Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Mencari Mobil Baru


__ADS_3

Rey masih berkonsentrasi dengan jalan yang di depannya. Di dalam mobil, dia bersama Kyara. Lelaki beralis tebal lengkap dengan mata sayu itu sedang bermain dengan pikirannya sendiri. Zoya. Tentunya, Zoya masih menguasai pikiran dan hatinya.


"Bang kita kemana?" tanya Kyara saat Rey melewatkan jalur yang berbeda dari arah pulang ke rumahnya. Mobil Kyara memang ditinggalkan di kantor Hans karena dia ingin mengajak gadis dengan rambut curly itu untuk menemani kegalauannya. Baginya Kyara adalah sosok yang cukup easy going.


"Kita akan ngopi dulu. Aku lihat ada tempat bagus meski tidak mewah." jelas Rey tanpa menatap gadis yang saat ini masih betah memperhatikan dirinya.


Kyara terus saja memperhatikan Rey. Dia tak pernah tahu apa yang sebenarnya dipikirkan sosok yang duduk di sebelahnya.


"Apa yang membuatmu gelisah, Bang?" tanya Kyara membuat Rey kemudian menoleh ke arahnya. Ini yang Rey suka dari Kyara. Meskipun, dia cenderung punya pemikiran seperti lelaki tapi dia paling peka dan paling pintar membaca situasi. Kepiawaiannya dalam menganalisa tidak diragukan lagi.


"Memang aku terlihat gelisah?" tanya Rey dengan tawa sarkasnya. Dia masih menatap ke depan. Tidak tahu lagi apa yang harus diucapkan untuk menjawab pertanyaan Kyara.


"Jatuh cinta kalau menyakitkan lebih baik ditinggalkan saja!" celetuk Kyara sekenanya. Gadis itu malah mengalihkan pandangannya untuk menikmati pemandangan yang sedang mereka lalui.


Jajaran pepohonan yang tertata rapi membuat jalanan yang menanjak pun tidak mereka rasa. Hening. Mereka kembali terdiam, hingga Rey menyalakan audio mobilnya.


Sedan warna metalic itu terlihat melaju memelan. Di pinggir jalan dengan halus mobil itu berhenti di tepi sebuah tebing yang ada di dekat jalan.


"Kenapa kita ke sini?" tanya Kyara merasa heran, baginya ini hanya membuang waktu saja.


"Aku ingin mencoba lensa baruku!" ujar Rey, kemudian turun dari mobil. Lelaki itu masih melihat suasana. Hamparan luas kota yang sebenarnya tidaklah itu nampak begitu indah apalagi kala ketika beradu dengan senja yang memerah tembaga di ujung langit sebelah barat. Seandainya saja dia bisa menikmati semua ini dengan perempuan berkerudung itu? Rasanya hatinya begitu nelangsa saat mengingat perempuan ayunya itu.


Kyara mulai berjalan mendekat ke arah lelaki yang saat ini membidikkan lensanya ke arah kota yang mengecil itu.


"Apa Bang Rey sering ke Bukit Pandang ini?" Kyara menamai ini sebagian bukit pandang. karena cakupan penglihatan bisa meluas ke seluruh penjuru pusat kota.


"Ini yang kedua kalinya." jawab Rey masih fokus dengan kameranya.


Kyara tidak lagi menyambung kalimat Rey. Dia tidak tahu harus berbuat atau berkata apa lagi.


"Aku jatuh cinta pada istri orang." Rey mulai bercerita. Dia menghentikan geraknya dan menatap hampa pemandangan yang ada di depannya.


"Cinta? Yakin cinta, Bang?"


"Iya, dan aku sangat kacau karena itu." jawab Rey


"Bukan obsesi, kan?" sekali lagi kyara mencoba meyakinkan.


"Perasaan ini baru aku dapatkan saat bertemu dengannya."


"Tapi itu tidaklah benar, Bang. Bang Rey akan sakit sendiri pada akhirnya."


"Kamu tidak tahu bagaimana jika lelaki sudah jatuh cinta." jawab Rey berusaha meyakinkan jika dia benar benar jatuh cinta.

__ADS_1


"Iya, aku memang pernah mendengar beberapa kasus cowok yang mencintai pasangan orang lain. Tapi, Come on bermainlah dengan logika Bang, itu akan menyakiti perasaanmu sendiri." bujuk Kyara.


"Aku sudah tidak bisa mengendalikan perasaanku, lagi. Aku sudah bertekad untuk memperjuangkannya."


"Itu tidak bermasa depan. Bagaimana jika perempuan itu sangat mencintai pasangannya?"


"Suami perempuan itu sering menyakitinya. Laki laki yang penuh skandal dengan beberapa wanita. Jika, dia tidak bahagia, aku akan mengambilnya dan membawanya pergi dengan cara apapun." ujar Rey dengan menarik Kyara apada kedai kopi yang ada di sana.


Visual Rey



Visual Kyara



###


"Papa, nama Alexa Salma Aqilla apa artinya?" tanya Ale saat mereka sudah berada di dalam mobil. Setelah menyelesaikan pekerjaannya dan Salat Magrib di kantor, Hans membawa Zoya dan Ale ke sebuah restoran berbintang untuk bertemu seseorang dari showroom mobil.


"Perempuan pelindung yang cerdas." jawab Hans, dia kembali teringat pada Renita. Dia dan Renita menemukan nama itu sebulan sebelum kelahiran Ale.


"Mas Hans, ingat Mbak Renita, ya?" tanya Zoya saat melihat raut wajah Hans berbeda. Hans tak menjawab pertanyaan Zoya, tangannya kini menjulur mengusap pelan kepala istrinya


"Kalau artinya Zoya Kamila?" lanjut Ale, entah apa yang dipikirkan bocah itu hingga menanyakan arti banyak nama.


"Perempuan yang sempurna!" Hans langsung menjawab pertanyaan Ale.


"Mas Hans sudah tahu?" Zoya sedikit tercengang saat mendapati suaminya yang sudah faham arti namanya.


"Masak arti nama istrinya tidak tahu?" Kebetulan Hans memang sudah pernah mencari arti nama lengkap Zoya.


"Kalau Hans Satrya Jagad?" Ale kembali melontarkan pertanyaan pada Papanya.


"Kamu mau sensus penduduk?" Lama-lama Hans kesal juga dengan Ale.


"Apa itu, Pa? "


"Mana tahu Ale sensus penduduk?" sela Zoya yang juga heran dengan jawaban suaminya. Kebiasaan bicara seenaknya saat melenceng dari moodnya, Zoya sudah menghafalnya.


Perjalanan mereka kini dipenuhi dengan obrolan yang tidak jelas. Mobil CR-V putih itu berhenti di sebuah restoran yang cukup mewah.


Hans merangkul bahu Zoya saat memasuki sebuah restoran berbintang. Sedangkan tangan Zoya masih menggandeng Ale yang berjalan penuh energik. Pandangannya mengedar hingga menemukan meja no. 09 seperti yang dijadwalkan oleh Dyana. Asisten pribadi Hans memang menjadwalkan pertemuan Hans dengan orang dari showroom mobil di restoran yang cukup berkelas.

__ADS_1


"Selamat malam." sapa Hans, saat sampai di meja yang sudah ditentukan untuk pertemuannya saat ini.


"Mas Hans? Putra Tante Shanti?" ujar perempuan dengan rambut di sanggul lengkap dengan blazer saat Hans berdiri di depannya.


"Denisa? Apa kabar?" Hans balik tanya sebelum mereka duduk kembali.


"Aku baik, aku tadi penasaran saat salesku mengajukan nama customer. Bagaimana kabar Tante Shanti?" Denisa memang tergolong perempuan yang cukup humble.


"Mama sehat. Oh ya, aku bisa melihat mobil terbarunya?" Mendengar pertanyaan Hans, perempuan di samping Denisa langsung menyodorkan beberapa lembar brosur untuk dijadikan perbandingan.


Saat Hans masih mempertimbangkan pilihannya dengan beberapa petunjuk dari sales. Zoya malah membantu Ale menikmati beberapa hidangan yang sudah dipesan.


"Zoy, Kamu suka warna apa?" tanya Hans dengan menunjukkan beberapa gambar pada istrinya.


"Apa saja, Mas." jawab Zoya sekenanya. Dia masih fokus pada Ale yang mulutnya sedikit belepotan terkena saus.


"Siapa, Mas? Bukan baby sitter putri Mas Hans, kan?" Mendengar Pertanyaan Denisa Zoya terhenyak kaget.


"Dia Istriku." jawab Hans.


"Sederhana sekali? Nggak nyangka banget aku, Mas." Denisa masih saja memperhatikan Zoya yang terkesan cuek. Bukannya tidak marah, tapi baginya perlakukan seperti itu adalah hal yang sudah biasa bagi perempuan yang masih asyik dengan putrinya.


"Setelah pertemuan kita dulu, aku memang sibuk mengerjakan Thesisku hingga aku tidak peduli dengan perjodohan kita." Seketika Zoya terhenyak kaget mendengar kalimat yang di lontarkan Denisa. Hans sendiri tidak menyangka jika gadis itu mengungkit masa saat di mana Mama Shanti berburu calon istri untuknya.


"Mungkin, itu yang namanya tidak berjodoh, Mbak!" lirih Zoya mencoba meredam gemuruh hatinya.


"Saat itu mungkin belum. Kita tidak tahu besok, kan? Benar kan, Mas Hans?"


"Apa?" Hans menjadi bingung saat Denisa menyebutkan namanya. Dia memang sedang fokus mendengar sales marketing yang mencoba menjelaskan beberapa fiture kelebihan beberapa mobil keluaran terbaru.


Hans kemudian menoleh ke arah Zoya. Wajah istrinya sudah terlihat masam membuatnya menghentikan beberapa negoisasi yang belum mendapat kata sepakat.


"Baiklah, aku akan mempertimbangkan ini di rumah. Nanti aku kabari lagi kelanjutannya." ucap Hans yang ingin mengakhiri pertemuan itu.


"Ini kartu namaku, aku akan ajukan harga terbaik untukmu!" ucap Denisa dengan menyerahkan kartu namanya.


Pukul delapan malam, mereka pun kembali ke rumah. Selama dalam perjalanan mereka terdiam, termasuk Ale yang sudah terlihat mengantuk. Sesekali, Hans melirik istrinya yang terus saja memperhatikan situasi di luar jendela mobil.


Sesampainya di rumah, Zoya langsung naik ke lantai dua. Dia lebih memilih masuk ke kamar. Selain kesal, dia juga merasa lelah. Masih mengenakan jilbabnya dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sejenak dia memejamkan mata, meresapi empuknya kasur untuk melepaskan rasa lelahnya. Hingga panggilan di ponselnya membuatnya bangkit dan meraih tasnya yang tergeletak di sampingnya.


Nilla. Zoya segera mengangkat telpon dari Nilla. Dia berharap akan ada kabar baik yang akan dia dengar.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2