Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Merasa Bersalah


__ADS_3

Zoya menggandeng Ale dengan menahan tangisnya agar tidak pecah di depan bocah itu. Hatinya terasa nyeri saat mengingat kata-kata kasar suaminya yang sudah menusuk hatinya, baru kali ini seseorang mengumpat kepadanya dengan istilah liar.


"Ale sekarang mandi dulu, terus kita sholat ashar, ya! " ajak Zoya untuk menyibukkan Ale agar tidak memikirkan kejadian tadi.


"Iya, Ma! " Ale masih terlihat shock. Tapi Ale memang anak yang cerdas dan pemberani.


Zoya mulai memandikan Ale, bocah itu masih terlihat banyak diam. Mungkin, dia merasa sedih saat melihat Hans yang sedang murka.


"Ale, tadi menyanyi apa di sekolah? " tanya Zoya saat masih menggosok tubuh gendut itu dengan sabun.


"Ale diajali bersholawat dan belajal berdoa sepelti yang diajalin mama Zoya. " jawab Ale.


"Ma, kenapa Papa malah-malah? " Akhirnya pertanyaan itu meluncur juga dari bibir mungil putrinya.


"Papa tidak marah, Papa cuma khawatir saja kita pulangnya terlambat. " jawab Zoya dengan mengakhiri kegiatan memandikan Ale.


Setelah itu, Zoya mengganti baju Ale hingga akhirnya Zoya juga mandi dan mereka sholat ashar bersama.


Ale meminta Zoya untuk mendongengkan kisah kisah para Nabi yang kata Ale, seperti yang di ceritakan ibu gurunya di sekolah. Mereka merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Sebenarnya, Zoya tidak ingin Ale tidur setelah masuk waktu ashar. Tapi, Ale terus merengek dengan alasan tidak akan tidur.


Tidak terlalu sulit bagi Zoya untuk mendongengkan kisah tauladan para nabi dan sahabatnya karena dulu saat kecil bapaknya pun sering melakukan itu padanya. Kesedihan itu semakin membuncah dalam hatinya.


Tidak sampai satu cerita habis ternyata putri kesayangannya itu pun sudah tertidur. Zoya Kembali kepada perasaannya yang sebenarnya. Air matanya meleleh, sedari tadi dia menahannya agar Ale tidak mengetahui jika Hans sudah melukai perasaanya. Tak lama kemudian, dia pun ikut tertidur karena pengaruh obat yang diberikan oleh dokter.


###


Tempat yang dituju Hans untuk menyendiri saat ini adalah apartemen, dia punya sebuah apartemen yang tidak diketahui siapa pun kecuali Ryan.

__ADS_1


Hans berjalan melewati lobi. Dia masuk ke dalam lift dan memencet tombol empat belas, unit apartemennya ada di lantai tersebut.


Lift terbuka, sambil berjalan menuju unit apartemennya, jari jari besar itu terus mengetik, membalas pesan yang dikirimkan Ryan padanya. Rahangnya masih mengeras saat dia memencet tombol password untuk membuka pintu apartemennya dan segera masuk ke dalam.


Sebuah apartemen mewah hanya terdiri dengan satu kamar tidur yang cukup luas adalah tempat yang menjadi tujuan laki-laki itu untuk merenung.


Matanya mengedar menatap ruangan yang masih nampak sunyi. Hans berjalan menuju dapur untuk membuat kopi. Perasaannya malah menjadi campur aduk, saat ingatannya tertuju pada mata indah yang berkaca kaca menahan tangis bersamaan dengan suaranya yang menggelegar membentaknya.


Tapi, satu sisi ada kemarahan di mana dia merasa tertipu dengan wajah polos Zoya. Dia menghela nafas panjang, mencoba mengontrol emosinya. Seharusnya, dia tidak semarah itu menghadapi semua.


Hans berjalan menuju ruang tengah dengan membawa secangkir kopi, tapi tidak lama kemudian bel berbunyi. Lelaki berhidung mancung itu memilih meletakkan cangkirnya di sebuah partisi ruangan dan berjalan untuk membukakan pintu.


"Masuk! Kalau mau kopi, bikin sendiri! " ucap Hans setelah membukakan pintu untuk Ryan.


"What happen, Bro? " ujar Ryan seraya berjalan membuntut di belakang Hans.


"Aku tadi melihatmu pulang dengan terburu buru. Bahkan, tidak biasanya kamu pulang secepat itu. Sebenarnya ada apa? " Ryan masih mencecar Hans dengan banyak pertanyaan. Mereka memilih duduk di ruang tengah, Hans mengambil remot AC untuk mengatur temperatur suhu agar lebih dingin.


"Zoya, maksut kamu? " tanya Ryan menanggapi cerita Hans yang panjang lebar itu.


"Iya... " jawab Hans singkat. Situasi seperti ini, Ryan tak berani meledek Hans. Bisa terlihat emosi yang masih terpancar di wajahnya, meski laki laki itu terlihat lebih tenang ketika menyandarkan punggungnya di sofa.


"Seharusnya memang tidak seperti itu, Bukannya aku membela Zoya. Tapi, gadis itu tidak seharusnya menerima perlakukan itu. Bukankah, kamu bisa menanyai Ale? Seharian mereka kemana saja? " ucap Ryan mencoba memberi solusi untuk Hans.


"Astaga... aku tidak kepikiran ke situ, Yan! " ucap Hans dengan memukul pelan jidadnya. Dia begitu menyesal kenapa tidak kepikiran untuk menanyai putrinya terlebih dahulu.


"Makanya jangan keburu emosi dulu, jangan kebakar cemburu dulu! " ledek Ryan saat melihat wajah Hans mulai tenang.

__ADS_1


"Siapa juga yang cemburu? Aku itu khawatir mereka melibatkan Ale dengan urusan orang dewasa. " kilah Hans dengan kembali menikmati kopi yang baru saja dia buat.


"Ya-ya.... aku mengerti. " jawab Ryan dengan senyum mengejek. Menurutnya apa yang di katakan sahabatnya itu tidak sesuai dengan apa yang sudah dia fahami selama menjalin persahabatan denganya.


Mereka terbawa obrolan dengan berbagai topik. Hingga pukul sembilan malam, mereka memutuskan untuk pulang. Rencananya, Hans ingin menginap di apartemen tapi rasa bersalah dan rasa penasaran membuatnya ingin segera sampai ke rumah.


###


Hans keluar dari mobilnya yang sudah terparkir di garasi. Tampilannya terlihat sangat kusut saat memasuki rumah bergaya Eropa itu.


Hal pertama yang di tuju ketika memasuki rumah adalah dapur, dia biasa melihat Zoya di sana saat pulang dari kantor.


Tapi kali ini, dapur terlihat sepi dan ruang makan yang tak berpenghuni. Hanya beberapa mangkuk penuh makanan yang nampak sudah disiapkan untuknya. Rasa bersalah itu semakin timbul, saat menyadari Zoya tak pernah melalaikan tugasnya.


Dia kembali meraup wajahnya dengan kasar. Langkahnya kini tertuju pada kamar Ale, berharap masih menemukan tawa kedua wanita yang ada dalam hidupnya itu.


Berlahan dia membuka pintu kamar. Sepi, Zoya sudah meringkuk memeluk tubuh gembul putrinya. Hatinya, begitu tersentuh saat mengingat bagaimana Ale membela Zoya. Hans tidak pernah membayangkan ikatan perasaan yang terjalin cukup kuat diantara keduanya.


Tatapannya tertuju pada beberapa bungkus obat yang tergeletak di atas nakas. Matanya mengernyit, rasa penasaran membuatnya mendekati dua perempuan yang sudah tertidur pulas.


"Siapa yang sakit? " gumamnya dengan mengambil salah satu bungkus obat. Tatapannya beralih, menyeledik mengamati Ale dan Zoya.


Saat mata tajam Hans tertuju pada sebuah luka di sekitar kaki putih Zoya, Hans menggeser tubuhnya untuk meneliti.


"Astaga Zoy, kenapa seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi?" tidak hanya luka bahkan kakinya sedikit membengkak. Betapa merasa bersalahnya Hans saat ini, ketika teringat makiannya pada Zoya.


Hans berlahan meninggalkan mereka, rasa bersalahnya semakin besar. Kenapa dia tidak bisa mengontrol emosinya? Dia sendiri tidak mengerti alasan apa yang membuatnya semarah itu?

__ADS_1


Bersambung....


Hai haiii readers aquuhhh tercinta, aku up lagi ya.... hehehheeh Ilope u pul, untuk yang selalu ngikuti..... happy reading gaes....


__ADS_2