Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Akhirnya Ganti Nama( Extra Part)


__ADS_3

Ketika pembukaan ke tujuh Zoya sudah tidak sanggup berdiri. Dia memilih untuk berbaring. Hans masih tetap berada di samping istrinya, melihat Zoya yang mengeluhkan rasa sakit, tubuhnya pun ikut merasakan lemas. Tapi dia harus tetap terlihat baik baik saja untuk menguatkan istrinya.


Sesekali tangannya mengusap keringat yang semakin deras mengucur di dahi Zoya. Satu tangannya tidak lepas dari genggaman tangan Zoya yang kadang diremas begitu kuat saat Zoya harus menahan rasa sakit.


"Atur nafas, Sayang. Tarik nafas dan keluarkan dari mulut." ucap Hans lirih dangan terus mengusap keringat yang tiada henti mengembun.


"Sakit, Mas." suara Zoya terdengar lirih, wajahnya pun mulai terlihat pucat. Jelas sekali Zoya sudah terlihat sangat lelah dan tubuhnya mulai nampak lemah. Rasanya tidak tega saat mendengar rintisan rasa sakit Zoya, tapi dia hanya bisa menciumi dan mengusap wajah yang sudah nampak kelelahan itu.


Dokter datang dengan dua asistennya memeriksa kondisi Zoya. Dan ternyata sudah pembukaan penuh, membuat dokter mengintruksikan dua asistennya itu bersiap, kemudian Zoya mulai mengejan.


"Ayo Bu, dorong sekuat tenaga!" perintah dokter membuat Zoya mulai menggunakan semua tenaga untuk mengejan.


"Aarrgghh... " teriak Zoya dengan sekuat tenaga, mulutnya terus saja mengatur pernafasan. Bahkan air matanya menetes menahan rasa sakit yang begitu hebat. Dia tidak bisa merasakan apapun kecuali rasa sakit.


"Ayo sayang, tinggal sedikit lagi!" Hans terus saja menyemangati. Hatinya begitu cemas saat melihat Zoya mulai kehilangan tenaga.


"Ayo bu... dorong semakin kuat."


"Aaaaarrrkkk.... " Pekikan suara Zoya terdengar beriringan dengan tangis suara bayi. Ternyata, bayi lelaki mereka keluar terlebih dahulu. Mendengar suara tangisan bayi Hans menitikkan air mata, dia sempat melihatnya. Tapi dia tidak ingin beranjak dari sisi istrinya yang tidak lama merasakan kontraksi keduanya.


"Bertahan, sayang!" ucap Hans. Lelaki itu pun ikut mengeluarkan keringat karena rasa tegang.


"Uuuhhhhggh...." Zoya kembali mendorong dengan sisa sisa tenaganya.


"Ayo Bu. Lebih kuat lagi!" ucap team medis menyemangati.


"Arrrrghhhhh..." teriak Zoya diiringi tangisan sang bayi. Tubuhnya yang sudah tertarik kaku untuk mengeluarkan semua tenaganya pun mulai terkulai lemah.


"Zoy, buka matamu!" panggil Hans dengan menepuk pelan pipi istrinya. Lelaki yang saat ini meneteskan air di sudut matanya itu hanya mendapatkan deheman Zoya.


"Aku ngantuk, Mas!" ucap Zoya saat Hans terus berusaha membangunkannya.


"Jangan tidur sayang!" Hans terus saja menghujani ciuman di wajah istrinya. Rasa lelah membuat Zoya seperti ingin terus memejamkan matanya.


"Dengar tangisan bayi kita, Zoy!" pinta Hans yang tanpa putus asa berusaha membuat Zoya membuka matanya.

__ADS_1


Bayi perempuan yang masih terdengar tangisannya pun membuat Zoya berusaha membuka matanya. Dia ingin sekali melihat bayinya.


Persalinan berjalan cukup lama. Hampir sepuluh jam proses yang menegangkan sudah mereka lalui. Kini, Zoya sudah terlihat lebih bertenaga dengan dua bayi di sebelahnya.


"Assalamu'alaikum..." Mama Shanti datang bersama Ale.


"Waalaikum salam." jawab Hans dan Zoya.


"Mama yang Doni mana? Dan yang Dini mana?" Ale mulai mendekat dengan penuh rasa was was. Tapi, wajah bocah itu terlihat sangat bahagia menyambut dua adiknya. Ale terus saja tersenyum melihat dua adiknya yang masih tertidur.


"Yang kecil Dini dan Yang tubuhnya besar Doni" jawab Zoya, iya bayi cowok mereka memang terlihat lebih besar dan panjang dari pada di bayi cewek.


"Hans, yang melahirkan kamu atau Zoya? Kemejamu sampai basah keringat begitu." tanya Mama Shanti yang hanya dibalas dengan lirikan tajam putranya.


"Aku mau mandi dulu, Ma!" Hans mengambil paper bag yang di bawa mamanya. Dia tau, itu baju ganti yang dibawa Shanti untuknya.


"Mas, nama anak kita apa memang Dini dan Doni?" pertanyaan Zoya membuat Hans menghentikan langkahnya. Kemudian dia berbalik melangkah mendekati dua bayinya. Hans menatap ketiga anaknya secara bergantian.


"Anak perempuanku aku beri nama, Alexia Hanum Salsabilla, dia akan selalu jadi penyejuk seperti mata air surga. Dan anak laki lakiku akan aku beri nama Aleksander Iskandar Zulkarnain. Dia akan secerdas dan sekuat raja Zulkarnain." Hans mengucapkannya dengan mantap. Dia berharap nama itu akan selalu menjadi Doa untuk kedua anak anaknya kelak.


###


Mereka memutuskan naik taxi. Di bangku belakang Nilla terus saja terdiam, sesekali tangannya mengusap lelehan air yang menetes dari kedua pelupuk matanya.


Hatinya merasa terpuruk. Merasa tidak dicintai, merasa tidak diterima dan perasaan sedih tidak bisa menjadi perempuan yang sempurna. Belum lagi ketika sudah menikah, ternyata tidur diluar rumah membuatnya tidak tenang. Entah karena tidur di luar rumah atau memang tidur tanpa suami di sampingnya. Tapi, kenyataannya dia masih kecewa dengan suaminya.


"Nil, hampir sampai." Hesti menggenggam tangan Nilla, membuat perempuan itu tersadar dari lamunannya. Mereka bergegas turun Dari taxi.


Dari Wildan menatap istrinya. Dia sengaja berangkat pagi hanya ingin melihat keadaan istrinya. Dari jauh saja Nilla terlihat pucat dan lesu, Wildan semakin mencemaskan keadaanya.


[Apa Nilla sudah sarapan]


Wildan mengirim pesan pada Hesti. Dari semalam. dia mencoba menghubungi ponsel Nilla sama sekali tidak di gubris.


[Sudah, tapi hanya tiga sendok saja. Habis itu katanya mual]

__ADS_1


Hesti membalas pesan Wildan. Gadis itu tahu, jika lelaki yang saat ini melihat istrinya dari dalam mobil berada tidak jauh dari tempat mereka. Mereka langsung masuk ke kelas. Hanya satu satu jam Mata kuliah saja untuk hari ini.


"Ya Allah, Nil. Maafkan, Abang!" Wildan meraup wajahnya dengan kasar. Nilla yang selalu terlihat riang, tegas bahkan jutek , kini terlihat lesu.


Wildan turun dari mobilnya dia berniat menghampiri kelas istrinya. Sudah hampir satu jam dia menunggu di dalam mobil. Tapi tidak juga dia melihat wajah Nilla.


Lelaki ganteng dengan perawakan kekar itu terus melangkah meski beberapa mahasiswa yang di lewatinya menatap penuh selidik karena gedung yang di datangi Wildan itu bukan gedung fakultas biasa dia mengajar.


Lantai dua telah sepi, tapi Hesti masih berdiri di depan toilet yang ada di sudut lantai dua.


"Nilla di dalam, Pak." ucap Hesti yang tidak tahu lagi harus bagaimana ketika Wildan ada di depannya.


"Tapi, Pak!" ucap Hesti saat Wildan akan membuka pintu toilet saat mendengar Nilla muntah muntah di dalamnya. Cuma ada satu toilet di lantai dua.


"Sebaiknya kamu pulang saja! Terima kasih sudah jagain Nilla." ucap Wildan meminta Hesti pulang lebih dulu.


Untung saja toilet tidak dikunci, jadi Wildan tidak kesulitan untuk masuk. Nilla, masih membungkuk di depan toilet saat dia ingin mengeluarkan semua isi perutnya. Tapi, percuma karena memang tidak ada apapun di dalamnya.


Tangan besar yang terasa memijat tengkuknya membuat Nila terjingkat kaget. Bahkan, dia hampir saja limbung karena tidak seimbang membawa tubuhnya untung saja Wildan langsung menahannya untuk tidak terjatuh.


"Nil... " Masih dengan menahan pinggang kecil itu di lengan kokohnya.


"Lepaskan!" Nilla memberi jarak pada Wildan. Kemudian dia memalingkan wajahnya dari lelaki yang saat ini berjarak tidak ada satu meter dengannya.


"Nil, periksa ya!" bujuk Wildan pada istrinya.


"Aku tidak apa apa. Pergilah, Bang! Nanti sore aku akan mengambil barang barangku." ujar Nilla dengan mata berkaca kaca. Rasanya dia ingin menangis.


"Nil, kamu istriku. Kamu tidak akan kemana mana." Wildan terus saja membujuk Nilla. Tapi, Nilla memilih keluar toilet karena kepalanya yang terasa pusing. Dia memilih untuk mencari tempat duduk. Wildan terus saja membuntuti untuk membujuk istrinya.


"Kita periksa, Nil! Wajahmu pucat." bujuk Wildan sekali lagi. Dia begitu mencemaskan kesehatan istrinya. Lelaki itu kemudian berjongkok di depan istrinya berharap, Nilla mau mendengarkannya.


"Pergilah, Bang. Tinggalin aku sendiri. Aku tidak apa- apa. Nanti aku akan periksa sendiri." Jika bukan karena kepalanya yang terasa berdenyut, Nilla mungkin sudah memaksa pergi meninggalkan Wildan.


"Ayolah, Nil..!" Saat melihat suaminya yang terus saja membujuknya, Nilla pun bangkit dari duduknya. Tidak lama kemudian, pandangannya berputar dan tubuhnya pun ditangkap oleh Wildan, saat mulai terkulai lemah.

__ADS_1


TBC


nggak nyangka ya gaes ternyata ada beberpa yang nanya RCZ dalam versi cetak 🤣


__ADS_2