
Wildan berjalan tunggang langgang dengan membopong tubuh Nilla. Pertama yang dia tuju adalah posko unit kegiatan mahasiswa PMI yang tidak pernah lenggang dari penjagaan anggotanya.
"Sayang, ayo bangun, Nil." ucap Wildan dengan terus menggenggam satu tangan Nilla. Dari pemeriksaan tim PMI, tekanan darah Nilla memang sangat rendah.
Nilla mulai mengerjapkan mata. Orang pertama yang dilihatnya adalah Wildan yang kini tersenyum ke arahnya. Tapi, Nilla masih tidak ada reaksi apapun. Tatapannya kemudian mengedar meneliti setiap sudut ruang sempit yang saat ini dia tempati. Dia baru mengingat jika pandangannya sempat menggelap di lantai dua tadi.
Nilla berusaha bangkit, saat Wildan akan membantunya Nilla memilih untuk menahan suaminya. Melihat reaksi Nilla membuat Wildan kecewa.
"Kita ke dokter ya, sayang! " Wildan masih membujuk Nilla.
"Tidak usah, aku ingin pulang menyelesaikan masalah kita dan mengambil barang barangku." Wildan hanya terdiam mendengar kalimat istrinya. Mungkin benar, di rumah dia bisa menjelaskan pada Nilla tentang semua duduk permasalahan mereka.
Nilla memang tidak mau menerima bantuan apapun dari Wildan. Berlahan keduanya berjalan dengan pelan menuju mobil Wildan yang terparkir di depan depan kantor dosen.
"Kamu mau makan apa?" tanya Wildan sebelum melajukan mobilnya. Meskipun, tawarannya di tolak Nilla. Tapi, lelaki itu tetap berniat membeli makanan, bahkan lebih banyak berharap ada salah satu diantaranya yang diinginkan istrinya. Dia sangat cemas saat melihat wajah pucat itu terlihat sangat lesu.
Saat menghentikan mobilnya di depan garasi, Wildan langsung berlari memutar membukakan pintu untuk Nilla.
"Terima kasih, Bang." Saat mendengarnya Wildan merasa hatinya melemah. Nilla terlihat lebih banyak diam dan kembali memberi jarak dengannya.
Setelah mengambil semua belanjaan makanan, Wildan mulai mengejar Nilla yang sudah sampai di depan pintu. Lelaki itu pun membuka pintu dengan kunci yang sudah dia siapkan sejak tadi.
Mereka berjalan masuk. Ketika Nilla masuk ke dalam kamar, Wildan lebih dulu menaruh makanan yang tadi di belinya di meja makan. Lelaki itu pun tidak sabar menemui istrinya. Tapi, saat di depan pintu, dia sempat mematung melihat apa yang di lakukan istrinya. Tapi, kesadaran dengan cepat menguasainya membuat Wildan dengan cepat melangkah menghampiri Nilla yang sudah di mengeluarkan pakaiannya.
"Nilla...apa yang kamu lakukan?" Wildan langsung berdiri di depan pintu almari yang terbuka.
"Biarkan aku pergi, Bang!"
"Bagaimana aku membiarkan kamu pergi? Kamu istriku, Nil." jawab Wildan dengan penuh penekanan, dia tidak menyangka jika semua berbuntut seperti ini. Nilla menatap mata Wildan, ingin menemukan banyak jawaban atas semua pertanyaannya.
"Biarkan aku mengambil barang-barangku terlebih dulu." Pinta Nilla dengan berdiri tepan di depan Wildan.
"Dengarkan penjelasan Abang." sahut Wildan, tapi bagi Nila percuma dari kemarin Wildan hanya berusaha meyakinkannya padahal kenyataannya dia selalu tersakiti bahkan kilasan pertengkaran saat tangan kekar itu akan menamparnya pun kembali berkeliaran di otaknya.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Aku sudah cukup tahu diri." Nilla mencoba mendorong tubuh yang sama sekali tidak bergeming. Bahkan, tangan Wildan mulai memegang bahu kecil Nila untuk diam di depannya tapi Nilla terus saja meronta.
"Nila... "
__ADS_1
"Semua sudah jelas. Abang tidak pernah mencintaiku, keluarga Abang juga tidak bisa menerimaku. Bahkan, aku tidak bisa memberimu anak. Biarkan aku pergi, Bang. Abang bisa menikah lagi dengan perempuan yang sudah sepantasnya." Mendengar ucapan Istrinya Wildan hanya bisa memeluk Nilla. Rasa bersalah kini menyelimuti harinya. Dia tidak menyangka Nilla berfikir seburuk itu tentang posisinya.
"Maafkan Abang, Nil." Nilla sudah tidak peduli dengan apa yang dikatakan Wildan, dia terus saja meronta dengan isak tangis yang terdengar miris di telinga lelaki yang saat ini mengkungkungnya dalam pelukan.
"Aku lebih baik sendiri. Dari pada harus dipoligami." Kalimat Nila begitu lirih tapi masih terdengar di telinga Wildan. Lelaki itu menghujani ciuman di kepala perempuan yang tubuhnya mulai lemas dalam pelukannya.
"Tidak ada yang akan mempoligami dirimu." jawab Wildan masih dengan memeluk Nilla. Tapi, saat merasakan tubuh Nilla tidak bertenaga, dia baru menyadari jika Nilla kembali tidak sadarkan diri. Kali ini, dia langsung membawa Nilla ke klinik. Dia begitu mencemaskan kondisi Nilla, tekanan darah, tidak ada asupan makanan yang masuk dan kali ini kedua kalinya Nilla tidak sadarkan diri.
###
Kyara masih sibuk dengan beberapa arsip yang saat ini sedang dia periksa. Tidak ada cara lain untuk mengusir kegelisahannya saat ini kecuali dengan bekerja dan bekerja. Perdebatan terakhir dengan Papanya membuatnya memutuskan untuk melupakan seseorang yang sudah sepantasnya dia lupakan.
"Maaf, Bu." ucap asistennya setelah mengetuk pintu ruang kerjanya.
"Masuk, Nin." jawab Kyara membuat Nindi masuk dan mendekat ke meja bosnya itu.
"Ada kiriman buket bunga." Kyara menerima buket bunga yang di sana terdapat nama si pengiriman Daniel.
"Baiklah kamu bisa keluar, Nin." pinta Kyara kemudian membaca tulisan di kertasnya.
Apa kabarnya, Ra. Satu Minggu rasanya terlalu lama bagiku.
Kyara mulai berfikir, mungkin orang yang memberinya barang barang misterius itu Daniel?
Pandangannya kini tertuju pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul empat sore ini seharusnya dia sudah sampai di restoran tempat yang sudah disepakati dengan kliennya.
Dengan sangat tergesa-gesa Kyara membereskan pekerjaannya. Dia sudah sangat terlambat untuk saat ini. Dengan membawa beberapa map yang isinya kertas penting Kyara pun bergegas keluar dari ruangannya untuk bertemu klien secepatnya.
"Astagfirullah." ucap kyara saat menghentikan mobilnya di depan sebuah resto ternama.
Dia turun dari mobil dengan membawa beberapa stap map dengan kertas kertas penting yang perlu ditandatangani klien. Dengan langkah tergesa dia berjalan ke arah pintu masuk.
"Bruughh..." seorang laki laki menabrak bahunya membuat beberapa kertas tercecer.
"Ya Allah, kalau jalan lihat dong, Mas." tanpa melihat siapa yang menabraknya, dia langsung berjongkok dan memungugi ceceran kertas dibantu lelaki itu.
"Jika kamu penting baginya, dia pasti akan menunggumu." ucap Lelaki bertopi itu dengan menaruh tumpukan kertas yang di dekat kakinya.
__ADS_1
Kyara baru ingin melihat seperti apa yang menabraknya. Tapi, saat dia menoleh mencari keberadaan lelaki itu yang terlihat hanya sebuah perawakannya dari belakang yang tidak lama kemudian menghilang dari balik jajaran mobil yang terparkir.
"Bang, Rey." lirih Kyara dengan pandangan menerawang menatap dimana lelaki itu menghilang. Sungguh, nama itu spontan terucap padahal sudah ingin dia singkirkan dalam hidupnya.
"Drt... Drt... Drt... " suara ponselnya menyadarkan Kyara dari lamunannya. Dia kemudian mengangkat panggilan dari klien dengan kembali berjalan masuk ke dalam restoran.
###
Rumah kediaman Hans bertambah ramai sejak hadirnya si kembar. Sudah dua hari mereka kembali dari rumah sakit. Untuk sementara Hanum dan Aleks masih berada di kamar Hans dan Zoya, sebelum ada baby sitter yang akan membantu Zoya menjaga Hanum dan Aleks.
"Mama, kenapa Aleks tidur terus sih?" tanya Ale setelah mondar mandir melihat kedua box adiknya secara bergantian. Sedangkan Mama Shanti berbaring di dekat Zoya yang masih duduk selonjoran. Aleks memang terlihat lebih tenang dari Hanum yang sedikit rewel.
"Assalamu'alaikum." Hans membuka pintu kamarnya ternyata sudah di penuhi ketiga anaknya dan mamanya.
"Waalaikum salam." jawab Zoya kemudian mulai bangkit menyambut kedatangan suaminya.
"Mas, cuci tangan dulu!" pinta Zoya saat Hans akan menghampiri box anak anaknya. Saat Hans mulai berjalan menuju kamar mandi, tangisan Hanum mulai terdengar memenuhi ruangan. Semua tidak kaget lagi, setiap Papanya datang dia mulai menangis sebelum mendapatkan gendongan dari papanya. Begitupun saat malam ketika dia terbangun hanya gendongan papanya yang bisa membuatnya kembali terlelap.
"Adek Hanum, lihatlah Kak Aleks, dia tidak pernah menangis." ucap Ale dengan menyentuh pelan tangan adeknya.
Setelah keluar dari kamar mandi, Hans langsung menghampiri putrinya yang super manja itu.
"Oh putri Papa yang cantik. Kangen ya, sama Papa?" ucap Hans dengan pelan kemudian mengambil Hanum dalam books. Ale yang melihatnya langsung ikut melihat adeknya dari dekat.
"Kalau Mas Hans capek biar, Hanum sama aku saja." ujar Zoya, kadang dia merasa kasihan dengan suaminya. Seharian sudah lelah bekerja tapi Hanum masih ingin mendapatkan gendongan papanya.
"Nggak apa apa, Zoy. Saat melihat Hanum lelahku seketika langsung hilang." jawab Hans.
"Lihatlah! Dia cantik sepertiku." Hans tersenyum saat meneliti detail wajah putrinya yang merupakan perbaduan dari wajahnya dan wajah Zoya.
"Papa, kalau cantik itu mirip Mama." Protes Ale bocah itu selalu improvisasi.
"Papa, Ale juga cantik." Lanjut Ale yang sedikit cemburu saat papanya hanya memuji adiknya.
"Iya, Kak Ale cantik juga pinter. Seharian Kak Ale jagain adeknya lo, Mas!" puji Zoya membuat Ale senyum senyum malu.
"Iya, Pa. Ale kakak yang baik, kan?" timpal Ale membuat Hans tersenyum.
__ADS_1
"Wah, gembulnya Papa top dan paling oke pokoknya. Jagain adek terus, ya! Sampai Ale dewasa pun harus jagain Adek." pinta Hans. Dia berharap ketiga anak anaknya akan saling menjaga sampai kapanpun, hingga mereka melupakan jika mereka dari ibu yang berbeda.
TBC