Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Makan Tengah Malem


__ADS_3

Zoya bermaksud menghindar dari Hans. Hans memang menganggap kejadian tadi siang bersama Naura adalah hal yang tidak perlu di bahas lagi pada Zoya. Sedangkan, Zoya diam diam masih mendramatisir apa yang sudah dia lihat. Dia juga merasakan cemburu yang teramat sangat, meski dia berusaha menetralkan dan bersikap biasa saja.


Pukul sembilan malam Zoya berniat untuk menyusul Ale yang sudah nampak terlelap, sedangkan Hans masih berkunjung di rumah sebelah, katanya itu rumah teman bermainnya dulu.


Sebenarnya sejak kejadian tadi siang, Zoya tidak ingin melihat Hans, tapi dia tidak ingin terlihat ketara di depan mama mertuanya dan Ale. Mata indah zoya berusaha terpejam. Tapi, bayangan dua orang yang sedang berpelukan itu seperti berada di pelupuk matanya. Bagaimana perempuan itu memeluk erat Hans, seolah hanya suaminya orang yang tepat untuk menjadi pelindungnya. Meskipun terpejam, tetap saja mata Zoya terasa memanas. Bahkan, di sudut matanya masih meneteskan setitik air. "Ternyata cemburu itu sesakit ini! " gumamnya dalam hati.


Mendengar seseorang membuka pintu, Zoya semakin mengatur kepura-puraannya seakan akan dia sudah terlelap.


"Kenapa Mas Hans tidak ke kamar sebelah saja! " batinnya, Zoya juga khawatir suaminya akan tidur di kamar yang sama dengannya dan juga Ale. Bagaimana dia bisa berpura pura tidur dalam waktu yang cukup lama, sementara rasa ngantuk juga tak kunjung datang.


Hans menatap tubuh mungil di depannya. Dia mulai hafal gaya tidur Zoya yang meringkuk, membuatnya berfikir, mungkin karena itu yang membuatnya tidak mau tinggi. Bibirnya tersenyum geli saat batinnya meledek tubuh kecil mungil Zoya.


"Zoy, sudah tidur? " tanya Hans dengan merebahkan tubuh di sebelah Ale, tepatnya di hadapan Zoya.


Zoya sendiri masih terdiam, meskipun rasanya dia sudah tidak tahan jika harus berpura pura tidur.


"Zoy...! " panggil Hans dengan menyentuh ujung bulu mata lentik istrinya, dia tahu jika Zoya hanya berpura-pura. Mau tidak mau Zoya pun membuka matanya.


"Ada apa, Mas? " tanya Zoya.


"Aku nggak bisa tidur! " jawab Hans.


"Terus, Mas Hans butuh apa? " Zoya sebenarnya ingin menuntaskan obrolan mereka.


"Temani aku ngobrol! " Hans menatap mata yang selalu mengalihkan pandangan dari tatapannya. Sudah beberapa bulan dia menikahi gadis itu, sedikit banyak dia mengenali sifat dan kebiasaan istrinya yang paling suka menyimpan sesuatu sendiri.

__ADS_1


"Aku akan ke belakang dulu, Mas! ". Berlahan Zoya menuruni tempat tidur. Tanpa menjawab kalimat Zoya, tatapan mata tajam itu terus mengekor hingga istrinya menghilang dari balik pintu kamar.


Zoya memilih pergi ke dapur, sejenak dia terdiam, berfikir apa yang akan dia lakukan untuk menunggu suaminya tertidur lebih dulu.


Sarden, dia berfikir untuk membuat sarden. Selain menghindari Hans, perutnya juga kembali merasa lapar karena dia tidak terlalu berselera saat berbuka puasa.


Zoya mulai mengambil satu kaleng berukuran kecil yang akan dia masak, tidak lupa dia juga menambahkan irisan cabe, bawang merah dan bawah putih.


Semua bumbu tambahan sudah siap, kali ini dia akan membuka kaleng dengan pisau besar. Selain susah membukanya, dia juga tidak terbiasa memasak makanan kaleng. Tangannya menancapkan ujung pisau dan akan di pukul dengan ulekan, " Bukan seperti itu caranya sayangkuuu! " suara berat terdengar di dekat telinganya dan tangan besar yang mengkungkungnya dari belakang itu mengambil alih kalem tersebut. Zoya pun menoleh, tubuh mereka yang hampir bersentuhan itu membuat aliran darah Zoya seolah berdesir ke seluruh tubuh. Zoya hanya mematung, merasakan tubuhnya seketika membeku, semetara Hans menggeser tubuhnya dan mengambil can opener untuk membuka kaleng sarden.


"Aku juga mau makan kalau di masakin sarden." ucap Hans dengan menyerahkan kaleng tersebut . Bukannya pergi, lelaki bertubuh tinggi itu malah menunggui Zoya dari belakang.


Zoya hanya terdiam, dia tidak terlalu menghiraukan orang yang ada di dekatnya itu. Ternyata percuma usahanya untuk menghindar.


"Kamu menangis, Zoy? " tanya Hans melihat Zoya mengusap sudut matanya.


Tanpa sebuah pembicaraan, Zoya menyelesaikan memasak sarden. Tinggal meniriskan hasil masakannya ke atas piring, gadis yang memang tidak mengenakan jilbab itu membalikkan tubuhnya bermaksud mengambil piring yang terdapat di rak yang ada di belakang Hans. Lelaki yang saat ini menghadang istrinya sengaja tidak memberi jalan, membuat Zoya meluruhkan bahunya dengan menatap tajam ke arah Hans.


"Ada apa? Ayo bilang! " ucap Hans dengan menekan pipi cabi Zoya dengan ke dua telapak tangan yang terbingkai di wajah ayu istrinya.


"Aku tidak apa apa, Mas! "


"Zoy, kamu pintar menutupi sesuatu tapi kamu bukan pembohong yang handal. " ucap Hans dengan mendongakkan wajah Zoya yang seketika sempat menunduk. Terlihat iris mata cantik itu di penuhi cairan yang membuatnya terlihat berkaca-kaca. Berlahan, Hans merengkuh kepala istrinya, dan menenggelamkan dalam dada bidangnya.


"Maafkan aku, bukan maksutku meninggalkanmu di mobil. Aku hanya kelewat mencemaskan Nolla. " sekali lagi kalimat Hans rasanya menusuk hatinya, betapa besar kekhawatirannya tanpa peduli jika seseorang masih di dalam mobilnya. Tapi, Zoya mulai mengendalikan perasaannya. Jika dia merasakan sakit itu karena perasaannya sendiri yang berkembang terlalu liar di dalam hatinya.

__ADS_1


Hans meregangkan rengkuhannya, dia kembali meneliti manik mata bulat di depannya.


"Jangan menangis! Aku akan merasa bersalah jika kamu menangis karena kesalahanku. " bujuk Hans kemudian mengusap sisi lembab di dekat mata indah itu.


"Aku akan menyiapkan makanannya dulu, Mas!" Zoya kemudian mengambil piring dan membawa makanan ke meja.


"Zoy, setengah porsi dari biasanya! " pinta Hans saat Zoya mengambilkan nasi dan lauk untuknya. Zoya pun juga, dia hanya mengambil setengah porsi dari biasanya.


Jam sebelas malam mereka makan malam yang kedua kalinya. Bagaimanapun masakan Zoya selalu menggoda Hans, meski harus berakhir dengan menambah timing untuk Gym. Lelaki itu benar benar menjaga bentuk tubuhnya.


"Loh-loh... kalian pada ngapain? Kenapa nggak membangunkan Mama kalau ada makan besar. " Shanti yang berniat mengambil air minum pun merasa heran dengan anak dan menantunya.


"Iya Ma, Zoya lapar. Zoya siapkan buat Mama, ya? " tawar Zoya yang sudah berdiri.


"Nggak-nggak, sudah terlaru larut. Mama ada diabet nggak boleh makan terus tidur. " tolak Shanti membuat Zoya kembali duduk.


"Zoy...jangan-jangan kamu hamil, Sayang? " lanjut Shanti dengan mata berbinar penuh harap.


"Uhuk uhuk uhuk... " Hans keselek mendengar kalimat mamanya. Zoya pun segera berdiri mengambilkan air minum untuk suaminya, terlihat wajah Hans sudah memerah.


"Pelan-pelan, Mas! " lirih Zoya dengan mengusap punggung Hans.


"Kenapa Hans? Apa salah Mama bertanya seperti itu? Kalian kan sudah beberapa bulan menikah. "


Hans hanya mengangguk menanggapi ucapan mamanya, dia sendiri masih menunggu rasa tidak nyaman di dadanya karena keselek.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2