Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Berubah


__ADS_3

Selama perjalanan, terkahir mereka bersuara saat Kyara bernyanyi dan itu mendapat peringatan dari Hans karena lelaki itu merasa tersindir dengan ayair lagu yang dinyanyikan nya.


Sekitar pukul sembilan malam, Fortuner warna putih itu akhirnya membelok di halaman rumah Kyara. Selang beberapa menit, disusul dua sepeda motor yang sejak tadi mengiringi mobil itu pun tiba di tempat.


Dua sepeda motor itu berhenti tepat di depan semua penumpang mobil fortuner yang sudah berdiri menunggu mereka. Zoya dan Hans memang mengambil jarak sedikit menjauh dari tiga perempuan lainnya.


"Gila lo, Bang. Nggak ada istirahatnya sama sekali." umpat Rey kepada Hans saat membuka helmnya. Mendengar umpatan Rey, Hans hanya berdecih.


" Aku menyayangkan mesin motorku jika terlalu panas, seharusnya setiap dua jam harus istirahat." jelas Rey saat berjalan menghampiri Hans dan Zoya yang berdiri bersebelahan tapi masih saling membisu.


"Aku ingin cepat sampai rumah." jawab Hans singkat, sudut matanya melirik Zoya yang enggan menoleh ke arahnya sama sekali. Wajah yang biasa meneduhkan kini terlihat muram.


"Zoy, untuk kamu, agar mukanya nggak butek gitu! " Rey menyodorkan sebatang coklat ke arah Zoya. Sementara, Zoya menatap Hans penuh tanya. Melihatnya, Hans tidak tinggal diam, diambilnya coklat itu dan dibuangnya ke sembarang arah.


"Dia sudah punya banyak di rumah." ucap Hans dengan geram, dan itu malah membuat Rey terkekeh.


"Dengar ya! Dia istriku, jangan pernah berfikir untuk menggodanya! " ancam Hans dengan mendorong dada Rey dengan telunjuknya.


Melihat dua lelaki yang berdebat layaknya anak remaja, Zoya pun berjalan menuju gerbang untuk meninggalkan mereka. Dia sudah merasa lelah dan ingin segera sampai di rumah.


"Ingat, ya! Sekali dia memberi lampu hijau, aku akan mengambilnya darimu!" Rey memberi peringatan saat Hans menghidupkan kembali motornya.


"Jangan harap! Tidak semudah itu." balas Hans dengan decihan rasa kesal, dia kemudian melajukan motornya untuk menyusul Zoya yang sudah ada di pinggir jalan.


"Ayo naik, Zoy!" ucap Hans saat menghampiri Zoya.


Melihat Zoya yang tak bergeming membuat Hans tidak sabar lagi. Dia pun turun dari motornya masih dengan membiarkan mesin motornya hidup. Zoya yang tak ingin melihat Hans pun akhirnya memekik keras."Aarrrggghhhhh... " Hans mengangkat tubuh mungil istrinya dan mendudukkan di tangki depan. Lelaki yang masih kesal itu segera melajukan motornya dengan blingsatan di jalan menuju ke rumahnya.


Rahangnya mengeras saat mengingat jika Rey akan mengambil Zoya dengan terang-terangan. Tentu, itu membuat Hans semakin geram, apalagi saat ini Zoya benar-benar marah padanya. Reynaldy bukan orang sembarang, seorang direktur utama 'Global News' bahkan laki-laki itu juga punya sejuta talenta dan itu membuat Hans harus selalu waspada.


Zoya masih terdiam di atas motor, rasa takut menyelimutinya saat Hans melajukan motornya dengan cukup menggila menembus jalanan kota yang cukup ramai. Belum lagi, saat dia melirik wajah marah yang hanya berjarak tipis dengan wajahnya. Tatapan tajam Hans memang lurus ke depan, tapi hembusan nafasnya yang menyapu pipi kirinya mampu membuat debaran hati Zoya menjadi sulit untuk diartikan.

__ADS_1


Hans menghentikan motornya setelah masuk gerbang rumahnya. Tak melepas kesempatan saat suaminya membuka helm, Zoya langsung melompat turun dan berlari masuk ke dalam rumah. Tapi, saat melihat Mama Shanti masih di depan TV dengan bermain ponsel, Zoya memelankan langkahnya dan menghampiri mama mertuanya.


"Assalamualaikum, Ma! " sapa Zoya dengan mengambil punggung tangan mertuanya untuk salim.


"Waalaikum salam, Zoy! " jawab Shanti dengan mengamati menantunya. Kemudian tatapannya beralih ke arah Hans yang baru saja masuk ke dalam rumah. Dari kedua wajah anak menantunya dia yakin ada sesuatu yang tidak beres. Dia yakin itu berhubungan dengan perempuan yang bernama Arum.


"Ma, Zoya ke kamar dulu! " pamit Zoya, kemudian meninggalkan Mama Shanti yang masih menunggu Hans sampai di depannya.


"Pasti ada masalah." tebak Shanti saat Hans mendudukkan tubuh lelahnya di samping mamanya.


"Hmmm... " jawab Hans dengan tidak bersemangat.


"Kenapa?" tanya Shanti begitu anthusias.


"Cemburu! " tidak ingin menambah masalah yang membuatnya bertambah pusing. Hans memilih beranjak menyusul Zoya ke kamar.


"Ih...itu anak malah bikin penasaran saja." gerutu Mama Shanti yang belum bisa mengorek keterangan sama sekali, karena Hans buru buru meninggalkannya.


Dia mencoba melihat kondisi lukanya, lumayan lebar. Saat masa menegangkan mungkin tidak kerasa, baru kali ini dia merasakan sedikit nyeri.


"Ceklek... " tatapan tajam lelaki yang masih di depan cermin itu pun beralih pada bayangan di belakangnya. Terlihat Zoya keluar dari kamar mandi dengan piyama celana pendek dan singlet, tangannya begitu terampil mengacak rambut panjangnya dengan handuk. Tapi, perempuan itu sedikit pun tidak menoleh ke arahnya.


"Ya Allah, begini amat di cuekin orang yang biasa perhatian." gumamnya dalam hati. Kemudian menghela nafasnya dengan berat.


"Zoy, bisa bantuin bersihkan lukaku?" terpaksa kali ini dia mengawali untuk meminta.


"Sebaiknya mandi dulu! " jawab Zoya singkat itu pun tanpa menoleh ke arah suaminya. Dia masih sibuk mengeringkan rambutnya.


Setelah, mengeringkan rambutnya Zoya pun memilih untuk melihat Ale. Rasanya dia sudah merindukan celotehan bocah itu. Dia menyeret langkahnya menuju kamar Ale. Tubuh gendutnya memeluk guling dengan sangat erat. Saat melihatnya Zoya hanya tersenyum, kemudian mencium pelipis putrinya dan menarik selimutnya hingga ke leher.


Kali ini perutnya sangat lapar, tapi Hans yang memintanya untuk mengobati lukanya membuta Zoya menunda untuk makan malam.

__ADS_1


Setelah, mengganti lampu tidur di kamar Ale, Zoya kembali ke kamar. Dia sudah mendapati Hans yang hanya mengenakan handuk sepinggang itu sudah duduk di sofa. Masih dengan mode diam, Zoya kini berjalan mendekati Hans dengan membawa kotak obat. Hal itu membuat Hans menyimpulkan sedikit senyum tipisnya karena Zoya masih mau mengobati lukanya.


"Arghhh... pelan-pelan, Zoy! Kamu menyakitiku." ujar Hans sambil meringis saat Zoya sedikit menekan lukanya."


"Itu tidak seberapa jika dibanding dengan luka hatiku." kalimat itu meluncur dengan spontan dari bibir Zoya dan itu pun tanpa menatap wajah di depannya.


"Yang mana? " Hans masih berpura pura tidak mengerti.


"Terlalu banyak hingga sulit aku sebutkan." balas Zoya.


"Kamu yang terlalu berlebihan, Zoy. Spontan Arum yang memelukku!" Hans masih mengelak jika dia sudah menyakiti perasaan istrinya.


"Iya aku yang berlebihan. Coba katakan pada seluruh dunia, istri mana yang dibentak di depan orang banyak tidak sakit hati, minimal pasti dia malu. Seorang istri selalu menutupi aib suaminya, bagaimana jika suaminya memperlakukannya seperti itu?" Zoya berkata diiringi dengan lelehan air mata. Seolah menguapkan rasa marahnya yang masih bercokol di hatinya.


"Aku sering melihat wanita memeluk Mas Hans. sejak Mbak Naura atau Mbak Arum atau mungkin ada wanita lain yang aku tidak tahu. Seandainya Mas Hans mengerti perasaanku." ujar Zoya masih dengan mata mengembun.


"Sumpah tidak ada wanita lain, Zoy. Dan itu pun mereka spontan."


"Baiklah selama ini aku sudah memberimu banyak kelonggaran, Mas. Bagaimana jika ada laki-laki dengan spontan memelukku? Apa yang akan Mas Hans lakukan?" Hans tidak menyangka jika kalimat semacam itu meluncur dari perempuan yang selama ini selalu memendam perasaannya. Zoya mulai terampil mengolah kata hingga membuat lelaki itu masih terdiam dengan rahang mengeras. Tentu saja dia tidak akan tinggal diam jika seseorang memeluk istrinya.


"Aku akan tidur di kamar Ale!" ucap Zoya dengan membereskan kotak obatnya yang usai digunakannya.


"Zoy, jangan begitu!" Hans berusaha membujuk Zoya.


"Jangan menyentuhku, Mas! " tolak Zoya dengan menepis tangan Hans. Zoya tahu, menolak sentuhan suaminya adalah hal yang tidak benar. Tapi, dia hanya ingin Hans mengerti posisinya.


"Zoy, bukan begini caranya." gumam Hans dengan menyandarkan tubuhnya di badan sofa. Lelaki itu masih menatap kepergian Zoya hingga istrinya menghilang dari balik pintu kamarnya.


"Zoy, marahnya jangan lama-lama. Bisa kelar hidupku tanpamu Zoya Kamila." gerutu Hans dengan mengacak kasar rambutnya yang masih lembab.


"Kenapa Tuhan menciptakan perempuan dengan memori yang sangat kuat untuk mengingat satu persatu kesalahan laki- laki? Ah...rasanya ini tidak adil." Lelaki itu enggan beranjak saat pikirannya mulai bermonolog. Dia merasa hari ini dirinya begitu apes.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2