
Mobil CR-V putih berhenti tepat di depan Zoya yang sudah berdiri di pinggir jalan. Iya, Sebelum keluar kantor Hans menelpon istrinya untuk menanyakan keberadaannya. Saat mengatakan masih di Mall, Hans pun berinisiatif untuk menjemput Zoya.
Terlihat oleh Hans perempuan yang sedang berdiri dipinggir jalan. Perempuan yang mengenakan jilbab berwarna mint, make up tipis dan natural mendukung tampilannya yang terkesan masih remaja.
Saat mobil berwarna putih itu berhenti, Zoya langsung masuk ke dalamnya ketika Hans membuka jendela mobil.
"Zoy, kenapa tidak menunggu di caffe shop yang ada di dalam?" ujar Hans saat melajukan kembali mobilnya. Mobil itu melaju dengan dengan sangat halus di atas aspal jalanan kota yang cukup padat.
"Ingin cepat sampai rumah." jawab Zoya masih dengan menatap jalan di depannya. Cuaca yang sudah mulai meredup. Lalu lalang sepeda motor yang melaju memadati jalan kota yang penduduknya memang dipenuhi oleh mahasiswa.
"Masih marah karena yang semalam?" Dari balik kaca mata hitamnya, lelaki itu masih masih betah melayangkan lirikannya pada Zoya yang tak geming.
"Uhhhh... Sayang." Hans mecubit pipi cabi Zoya membuat perempuan itu harus meringis menahan panas yang menjalar akibat cubitan gemas jari jari besar itu.
"Mas Hans, sakit!" keluh Zoya dengan mengelus pipinya yang terlihat memerah sebagian.
"Aku gemas, Zoya!" balas Hans. Tapi, Zoya sudah tidak menyambung lagi, masih merasa enggan untuk menjawab omongan suaminya.
Hans melirik kembali Zoya yang masih cemberut. Dia baru menyadari jika kemarahan istrinya belum juga mereda. Semua gara-gara bergaul dengan para bujang lapuk membuat urusan cintanya menjadi runyam. Menyebalkan. Geram Hans dalam hati ketika melihat kemarahan Zoya yang bersifat samar-samar itu ternyata menjadi awet.
Mobil berhenti, Zoya langsung bergegas turun dan berjalan memasuki rumah dengan membawa barang belanjaannya.
"Assalamualaikum." ucap Zoya saat membuka pintu utama rumah yang berhiaskan ornamen mewah nan klassik.
"Waalaikum salam, Mamaaaaa....!" teriak Ale menyambut kedatangan Zoya. Bocah itu berlari menghambur, memeluk Zoya hingga langkah mamanya terhenti di depan pintu.
"Papa?!" Ale tidak menyangka mamanya ternyata datang bersama papanya. Wajah bocah itu semakin sumringah. Dua orang yang sudah dia tunggu ternyata pulang bersama.
"Ale, ini buat Ale dari Om Reynaldy. Mama, mau mandi dulu, ya!" pamit Zoya dengan menyerahkan boneka beruang pemberian Rey.
"Waahhh bagus, Ma!" Bocah itu langsung berbalik mencari omanya yang masih memainkan ponselnya di depan TV. Apalagi jika bukan pamer dengan boneka barunya.
Lelaki yang mendengar nama Reynaldy disebut oleh istrinya kini mengernyitkan dahi. Mencoba meyakinkan kembali pendengarannya. Tanpa berfikir lama, Hans pun mengejar istrinya untuk mencari penjelasan dengan apa yang baru saja dia katakan.
"Zoy-Zoya." panggil Hans saat masuk ke dalam kamar. Terlihat Zoya sedang membuka jilbabnya meletakkan bross di kotak aksesoris.
"Zoy, kamu janjian sama Rey?" cecar Hans dengan memutar tubuh istrinya agar menghadap ke arahnya. Zoya seketika terkesiap melihat reaksi Hans.
__ADS_1
"Tidak, Mas. Aku cuma ketemu di toko perhiasan. Terus, Bang Rey ingin memberikan Ale boneka." jelas Zoya, tapi Hans masih menatapnya datar dengan guratan wajah yang menegang, tubuh besarnya yang semakin maju membuat Zoya berlahan memundurkan langkah hingga terhenti pada salah satu dinding kamar.
"Kamu ingin membalasku?" Hans mengeram lirih. Tatapan tajamnya tidak luput dari mata bulat istrinya, wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter saja. Beda dengan dulu, saat ini Zoya susah terbiasa menghadapi emosi suaminya.
"Papaaaa...!" Seketika Ale berlari dengan membuang boneka yang tadinya dia bawa kesembarang arah. Dengan tangisan histeris bocah itu berlari mendorong papanya (meskipun percuma) kemudian memeluk Zoya.
"Mamaaaa... ayo bilang Oma kalau Papa nakal!" Bocah gembul itu mulai terisak dengan tangisnya dan itu masih dengan memeluk Zoya. Kecemasan akan kemarahan yang pernah dilakukan Hans pada Zoya kini kembali terlintas di benak bocah itu.
"Ale, dengarkan Papa!" Hans mulai berjongkok mendekati putrinya untuk mencoba menenangkannya. Tapi, bocah itu masih menangis dengan memeluk pinggang Zoya dengan erat.
Hans menghela nafas panjang. Dia tidak pernah menyangka jika putrinya merekam kemarahan yang pernah dia tujukan pada Zoya saat Ale dan Zoya pulang terlambat dulu.
"Sayang, Papa tadi cuma mau memeluk Mama. Ale tahu kan, Mama kalau lagi ngambek nggak mau coklat." Zoya masih mencoba menenangkan Ale, tangan mungilnya terus saja mengusap kepala putrinya hingga Ale mendongak mencari kebenaran di wajah wanita yang dia sayangi.
"Benar, Ma?" tanya Ale dengan sesenggukan.
"Lihat saja Papa! Apa Papa kelihatan marah?" Zoya masih mencoba meyakinkan putrinya.
Ale menoleh ke samping, menatap wajah Hans yang tersenyum kaku. Iya, dia memang belum ingin tersenyum jika saja bukan karena menenangkan putrinya.
"Papa sayang kalian. Papa tidak marah." ujar Hans kembali meyakinkan Ale.
"Mama memeluk Papa, kan?" Zoya melingkarkan lengannya di pinggang Hans.
"Papa cium Mama!" pinta bocah itu membuat Hans melingkarkan lengannya di bahu kecil Zoya. Sambil berbisik dia mencium pipi cabi istrinya." Maafkan Aku."
"Papa kalau nakal, Ale bilangin Oma." ancam bocah itu dengan menatap tajam papanya.
"Iya Papa tidak berani sama kalian bertiga!" ujar Hans dengan tersenyum kedua tangannya pun terangkat, menandakan jika dia akan menyerah jika menghadapi tiga wanitanya itu.
Saat Zoya memilih duduk untuk menenangkan Ale. Hans memilih masuk ke kamar mandi. Dia yang akan mandi terlebih dahulu.
Hans Pov
Seharusnya aku bisa membaca lebih awal, sebelum Ale berteriak histeris. Aku merasa bersalah dengan dua wanitaku itu. Aku membuat trauma dalam jiwa putriku.
Sementara Zoya, dia selalu menanggung akibat dari emosiku yang kadang meledak ledak. Seharusnya, aku bisa belajar untuk menganalisanya terlebih dahulu.
__ADS_1
Aku masih percaya dengan istriku. Dia wanita sholehah yang bisa aku percaya ucapannya. Jika dia memang berniat buruk pasti akan menyembunyikan semuanya. Nyatanya dia mengucapkan jika itu pemberian Rey di depanku tidak ada yang ditutupi Zoya dariku.
Rey memang cerdik, dia bisa melakukan apapun untuk menaklukkan lawan. Jika istriku begitu naif seharusnya aku yang lebih peka untuk mempertahankan keluargaku.
Hans terus saja berfikir di bawah guyuran air shower. Dia tidak akan membiarkan orang lain mengambil apa yang sudah menjadi miliknya apalagi itu kesayangannya.
###
Kyara menikmati makan siangnya dengan begitu lahap hingga tidak menyadari seseorang sudah berdiri di dekatnya.
Saat masuk di kafe yang menjadi langganannya untuk menikmati makan siang. Rey mendapati seorang gadis dengan blus bermotif floral yang di padu dengan celana berbahan kain. Kyara, gadis itu duduk di dekat jendela kafe dengan menikmati makan siangnya.
"Ehm, ehem..." Rey mencoba menunjukkan keberadaanya pada gadis yang saat ini menoleh dan menyuguhkan senyum dengan dehemannya.
"Lahap banget kayak orang kalap." ujar Rey masih menatap mulut penuh kyara yang masih mengunyah hingga menelan makanannya.
"Makan Bang, agar kuat menghadapi kenyataan."
"Kamu ini tidak usah menyindir." balas Rey dengan mengacak rambut panjang kyara.
"Astaga, baperan juga butuh tenaga. Ayo, menu sup iganya di sini enak, lo!" jawab Kyara dengan menyesap jusnya.
"Aku sudah memesannya, sebentar lagi pasti datang."
"Kamu cewek makannya banyak juga ya?" Rey masih menatap gaya makan Kyara yang tidak ada jaim jaimnya di depan cowok.
"Itu bukan pertanyaan untuk pertama kalinya, Bang. Bang Rey selalu menanyakan itu terus setiap kita makan bareng." jawab kyara dengan cuek padahal jantungnya berdegup sangat kencang karena lelaki di depannya menatap tanpa henti dengan senyum tipis di bibirnya. Tapi, dia tidak ingin Rey melihat perasaanya yang sebenarnya karena dia tahu Rey sedang mengejar perempuan yang mampu membuatnya jatuh cinta.
"Kembali ke kantor jam berapa?" Rey kembali bertanya.
"Habis ini, langsung balik kantor. Soalnya Papa sedang keluar negeri dengan Mama baruku." jawaban santai Kyara membuat Rey kembali terheran. Gadis macam apa gadis di depannya, dimana perasaannya? Apa apa di buat santai.
"Kamu terima papamu menikah lagi? " lanjut Rey.
"Kenapa? Papa juga berhak bahagia. Ada yang menemaninya untuk menghabiskan masa tuanya. Kita realistis, Bang. Mama sudah di surga. Dunia mereka berbeda. Aku tidak ingin Papa larut dalam kesedihan. Dan memburuku untukk segera menikah! "
"Uhuk uhuk.... " Saat menyesap kopinya seketika Rey terbatuk mendengar alasan terakhir Kyara.
__ADS_1
"Dasar kamu tetap aja ada modusnya. Uhuk.. uhuk...uhuk...!" Lelaki berkulit sawo matang itu kembali terbatuk batuk hingga Kyara menyodorkan segelas air putih untuknya.
Bersambung.....