Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Cemburu Buta


__ADS_3

Di dalam kafe, mereka sibuk dengan acara masing masing hingga datang dua laki laki menghampiri mereka. Wildan bersama temannya.


"Assalamualaikum." sapa kedua laki laki itu bersamaan. Seketika itu pula , Hans menoleh ke arah meja sumber suara yang tidak jauh dari posisinya. Betapa bergemuruh hatinya, bahkan wajahnya kini merah padam saat matanya melihat Wildan menghampiri meja Zoya dan kedua temannya.


"Waalaikum salam " jawab ketiga gadis itu hampir beriringan.


"Oh...ambak ini yang mau nyari kerja? " tanya teman Wildan dengan menunjuk Zoya. Zoya pun hanya mengangguk membenarkan.


Kemarin Zoya bercerita dengan Nilla jika dia ingin bekerja. Kebetulan, Nilla bercerita pada Wildan. Dan lelaki berwajah teduh itu ingin menitipkan Zoya pada temannya yang punya yayasan taman pendidikan Al Qur'an dan sebuah percetakan.


"Zoya, apa suamimu tahu kamu mencari kerja?" tanya Wildan


"Belum...! " Suara bariton itu menjawab pertanyaan Wildan. Zoya menjadi panik saat Hans sudah berdiri di dekatnya dan kemudian mencengkeram lengan kecil Zoya dan menariknya keluar.


"Ayo, pulang!" ucap Hans dengan emosi yang sudah berapi-api. Naura hanya mematung melihat tindakan Hans yang tiba


-tiba itu. Dia tidak menyangka, itu akan mempengaruhi Hans.


"Lepaskan, Mas! Kita dilihatin orang." Zoya masih berusaha berontak, tapi percuma. Genggaman jari-jari besar Hans begitu kuat, bahkan langkah Zoya terlihat kewalahan saat Hans menariknya begitu saja.


Semua menatap Hans dan Zoya. Tapi, lelaki yang sudah tersulut emosi itu sudah tak peduli. Dia terus saja menarik tangan istrinya menuju parkiran. Gegas, Wildan berlari mengejar mereka, seolah tidak terima Zoya diperlakukan begitu kasar.


"Lepaskan, Mas! Jangan kasar dengan perempuan. " ucap Wildan dengan menahan tangan Hans yang mencengkeram kuat lengan kecil Zoya.


"Bukan urusanmu! " bentak Hans dengan tatapan menghujam ke arah ustad yang dia benci itu.


" Jika anda menyakiti perempuan manapun tetap urusan saya. "


"Buughhh... " Hans melayangkan pukulan tepat di wajah Wildan, membuat Wildan juga tak terima begitu saja. Baku hantam pun terjadi, teriakan Zoya sudah tidak digubris oleh mereka, sehingga orang-orang yang ada di dalam kafe ikut berhambur keluar termasuk Naura.

__ADS_1


Pertengkaran terjadi dengan sengit, meski sudah ada yang melerai mereka, tapi tetap saja tidak bisa mengendalikan dua orang yang sedang melampiaskan emosinya. Sementara, Nilla menarik tangan Zoya untuk meninggalkan tempat itu.


"Nilla.... mereka? " ucap Zoya masih ragu untuk mengikuti Nilla.


"Biarkan, biar mereka saja yang akan jadi tontonan karena ketidakwarasan mereka. " ucap Nilla sambil mencari taxi. Akhirnya mereka bertiga masuk ke dalam taxi, Nilla hanya tidak mau Zoya kenapa kenapa.


Hans dan Wildan sama sama babak belur. tidak cuma satu atau dua orang yang melerai mereka karena tenaga keduanya sama sama kuat. Dengan susah payah, mereka akhirnya bisa di pisahkan hingga Wildan di minta pergi terlebih dahulu bersama temannya.


"Pergilah.... jangan menggangguku lagi! Aku sudah muak seperti ini." ucap Hans saat Naura berjalan mendekat, tangan besarnya meraba bekas tinju yang dilayangkan Wildan tepat di sudut bibirnya.


"Hans... " panggil Naura dengan mengiba, ucapan laki-laki itu sangat menusuk hatinya.


"Pergilah... jangan mengharap apapun dariku. Aku sudah punya istri." ucap Hans dengan nada pelan. Emosinya yang masih meledak ledak membuatnya tidak mengerti cara untuk berbicara dengan santun.


Anas menangis meninggalkan Hans. Tapi, Hans sudah tidak peduli, jika dia mengejarnya sama saja dengan memberinya harapan lagi.


Laki-laki yang sudut bibirnya berdarah itu menghela nafas panjang untuk meredakan emosinya. Dia melihat sekitar, ternyata sudah tidak ada Zoya di sana. Hans memilih masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya menuju rumah. Dia yakin saat ini Zoya sedang perjalanan pulang ke rumah.


Zoya masuk ke dalam rumah. Matanya masih sembab, bahkan dengan lamban air matanya masih menetes. Hans menghentikan mobilnya di pinggir jalan dan segera mengejar Zoya yang sudah masuk ke dalam rumah.


"Zoya... " panggil Hans dengan mengejar Zoya yang mulai menaiki tangga. Tapi, panggilan itu tidak di hiraukan oleh Zoya.


Hatinya begitu sakit, bahkan tubuhnya terasa lemah, tenaganya seperti habis terkuras karena ketegangan di kafe tadi. Di tambah lagi dari pagi dia belum mengisi perutnya.


"Zoy,... "panggil Hans lagi saat dia sudah berada di dekat Zoya. Tapi Zoya masih tidak menganggapnya, dia hanya ingin cepat sampai di kamar Ale untuk merebahkan tubuhnya.


"Zoya maafkan aku! " ucap Hans dengan meraih tangan Zoya, namun di tepisnya. Lelaki itu terus membuntut hingga Zoya sampai di tempat tidur Ale.


Zoya langsung mendudukkan tubuhnya di pinggir ranjang. Pikirannya menerawang, rasanya semua terasa melelahkan. Semuanya... ya, semuanya menurut gadis yang sedang putus asa itu. Air matanya kembali meleleh hingga dia tak peduli Hans yang sudah ikut masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


"Zoy, maafkan aku! Lagian kenapa kamu harus mencari kerja? " ujar Hans dengan berjongkok untuk mensepadankan tingginya dengan tinggi gadis di depannya.


"Aku lelah, jangan membahas ini dulu, Mas! " pinta Zoya kemudian merebahkan tubuhnya dengan miring di pinggir tempat tidur Ale.


Hans menyelimuti tubuh kecil itu, wajah putih itu pun terlihat sangat pucat dengan mata yang sembab.


"Apa aku panggilkan Anastasya? " tawar Hans membuat Zoya hanya menggeleng pelan. Sesaat kemudian pertahanannya pun runtuh. Berawal dari isakan pelan semakin lama malah menjadi raungan yang keras.


Hans hanya menatap Zoya yang membenamkan wajahnya di bantal. Sungguh rasanya dia tidak tega membiarkan Zoya meringkuk dengan raungan yang terdengar menyayat hati.


Hans memilih memundurkan langkahnya, hingga tubuh tegapnya membentur rak buku milik Ale. Tangannya pun menyentuh buku bersampul kuning berjudul La Tahzaan.


Dengan satu tangan dia membolak balikan lembaran buku itu asal asalan. Dia memang tidak tertarik dengan buku semacam itu. tapi saat matanya menangkap tulisan tangan, hatinya tergerak untuk mengetahui isinya.


Teruntuk bidadari surga yang punya senyum terindah.


Jangan pernah bersedih lagi.


Tetaplah tersenyum seperti biasanya.


seperti buku ini yang akan selalu mengajakmu untuk tidak bersedih.


Zoya, semoga kamu selalu bahagia dan baik baik saja.


Jangan biarkan kesedihan menghilangkan senyum terindah dari wajahmu.


La-Tahzaaan (Jangan Bersedih)


Hans meremat lembaran itu dengan geram. Rahangnya kembali mengeras. Tapi, lelaki itu berusaha meredakan hatinya yang terasa panas. Ternyata benar, ustad itu telah mengagumi istrinya. Mungkin saja mereka punya hubungan sebelumnya. Pikir Hans dengan puluhan pertanyaan.

__ADS_1


Bersambung....


jangan bosen mantengin tulisan recehku


__ADS_2