Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Penuh Rasa Sabar( Extra Part)


__ADS_3

"Kalian bisa membuatku gila." ujar Hans saat melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah. Ale sudah terdiam di belakang dengan mata yang sudah menyipit karena rasa kantuk.


"Sekali kali nggak apalah, Hans. Biasanya kamu yang sering nge-prank kita, lebih-lebih Zoya. Baru diprank sekali saja emosinya nggak habis-habis." sahut Mama Shanti sambil memainkan ponselnya.


"Mama keterlaluan sih, ngepranknya." Sahut Hans.


"Maaf..." lirih Zoya dengan mengusap pelan paha suaminya. Sontak saja Hans mengerlingkan matanya, Zoya tidak menyadari jika tindakannya membuat Hans merasa dirayu.


"Hadiahku mana, Zoy? " langsung saja Hans teringat untuk ngerjain istrinya.


"Kan, tadi pagi sudah." jawab Zoya dengan tersipu malu.


"Itu aku belum tahu, jika hari ini aku ulang tahun. Seharian aku malah terasa apes. Tadi, saat datang acara sidang, aku hampir saja telat. Eh, pulang malah di kerjain sama kalian." pendengar pernyataan suaminya Zoya hanya senyum senyum.


Setelah sampai di rumah, Hans membawa Ale di kamar omanya. Setelah mandi dan Salat Isya Hans langsung menenggelamkan diri di ruang kerja. Sementara ini dia juga merasa kerepotan karena belum punya asisten baru pengganti Zuri.


Pukul 22.15 menit, Hans keluar dari ruangannya. Langkah kecilnya menuruni tangga dengan mata tertuju pada kamarnya yang di bawah. Pintunya masih terbuka, dia hampir lupa jika masih ada tugas satu lagi.


"Sayang, ayo kita tidur!" Ajak Hans, tapi Zoya masih duduk di sofa saja.


"Tidak ingin dipijat?" tanyanya lagi. Zoya sebenarnya sudah ingin tidur lebih dulu, tapi tetap saja dia tidak bisa tidur. Zoya pun bangkit, mungkin setelah dipijat dia bisa tidur.


"Mas aku kok belum ngantuk." ujar Zoya.


"Iya dipijat dulu biar ngantuk!" jawab Hans.


Zoya mulai duduk di atas tempat tidur dengan kaki selonjoran. Sejenak Hans memperhatikan kaki istrinya.


"Zoy, kok ini sedikit bengkak, ya?" tanya Hans dengan cemas saat melihat punggung kaki Zoya terlihat sedikit membesar.


"Katanya orang hamil biasa kayak gitu, Mas." jawab Zoya meyakinkan Hans jika itu bukanlah masalah bagi perempuan hamil yang kandungannya memasuki trisemester ke tiga.


"Besok kita periksa saja." titah Hans yang benar benar ingin tahu apa kata dokter. Sebab saat kehamilan Renita dulu dia juga mengalami kami bengkak hingga semua sepatunya tidak muat.


"Besok aku harus ke kampus. Kata Mas Hans, besok aku harus mengurus ijin cuti." jawab Zoya.


Hans terus saja memijit kaki Zoya, tapi tidak seperti biasanya yang hanya beberapa menit istrinya sudah tertidur pulas. Hampir setengah jam, tapi Zoya masih bergerak gelisah mencari posisi yang nyaman. Hingga akhirnya dia kembali duduk.


"Aku tidak bisa tidur, Mas!" ucapnya terlihat kesal dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Aku akan duduk di sofa saja." Zoya langsung menurunkan kakinya, dia sebenarnya ingin tidur tapi entah kenapa dia tidak juga bisa terlupas.


"Zoy, sudah ini sudah malam. Kamu harus istirahat." Hans mengejar istrinya yang sudah duduk di sofa.


"Mas Hans, tidur saja lebih dulu. Nanti jika aku udah ngantuk aku akan menyusul." jawab Zoya. mencoba meyakinkan Hans. Dia juga kasihan jika suaminya harus menemani dirinya. Zoya tahu jika suaminya sudah terlalu lelah dengan pekerjaannya.


"Aku akan menemanimu dulu!" Hans langsung duduk di dekat istrinya.


Sejenak mereka hanya duduk bersampingan hingga, Hans punya pikiran yang tidak biasa. Mungkin saja si Dini atau Doni yang saat ini berulah. Iya, gara gara kelakuan dan permintaan Zoya yang aneh-aneh selama hamil.


"Zoy, sini bersandar! " Hans meminta Zoya bersandar di dadanya. Dia juga menarik lengan istrinya untuk melingkar di pinggangnya. Sementara, tangannya mengusap pelan bahu istrinya. Sesekali, tangan yang satunya mengusap perut yang terkadang di dalamnya terasa bergerak.


Tidak salah lagi, beberapa menit kemudian mata Zoya mengatup, hembusan nafasnya pun berangsur terdengar lirih. Hans tersenyum, pasti ulah Dini yang manjanya melebihi apapun.


"Kamu boleh manja, tapi kamu dan saudaramu harus sehat terus."


"Jangan menyulitkan Mama saat kalian keluar nanti." Hans berharap semuanya akan berjalan lancar. Kehilangan istrinya saat melahirkan putri pertamanya, membuat Hans tidak ingin kecolongan lagi. Dia selalu mengontrol setiap saat kondisi Zoya. Apalagi di usia Zoya yang dibilang cukup muda dengan dua bayi sekaligus.


Hans menggendong Zoya ke atas tempat tidur memposisikan istrinya dengan miring ke kiri sesuai anjuran dokter.


"Tidur yang nyenyak!" ucap Hans dengan mencium kening istrinya dan menaikkan selimut Zoya hingga ke leher.


###


"Terima kasih, Nil." jawab Wildan kemudian menarik lengan istrinya untuk duduk di sebelahnya.


"Jam berapa Ummi sampai di sini? Aku sudah menyiapkan beberapa makanan, semoga ummi cocok dengan masakanku." ucap Nilla dengan bersandar di tubuh suaminya. Wildan pun menghunus lengannya merangkul bahu kecil itu meski pandangannya tidak beralih dari buku bacaannya.


Hari ini, mereka menghabiskan waktu bersama di rumah. Itung-itung menyambut kedatangan Ummi Maryam di rumah mereka.


"Mungkin besok Abah juga akan mampir ke sini." ujar Wildan membuat Nilla bangkit dan menatap dalam suaminya.


Wildan yang melihat reaksi istrinya pun menutup buku bacaannya dan meletakkan kembali di meja sebelahnya.


"Nil, mereka orang tua Abang. Mereka juga orang tua kamu. Kenapa kamu harus menjaga jarak seperti itu?" tanya Wildan.


"Aku bukannya menjaga jarak, Bang." Hanya itu yang terucap dari bibir Nilla. Ingin rasanya mengatakan banyak hal, bagaimana dia merasa tidak diterima keluarga suaminya. Abah juga tidak banyak bicara, Nilla sendiri tidak faham bagaimana tanggapan Abah tentang dirinya. Tapi, dia tak lagi mampu berkata apapun pada suaminya.


Sebuah klakson terdengar dari luar, keduanya yakin jika itu Ummi yang datang. Bergegas Wildan menarik lengan Nilla untuk menyambut kedatangan umminya.

__ADS_1


Nilla masih mengekor di belakang suaminya yang berjalan untuk membukakan pintu. Dari kaca jendela terlihat Ummi turun dari mobil bersama dengan seorang gadis cantik berkulit putih. Nilla sudah merasa insecure saat berjalan menghampiri dua perempuan itu.


Hati Nilla mendadak ricuh, saat menyambut kedatangan dua orang yang akan menginap di rumahnya untuk beberapa hari.


"Assalamu'alaikum Ummi." Sapa Nilla kemudian mengambil punggung tangan Ummi Maryam.


"Waalaikum salam." Jawab Ummi mariam terdengar datar.


"Kenalkan, dia Almaira." Ummi Maryam memperkenalkan Mayra pada Nilla. Gadis cantik dengan kulit putih yang mempunyai tinggi semampai. Hidungnya pun terlihat bangir dengan dagu lancip.


"Silahkan masuk." ucap Wildan saat mobil camry itu meninggalkan halaman rumahnya. Sopir hanya mengantar Mayra dan Ummi saja, selebihnya mereka akan menunggu kedatangan Abah.


Nilla mulai mempersilahkan mereka untuk beristirahat sejenak setelah menyiapkan camilan dan minuman hangat untuk kedua tamunya. Sejujurnya dia merasa sangat sedih apalagi memang Mayra gadis yang istimewa. Putri keluarga terpandang, religius, dan tentu saja a juga mengakui kecantikannya itu.


Setiba di rumah mereka, Ummi Maryam langsung beristirahat. Mereka bertemu kembali setelah Salat Magrib berjamaah.


Setelah Salat Magrib Ummi Maryam, Mayra dan Wildan berbincang di dekat kolam. Sedangkan Nilla masih menyiapkan makan malam untuk mereka. Di dapur Nilla sempat mendengar tawa mereka yang saling bersahutan. Obralan mereka juga terdengar asyik.


Nilla menghela nafas panjang, menahan hatinya yang terasa sesak. Matanya memanas saat menyelesaikan masakannya. Ingin rasanya dia menangis. Tapi, tidak cuma sesekali saja dia menyeka setetes yang sempat lolos dari sudut matanya. Dia tidak ingin memperkeruh keadaan. Apalagi tahu mertuanya sudah tidak menyukainya.


"Nil, tehnya kenapa tidak dibawa keluar? Padahal sudah siap." tanya Wildan saat masuk ke dalam, dia memang mencari tahu apa camilan untuk Ummi dan tamunya sudah siap apa belum.


"Aku belum sempat, Bang." lirihnya tanpa menoleh.


"Abang bawa dulu ya!" ucap Wildan langsung membawa nampan berisi teh hangat dan camilan ketempat Ummi dan Mayra.


Kejadian Wildan di dapur malah membuat Nilla tidak bisa menahan tangisnya. Awalnya dia memang merasa kegiatannya saat ini memang harus dilakukan oleh tuan rumah, tapi saat melihat obrolan yang terdengar manis di dekat kolam itu, membuat Nilla merasa seperti pembantu.


Secepatnya dia menyelesaikan kegiatan memasaknya. Setelah, semuanya siap dia membasuh wajahnya terlebih dahulu sebelum memanggil semuanya untuk makan malam.


Nilla menatap kembali wajahnya di cermin wastafel. Nila merenungi kembali posisinya.


"Kamu memang bukan anak orang kaya atau anak orang terpandang. Tapi, orang tuamu mensekolahkanmu untuk bisa menjaga diri. Kamu harus bisa mengambil langkah untuk dirimu sendiri." Nilla bermonolog untuk menguatkan hatinya dan rasa percaya dirinya.


Sekali lagi dia menghembuskan nafasnya dengan berat dan berjalan menghampiri mertua , Mayra dan suaminya.


"Makan Malamnya sudah siap." ucap Nilla dengan datar.


Semua bangkit mengikuti Nilla ke meja makan. Wajah Nilla, yang semula menegang kini terlihat datar.

__ADS_1


"May duduk saja di depan Ummi." titah Ummi Maryam. Duduk di depannya itu berarti duduk di sebelah putranya. Nilla hanya menatap Mayra yang mengikuti titah Ummi. Rahangnya mengeras tatapannya menghunus tajam menatap Wildan, tapi Wildan hanya mengedipkan mata pada istrinya membuta jantung Nilla ingin meledak seketika karena menahan emosi.


TBC


__ADS_2