Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Tertuduh


__ADS_3

Zoya berdiri di samping Hans, matanya berkaca kaca saat menunggui suaminya yang sedang mengancingkan kemeja. Sekali lagi, dia menatap detail garis wajah tampan di depannya, seolah dia enggan melepaskan kepergian suaminya, lelaki yang sudah menjadi bagian dari hidupnya di dunia dan berharap kelak juga di akhirat nanti.


"Zoy, aku pergi cuma sehari. Jangan menatapku seolah aku akan pergi selamanya. " ucap Hans dengan mengancing lengan bajunya dan merapikan kemeja yang mencetak bodynya yang six pack.


"Iya, sebenarnya aku tahu itu, Mas.Tapi...." jawabannya menggantung karena Hans menarik tubuh mungilnya dan mendekapnya sejenak, tatapan mereka saling mengunci, menyampaikan perasaan masing-masing. Sebenarnya, dia juga enggan pergi ke sana, tapi Hans tidak bisa lagi menunda kepergiannya.


"Zoy, titip Ale dan buah Cinta kita. Jaga mereka, besok kita akan periksa ke klinik dan melihatnya, ya! " Kalimat Hans terdengar lirih membuat Zoya mengeratkan pelukan dan menenggelamkan diri dalam pelukan suaminya.


Sejenak mereka saling memberi rasa nyaman dalam dekapan hangat penuh cinta. Kemudian, Hans meregangkan pelukannya, memperhatikan wajah ayu yang terbingkai oleh jilbab instan. Tangannya menyentuh dagu lancip itu dan menahannya untuk menyecap bibir mungil itu sejenak.


"Mumpung si pengacau sekolah." ucap Hans dengan terkekeh, sementara Zoya hanya tersipu.


Mereka berjalan keluar menuju garasi. Hans berangkat sendiri karena takutnya Zoya atau Ale membutuhkan Pak Dino(sopir rumah). Sementara, Mama Shanti sedang berada di bandung untuk menyambut kedatangan cucu keempatnya dari Mbak Niar.


"Mas Hans, hati-hati." suara Zoya terdengar lirih dengan mengambil punggung Hans.


"Sayang, jangan membuatku berat untuk pergi!"


Senyum manis terbit di sudut bibir tipis Hans. Sekali lagi dia menatap parah ayu istrinya, menikmati sejenak pemandangan terindah yang di berikan Sang Pencipta untuknya, kemudian tangan besar itu mengusap sudut mata Zoya yang dilihatnya sudah mengembun. Tidak tahan jika sampai melihat air mata itu, Hans kemudian memasuki mobilnya dan berlahan meninggal halaman rumah yang berdiri gagah di tengah kota.


"Ya Allah, berilah keselamatan dan kemudahan untuk suamiku." gumam Zoya kemudian berlahan kembali memasuki rumah. Banyak alasan yang membuat Zoya berat untuk melepaskan kepergian Hans. Selain perasaan spontan enggan ditinggal, sejak hamil Zoya memang lebih sering merindukan suaminya dan malam ini dia akan menghabiskan malamnya sendiri.


Zoya kembali menatap mendung yang menggantung di langit. Matahari yang seharusnya bersinar cerah pun tertutup awan petang. Sejak tadi pagi memang mentari menyembunyikan wajahnya. Langkah Zoya terhenti saat melihat seorang gadis keluar dari taxi online dan berjalan terburu ke arahnya.


"Nila... "Zoya tersenyum menyambut kedatangan Nila. Betapa dia sangat merindukan sahabatnya itu.


"Assalamulaikum, Zoy." sapa Nila dengan nafas memburu setelah sampai di hadapan Zoya.


"Waalaikum salam, Nil. Aku sangat merindukanmu." Zoya langsung memeluk gadis berkerudung biru itu.


"Aku juga, Zoy." sambut Nilla yang memang akhir-akhir ini paling sulit menemukan waktu luang.


Zoya menggandeng Nilla untuk masuk ke dalam rumahnya. Kebetulan sekali, kedatangan Nilla bisa menjadi teman saat dia merasa kesepian di rumah.


"Zoy, ada yang ingin aku bicarakan. " ucap Nilla saat mereka baru saja mendudukkan bobotnya di sofa ruang tengah.


"Ada apa?" selidik Zoya penuh dengan rasa penasaran, karena tidak biasanya Nilla begitu serius menghadapi segala sesuatu.


" Zoy, eeehmmmm..... Bang Wildan melamarku." ucap Nilla penuh keraguan, gadis itu tak berani menatap mata Zoya. Bagaimanapun Wildan dan Zoya pernah mempunyai perasaan yang spesial. Tapi, biar bagaimana pun Nilla tak bisa menyembunyikan hubungan ini dari sahabat baiknya.

__ADS_1


"Alhamdulillah, Nil. " jawaban Zoya membuat Nilla langsung mendongak untuk meyakinkan raut wajah sahabatnya. Suara Zoya yang begitu enteng membuat Nilla tidak terlalu yakin dengan apa yang di dengar.


Zoya meraih tangan Nilla, kemudian seulas senyum terbit dari bibirnya. "Aku bahagia, Nil. Bang Wildan lelaki yang baik agamanya. Selain kamu sahabatku, aku mengenal hatimu yang begitu tulus. Kamu sudah istikharoh? " tanya Zoya kembali meyakinkan Nilla. Jika petunjuk Allah itulah yang terbaik.


"Sudah, Zoy. Dan Bang Wildan yang selalu muncul dalam mimpiku." Sebenarnya yang membuat Nilla meragu karena gadis itu mengerti jika masih ada Zoya di hati Wildan.


"Menikahlah dengan lelaki yang baik agamanya, baik hartanya, baik nasabnya dan baik parasnya. Semua ada di Bang Wildan." ucap Zoya masih dengan menebar senyum . Dia sebenarnya bisa melihat keraguan dari mata Nilla.


"Aku mengerti apa yang kamu pikirkan. Berilah Bang Wildan kesempatan, Nil. Cinta memang butuh waktu untuk datang dan pergi. Tapi, Allah Maha pembolak balik rasa. Percayalah, ketika dia memilihmu, aku yakin dia sudah meyakinkan dirinya terlebih dahulu. " Nilla memeluk Zoya. Air matanya yang sudah dia tahan pun akhirnya lolos. Keraguan Nilla pun sirna, yang ada adalah belajar menerima dengan keikhlasan.


"Pernikahan membuatku banyak belajar. Menjaga amanat yang sudah menjadi pilihanku, belajar menjadi istri dan ibu yang baik. Dan Saat ini aku hamil, sebentar lagi kamu akan punya keponakan."


"Benarkah? Selamat Zoy." Binar bahagia diantara kedua perempuan itu membuat keduanya saling berpelukan. Nilla merasa Lega sudah menceritakan hubungannya dengan Wildan pada Zoya. Begitupun Zoya, dia seolah menegaskan jika hidupnya sudah bahagia dengan keluarganya saat ini.


###


Hans melajukan mobilnya dengan santai. Jalan yang naik turun dan berkelok membuatnya sangat berhati-hati. Ada Keluarga yang harus dia jaga, pikirnya. Ingatannya kembali tertuju pada Zoya. Lelaki berhidung mancung itu terlihat bahagia. Senyum tak pernah lepas dari bibir tipisnya. Zoya istrinya yang membuatnya semakin jatuh cinta setiap harinya, Ale putrinya yang selalu memberi keceriaan dan sebentar lagi calon bayi yang akan menambah warna kebahagian dalam keluarganya. Ya, dia berharap dia bisa untuk menjadi imam untuk keluarganya.


Berlahan, Hans memarkirkan mobilnya sedikit menjauh dari lokasi kejadian. Garis polisi masih terlihat melingkar di sana. Sepi. Sejak masuk perkampungan Hans melihat jarak rumah penduduk yang masih berjauhan.


Dia keluar dari mobilnya, memperhatikan dengan seksama sekitar, benar-benar sepi. Berteriak pun tidak akan ada yang mendengar. Apalagi posisi rumah di sana tidak sejajar. Ada yang terlihat di tanah yang menjulang tinggi ada juga di tanah yang sedikit menjorok hingga menghilangkan pandangan orang untuk menemukannya.


Langkah panjangnya mengayun mendekati TKP (Sebuah rumah kosong). Dia berusaha memfokuskan perhatiannya, barangkali ada yang bisa dia temukan di sana. Setelah memutari sebuah rumah kosong yang menjadi tempat kejadian, Hans memilih berdiri di dekat pohon yang agak menjauh dari TKP.


"Ya Allah, apa lagi yang harus aku lakukan? " gumamnya terdengar putus asa. Dia menundukkan pandangannya, berharap Allah memberi petunjuk.


Matanya sedikit menyipit saat melihat sebuah kalung rantai yang ada di bawahnya, tertimbun dedaunan kering. Dengan menggunakan sapu tangan dia mengambil kalung itu. Model yang hanya cocok di gunakan untuk pria. Dan Ada sebuah nama huruf D yang menghias di logam bandul berbentuk segi empat. "Semoga bisa memberi petunjuk. " Hans kembali mengamati lagi sekitar. Sebuah gubuk kecil berdiri sangat tidak layak, dia begitu penasaran hingga membawa langkahnya ke sana.


Mendung mulai bercampur dengan gerimis, Hans mendekati gubuk kecil dengan dinding bambu yang sudah lapuk.


"Assalamualaikum... " ucap Hans dengan mengetuk beberapa kali pintu yang terlihat sudah rusak itu.


"Permisi." tambahnya lagi.


Dan saat akan mengetuknya sekali lagi, berlahan pintu itu pun terbuka. Nampak seorang wanita tua dengan tampilan rambut awut awutan melongok dari balik pintu yang setengah terbuka.


"Apa saya bisa bicara sebentar?" tanya Hans dengan memperhatikan dengan cermat sosok di balik pintu. Wanita itu terlihat berumur sekitar lima puluh tahunan, tapi kondisinya sangat tidak layak.


"Maaf, apa saya bisa bicara sebentar?" ulang Hans sekali lagi. Wanita itu dengan cepat menggelengkan kepala berulang-ulang dan akan menutup kembali pintunya.

__ADS_1


"Saya mohon!" bujuk Hans yang langsung di jawab dengan gelengan kepala dan menutup kembali pintu rumahnya.


Kali ini Hans tidak bisa memaksa. Rasanya hari ini sudah cukup, waktu pun terus merangkak menuju senja. Tidak ada hasil yang pasti dari perjalanannya kali ini. Gerimis yang mulai deras membuat Hans berlari menuju mobilnya. Dia belum Salat Ashar membuat tujuan pertamanya mencari musala.


Suasana terlihat petang karena kabut dan petang membuat Hans sengaja memelankan laju mobilnya. Dari kejauhan dia melihat seseorang berdiri di sebuah pos ronda yang sudah lapuk.


Seorang gadis. Mobilnya yang semakin mendekat memperjelas sosok yang sedang berteduh itu. Melihat suasana sepi dengan jajaran pohon jati yang tumbuh diantara pertenggangan kampung membuat Hans menghentikan mobilnya.


Gadis berambut panjang itu menatap mobil yang berhenti di depannya. Pandangannya pun berganti kepada si pemilik yang keluar dengan tergesa-gesa untuk menghampirinya.


"Hae, kenapa di sini sendirian? Di sini sangat berbahaya. Di mana rumahmu? " selidik Hans yang mengkhawatirkan keselamatan seorang gadis.


"Di-di kampung sebelah. " ucap gadis itu dengan terbata karena menggigil kedinginan. Badannya basah kuyup, seperti terkena sapuan air hujan.


"Di sini berbahaya, sudah beberapa kali kasus kriminal terjadi di sini. Ayo aku antarkan pulang." tawar Hans. Dia hanya membayangkan istrinya berada dalam kesulitan atau di tempat yang berbahaya.


"Duaaarrr.... " Suara petir membuat gadis itu terhenyak kaget dan memeluk tubuh Hans. Tangannya mencengkeram kuat seolah dia sedang dilanda rasa takut yang hebat.


"Eh, jangan begini!" Hans mencoba melepaskan pelukan gadis itu berlahan.


"Namaku Hans, sebaiknya aku akan mengantarmu pulang saja." lanjut Hans yang di ikuti anggukan gadis itu. Hans membawa gadis itu menuju pintu belakang mobilnya. Baginya kursi di samping kemudi hanya untuk Zoya.


"Heh.. heh... mau kemana kalian." Belum sampai membuka pintu mobil suara teriakan penduduk sudah membabi buta ke arahnya. Terlihat puluhan orang sedang berjalan mendekat dengan tubuh basah kuyup dan emosi yang meledak-ledak.


"Ada apa ini? " Wajah Hans pun mendadak panik. Meskipun, dia berusaha menenangkan diri tapi tetap saja percuma.


"Hae kalian mau berbuat mesum di kampung ini? " tanya salah satu diantara mereka.


"Sebentar saya jelaskan." Hans mencoba membela diri.


"Jangan mau di bohongi." seru salah satu diantara mereka dengan mengacungkan arit ke arah Hans.


"Tadi aku melihat mereka berpelukan di pos." sahut diantara mereka. Puluhan orang berbicara hampir bersamaan membuat kepala Hans berdenyut nyeri. Sementara, gadis itu menggigil ketakutan di belakang tubuh Hans. Seolah ingin mendapatkan perlindungan dari amukan masa.


"Kita arak ke balai desa. Kita paksa mereka kawin."


"Kalau tidak kita rajam saja mereka."


Suara itu saling bersahutan tidak memberi jeda untuk Hans menjelaskan. Dadanya berdegup kencang, kepalanya seperti berputar putar, bahkan kepanikan membuat otaknya terasa beku.

__ADS_1


Bersambung.


Partnya banyak ya... happy reading gaes hehehhe sabar ya. Tahan emosi.....


__ADS_2