Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Digigit Serangga


__ADS_3

"Hae kenapa menyembunyikan wajahmu di bantal?" tanya Hans dengan menyingkirkan rambut panjang nan lurus yang menghalangi pandangannya untuk melihat wajah ayu istrinya. Meskipun, Zoya pamit akan tidur kembali setelah Salat Subuh, tapi Hans tahu jika Zoya tidak benar-benar tertidur. Tubuhnya terlihat gelisah meskipun wajahnya masih tenggelam dalam bantal.


"Zoy, apa kamu sakit?" Ada rasa cemas yang menelisik hatinya, dia tidak ingin karena kegilaannya semalam akan berakibat buruk pada kandungan istrinya.


"Nggak, Mas." Berlahan Zoya membalikkan wajahnya, terlihat rona merah yang menghiasi wajah ayu perempuan di depannya.


"Kamu, kenapa? " Dengan wajah cemas, Hans menjulurkan tangannya menyentuh pipi yang sudah kemerah-merahan itu.


"Nggak apa-apa, cuma malu untuk yang semalam." lirihnya dengan tersipu, pengakuan Zoya langsung membuat Hans tergelak. Ini memang bukan pertama kali baginya, tapi mencoba berbagai teknik dan gaya untuk tidak membahayakan kandungan menyisakan rasa malu bagi Zoya.


"Sebentar, kayaknya Ale datang." mendengar suara bel berbunyi, Hans pun beranjak keluar dari kamar untuk membukakan pintu. Zoya hanya menautkan alisnya karena merasa heran, kenapa Ale datang sepagi ini? Pandangannya kemudian menatap jam yang menggantung di di dinding. Masih pukul setengah enam, mana mungkin Ale datang sepagi ini? Pertanyaan itu membuat Zoya tidak percaya. Padahal, dia yakin Ale akan bangun setiap waktu subuh karena memang sudah terbiasa.


"Mama.... " Teriakan Ale menggema di seluruh ruang kamar. Tubuh gembul itu berlari dengan gesitnya menghambur ke arah Zoya yang sudah menurunkan kakinya dari atas tempat tidur. Di belakang Ale terlihat Hans melangkah dengan santai mengekori putrinya yang terlihat girang bertemu mamanya.


"Sayang, kenapa pagi sekali?! " tanya Zoya saat menyambut pelukan Ale. Zoya menundukkan tubuhnya kemudian menciumi wajah bulat putrinya. Ale datang diantar Pak Dino setelah Hans memberikan perintah pada Bi Muna agar menyiapkan Ale sepagi mungkin untuk menyusul Zoya ke apartemen.


Tanpa aba-aba Ale, langsung naik di atas tempat tidur. Bocah gembul itu kemudian memeluk Zoya dengan sangat erat.


"Ale kangen, Mama!" ucap Ale kemudian meregangkan pelukannya tapi tangannya masih mengalung di leher Zoya.


"Mama, Ale tidak suka ada Tante Alum. Kita di sini saja, ya?! " ucap Ale dengan polosnya, bibirnya mengerucut hingga beberapa senti ke depan.


"Kenapa tidak suka? Tante Arum baik. Ale sering diajak main, kan? " Zoya balik bertanya. Sementara Hans hanya menatap dua perempuan yang dia sayangi itu saling berbicara.


"Sejak ada Tante Alum, Papa jalang di lumah. Ale juga seling lihat Mama nangis. Ale jadi sedih." tutur Ale kemudian memeluk kembali mamanya.


"Mbul... sini! Papa kangen kamu." Hans merebahkan tubuhnya di sisi sebelah ranjang. Ale, menatap papanya yang sudah berbaring. Dia memang tidak ingin tiduran karena Zoya pasti akan mengomel kalau seragamnya menjadi kusut. Ale memilih duduk di perut papanya membuat Hans memekik karena berat Ale yang tidaklah ringan. "Awwwwhhh... pelan- pelan duduknya!" Mendengar omelan papanya Ale hanya tersenyum nyengir dengan menutup mulutnya menggunakan telapak tangan.


"Kamu mau kita tinggal di sini?" tanya Hans dengan menatap Ale yang kemudian dijawab dengan anggukan. Hans kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Zoya dan meraih jari-jari Zoya kemudian menggenggamnya.


"Beberapa hari ini, kita akan tinggal di sini. Bagaimana, Zoy? " Hans mengeratkan genggamannya untuk mendapat persetujuan Zoya.

__ADS_1


"Mau pa, mau." Ale langsung mengangguk-angguk menyetujui tawaran papanya.


"Tapi, kita belum meluruskan masalah kita dengan Mbak Arum." Zoya merasa masih ada beban.


"Pelan-pelan, Zoy. Kita juga butuh waktu untuk diri kita, beberapa bulan kita semua sudah tertekan. Lagi pula, kita masih punya banyak waktu untuk memikirkan cara terbaik memberi pengertian pada Arum."


"Iya, Mas, yang aku takutkan Mbak Arum akan terluka mendengarnya." Zoya sangat mengerti jika Arum sudah tertarik dengan suaminya. Dan, itu yang membuat Zoya tidak tega jika gadis itu harus terluka. Semua memang di luar kendali mereka.


"Mama, lehel Mama kenapa? Kok banyak melah-melahnya? " celetuk Ale menyela obrolan dua orang dewasa yang sedang terlibat pembicaraan serius. Sedari tadi, Ale memang sudah memperhatikan beberapa warna merah di leher putih Zoya.


"Blushh..... " Seketika wajah Zoya memanas, dia yakin jika saat ini rona wajahnya sudah mirip kepiting rebus.


"Eeehmm... digigit serangga. Serangganya besaaaaar sekali." jawab Zoya dengan melirik Hans yang sedang meliriknya tajam.


"Ohh..." Ale yang awalnya melongo menunggu jawaban Zoya pun mengangguk seolah dia sudah faham.


"Aku akan mandi, dulu. Ale nanti berangkat bareng Papa." ujar Hans kemudian bangkit dari rebahan.


"Aku mau diantal Mama."


"Berangkat bareng Papa. Nanti pulang dijemput Mama dan kita langsung ke Mirota Classic." bujuk Zoya saat melihat Ale yang masih cemberut. Zoya memang berniat untuk membeli daster karena perutnya yang semakin terlihat. Apapun yang di katakan Zoya, bocah gembul itu pasti akan mengiyakan begitu saja.


Sambil menunggu Hans selesai mandi Zoya membuatkan Ale dan roti sale untuk sarapan.


Hans langsung meluncur menuju ke kantor, setelah mengantarkan Ale sampai di sekolah. Jadwal hari ini tidak terlalu padat, tapi masih ada banyak hal yang harus dia pelajari, termasuk menyambut kedatangan Pak Indrawan yang akan ikut bergabung membantu team lawyer untuk kasus Antonio. Kasus putra mahkota kerajaan bisnis keluarga Diraja memang mengundang perhatian banyak pihak.


Matahari yang sudah bersinar dengan cerahnya membuat susana sedikit silau meski baru pukul setengah delapan pagi. Sedan Mercy itu membelok ke halaman parkir kantor Hans yang sudah terlihat beberapa orang berseliweran.


"Pak, bagaimana perkembangan kasus pembunuhan Kinanti, apa ada perkembangan?"


"Apa, benar Antonio mendapatkan perlakukan khusus selama di sel?"

__ADS_1


"Apa ada bukti yang mengarah pada orang lain?" Hans langsung dicecar pertanyaan dari beberapa wartawan setelah turun dari mobil.


"Untuk sementara belum ada perkembangan." Hans menjawab pertanyaan wartawan dengan berjalan masuk ke dalam.


"Setahuku, Antonio di tempatkan pada sel yang sama dengan napi lain." Hans semakin mempercepat langkahnya.


"Tapi, kemarin sempat ada rekaman dia berada pada ruang yang ber Ac dan ada televisi." cecar salah seorang yang mengejarnya.


"Mungkin, itu kebetulan pas di ruang jenguk."


"Maaf, saya akan ada meeting." lanjut Hans kemudian mempercepat ayunan langkahnya untuk segera masuk ke dalam kantor. Tapi memang, di dalam dia sudah di sambut Kyara, Ryan dan Pak Indrawan sebagai lawyer senior yang akan membantu di balik layar.


###


Seperti janjinya, Zoya menjemput Ale di sekolah, kemudian pergi ke tempat kursus dance modern. Sebenarnya, Ale meminta ikut kursus balet seperti Hellen, tapi Zoya mencoba menawarkan untuk ikut dance modern saja, karena tubuhnya yang banyak lemak. Tapi, ternyata Ale bisa menikmati dance modern dan membuat kegiatan itu berjalan hingga beberapa bulan.


"Apa Ale capek?" tanya Zoya pada Ale saat mereka keluar dari toko Mirota klasik. Setelah pulang les dance, Zoya langsung mengajak Ale ke Mirota klasik untuk membeli daster dan lilin aroma terapi.


"Tidak, Ma. Ale senang. Apalagi di dalam tadi aromanya wangi sekali." Zoya tersenyum kecut saat Ale menyukai wewangian seperti kemenyan.


"Sekarang kita beli ice cream dan kita makan di bangku sana ya!" tunjuk Zoya pada salah satu bangku yang berjajar di sepanjang jalan.


Sekilas Zoya menatap Ale, putrinya terlihat lelah, tapi binar wajah ceria membuat samar wajah lelah putrinya. Setelah mendapatkan sekotak ice cream, Zoya membawa Ale di salah satu bangku untuk menikmati buruannya itu.


Sore mendekati pukul lima, suasana memang tak seramai ketika siang, ketika pasar masih buka dan beroperasi. Pukul empat sore pasar yang cukup fenomenal itu berangsur sepi. Tapi, itu tidak menyurutkan suasana ramai di sepanjang jalan pusat kota ini.


"Ale suka coklatnya, Ma." ujar Ale masih menikmati ice cream dengan varian coklat, strowbbery, dan susu.


Zoya pun terlihat asyik menikmati ice cream. Dia merasa ice cream kali ini benar-benar terasa nikmat. Kedua perempuan itu sudah tidak mempedulikan sekitar atau suasana yang sudah mulai meredup.


Zoya terdiam sejenak. Hidungnya mencium seperti aroma parfum suaminya. "Ah, mana mungkin." pikirnya. Dia kembali mengabaikan aroma yang sangat dia kenali. Keasyikannya bersama Ale memakan ice cream sudah membuatnya tidak peduli apa pun.

__ADS_1


"Hae jangan begini! " pekik Zoya langsung berdiri, saat dia merasa seseorang memepet duduknya. Tak perlu waktu lama Zoya langsung mengenali lelaki dengan celana pendek, topi, dan berkaca mata hitam itu, yang saat ini tersenyum ke arahnya.


Bersambung....


__ADS_2