, dia fokus untuk membuat sebuah istana seperti apa katanya. Sifat Ale yang kuat untuk mendapatkan keinginannya sangat mirip dengan Renita.


Jari-jari besar itu mengelus pipi cabi gadis yang ternyata sudah terlelap itu. Tapi yang di elus masih tidak bergeming. Hingga akhirnya, elusan itu berganti dengan cubitan lembut di pipi kenyal itu hingga membuat Zoya berjinggat kaget.


"Astagfirullah, Mas. " pekik Zoya dengan menekan dadanya dan menghela nafas panjang untuk meredakan jantungnya yang berpacu kencang.


"Papa,... " teriak Ale saat mendengar teriakan Zoya. Ale kemudian menghambur ke arah papanya yang sudah duduk di tangan sofa.


"Papa, Ale buat istana! " saat di depan Hans, bocah itu langsung memeluk pinggang papanya. Sedangkan, Hans kemudian melorotkan tubuhnya untuk duduk merapat bersama Zoya.


"Istana buatan Ale bagus banget. Papa nggak bisa buat sebagus itu ! " puji Hans dengan mencium pipi Ale. Bocah itu memeluk leher papanya.


"Mas, tumben pulang siang? " tanya Zoya dengan mencium punggung tangan suaminya.


"Jadwal sidang ditunda lagi. Kamu sendiri malah ngantuk di sini? "


"Nggak tega ninggalin Ale main sendirian. " jawab Zoya, Hans menggenggam lengan zoya untuk menahannya agar tetap tinggal saat istrinya akan beranjak pergi. Zoya pun terhenti, mata indah itu dengan malu-malu berganti menatap lelaki yang menganggukkan kepala mengisyaratkan jika dia ingin ditemani.


Lengan berotot itu pun langsung merengkuh paksa bahu kecil Zoya membuat gadis itu mendekap dada lelaki yang saat ini mendambanya.


"Pa, kapan Ale punya adik bayi? Teman teman Ale sudah punya adik bayi." ucap Ale dengan bermanja-manja pada papanya. Hans tersenyum tipis dengan melirik Zoya yang sudah tersipu malu.


"Itu tanya sama Mama Zoya! " jawab Hans sambil tersenyum menggoda istrinya yang salah tingkah.


"Mama, Ale pengen punya adik cewek kayak adiknya Hellen." rengek Ale menginginkan adik cewek seperti adik teman sekelasnya.

__ADS_1


"Nanti kalau Ale udah bisa tidur sendiri, ya!" Dengan tersipu Zoya menjawab pertanyaan Ale, matanya tak berani menatap lelaki yang masih mendekapnya dengan satu lengan.


"Kalau mau bikin adik, Mama Zoya harus tidur di kamar Papa. " sahut Hans dengan melirik Zoya. Saking gregetnya Zoya mencubit pinggang Hans, membuat lelaki itu terkekeh. Berjalannya waktu Zoya mulai terbiasa dengan kelakar Hans. Hans Satrya Jagat, orang hanya mengenalnya sebagai sosok yang cukup berkharismatik dan sedikit angkuh, tapi saat bersama orang yang dia sayangi image itu akan berubah drastis.


"Ih... Papa jangan pegang pegang Mama, dong! Wajah Mama Zoya jadi melah itu loh. " protes Ale. Hans yang mengalungkan lengannya di bahu Zoya pun mengelus dagu istrinya sambil tertawa


"Hayooo...Ale mau adik, nggak? Kalau mau adik, ya harus dielus gini. " Hans sengaja menunjukkan pada Ale gerakan tangannya di dagu Zoya hingga membuat istrinya menghindar dengan menenggelamkan wajahnya di dada bagian sebelah milik Hans.


Notifkasi suara ponsel milik Hans pun terdengar membuat lelaki berhidung mancung itu pun mengurai pelukannya di leher Zoya dan mengambil benda pipih itu di saku celananya.


Wajahnya seketika terlihat serius, bahkan dia sempet menghela nafas panjang sebelum memasukkan kembali ponselnya di dalam saku celana.


"Mas...! " panggil Zoya saat melihat perubahan raut wajah suaminya.


"Aku mau makan, Zoy! " ucap Hans.


Mereka bertiga beranjak dari ruang keluarga menuju meja makan yang ada di lantai bawah. Hans masih menggandeng Ale. Sementara, Zoya berjalan di belakang Hans. Terlihat Bi Muna berjalan dengan tergopoh gopoh saat terdengar suara bel berbunyi.


"Hans... " panggil Naura dengan berlari ke arah Hans yang baru saja menuruni tangga. Tampilannya terlihat kacau dengan beberapa tanda memar di wajahnya.


"Ada apa, Naura? " tanya Hans, membawa Naura untuk duduk di sofa. Sementara, Zoya langsung membawa Ale ke dapur untuk menyiapkan makan siang yang hampir sore.


Sesekali, Zoya menoleh memperhatikan kedua orang yang sedang berbicara serius. Bahkan, hatinya gelisah dan kecewa saat Naura menangis dengan memeluk suaminya.


Ada yang membuat hatinya terluka, rasa kecewa karena dia beranggapan Hans memilih dia saat Hans mengatakan tidak akan melepasnya. Tapi dia juga merasa suaminya tidak mampu melepas cinta pertamanya itu.


"Seharusnya aku tahu diri. Peranku untuk keluarga ini hanya status saja. " gumam Zoya dalam hati. Matanya terasa memanas, tapi ditahannya karena Ale berada di dekatnya.


"Mama, kenapa tante tadi nangis? " tanya Ale.


"Oh, tante tadi mau minta tolong, Papa. " jawab Zoya, padahal dia sendiri juga tidak tahu apapun tentang kedatangan Naura.


"Zoy, aku keluar dulu. " Hans menghampiri Zoya dan Ale untuk berpamitan.

__ADS_1


"Iya, Mas. " jawab Zoya dengan mengambil punggung tangan Hans.


"Sayang, salim sama Papa! " titah Zoya yang diikuti Ale.


"Papa, jangan lama pelginya! "ucap Ale berpesan pada papanya dengan wajah cemberut. Sebenarnya dia masih ingin bermain dengan papanya.


Zoya menatap punggung suaminya yang melangkah keluar rumah bersama wanita yang menjadi bagian dari cerita indah masa lalu suaminya.


###


Sudah pukul sembilan malam Zoya masih menunggu kepulangan suaminya. Apalagi di luar hujan begitu deras. Banyak arti kecemasan dalam hati yang tertuju untuk suaminya.


Zoya meninggalkan Ale yang sudah tertidur pulas di kamar. Rumah masih nampak sepi, dia semakin gelisah karena Hans juga kembali pulang. Zoya melangkah menuju balkon saat hujan berganti rintik gerimis.


Kedua tangannya saling bersedekap menahan hawa dingin malam yang menjalar ke seluruh tubuh. Dia masih berusaha mengusir semua rasa yang membuatnya risau. Dia sudah tidak ingin berharap lagi dengan Hans. Tapi perasaan cemburu itu tidak bisa dipungkirinya lagi.


Sebuah tubuh tegap dan lengan kekar itu berlahan mendekapnya dari belakang.


"Kenapa masih berdiri di sini? " bisik suara berat itu membuat Zoya terkaget.


"Mas... " lirihnya. Zoya berusaha melepas pelukan Hans dari belakang. Tapi Hans masih mengeratkan lengannya melingkar di bahu istrinya. Tubuh mungil itu pun tenggelam dalam dekapan lelaki yang sempat dia cemaskan.


Rasanya dia ingin menangis, Namun di tahannya dengan sekuat tenaga, hingga wajahnya sedikit mendongak seolah bersandar di dada bidang Hans.


"Lepaskan aku, Mas! " pinta Zoya.


"Please, biarkan seperti ini sejenak. " Hans ingin menikmati suasana seperti ini. Keheningan tercipta sejenak diantara hawa dingin malam. Zoya pun terdiam, meski ribuan pertanyaan dalam pikirannya.


"Seperti ini, kamu hanya memberiku sejuta harapan, Mas!" gumamnya dalam hati dengan memejamkan matanya. Dia merasakan kehangatan dalam dekapan tubuh berotot milik suaminya. hatinya terasa bercampur aduk, bahagia, sedih dan sedikit rasa sesak saat mengingat ada perempuan lain yang mengisi hati suaminya.


"Mas, dari mana? " tanya Zoya memecahkan keheningan diantara mereka.


"Dari hotel, aku terjebak hujan saat akan pulang. Maaf, tadi nggak jadi makan siang. " ujar Hans dengan suara lirih. Hans masih menikmati aroma wangi rambut istrinya. sementara, hati Zoya serasa nyeri saat membayangkan suaminya menghabiskan banyak waktu di hotel bersama wanita lain.

__ADS_1


Bersambung....


maaf kemarin telat up karena akhir bulan terlalu banyak kerjaan tutup bulan hehehe


__ADS_2