
"Ya Allah maafkan aku. Maafkan aku, Mas." Tangisnya kembali meledak dengan memeluk lengan berotot yang melingkar di pinggangnya. Rasa berdosa membuat Zoya tidak bisa berkata apapun kecuali menangisinya.
Hans kemudian merebahkan tubuh lelahnya di sebelah Zoya. Tangannya mengelus lembut rambut panjang istrinya. Sentuhan yang cukup menenangkan bagi perempuan yang sedang menangis tersedu sedu itu.
"Aku tahu, tidak mudah untukmu percaya semua yang aku katakan. Tapi, malam ini kamu harus istirahat dulu! Pikirkan juga dua calon anak kita, Zoy!" bujuk Hans, sebisa mungkin dia menenangkan Zoya.
Begitupun Zoya, saat mendengar ada dua jiwa yang kini hidup di dalam tubuhnya, Dia pun mulai meredakan egonya. Emosinya dan rasa lelahnya akan sangat berpengaruh pada calon anaknya.
Usapan halus di rambutnya dan emosi yang sudah menguras tenaganya, berlahan membuat Zoya terlelap. Dengan sangat hati-hati, Hans menarik lengan tangannya yang dijadikan bantalan kepala Zoya. Dia mengambil ponsel istrinya dan meletakkan kembali setelah melihat isi pesan di ponsel Zoya. Dia bisa mengerti saat melihat beberapa foto dirinya saat di club.
Tidak lupa, dia juga kembali memperhatikan kedua lengannya yang terluka. Gila. Dia tak menyangka, Zoya bisa mengamuk seperti itu. Bekas cakaran dan gigitan istrinya masih menyisakan rasa perih di sana.
Saat ini, Hans berganti mengamati wajah tenang dengan pelupuk mata yang sudah membengkak. Rasa sayang dan iba malah semakin terpupuk subur di dalam hatinya. Dia merasa sedikit pertengkaran dan sedikit rasa cemburu membuatnya semakin mencintai perempuan yang punya selisih umur cukup jelas dengannya.
Hans Pov
Semua ini hanya salah faham, Zoy. Jika aku jadi dirimu mungkin aku juga tak kalah marahnya. Aku juga salah karena tidak bisa berterus terang padamu. Bahkan, aku melupakan keinginanmu yang hanya meminta hal kecil.
Tapi, ini pertama kalinya aku melihatmu histeris dan begitu emosional. Aku seolah melihat gambaran emosiku ada padamu. Apa mungkin istilah bawaan orok itu benar adanya? Aku jadi ingin tersenyum sendiri.
Mungkin akan terdengar konyol jika aku sedikit merasa senang. Kamu cemburu, Zoy. Itu artinya kamu sangat mencintaiku. Jika pun ada orang yang berniat menghancurkan rumah tangga kita, itu hanya akan menjadi mimpi belaka.
Zoya Kamila, bersamamu aku mengenal cinta yang berbeda, rasa marah, rasa cemburu, rasa takut kehilangan, rasa ingin menjaga dan rasa peduli.
Tapi, siapa orang yang mengambil gambarku di club? Dan kenapa memilih mengirim di ponselmu? Apa itu Rey? Tapi aku tidak melihatnya di sana.
Hans kembali memiringkan tubuhnya menghadap ke wajah tenang istrinya, disingkirkan anak rambut yang jatuh diantara wajah ayu yang terlihat mulai menggemuk. Senyum tipis itu terlukis di wajah lelaki yang saat ini masih terbayang bagaimana marahnya Zoya.
Dia bisa mengerti bagaimana pun usia Zoya masih terbilang remaja. Diusianya yang menginjak dua puluh satu tahun, dia sudah menanggung banyak permasalahan dalam rumah tangga. Sekali lagi, dia kembali tersenyum menatap wajah Zoya. Hingga lambat laun dia pun kembali ikut terlelap di sampingnya.
###
"Huek... Huek... Huek.... " Rasa mual seolah ingin menguras semua isi perut Hans yang masih kosong. Setelah Salat Subuh, sepuluh menit Hans masih membungkuk di depan wastafel. Perutnya terasa diaduk-aduk, bahkan keringat dingin terus saja mengucur tanpa henti.
"Mas Hans..." Zoya terkaget saat mendengar suara Hans yang sedang muntah. Disibakkan selimutnya dengan wajah heran sekaligus panik
Dengan cemas Zoya menghampiri suaminya. Tangan mungilnya itu mulai memijat tengkuk Hans. Tidak terasa, tapi sentuhan dan kecemasan istrinya selalu memberi kenyamanan tersendiri bagi lelaki tinggi yang masih membungkuk itu.
Berlebihan
__ADS_1
Iya, itu memang sangat berlebihan untuk usianya yang sudah menginjak tiga puluh dua tahun.
"Zoy...!" Panggil Hans dengan nafas terengah. Kedua tangannya bertumpuk pada keramik putih wastafel, masih dengan tubuh masih membungkuk Hans menatap wajah Zoya masih masih terlihat cemas.
"Kamu Salat Subuh, gih! Aku sudah salat terlebih dahulu, nggak tega bangunin kamu, Zoy."
"Kalau ke bawah tolong minta Bi Muna membuatkan aku teh manis." titah Hans dengan menyandarkan punggungnya di badan Sofa. Perutnya pun tidak berhenti mual meski saat ini dia masih bisa menahannya .
Zoya beranjak turun ke bawah. Meski hatinya ingin bergegas, tapi pengalaman jatuh dari tangga membuatnya sangat berhati-hati. Mereka memang sudah merencanakan pindah kamar, tapi Bi Muna belum selesai menyiapkan kamar mereka di bawah.
"Bi, tolong buatkan teh manis, ya. Aku akan Salat Subuh." ucap Zoya saat melihat wanita paruh baya itu akan memulai aktifitasnya di dapur. Zoya, memang terburu buru karena sudah jam lima pagi lebih. Waktu subuh sudah hampir habis.
Di dalam kamar, Hans memijit kepalanya yang terasa pening. Sudah berapa kali dia menghampiri wastafel hanya untuk memuntahkan sesuatu yang tidak ada.
"Ya Allah, begini amat rasanya." keluhnya saat memilih kembali duduk di sofa. Seumur hidup, dia baru merasakan sesuatu yang luar biasa tidak nyaman. Sakit si, bukan. Tapi rasa mual, kepala pusing yang datang tiba tiba dan menghilang sendiri baru dia rasakan saat ini.
"Mas Hans." Panggil Zoya saat membuka pintu kamar dengan membawa teh manis yang masih hangat. Aroma wangi teh yang menguar di hidung lelaki yang saat ini menatap istrinya itu pun membuatnya terasa segar.
"Minum dulu! Mumpung masih hangat, Mas. Mas Hans, kenapa?" Zoya menyerahkan secangkir teh yang kemudian disesap suaminya .
Saat melihat wajah tegang istrinya, Hans tersenyum tipis, kemudian merengkuh tubuh mungil itu dalam pelukannya.
"Maafkan aku, pasti itu karena aku. Ya Allah...maafkan aku, Mas!" ucap Zoya, dia semakin mengeratkan pelukannya di dada bidang Hans.
"Zoy, kenapa menangis?" Tanya Hans saat merasakan dadanya basah. Hans meregangkan pelukan Zoya karena ingin melihat kedua mata yang ternyata memang sudah dipenuhi air.
"Maafkan Aku mas. Aku sudah berani mengeraskan suaraku di depan Mas Hans" ucapnya dengan air mata yang semakin deras.
"Dan ini, karena aku mas. Maafkan aku yang sudah sangat keterlaluan." lanjutnya dengan meraih lengan suaminya yang menampakkan beberapa luka. Kemudian, wajahnya mendongak, menatap senyum tipis yang ada di sudut bibir lelaki di depannya.
"Sayang, aku juga salah. Tidak berterus terang padamu. Tapi, percayalah aku tidak mengenal wanita dalam foto itu."
"Aku berani bersumpah, Zoy." Hans terus saja meyakinkan Zoya.
"Iya, Mas. Seperti Mas Hans percaya padaku. Tapi, aku tidak ingin Mas Hans pergi ke tempat seperti itu lagi. Aku sedang Hamil mas, seharusnya kita bisa berbenah dan mengumpulkan banyak kebaikan agar kelak mereka menjadi anak yang soleh." ujar Zoya dengan mengelus perutnya yang datar.
"Cup... " Hans membingkai wajah Zoya dengan kedua telapak tangannya. kemudian mendaratkan ciuman singkat di bibir ranum milik Zoya.
"Aku sudah merindukannya, Sayang." bisik Hans saat ciumannya berpindah ke rahang Zoya.
__ADS_1
"Mas Hans, aku jam sepuluh ada pembekalan untuk orientasi mahasiswa baru." Zoya menahan dada bidang Hans saat lelaki itu mengikis jarak diantara keduanya.
"Masih ada waktu tiga jam, cukup untuk bercinta versi kilat." lirih Hans dengan suara serak, setiap melihat Zoya yang semakin terlihat berisi, seolah memantik hasrat lelaki yang sangat mengagumi setiap apa yang dimiliki istrinya. Zoya pun mengikuti apa yang diinginkan suaminya. Dia juga sudah merindukan sentuhan lembut jari jari yang begitu ahli membuatnya melayang.
###
"Jangan tergesa-gesa! Tidak akan ada yang berani memarahimu." ujar Hans dengan menahan lengan Zoya yang terlihat panik. Karena permainan pagi yang membuai mereka dalam nikmat, kali ini urusan ranjang membuat Zoya harus mengacaukan jadwalnya.
"Iya, Mas." Zoya mencium punggung tangan Hans. Sedangkan Hans sendiri menahan Zoya sejenak untuk mendaratkan ciuman di bibir yang sudah menjadi candu untuknya.
"Mas Hans, nanti ada yang lihat!" keluh Zoya membuat Hans terkekeh, karena kaca mobilnya memang sudah full kaca film agar tidak tembus pandang. Tapi, seandainya dilihat orang pun bagi lelaki yang setiap hari merasa kasmaran itu pun tidak menjadi masalah.
Sejak Zoya hamil, ada perasaan yang sulit digambarkan. Rasa sayang yang begitu besar, bahkan sehari tidak bertemu bisa jadi dia sangat merindukan Zoya.
"Nanti, kalau sudah selesai aku jemput. Aku di kantor cuma sebentar." ucap Hans sebelum Mercy itu meluncur menuju tempat kerjanya. Weekend ini, dia ingin mengajak Zoya menjemput Ale dan sekalian membawa Mama Shanti untuk tinggal sementara di rumahnya.
###
Zoya berjalan menelusuri koridor kampus. Dari jauh banyak mahasiswa yang sudah membubarkan diri. Zoya terlihat panik dan bingung, dia bergegas untuk sampai di sana sebelum tempat itu kosong.
"Assalamualaikum, sudah selesai ya, Mbak?" tanya Zoya pada seorang gadis yang berjalan dari tempat mahasiswa baru berkumpul.
"Walaikium salam. Iya, sudah selesai. Mbaknya mahasiswa baru juga, ya?" tanya gadis berkerudung putih itu dengan senyum di bibirnya.
"Iya, Mbak. Aku malah terlambat." Zoya menampilkan wajah menyesal, membuat gadis itu mengeluarkan sebuah kertas catatan.
"Mending di foto saja persyaratan dan apa saja yang akan dibawa untuk besok senin." saran gadis itu membuat Zoya sedikit lega. Zoya pun tersenyum menyambut kebaikan gadis yang menyebutkan namanya "Aini". Mereka memang sempat berkenalan dan bertukar nomer ponsel.
Tapi sejenak saja mereka berkenalan, gadis itu pamit karena masih ada urusan. Kampus mulai kembali sepi, mahasiswa baru pun sudah pada pulang. Sedangkan, jadwal perkuliahan belum juga aktif.
Zoya memilih duduk di sebuah kursi panjang yang ada di depan salah satu gedung. Dia menghela nafas panjang karena merasa sedikit lelah.
"Assalamu'alaikum bidadari surga!" Suara berat itu mengagetkan Zoya. Seketika itu pula Zoya menggeser duduknya saat Rey meletakkan bobotnya di kursi yang sama. Lelaki itu juga menyodorkan setangkai mawar putih tapi tidak dihiraukan oleh Zoya.
Bersambung....
Mungkinkan kedatangan Rey akan memaksa membawa Zoya pergi? Nantikan episode selanjutnya ya gaes. heheheh
Hehehe telat up ya gaes... othor lagi rempong cinta hehehe semoga bisa mulai rajin lagi ya upnya.
__ADS_1
Happy reading gaes... Sehat selalu.