Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Waktu Untuk Keluarga


__ADS_3

"Hae jangan begini! " pekik Zoya langsung berdiri, saat dia merasa seseorang memepet duduknya. Tak perlu waktu lama, Zoya langsung mengenali lelaki dengan celana pendek, bertopi, dan mengenakan kaca mata hitam itu. lelaki itu pun sedang tersenyum ke arahnya.


"Mas Hans, aku kira siapa?" gerutu Zoya dengan meluruhkan bahunya. Hans terkekeh melihat ekspresi Zoya yang sempat menegang.


"Papa, kok bisa di sini? Kata Mama, Papa lagi banyak keljaan?" sahut Ale masih fokus dengan ice creamnya.


"Kalau bicara dilihat orangnya, Mbul!" ujar Hans dengan mengambil alih kotak ice cream dari tangan Ale.


Ale tidak terima kotak ice creamnya direbut oleh papanya, hal tersebut membuat bocah gembul itu berdiri dan mendekat ke arah Hans untuk merebutnya kembali.


"Kalian asyik sekali makan ice creamnya?" ucap Hans kemudian membawa Ale untuk duduk dalam pangkuannya.


"Aku sudah menginginkannya dari kemarin, Mas." jawab Zoya, kemudian duduk di sebelah Hans.


"Mas Hans katanya pulang malam. Dan kenapa sudah bergaya ala turis gitu?" lanjut Zoya dengan mengusap mulut Ale yang belepotan ice cream dengan tisu.


"Aku sedang menyamar, malas kalau ketemu media. Kamu istriku tapi kenapa tidak mengenaliku, Zoy?" protes Hans dengan menelusupkan jari jarinya diantara jemari mungil perempuan yang duduk berdekatan dengannya. Sementara, Ale masih duduk di pahanya dengan ice cream yang hampir dia tuntaskan.


"Aku tadi sudah tahu, dari parfumnya. Cuma takut ada orang lain yang berani mepet-mepet gitu! " jelas Zoya, dia menyandarkan kepalanya di lengan kekar suaminya, membuat Hans meliriknya dan tersenyum tipis. Rasanya dia menginginkan kebersamaan semacam ini untuk seterusnya.


Seorang lelaki yang sedang membawa kamera kini menghampiri mereka."Maaf saya sudah mengambil gambar anda. Apa anda juga menginginkannya?" tanya lelaki yang mengenakan kaos oblong dan celana jeans itu saat berdiri di dlepan mereka.


Seperti perempuan lainnya, Zoya mulai terlihat sangat tertarik membuat lelaki itu menyodorkan hasil jepretannya.


"Bagus, Mas." ujar Zoya dengan menatap wajah datar Hans.


"Perkenalkan, nama saya Reynaldy. Saya memang suka fotography dan melihat objek yang harmonis membuatku sangat tertarik." Lelaki jangkung itu seolah memperkenalkan diri.


"Bukan dari media massa?" sindir Hans yang tidak sengaja pernah melihat laki laki itu saat selesai sidang.


"Ternyata tidak salah jika anda menjadi pengacara ternama. Anda sangat jeli sekali." lelaki itu masih menyungging senyum santainya.


"Saya sudah mengunjungi tempat kejadian. Banyak yang terjadi, termasuk pernikahan anda dengan salah satu gadis di sana." Desak lelaki itu

__ADS_1


"Tenang saja, belum ada media masa yang mengendus hal tersebut. Saya hanya ingin sedikit informasi, tidak lebih." lanjut Reynaldi masih dengan gaya santainya. Hans mulai faham maksud lelaki itu.


"Datanglah ke kantorku senin sore! Saat ini saya butuh waktu bersama keluarga saya." Setelah berfikir sejenak Hans mulai membuka diri, dia memberikan kartu namanya. Mungkin, lelaki itu bisa mengulik sisi lain dari sudut pandangnya terhadap kasus Antonio.


"Oke, terima kasih atas kerja samanya. Saya tidak akan meliput sesuatu tanpa persetujuan anda." Mereka saling berjabat tangan, menandakan sebuah kesepakatan telah dibuat.


"Oh ya, keluarga kecil anda membuat saya merasa iri." Kalimat terakhir Reynaldy sebelum dia meninggalkan mereka membuat Hans tersenyum. Ya, saat ini Hans memang sangat menikmati kebahagian bersama keluarga kecilnya setelah beberapa waktu ketegangan terjadi.


Sore yang cukup cerah dengan sapuan angin yang terasa lembut mengiringi kebersamaan mereka. Kali ini, mereka menghabiskan waktu dengan menikmati pemandangan kota yang cukup damai, tidak terlalu ramai dan tidak juga sepi, apalagi banyak orang yang berjalan di sepanjang trotoar menikmati pusat perbelanjaan yang sebagian sudah tutup. Pemusik jalanan yang sedang menikmati dunia mereka membuat irama yang berbeda di tempat itu.


###


Seperti permintaan Ale, mereka memutuskan untuk bermalam di apartemen. Sudah dua malam Hans dan Zoya tidak pulang ke rumah, akan tetapi itu tidak membuat Hans langsung tidak mengontrol kondisi rumah. Dia tahu setelah malam kepergiannya bersama Zoya, Deny menemui Arum dan menurut informasi Bi Muna, Arum juga sempat keluar rumah tanpa meminta Pak Dino untuk mengantarnya. Meskipun tidak masalah bagi Hans, tapi dia juga berfikir untuk tetap waspada.


Lelaki yang masih asyik dengan peralatan Gym yang ada di sudut apartemennya itu tersenyum, saat melihat Ale menciumi perut Zoya. Putrinya sudah sangat menginginkan adek bayi. Tatapan tajam itu tertuju pada tingkah putrinya yang bisa dibilang semau sendiri. Terkadang dia sangat mirip Mama Shanti, mungkin karena sebelum bersama Zoya, Ale di asuh oleh Mama Shanti.


"Mama, kapan adiknya kelual? " tanya Ale dengan tiduran di pangkuan Zoya. Ale terlihat sudah mengantuk tapi dia belum mau diajak tidur.


"Yang kayak diajalin Bu gulu saat mau pulang sekolah?" tanya Ale sekali lagi.


"Iya, Sayang." jawab Zoya dengan berselawat nariah. Di tempat sekolah Ale memang selalu dirutinkan berselawat nariah saat akan pulang.


Ale mulai berselawat dengan wajah. Berlahan, suara Ale pun terdengar semakin lirih. Kelopak matanya pun mulai mengatup membuat Zoya menghentikan usapan di kening putrinya. Zoya tersenyum, saat melihat Ale sudah tertidur pulas. Kegiatan hari ini membuat Ale kelelahan. Sabtu memang jadwal yang padat bagi Ale, kegiatan ekstra seperti dance dijadwalkan Zoya saat hari sabtu, itu karena malam minggu Zoya meliburkan Ale untuk belajar dan mengerjakan tugas sekolah.


Melihat putrinya terlelap di pangkuan Zoya, Hans langsung menghampiri mereka dan segera membawa Ale pindah ke kamar.


"Aku akan sekalian mandi. Jika tidak lelah, bisakah membuatkan aku kopi?" tanya Hans dengan membawa Ale dalam gendongannya.


"Iya, Mas." Zoya sebenarnya sudah malas untuk beranjak. Tapi mau bagaimana lagi, suaminya sudah meminta kopi.


Berlahan dia bangkit dan berjalan menuju pantry untuk membuatkan kopi hitam, minuman favorit suaminya. Sambil menunggu air mendidih, matanya melihat mie spaghetti yang ada di kitchen set. Baru dua jam yang lalu mereka selesai makan malam, tapi saat ini perutnya sudah terasa lapar. Dia memutuskan untuk membuat spaghetti bolognese.


Sambil menunggu Hans selesai mandi, Zoya menghidupkan televisi. Tampilan acara pertama menarik perhatian Zoya . Pemberitaan tentang kasus yang sedang ditangani suaminya kini sudah mencuat di televisi.

__ADS_1


"Kenapa nggak dimakan?" tanya Hans saat menghampiri Zoya yang terlihat fokus melihat berita.


"Kasusnya sudah masuk TV." jawab Zoya.


"Yah begitulah, Itu akan semakin memperlambat perkembangan kasus, karena dua opini yang berbeda. Cepat makan! Keburu dingin." ucap Hans dengan duduk di sofa, bersebelahan dengan istrinya.


"Aku sudah tidak lapar. Mas Hans saja yang makan." Mendengar kalimat istrinya membuat Hans menautkan kedua alisnya.


"Jangan bilang kamu takut gendut?!" tebak Hans, beberapa kali sudah mendengar Zoya mengeluh bajunya sudah banyak yang tidak muat.


"Tidak masalah, aku suka kamu yang sekarang terlihat lebih seksi." Hans mengambilkan piring spaghetti dari meja dan menyerahkan pada istrinya.


"Berat badanku udah naik lima kilogram." Zoya menunggu jawaban Hans.


"Sudah kubilang tidak masalah. Dari pada saat pertama aku lihat kamu yang kurus kering kayak kurang gizi." Hans mulai menyendokkan spaghetti dengan garpu dan menyuapkan ke dalam mulut Zoya.


"Aku akan makan sendiri saja!" Zoya mengambil alih garpu yang ada di tangan suaminya. Ah, sudahlah. Dia memang sudah merasa lapar.


"Mas, rencana Mas Hans terhadap Mbak Arum bagaimana?"


"Ya, dikembalikan. Emang kamu mau, dia tinggal di rumah dan menggodaku terus?" goda Hans.


"Nggak mau juga, kemarin saja sudah membuatku was-was jika mas Hans jatuh cinta pada Mbak Arum. Tapi, bagaimana cara Mas Hans mengatakan semuanya dan mengembalikan Mbak Arum?"


"Ya, kita bicarakan yang sudah kita rencanakan. Jika, dia maunya kita yang mengantar pulang, ayo kita antar pulang. Tapi, aku ingin kamu menemaniku, Zoy. Aku tidak ingin berjalan sendiri lagi." ucap Hans dengan menyelipkan anak rambut istrinya ke belakang telinga. Senyum tipis timbul saat melihat Zoya tengah mengunyah makanan. Mungkin benar, pipi Zoya terlihat lebih cabi. Itu yang sedang dipikirkan Hans.


"Tapi, jika dia menginginkan Deny yang Menjemput, aku pun tidak masalah. Semua terserah Arum." lanjut Hans.


"Iya, Mas. Mungkin ini sulit bagi Mbak Arum. Tapi aku juga nggak mau ambil resiko suamiku diambil orang." gumam Zoya yang juga ikut merasa bersalah, biar bagaimanapun suaminya sudah memanfaatkan Arum.


"Tumben kamu pinter?" Hans menatap Zoya mengunyah suapan terakhir mie spaghetti. Dia sengaja menatap Zoya dengan intens agar istrinya tersipu.Dan ternyata apa yang di perkirakan tidaklah salah. Zoya meletakkan piringnya dengan senyum dan rona wajah memalu.


TBC

__ADS_1


__ADS_2