Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Ustad Mesum(21+) (Extra Part)


__ADS_3

[Mas Hans, aku ada tambahan kelas pukul 17.00wib. Jika Mas Hans ingin cepat pulang, Pulang saja, Aku akan naik taxi]


Hans hanya membaca pesan dari Zoya, kemudian memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Rencananya, dari pengadilan dia langsung ke kampus menjemput Zoya. Tapi, pesan yang dikirim oleh Zoya membuatnya memutuskan untuk kembali ke kantor.


Dengan kecepatan rata-rata, mobil Mercy itu melaju membelah ramainya kota. Musim hujan yang sudah menghampiri membuat mendung dan gerimis selalu menyapa di setiap waktu.


Dia sudah memasuki kawasan arah jalan menuju kantornya. Di Kanan kiri berjajar pepohonan dan jalanan di sana memang cukup senggang, membuat Hans dengan santai membawa mobilnya hingga berbelok pada kantor yang cukup dikenal banyak orang.


Hans menutup kembali pintu mobilnya setelah keluar, lelaki yang selalu punya aura kharismatik yang kuat itu pun berjalan dengan cepat memasuki kantornya.


Sepasang mata itu kini menatapnya penuh kekaguman. Zuri, satu bulan dia mulai mengenal atasannya dan itu membuatnya semakin kagum dan penasaran.


"Oh ya, RI. Besok kosongkan semua jadwal!" titah Hans.


"Baik, pak."


"Oh ya, apa Bapak membutuhkan sesuatu?" lanjut Zuri membuat Hans yang akan kembali melangkah pun terhenti dan menatapnya penuh selidik.


"Maksudnya, Minuman hangat atau sesuatu yang lain? " lanjut Zuri. Zuri adalah sosok yang cantik, pembawaannya yang menarik dan sifat supel yang dimilikinya membuat dirinya mudah masuk dalam situasi apapun.


"Tidak! " jawab Hans dengan tegas, kemudian kembali melangkah masuk tanpa melihat sorot mata kekaguman dari asisten pribadinya.


Hans kembali melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah pukul 18.00 wib. Dia mulai merapikan kembali meja kerjanya dan mematikan laptopnya. Dia ke kantor memang untuk menghabiskan waktu dengan beberapa pekerjaan sambil menunggu Zoya selesai kuliah.


"Sudah saatnya menjemput Zoya." gumam Hans dengan beranjak keluar dari ruangannya. Kantor sudah terlihat sepi, hanya tinggal Zuri yang masih bersiap untuk pulang.


Gadis itu terhenyak kaget saat melihat Hans yang membuka pintu dan berjalan melewatinya begitu saja. Di kantor Hans memang seperti itu, dia memang terkesan cuek. Melihat Hans berjalan keluar dia yakin jika bosnya itu akan pulang.


Zuri masih memperhatikan gerimis di luar sana. Dia juga kembali memperhatikan Hans yang masih berdiri di depan. Dia pikir, bosnya akan menunggu gerimis. Gegas, dia pun keluar, gadis dengan rok sepan dan kemeja dengan kancing rendah itu melangkah dengan terburu keluar kantor .


Saat berada di luar ruangan ber-AC, Gadis itu sengaja menghentakkan langkah kakinya agar suara heels yang dia kenakan itu terdengar oleh Hans.


"Ehm..." Terpaksa gadis yang saat ini berada di belakang Hans berdehem kecil untuk menarik perhatian bosnya. Dia berharap bisa pulang bersama karena rumah mereka pada jalur yang searah.


"Sebaiknya kamu membaca aturan berpakaian di dalam kantor ini!" seloroh Hans saat menyadari jika gadis itu sudah berdiri di sampingnya. Tanpa melihat orang yang diajak bicara, Hans kemudian berlari menembus gerimis untuk menghampiri mobilnya. Dia harus segera sampai di kampus sebelum Zoya memesan taxi.


Gadis itu hanya menatap bosnya hingga menghilang dari pandangannya bersama Mercy hitam keluaran terbaru. Alih-alih mendapatkan tumpangan, dia malah mendapatkan peringatan. Gadis itu tersenyum kecut, dia semakin dibuat penasaran oleh Hans. Belum ada yang bisa menolak pesona Zuri. Itu yang terdoktrin dalam dirinya dan bisa juga dikatakan benar.

__ADS_1


Tanah masih terlihat basah setelah gerimis mengguyur kota ini seharian. Hans menghentikan mobilnya tepat di halaman kampus. Kampus terlihat sangat sepi membuat Hans ragu jika Zoya masih berada di kampus. Lelaki yang masih mengedarkan pandangannya ke sana kemari itu mencoba menelusuri halaman kampus. Pandangannya kini mendapati sosok mungil yang masih duduk sendirian diantara suasana yang sudah mulai petang.


Dengan tersenyum tipis, dia terus saja melihat Zoya dari belakang. Istrinya itu masih duduk bersandar di sebuah kursi panjang berbahan besi itu. Zoya terlihat sangat lelah, terlihat tangannya terus mengelus perutnya yang sudah mulai terlihat membesar.


Berlahan Hans mendekat, gerakannya begitu tenang saat menutup mata istrinya. Seketika itu pula, Zoya bereaksi terkejut hingga dia berusaha membuka jari jari besar itu.


"Mas Hans! " tebak Zoya saat mengendus parfum suaminya. Perempuan hamil itu malah bersandar pasrah di perut keras suaminya.


"Dari mana kamu tahu ,itu aku, Zoy?" tanya Hans. lelaki itu kemudian membungkuk dari belakang, kemudian mendaratkan ciuman ke pipi istrinya.


"Mas Hans, malu kalau dilihat orang." ujar Zoya kemudian menunduk. Sementara Hans meletakkan dagunya di pundak kecil Zoya menikmati aroma wangi tubuh istrinya.


"Bagaimana kabarnya?" tanya Hans saat kedua tangannya mengalung di depan tubuh Zoya. Hans mengelus perut yang semakin terlihat besar itu, seperti menyapa kedua Hans junior.


"Baik, Mas. Tapi, kakiku sudah terasa kaku." Zoya memang sudah melepas sepatunya. Rasa lelahnya yang teramat sangatlah yang membuat dirinya memutuskan untuk duduk.


Mendengar Zoya mengeluhkan lelah, Hans pun berjalan mengitari kursi. Dia kemudian berjongkok untuk melihat kondisi kaki istrinya. Kaki Zoya memang terlihat sedikit membengkak.


"Ayo kita pulang." ucap Hans kemudian memakaikan kembali sepatu flat itu di kaki istrinya.


"Mas Hans, Aku bisa jalan sendiri." lirih Zoya setelah dia terkaget saat Hans menggendongnya menuju parkiran.


"Huss... jangan ngomong kayak begituan, Mas!" Saat suaminya membahasa mahluk Tuhan yang satu itu membuat bulu kuduknya merinding. Mendengar peringatan dari istrinya Hans malah terkekeh. Apapun itu tetaplah istrinya selalu bersikap lembut, Zoya yang polos dan Zoya yang selalu membuatnya gemas.


"Kita akan periksa kandunganmu, sebelum pulang, Zoy!" ucap Hans saat mereka berada di dalam mobil. Zoya hanya menggangguk. Dia masih mencoba menikmati rasa rileks dengan jok mobil yang sudah di atur kenyamanannya.


###


Nilla kembali mendongak ke wajah wildan. Sejak turun dari mobil, jari jari besar itu tidak lepas untuk menggenggam tangan mungilnya.


"Kenapa? " tanya Wildan, malah berganti dengan merangkulkan tangannya di bahu Nilla. Nilla hanya menggeleng kemudian tersenyum. Pacaran pertama setelah menikah. Seperti itu jika diungkapkan bahasa mata perempuan kecil yang saat ini menatap kagum suaminya.


"Kenapa Abang suka berpenampilan biasa?" tanya Nilla. Terlalu seringnya Nilla melihat Wildan hanya mengenakan kemeja biasa yang dipadu dengan celana kain saat mengajar. Di luar itu, Wildan memang lebih nyaman mengenakan kaos oblong yang dipadu dengan celana jeans sederhana, seperti yang dia kenakan saat ini.


"Kenapa dengan penampilan Abang?" Wildan balik tanya. Padahal dia sudah tahu maksud pertanyaan istrinya. Wildan sering juga mendapatkan pertanyaan itu dari beberapa temannya.


"Nggak si, aku lebih suka penampilan Abang yang mirip anak band ini dari pada ustad." jawab Nilla dengan tersenyum.

__ADS_1


Bagi Wildan melihat senyum ceria gadis jutek di sampingnya ini lebih menyenangkan dari pada suasana kota yang dikenal damai dan klassik ini.


Sore tadi mereka mengunjungi percetakan dan setelah itu Wildan sengaja mengajak Nilla pergi mencari suasana yang berbeda. Mereka terus saja berjalan menyusur jalan yang cukup ramai dengan lalu lalang orang yang sedang berjalan.


"Nil, mau angsle?" tanya Wildan saat melihat gerobak angsle yang terlihat tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Boleh, Bang! " Mereka bersiap untuk berjalan ke arah gerobak angsle. Tapi, seseorang menabrak dan mendorong tubuh Nilla dengan keras, hingga tubuh kecil itu membentur tubuh Wildan yang ikutan limbung dengan punggung membentur pohon beringin.


"Arrggghhh... " erang Wildan lirih dengan kedua tangan masih mencakup tubuh istrinya untuk menghindarkan Nilla dari banyak orang yang berlari tunggang langgang mengejar orang yang menabraknya.


"Bang, ada apa?" tanya Wildan saat salah satu dari mereka yang tertinggal karena mengambil nafas.


"Copet, Mas! " jawabnya dengan nafas memburu. Kemudian orang itu kembali mengejar masa itu meski sedikit pelan.


Saat kejar mengejar itu sudah terlihat menjauh, Wildan melepaskan pelukannya dari tubuh Nilla. Lelaki yang saat ini masih menahan perih itu membalikkan badan mencari sesuatu yang sudah melukai punggungnya.


"Kaos Abang, berdarah." seru Nilla dengan terlonjak kaget saat melihat kaos putih di bagian punggung suaminya itu terkena darah.


"Iya, ternyata ada kawat yang menancap di pohon beringin ini, Nil." jawab Wildan masih meneliti jenis kawat yang menancap di pohon itu.


"Bang, kita pulang saja!" Ajak Nilla, dia sudah mulai cemas dengan punggung suaminya. Darahnya memang tidak banyak tapi yang dia takutkan jika terjadi infeksi.


Mereka memutuskan untuk pulang secepatnya. Sebenarnya Wildan masih ingin menikmati suasana malam di kota ini bersama istrinya. Tapi, desakan Nilla tidak mampu lagi dia tolak.


Sesampainya di rumah, Nilla meminta Wildan membuka kaosnya. Wildan hanya duduk di tepi tempat tidur dengan melihat Nilla yang sedang mengambil kotak obat. Wajah cantiknya terlihat cemas.


"Tahan sebentar, Bang! Mungkin rasanya sedikit perih." pinta Nilla saat membersihkan luka kecil itu dengan Alkohol. Kecemasannya saat mengobati luka Wildan membuat Nilla tidak menyadari jika tangan kirinya memegang pinggang telanjang suaminya.


"Sakit, Bang?"tanya Nila masih fokus dengan lubang kecil di punggung dekat lengan suaminya.


"Sakitnya, di sini!"


"Arerggghhh.... " Nilla terhenyak kaget saat Wildan menarik keras lengannya hingga dia kembali membentur tubuh polos di depannya. Terkesan memeluk dada bidang itu dengan tangan kaku yang sudah menyentuh sesuatu diantara dua ************ suaminya.


Wajah putih itu sudah merona meski tak ada yang melihatnya. "Ini ustad, mesum amat! " Satu sisinya mengumpat." Tapi,mesum sama istri apa hukumnya, ya? " satu sisi pikiran Nilla pun berkelana.


"Jangan bilang aku ustad mesum, Nill." tebak Wildan mencoba membaca pikiran gadis yang sudah dia kenal sangat baik. Tangan kirinya masih menahan tangan istrinya, sedangkan satu tangannya menarik lagi tangan kanan Nilla yang masih bertumpu di satu pinggangnya untuk menahan tubuhnya agar tidak menempel penuh. Sejenak Wildan menahan kedua tangan mungil itu di pusat tempat yang cukup syakral.

__ADS_1


"Biar bagaimanapun, aku lelaki normal yang juga punya syahwat. Jika selama ini aku bisa menahan. Tapi tidak untuk saat ini."


TBC


__ADS_2