Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Melukai Zoya (+21)


__ADS_3

Untuk yang masih dibawah umur atau belum menikah mohon di skip ya! Please....


Wildan hanya menatap kepergian Zoya yang di seret Hans untuk masuk ke dalam mobil. Mercy E class itu pun meluncur dengan kecepatan tinggi meninggalkan rumah Mamanya tanpa berpamitan.


Di perjalanan mereka hanya terdiam. Tapi tidak dengan hati mereka. Hati lelaki yang saat ini bergemuruh kini sulit untuk di kendalikan lagi. Sementara, Hati Zoya di landa ketakutan. Dia belum pernah melihat suaminya semarah ini.


Mobil itu pun terparkir asal-asalan saja di halaman rumah mewah yang di dominasi dengan warna putih. Hans keluar terlebih dahulu, Zoya yang ketakutan menjadi ragu untuk keluar dari mobil, membuat Hans menghampiri dan menariknya keluar.


"Ayo, keluar! " Hans terus saja menarik tangan Zoya hingga istrinya kewalahan mengimbangi langkah panjangnya.


"Kamu senang dipegang pegang seperti itu, kan? Baiklah aku akan tunjukkan yang lebih, agar kamu tidak membiarkan lelaki lain memegang bagian tubuhmu." Hans menarik lengan Zoya hingga masuk ke dalam kamar.


Lelaki yang sudah dikuasai amarah itu melempar tubuh kecil Zoya ke atas tempat tidur. Perasaan dibohongi, dikhianati dan kecewa telah menutup matanya. Tidak ada lagi rasa iba saat melihat tatapan permohonan dari istrinya.


"Maafkan aku, Mas! Demi Allah aku tidak ada hubungan apapun dengan Ustad Wildan! Dia tidak sengaja memegang lenganku. " Jelas Zoya dengan air mata yang terus meleleh di wajahnya.


Lelaki yang masih di penuhi amarah itu, tak bergeming. Dibuka paksa kemejanya hingga kancing kancing itu berceceran. Zoya yang melihat itu membuatnya ketakutan, apa lagi saat wajah merah padam itu semakin mendekat. Berlahan, Zoya beringsut mundur untuk menjauh.


"Istighfar, Mas! Mas Hans salah faham. " ucapnya dengan suara sumbang. Dia sangat ketakutan menatap sorot mata tajam yang saat ini menghujam ke arahnya.


"Jangan, Mas! Aku mohon... Hik hik hik! " tubuh kecil itu gemetar ketakutan saat tubuh berotot itu mendekat dan membuka jilbabnya.


Zoya mencoba menahan tangan Hans yang akan membuka kancing kemejanya. Dan itu malah membuat Hans langsung menarik kemeja Zoya dan membuat dada itu terbuka. Seketika, Zoya menyilangkan tangannya di depan dada dengan tangan yang semakin bergetar karena ketakutan.


"Kenapa? Kamu takut aku menyentuhmu? Kamu mau lelaki brengsek itu yang menyentuhmu? " bentak Hans mengkungkung tubuh kecil itu dibawahnya.

__ADS_1


Satu tangannya mengunci kedua lengan kecil Zoya menjadi satu hingga tidak bisa begerak lagi.


"Aku mohon lepaskan aku, Mas! " rintihan tangis itu sudah tidak dianggapnya. Hans terus menjamah dan me****bu kulit putih dan kenyalnya, membuat Zoya semakin menangis. Ketakutan dan kekecewaan atas sikap suaminya membuat Zoya terus menangis.


Hans sudah tidak peduli, selain hasrat yang sudah dia tahan sejak lama dan rasa cemburunya, membuat lelaki itu dengan arogan mencumbuhi tubuh molek istrinya. Tangannya pun bergerak meregangkan kaki Zoya, rintihan dan desahan suara lembut Zoya membuatnya semakin menggila apalagi saat tubuh itu menggeliat membusungkan dada putihnya membuat Hans tidak ingin berhenti untuk menyentuh bahkan meremas bagian bagian yang semakin membuat ga**ahnya meledak.


Seperti tidak ada puasnya saat menjamah dan mencumbu setiap inci kulit putih dan kenyal milik Zoya. Tidak lupa, dia juga meninggalkan banyak tanda merah di setiap bagian bagian tubuh yang membuat hasratnya semakin menggila.


Jika bukan karena juniornya yang sudah ingin meledak, lelaki itu masih ingin menjamah dan me****bui setiap inci kulit putih dan bagian tubuh yang masih kencang dan kenyal itu. Tubuh yang biasa tertutup dengan pakaian longgar itu mampu membuatnya kalap saat terpampang bentuk keasliannya.


"ARRRGHHHHH.... " pekikan keras itu terdengar menggema di ruangan kamar mewah, saat rudal itu menembus benteng pertahanan. Hans terus menuntaskan hasratnya tanpa menyadari rintihan dan tangis istrinya.


Dia mengakhiri pelepas terakhirnya dengan memeluk tubuh yang sudah tidak bergeming itu. Zoya hanya bisa terisak menahan semua rasa sakit yang diberikan suaminya. Tubuh polosnya meringkuk ketakutan dengan rasa nyeri yang hampir membuatnya pingsan.


Hans segera membersihkan diri. Mulai timbul rasa bersalah saat tubuhnya berada dibawah guyuran shower. Otaknya dan perasaanya kembali normal.


Setelah membersihkan diri Hans memilih menyendiri di ruang kerjanya. Setelah melakukan perbuatan A moral itu, ada rasa bersalah saat melihat tubuh kecil itu meringkuk dengan terisak. Hans tertegun di ruang kerja, beberapa kali dia membuang nafas panjang. Saat ini, dia tidak tahu bagaimana menghadapi Zoya.


Rintisan Zoya, permintaan ampun penuh iba, bahkan dia balas dengan cacian dan makian. "Terbuat dari apa hatiku ini? " gumamnya dalam hati. Laki laki itu meraup wajahnya dengan kasar menyesali apa yang sudah dilakukannya. Pekikan keras itu seperti menggema di telinga menyisakan rasa bersalah yang menghantuinya.


"Pak... Pak Hans! Mbak Zoya....! " suara Bi Muna terdengar gugup dengan tangan yang terus menggedor ruangan Hans. Hans pun beranjak dengan rasa cemas untuk membuka pintu ruang kerjanya.


"Mbak Zoya jatuh dari tangga. " Kalimat Bi Muna membuat Hans langsung berlari mencari istrinya. Dan benar, Tubuh itu sudah terkulai lemah di lantai bawah.


"Zoya, bangun Zoy...!" panggil Hans dengan suara panik. Hans langsung menggendong tubuh lemah itu menuju ke kamar. Dia sempat melihat tas yang ada di anak tangga ke tiga. Mungkin Zoya akan pergi, pikirnya.

__ADS_1


"Zoy.... Bangun! " Hans meletakkan tubuh Zoya di atas tempat tidur. Dia kemudian menelpon Anastasya untuk segera ke rumahnya. Hans terlihat sangat cemas saat dokter Anas memeriksa istrinya.


"Panggilkan supirku ke sini, Hans. " ucap Anas tak kalah cemas dengan kondisi Zoya. Apalagi, dia belum begitu yakin dengan luka yang terjatuhnya Zoya dari tangga.


"Pak, tolong ambilkan ini dari ruang praktekku. Minta tolong Mama jika tidak mengerti. " titah Anas pada supirnya dengan memberikan kertas catatan.


"Bagaimana, Nas? " tanya Hans dengan cemas Anas mengharap jawaban yang membuatnya lega.


"Kamu keterlaluan. Bagaimana jika pembuluh darah istrimu pecah? Atau terjadi infeksi karena luka? Kamu memaksanya, kan? Ini pertama kalinya dan kamu memperkosanya. " Kali ini Anas benar benar marah terhadap temannya itu.


"Seharusnya, dia dibawa ke rumah sakit. Tapi tidak, itu akan membuat masalah rumah tangga kalian bertambah runyam. " jelas Anas, dia meminta supirnya untuk mengambil beberapa alat yang akan merawat Zoya di rumah saja.


" Sebaiknya ada orang yang merawat Zoya. Aku yakin dia juga terkena dampak psikologisnya. " Mendengar kalimat Anas membuat Hans terduduk lemas. Dia mengusap wajahnya kasar. Tidak pernah terfikir olehnya jika akibatnya akan seperi ini.


Tangannya segera mengusap sudut matanya yang berair. Penyesalan kini memenuhi ruang jiwanya. Ya, dia menyakiti jiwa dan raga seseorang yang seharusnya dia lindungi.


"Kenapa dengan Zoya? " Suara itu terdengar menggema. Shanti sudah berdiri di depan pintu kamar saat Anas memasang infus. Wajahnya nampak terkejut saat melihat menantunya tak sadarkan diri.


"Kau apakan Zoya, Hans! " bentaknya dengan menarik kaos anaknya itu. Kemarahan sudah tidak bisa dia tahan, saat melihat kondisi Zoya yang tak sadarkan diri dan kini terpasang infus di tangannya.


Dari tadi dia melewati acara pengajian dengan tidak tenang karena memikirkan putranya yang menarik lengan Zoya dengan penuh kemarahan. Setelah acara selesai, dia segera meninggalkan Ale bersama pembantunya dan meluncur ke rumah ini.


Bersambung....


Hae hae othor ngumpet lah.... takut di gruduk readers rempong aku cintaaaahhh.... hahaha mapelnya nggak ada romantis romantisnya 😂😂😂😂. Mampir Yuk di 'Merindukan Jingga' belum mampir ceritanya gk kalah seru lo

__ADS_1


__ADS_2