Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Pindah ke Rumah


__ADS_3

Hans Pov


Aku sebenarnya merasa cemas. Saat ini


aku baru saja memeriksa CCTV mall yang kemarin kami datangi. Ternyata, benar apa yang di katakan Zoya. Lelaki berjaket dan bertopi itu terlihat sengaja menabraknya dari belakang hingga membuat tubuh Zoya limbung. Mungkin, sebelumnya juga seperti itu saat Zoya bersama Ale yang katanya ditabrak seseorang saat mereka sedang pergi berdua.


Aku mulai membuat kesimpulan jika seseorang memang sedang mengincar kita. Aku tidak tahu apa motif dan tujuannya. Tapi, aku lebih merasa mencemaskan keselamatan anak dan istriku. Saat ini aku memang membatasi gerak Zoya. Bukan, ingin mengekangnya tapi aku lebih mencemaskannya.


Teror pesan di ponsel Zoya semakin membuatku cemas. Orang itu sudah mengetahui nomer ponsel istriku berarti tidak menutup kemungkinan dia juga tahu seluk keluargaku.


Hans menghela nafas panjang, tak peduli lagi dia berada di ruang ber AC, tetap saja dia menyalakan rokok membuat Zoya yang datang membawa secangkir kopi pun terbatuk.


"Uhuk ... uhuk... uhuk... "


"Zoy... " Segara Hans mencecak rokoknya. Tidak ingin istrinya yang sedang hamil menghirup nikotin.


"Aku bawakan kopi untuk Mas Hans. " ujar Zoya dengan mendekat ke meja kerja suaminya.


Sebuah ruangan kecil yang hanya di batasi partisi. Di sana juga terlihat sebuah rak kecil di sudut ruangan yang di penuhi beberapa buku. Ruangan yang didesain dengan gaya minimalis itu sengaja digunakan Hans untuk tempat kerja saat dia singgah di apartemen.


Hans menatap perempuan yang bergerak mendekat ke arahnya. Pandangannya menelisik pada setiap perubahan yang ada di tubuh istrinya. Tubuh yang terlihat semakin berisi, dada yang sedikit membesar dan pinggulnya terlihat melebar. Hans melihat Zoya jauh lebih seksi.


Seulas senyum manis yang tertambat di bibirnya menambah elok paras ayu perempuan yang membuat hidupnya terasa lebih sempurna. Bagi Hans, Zoya mampu memberinya rasa nyaman, Zoya juga selalu tahu apa yang dia butuhkan.Ya, lebih tepatnya untuk melengkapi hidupnya, karena sejatinya tidak ada yang sempurna di dunia ini.


"Kenapa menatapku seperti itu, Mas?" tanya Zoya nampak salah tingkah karena tatapan tajam Hans terus menghujam ke arahnya.


"Kenapa kamu jadi merona seperti itu?" ucap Hans saat melihat Zoya yang masih saja menjadi pemalu meski waktu sudah memberikan kesempatan pada mereka untuk saling mengenal bahkan memiliki.


Hans menarik lengan Zoya untuk lebih merapat. Bahkan, dia sedikit menggerakkan kursinya agar Zoya bisa duduk di pangkuannya.


Tangannya mengelus perut datar Zoya, seolah dia menyapa seseorang yang ada di sana.


"Apa kabar Hans junior? Kapan aku bisa menengoknya lagi, Zoy? " bisik Hans saat hidung bangirnya menyentuh pipi cabi Zoya.


"Apa nggak bosan Mas Hans nengokin terus?" Zoya balik bertanya, wajahnya sudah memanas, mungkin saat ini warna kulitnya pun sudah mirip udang rebus saat jari jari besar itu membuka beberapa kancing atas gamis yang dikenakannya. Zoya menggigit bibir bawahnya, saat tangan Hans berhasil menelusup ke dalam, menerobos penghalang inti bagian dada.


"Mas....!" panggilnya lirih setengah mendesah di antara menahan dan menikmati permainan tangan Hans.


"Mama... Mama di mana? "

__ADS_1


"Mama Zoya.... hik hik hik.... " panggilan Ale membuat Zoya mengeluarkan tangan Hans dari balik bajunya, serta menutup kembali kancing gamisnya.


Ale terus berteriak memanggil Zoya, bocah itu sudah merasa kebingungan saat tidak melihat mamanya di dapur dan kamar. Ale tidak tahu jika Zoya sedang berada di ruang kerja papanya.


"Ya ampun, bocah itu paling senang mengganggu kesenangan orang lain." gerutu Hans kemudian menolehkan sedikit wajah Zoya dan mengecup singkat bibir yang selalu dia damba itu.


"Kenapa Papa suka sekali ngumpetin Mama? " gerutu Ale saat menemukan mamanya berada di ruangan papanya.


"Eh, siapa yang ngumpetin? Mama yang datang sendiri." elak Hans meskipun memang dia yang menahan Zoya di ruang kerjanya.


Tak peduli apa yang dikatakan papanya Ale menarik lengan Zoya menuju kamar. Ale merasa sudah mengantuk, dia ingin Zoya menemaninya tidur dengan bercerita terlebih dahulu.


Hans menatap lekat, kedua perempuan yang berjalan menjauh dari dirinya. Dia tersenyum tipis. Rasa bahagia dan lega pun tak bisa dia surutkan saat melihat kedekatan Zoya dan Ale.


Hans membuka laci kerjanya, kemudian menatap foto Renita. "Ren, semoga kamu tenang di sana. Ale mendapatkan sosok Ibu pada orang yang tepat." lirihnya kemudian menutup kembali laci kerjanya. Tidak mungkin dia melupakan Renita, tapi dia juga ingin menjaga perasaan Zoya dengan tidak memasang foto mendiang istrinya.


###


Mentari mulai meninggi, teriknya memberikan rasa hangat saat berada di bawahnya. Zoya menatap bangunan mewah yang pernah dia tinggali, meskipun sekarang banyak perubahan dari sisi luarnya. Terlihat taman kecil di samping rumah dan sebuah ayunan panjang yang terbuat dari kayu jati yang berdiri kokoh tepat di dekat kolam ikan.


"Mama, lumah kita balu! " ujar Ale dengan menggandeng Zoya masuk ke dalam.


Langkah Zoya pun terhenti, saat suasana di dalam berubah total kecuali tangga dan model. rumah. Fotonya bersama Ale dan foto mereka bertiga pun menjadi ornamen pemanis ruangan.


Hans membawa Ale dan Zoya naik ke lantai atas untuk melihat suasana kamar masing masing. Tapi, sebelum melangkah, Bi Muna menghentikan langkah mereka.


"Maaf Pak, hari ini apa benar saya tidak usah masak? " tanya Bi Muna memastikan info yang di berikan Pak Dina barusan.


"Oh iya, tadi saya pesan katering. Bi Muna tungguin pesanan datang. " jawab Hans.


"Oh baik, Pak. " wanita paruh baya itu kembali ke belakang. Mereka bertiga kembali menaiki tangga menuju kamar mereka. Ale langsung memeriksa kamarnya sendiri, sementara Zoya masuk ke kamar mereka bersama Hans.


Hans membuka pintu kamar. Berubah. Semua sudah berubah total. Bahkan sofa dan tempat tidur semua sudah diganti. "Mas, ini berlebihan." ucap Zoya tapi dia sangat menyukai interiornya. Matanya mencari benda yang tergantung di dinding yang membuatnya tidak ingin tinggal di kamar ini, yaitu foto pernikahan Hans dan Renita. Foto itu berganti dengan foto ijab kabul pernikahan Hans dan dirinya, mereka hanya punya kenangan foto saat ijab kabul.


"Mas, di mana foto pernikahan kalian? " tanya Zoya.


"Aku simpan, Zoy. Aku membuatkan ruangan khusus untuk barang barang Renita. Aku harap kamu maklum. Aku melakukannya, jika suatu saat Ale ingin mengenang mamanya. " jawab Hans dengan hati-hati.


"Aku mengerti konsekuensi menikah dengan seorang duda. Salah satunya mungkin seperti itu." Zoya memeluk lelaki yang saat ini menyambut pelukannya dengan mengusap punggungnya lembut.

__ADS_1


Terdengar suara bel, Hans yakin itu Ryan dan Diana. "Aku akan turun, Zoy. Aku mengundang Ryan dan Diana. " Hans meninggalkan


Zoya untuk turun ke bawah.


Terlihat Bi Muna berjalan masuk diikuti, Diana dan Ryan. Tapi kenapa ada Kyara? Hans tidak mengundang Kyara tapi gadis itu ikut datang dengan bajunya yang sangat tidak sopan. Lagi lagi dia merasa tidak enak jika Zoya melihatnya.


"Selamat pagi menjelang siang Pak Bos. " sapa Ryan saat melihat Hans berjalan mendekat ke arah mereka.


Dengan wajah datar, Hans menghampiri mereka dan duduk di ruang tengah guna membahas pekerjaan yang akan dia tinggalkan besok. Rencananya, besok Hans akan ke lokasi untuk mensurvey atau sekedar mencari informasi, barangkali ada sesuatu yang baru untuk memberi pencerahan pada kasusnya Antonio.


Zoya meninggalkan Ale yang sudah tertidur di kamarnya. Dengan mengenakan gamis rumahan dan jilbab instan, Zoya turun ke bawah berniat menata makan siang untuk para tamunya.


Dua orang, Diana dan Ryan menoleh saat melihat kehadiran Zoya. "Apa kabar, Zoy? " sapa Ryan sementara Diana mengangguk menyapa


"Baik, Mas Ryan. Mas Hans kemana? " tanya Zoya saat tidak melihat Hans.


"Nganterin Kyara di toilet. " jawab Ryan.


"Baiklah, aku ke belakang dulu, Mas. " Zoya pun berjalan ke belakang. Dia bermaksut mencari Bi Muna untuk membantunya menyiapkan makan siang untuk tamu mereka.


"Wah, Kalau ada cowok kayak Bang Hans tidak ada yang bakal bisa menolak. Meskipun status duda beranak sepuluh. " Suara centil itu menghentikan langkah Zoya. Zoya menatap kedua orang yang akan kembali menuju ruang tengah itu.


Deg....


Hans terkaget saat tiba tiba Zoya sudah berdiri tidak jauh darinya. Tatapan Zoya tertuju pada Kyara dan dirinya secara bergantian. Hatinya meradang setelah melihat Kyara tertawa lepas, apalagi dengan balutan dress dengan tekstur bahan elastis yang mencetak bentuk tubuhnya. Potongan dada yang sangat rendah memperlihatkan hampir setengah dari pa****ranya.


"Zoya... " panggil Hans ketika melihat wajah marah istrinya.


"Ra, Kamu ke depan dulu. Aku akan bicara dengan istriku. " titah Hans membuat Kyara meninggalkan mereka.


"Zoy, aku tidak mengundangnya. " ucap Hans dengan mendekati Zoya.


"Diamlah, Mas! Aku tidak ingin membicarakan apa pun. " jawab Zoya menuju meja makan. Bi Muna yang melihat nyonya dan tuanya bersitegang hanya melirik kemudian melanjutkan pekerjaannya.


"Zoy... " lirih Hans yang tak mampu lagi membujuk istrinya. Mengendalikan Zoya saat hamil tidaklah mudah. Kali ini, dia tidak melihat air mata. Tapi, wajah kaku dan memerahnya Zoya membuat Hans sangatlah tidak tenang.


Bersambung....


Halo readers aku tercintah.... selamt idul adha... kontrol makan dagingnya biar nggak emosian kayak bumil Zoya. Untuk readers yang baru mampir selamat datang di Rahasia Cinta Zoya, semoga menyukai ceritanya. Untuk keluarga besar Rahasia Cinta Zoya( readers yang udah ngikutin dari awal) Terima kasih selalu memberikan support dan meramaikan RCZ dengan komen awuwu kalian. hehehe๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜. Semoga kita semua selalu diberi kesehatan ya gaes.....

__ADS_1


Happy reading.


(othor lagi pengen ngoceh)


__ADS_2